
Ditengah-tengah sibuknya Aurora mengerjakan tugas, tiba-tiba Rian datang menghampiri mejanya.
"Aurora," panggilnya.
"Ya mas Rian?" tanya Aurora seraya menatap Rian.
"Saya mau tanya sesuatu ke kamu."
"Apaan ya Mas?"
"Em cowok kemarin yang antar kamu siapa ya?" tanya Rian penasaran dari kemarin ingin menanyakan hal ini kepada Aurora, mumpung di ruangannya juga lagi berdua.
"Oh dia teman saya Mas," jawab Aurora. Memang benar kan kalau Irsyan itu cuma teman?
Dan Rian tidak yakin dengan ucapan Aurora, "Beneran cuma teman aja?" tanyanya memastikan.
Aurora mengangguk, "Beneran, cuma teman. Memangnya kenapa ya Mas tanya seperti itu?" tanyanya bingung.
'Syukurlah kalau dia cuma teman,' batin Rian begitu lega mendengarnya.
"Ah itu, saya cuma penasaran aja. Saya kira dia pacar baru kamu," jawab Rian dengan kikuk.
Aurora terkekeh pelan, "Bukan lah Mas."
Aurora tidak mungkin bisa bersama dengan Irsyan, karena kehidupannya sangat berbeda dengan laki-laki itu. Bagaikan langit dan bumi, yang perbedaanya sangat jauh dan tidak akan bisa di gapai.
"Baguslah, kalau gitu."
"Hah, maksudnya Mas?"
"Ah nggak ada kok, Ra. Kalau gitu kerjakan saja kembali pekerjaanmu, saya mau ke toilet dulu," elak Rian dengan mengalihkan pembicaraan.
"Oh gitu, ya sudah Mas." Lalu Rian keluar dari ruangan.
...****************...
Pukul 8 malam, seperti biasa kini Aurora berada di rumah sakit untuk menemani ayahnya.
"Kak Rora," panggil Aril yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Alfian.
"Kenapa Ril?" tanya Aurora. Aril menghampiri Aurora, lalu membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya.
"Ada kak Rivan di depan cari kakak," bisik nya.
"Rivan? Mau ngapain dia cari kakak?" tanya Aurora dengan nada berbisik juga, agar ibu dan ayahnya tidak mendengar.
Aril menaikkan bahu, "Aku nggak tau kak, coba kakak samperin dia."
Aurora mengangguk, "Oke dek," ucapnya, walaupun sedikit ragu.
"Ayah, Ibu. Rora mau ke kantin bentar ya?" izin Aurora pada kedua orangtuanya.
"Iya nak," jawab Nuri sedangkan Alfian hanya mengangguk saja.
Aurora keluar dari ruang rawat ayahnya. Diluar sana ia melihat Rivan sedang duduk di kursi tunggu sambil menunduk, lalu Aurora datang menghampiri laki-laki yang kini menjadi mantan pacarnya itu.
"Ada apa cari gue disini?" tanya Aurora to the point. Rivan sedikit terkejut melihat kedatangan Aurora.
"Mas datang kesini mau minta maaf sama kamu," ucap Rivan sambil menatap dalam mata Aurora. Aurora menghela napas dan duduk di samping Rivan walaupun sedikit berjauhan.
"Gue nggak bisa, kesalahan lo sudah terlampau jauh, Rivan. Lo tau kan kalau gue benci sama pengkhianatan?"
__ADS_1
Rivan sedikit tak suka dengan cara bicara Aurora dengan menggunakan kata lo-gue, tapi ia tau jika itu semua karena kesalahannya sendiri membuat Aurora berbicara sendiri seperti itu.
"Aku tau Rora, kemarin Mas khilaf. Mas nyesel sudah selingkuhi kamu."
Aurora tertawa renyah, ia merasa lucu dengan ucapan Rivan. Kelucuannya hingga membuat Aurora akan muntah mendengarnya.
