
Siang harinya divisi kepegawaian, tempat ruang kerja Aurora dikejutkan dengan kedatangan Rian, mantan pegawai disana, dia datang dengan alasan ingin bersilaturahmi ke rekan-rekan kerjanya dulu, nyatanya Rian kesana hanya ingin bertemu dengan Aurora.
"Kalian apa kabar?" tanya Rian dengan senyum manisnya. Penampilan pria itu jauh 360 derajat, lebih dewasa dan berwibawa. Entah sekarang Rian masih atau tidak menjadi ketua geng motor dari Black Tiger. Aurora dan lainnya yang melihat kedatangan Rian secara tiba-tiba pun terkejut.
"Ya ampun Rian, tumben sekali keliatan!" ujar Sam dengan hebohnya.
"Ya Pak, saya sibuk terus di kantor," jelas Rian.
"Kamu makin tampan dan dewasa aja nak," sahut Dona.
"Makasih Bu," balas Rian tersenyum.
"Ini kenalin, Zain. Dia pengganti kamu disini," ucap Sam yang mengenalkan Zain pada Rian.
"Halo Mas, saya Zain." Zain menyodorkan tangannya pada Rian.
"Hai Zain, saya Rian mantan pegawai disini," balas Rian sambil menjabat tangan Zain. Rian menatap ke arah Aurora.
"Hai Ra, kamu apa kabar?" tanya Rian dengan tatapan akan syarat kerinduan yang mendalam, entah kenapa Rian melihat Aurora semakin mempesona dimatanya.
"Saya baik Mas," jawab Aurora tersenyum.
"Oh ya ini ada beberapa makanan untuk semua," ujar Rian sambil menyuruh bodyguardnya untuk menaruh makanan yang sengaja dibelinya sebelum ke kantor walikota dan menaruhnya di atas meja.
"Makasih loh, kamu ini ngerepotin aja nak," ucap Sam sungkan.
"Gapapa pak Sam, santai aja."
"Ngomong-ngomong nih, kamu kapan menikahnya, nak?" celetuk Dona.
"Secepatnya Bu, saya lagi nungguin seseorang," ucap Rian tanpa menatap orang yang memberinya pertanyaan, tapi ia menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan. Aurora yang ditatap langsung mengalihkan pandangannya.
"Wah kalau gitu ayo secepatnya nak. Ibu sama yang lain nungguin undangan kamu loh," papar Dona.
"Iya Bu, tenang saja sebentar lagi saya akan mendapatkan wanita itu dan langsung menikahinya," ucap Rian yang mengandung maksud disana sambil terus menatap Aurora. Tak sengaja manik mata hitam Aurora bertubrukan dengan manik mata cokelat milik Rian, entah kenapa tatapan Rian membuat Aurora sedikit bergidik.
'Ngeri banget sih tatapan dia,' batin Aurora dan langsung menatap ke arah lain.
Disisi lain Wawan tengah berada di rumah Nina, yang kini telah menjadi kekasihnya, sejak satu minggu lalu. Wawan menerima Nina apa adanya, walaupun Nina adalah seorang janda.
__ADS_1
Kebetulan hari ini Wawan mendapatkan shift siang di rumah sakit dan dia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Nina.
"Diminum dulu Mas." Nina menaruh secangkir teh di depan Wawan.
"Makasih Nina," ujar Wawan tersenyum. Nina mengangguk dan duduk di samping Wawan.
"Nina," panggil Wawan.
"Ya Mas?" Nina menatap Wawan. Entah Nina itu benar-benar menyukai Wawan atau hanya menjadikan pelampiasan karena ditolak oleh Irsyan.
"Mas mau kenalkan kamu dengan keluarga dan sahabat-sahabat Mas, kamu mau kan?" tanya Wawan.
"Aku sih mau aja Mas, tapi--" Nina menjeda ucapannya.
"Tapi kenapa sayang?"
"Mas tau kan kalau ini janda dan anak dari nara--"
"Ya Mas tau itu, tapi kamu nggak perlu insecure atau minder, Mas mencintai kamu tulus apa adanya, tanpa melihat status kamu janda, perawan atau anak dari narapidana kek, Mas nggak peduli akan itu. Orang tua Mas juga pasti akan menerima kamu," potong Wawan saat mengetahui apa lanjutan yang akan diucapkan oleh Nina. Nina tersenyum, lalu mengangguk.
"Iya aku mau Mas," ucapnya. Wawan pun ikut mengembangkan senyumannya.
"Oke, besok lusa Mas kenalkan kamu kepada kedua orang tua Mas."
"Nggak lah sayang, lebih cepat lebih baik." Nina hanya mengangguk pasrah.
...****************...
Malam harinya, Irsyan sangat bimbang dan dilema saat ingin memberitahukan kepada Aurora tentang dirinya yang akan pergi ke desa U menjadi relawan disana untuk 2 minggu.
"Sayang," panggil Irsyan pada Aurora yang berada di sofa sambil menatap fokus ke laptopnya.
"Masih banyak ya pekerjaan yang belum selesai?" tanya Irsyan basa-basi sambil duduk di samping Aurora.
"Nggak kok Mas, kenapa?" tanya balik Aurora yang kini sudah menatap ke arah Irsyan.
"Em Mas mau beritahu kamu sesuatu," ucap Irsyan sedikit gugup. Aurora mengernyitkan dahi, saat melihat gerak-gerik Irsyan yang sedikit aneh.
"Apa Mas? Kok sampai gugup gitu," balas Aurora. Sebelum menjelaskan, Irsyan mencoba mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan napas secara perlahan, lalu ia pun mulai menjelaskan pada Aurora.
__ADS_1
"Mas mau jadi relawan di desa U yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor," jelas Irsyan.
Aurora terdiam sebentar, lalu berkata, "Selama berapa hari?"
"Selama dua minggu, sayang. Apa kamu mengizinkan Mas menjadi relawan?" tanya Irsyan hati-hati. Lagi-lagi Aurora terdiam.
Terkejut? Tentu saja. Aurora terkejut mendengar ucapan suaminya tadi. Tak rela? Tentu Aurora juga tak rela jika suaminya jauh darinya walaupun cuma dua minggu, apalagi kini dia tengah mengandung dan sedang fase-fase ingin dimanja oleh sang suami.
"Kalau kamu nggak kasi izin Mas juga gapapa, biar nanti Mas kasi tau atasan Mas," sambung Irsyan saat melihat istrinya terdiam.
"Tapi Mas bakalan tetap hubungi aku kan?" tanya Aurora menatap sendu suaminya. Irsyan segera membawa tubuh Aurora ke dalam dekapannya.
"Tentu saja sayang. Mas akan sering menghubungi kamu."
"Ya sudah Mas boleh pergi, tapi ingat harus kasi kabar ke aku," papar Aurora yang mengizinkan Irsyan untuk pergi.
"Beneran?" Irsyan tau jika istrinya itu sebenarnya tidak rela dirinya pergi.
Aurora menganggukkan kepala, "Kapan Mas akan pergi?" tanyanya.
"3 hari lagi, berarti hari Senin."
"Mas disana jaga diri dan kesehatan, inget disini ada istri dan calon anak Mas yang menunggu," pesan Aurora pada Irsyan. Bukannya apa, ia sangat tau jika suaminya itu pasti akan menjadi incaran wanita-wanita disana.
"Iya pasti sayangku, kalau kamu mengidamkan sesuatu, jangan segan-segan untuk kasi tau Mama, Papa, Aril atau kasi tau semua pekerja dirumah ini untuk membantu kamu, oke sayang?" pesan Irsyan menatap dalam mata Aurora sambil memegang kedua bahunya.
"Iya pasti Mas," balas Aurora tersenyum.
"Aahh pasti Mas bakalan kangen banget sama kamu, kangen pengen peluk dan cium kamu," ujar Irsyan kembali memeluk Aurora.
"Apalagi aku Mas." Beberapa saat mereka terdiam, entah apa yang ada dipikiran mereka.
"Kita tidur yuk, nggak baik bumil tidur kemalaman," ajak Irsyan tiba-tiba seraya menguraikan pelukannya.
"Iya bentar lagi, soalnya pekerjaanku belum selesai Mas," tolak Aurora.
"Pekerjaan kamu bisa dilanjutin besok, toh besok kamu juga libur kerja." Tanpa berlama-lama lagi, Irsyan mengangkat tubuh Aurora dan membawanya ke ranjang.
"Nah lebih baik kita tidur," ucap Irsyan, Aurora langsung mendengus. Mereka berdua pun mulai memejamkan mata, sebelum itu Irsyan membuka bajunya terlebih dulu, karena ia memang sangat jarang tidur menggunakan baju.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.