"Sudah lah, kalau lo datang kesini untuk meminta maaf, oke gue maafin. Tapi untuk minta balikan lagi gue nggak bisa," ucap Aurora beranjak dari kursi.
"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki pacar lagi? Aku ingin balikan lagi denganmu, Ra. Aku masih sayang sama kamu," lirih Rivan dengan wajah sendu dan ikut beranjak dari kursi.
"Aurora tidak mungkin balikan dengan kamu, karena dia sudah punya pacar lagi dan saya pacarnya," ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dan merangkul pinggang Aurora.
Tentu saja itu membuat Aurora dan Rivan terkejut dengan pengakuan laki-laki tersebut. Kalian tau siapa dia? Ya, benar dia adalah Irsyan. Irsyan memang sedari tadi mendengar obrolan antara Aurora dan Rivan.
"Mas Irsyan?" gumam Aurora menatap wajah Irsyan.
"Pak Irsyan!" pekik Rivan. Aurora mengerutkan keningnya, kok bisa Rivan kenal dengan mas Irsyan? pikirnya.
"Oh hai, selamat malam pak Rivan."
"M-malam Pak," jawab Rivan sedikit gugup.
"Ada apa ya anda cari-cari pacar saya?" tanya Irsyan menaikkan satu alisnya.
"Hah nggak ada kok Pak, saya cuma mau menjenguk ayahnya Aurora," elak Rivan gugup.
"Yakin hanya itu saja?"
"I-iya Pak hanya itu, kalau gitu saya permisi dulu," ucap Rivan terburu-buru, lalu meninggalkan Aurora dan Irsyan.
Aurora hanya bisa melongo melihat kepergian Rivan seperti orang ketakutan itu. Lalu ia menatap Irsyan, seperti meminta untuk menjelaskan tentang tadi. Irsyan yang mengerti pun langsung menjelaskan dan tak lupa juga dia melepas rangkulannya dari pinggang Aurora.
"Rivan itu salah satu karyawan di kantor Papa."
Irsyan menggaruk tengkuknya, "Em i-tu biar dia cepat pergi dari sini, supaya dia juga tidak mengganggu kamu lagi dan mengganggu kedamaian rumah sakit ini." ucapnya sedikit gugup dan canggung.
"Oh gitu, makasih ya Mas sudah bantuin aku," ucap Aurora tersenyum.
"Iya sama-sama."
...****************...
1 bulan kemudian, Irsyan dan Aurora semakin dekat bahkan banyak orang mengira jika mereka berpacaran, padahal tidak. Alfian pun sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sejak beliau di rawat 2 minggu. Akan tetapi, Alfian harus tetap kontrol kondisinya satu kali dalam seminggu.
Dua orang laki-laki perawat tengah bercanda di ruangannya, tak lain mereka berdua adalah Irsyan dan Aji. Entah apa yang mereka obrolkan sampai tawa mereka terdengar hingga luar ruangan.
Sampai tiba-tiba Sukma dan Ewina datang ke ruangan tersebut, membuat dua laki-laki itu menghentikan tawanya dan memandang datar ke arah dua perempuan tersebut.
"Hai mas Irsyan," sapa Sukma dengan suara lembutnya, namun dua perawat laki-laki itu mendengar suara Sukma membuat mereka ingin muntah.
"Hai," jawab singkat Irsyan.
"Kalian lagi ngapain nih, kayaknya seru banget," ucap Ewina, sahabat Sukma yang berprofesi juga sebagai perawat. Dia menyukai Aji, namun Aji sama sekali tidak pernah menanggapinya. Ewina sebelas dua belas dengan Sukma, cinta mereka bertepuk sebelah tangan.
"Nggak ada kok, tadi cuma bahas tentang game saja," jawab Aji seadaanya.
Ewina manggut-manggut "Oh gitu."
"Syan," panggil Sukma.
"Ya Sukma?"
__ADS_1
"Em nanti malam kamu sibuk nggak?" tanya Sukma basa-basi. Sepertinya ada niat terselubung di pertanyaannya.
"Memangnya ada apa ya?" tanya Irsyan balik.
"Aku mau ajak kamu nonton bioskop, mau ya temenin aku?" pinta Sukma dengan wajah memelas nya.
Irsyan menatap Aji, Aji yang mengerti langsung menggeleng, tanda jika Irsyan harus menolak ajakan dari Sukma. Irsyan harus memutar otaknya, supaya dia bisa memberi alasan untuk menolak ajakan Sukma.
"Em bagaimana ya Sukma, nanti malam saya ada acara keluarga. Jadi, saya nggak bisa temenin kamu. Maaf ya?"
"Oh iya gapapa Syan, aku ngerti," ucap Sukma memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau mas Aji sibuk nggak? Aku juga mau ajak..." belum selesai Ewina berbicara sudah langsung disela oleh Aji.
"Saya nggak bisa, saya mau antar ibu saya pengajian!" Ewina langsung lesu dan muram mendengar ucapan Aji, padahal dia berharap bisa nonton bersama Aji sekaligus kencan.
"Ya sudah gapapa, tapi lain kali mau ya?" ajak Ewina lagi.
'Heh, ni cewek kagak ada berhentinya buat ngejar-ngejar gue.' batin Aji jengah dengan Ewina yang terus mengejar Aji, padahal sudah di tolak ratusan kali.
Aji mengangguk ragu, "Insyaallah kalau saya nggak sibuk." Senyuman Ewina langsung terbit dan cerah, secerah matahari setelah mendengar ucapan Aji. Seperti mendapat secercah harapan.
"Oke Mas."
Disaat seperti ini, tiba-tiba Irsyan kepikiran dengan Aurora. Terlintas ide muncul dibenak Irsyan untuk mengajak Aurora pergi ke bioskop. Dia pun segera mengirimkan pesan pada Aurora, gadis pujaan hatinya.
...My Sweetie Cat...
^^^Assalamualaikum Dek.^^^
Waalaikumsalam Mas, ada apa ya? Tumben chat, biasanya juga nelpon.
Irsyan sangat bahagia jika pesannya cepat dibalas oleh Aurora.
^^^Nanti malam sibuk nggak?^^^
Nggak sih Mas, memangnya kenapa? Mau ajak aku kencan?
Tentu Irsyan tau jika itu cuma candaan dari Aurora, Irsyan terkekeh kecil membaca pesan dari Aurora. Sukma sangat kesal dan cemburu saat melihat Irsyan senyum-senyum sendiri sambil menatap handphonenya.
^^^Mas mau ajak kamu nonton di bioskop, kamu mau kan?^^^
Boleh deh Mas.
^^^Oke, nanti malam jam setengah 8 Mas jemput.^^^
Siap Mas.
^^^Jangan dandan yang cantik, nanti kamu banyak yang suka disana.^^^
Dih bodo amat! Bye.
Irsyan kembali terkekeh membaca pesan dari Aurora, gadis itu memang selalu bisa membuat mood Irsyan menjadi baik, melihat sikap dan tingkah Aurora yang random.
"Lagi chattingan sama siapa Mas? kayaknya seru banget?" tanya Sukma penasaran.
Padahal di dalam hatinya Sukma sangat ingin merebut handphone Irsyan dan menghubungi orang yang telah membuat laki-laki idamannya sampai senyum-senyum sendiri. Lalu berkata kepada orang tersebut, jika Irsyan itu miliknya dan jangan pernah berani mengganggunya lagi. Tapi ia tak mungkin bisa melakukan hal itu, bisa-bisa nanti Irsyan malah tambah tidak suka dan ilfil padanya.
"Oh itu teman saya," jawab Irsyan malas. Sukma hanya manggut-manggut mengerti.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.