
Pukul 2 siang semuanya balik dari Villa. Aril mengantarkan Caca pulang terlebih dahulu.
"Sini biar aku aja yang nyetir. Kamu pasti capek," ucap Caca ingin mengambil alih kemudi.
Aril menggeleng. Tak mungkin ia menyuruh wanita apalagi atasannya sendiri yang mengemudi. Bisa jatuh harga dirinya sebagai seorang pria. "Nggak usah. Biar aku aja."
"Tapi kamu pasti capek. Dari kemarin kamu aja yang menyetir."
"Gapapa. Kamu tenang aja. Kalaupun aku capek, kita nanti bisa istirahat di rest area,"ucap Aril meyakinkan Caca.
Mereka pun sempat beristirahat di rest area, hingga mereka tiba di rumah besar tuan Ibrahim. Lagi dan lagi Caca ketiduran selama di perjalanan. Aril mencoba membangunkan Caca, tapi wanita itu tidak bangun-bangun juga. Terpaksa Aril harus membopong tubuh Caca ke dalam.
Di ruang tengah, tuan Ibrahim, Bimo dan Lucas sedang mengobrol tentang pekerjaan, sontak mereka terkejut saat melihat Caca yang di bopong oleh Aril.
"Caca kenapa?" tanya tuan Ibrahim.
"Maaf ketua. Nona Caira ketiduran saat di perjalanan pulang tadi. Saya--"
"Kenapa kamu tidak membangunkannya?" sela Lucas memotong pembicaraan Aril. Dari raut wajahnya terlihat seperti tidak suka melihat Aril membopong tubuh Caca.
"Maaf pak Lucas. Tadi saya sudah membangunkan nona Caira, tapi nona Caira tidak bangun-bangun," jelas Aril.
"Cih alasan! Bilang aja kamu mau cari kesempatan--"
"Sudah! Aril, sekarang kamu bawa Caca ke kamarnya!" perintah tuan Ibrahim menyela ucapan Lucas.
"Baik ketua."
Aril membawa Caca ke kamar. Sementara itu Lucas menahan emosi saat melihat Aril yang bisa memegang tubuh Caca.
Aril membaringkan tubuh Caca di ranjang dengan pelan. Caca memegang celana Aril saat pria itu akan pergi. Mau tak mau Aril harus berhenti dan menatap ke arah Caca.
"Jangan pergi dan tepati janjimu dulu padaku," racau Caca.
Aril mengerutkan keningnya. Bingung mendengar ucapan Caca tadi. Apakah ada arti dari racauan wanita itu? Dan kata-kata tersebut memang tertuju kepadanya?
Aril duduk di tepi ranjang Caca, "Apa maksudmu, Ca?" gumamnya.
...****************...
__ADS_1
Baru saja menapaki kakinya di rumah, Aurora langsung berlari ke arah kamar mandi yang dekat dengan tangga. Irsyan pun segera mengikut istrinya, ia melihat Aurora muntah-muntah seperti tadi pagi.
"Aku panggilkan Dokter ya sayang? Aku takut kamu muntah-muntah seperti ini karena keracunan makanan."
"Nggak usah, Mas. Mungkin ini karena aku masuk angin," balas Aurora setelah membasuh mulutnya.
Tiba-tiba dipikiran Irsyan terlintas bahwa istrinya itu tengah mengandung buah hati mereka. "Atau jangan-jangan kamu hamil lagi, sayang?"
Aurora tersentak dengan ucapan suaminya. Memang bulan sekarang ia belum menstruasi sama sekali. Tapi Aurora segera mengenyahkan pikiran tersebut, karena itu tidak mungkin terjadi. "Nggak mungkin lah Mas. Kan Mas tau kalau aku pakai obat kontrasepsi."
Irsyan meringis mendengar ucapan Aurora tadi dan meminta maaf dengan istrinya di dalam hati karena telah menukar obat kontrasepsi dengan vitamin penyubur kandungan. Mengingat sudah 1 bulan lebih setelah penukaran obat, entah kenapa Irsyan begitu yakin jika saat ini Aurora tengah berbadan dua dan juga ia hampir setiap hari Irsyan meminta jatah istrinya.
"Ya siapa tau kan, sayang. Jadi mau aku panggilkan Dokter?"
Aurora tetap menolak dan pada akhirnya Irsyan hanya pasrah. Irsyan membopong Aurora menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
"Turunin aku, Mas!" pekik Aurora.
"Kamu diem aja. Nanti yang ada kamu bisa jatuh!"
Aurora memberengut lucu dan langsung terdiam.
"Mama," panggil Alina. Aurora tersenyum melihat dua malaikat kecilnya dan menyuruh mereka berdua mendekat kepadanya. Aurora membawa kedua anaknya ke dalam dekapannya.
"Mama sakit?" tanya Hansel mendongak menatap Aurora.
"Nggak sayang. Siapa yang bilang kalau Mama sakit?"
"Tapi tadi kami mendengar Mama muntah-muntah di kamar mandi. Berarti Mama sedang sakit kan?" tanya Hansel lagi.
Aurora menggeleng, "Mama nggak kenapa-napa kok. Mungkin hanya masuk angin."
Hansel pun hanya manggut-manggut. Sedangkan Alina malah tertidur di pelukan sang Mama. Aurora dan Irsyan yang melihatnya langsung tersenyum. Irsyan pun menyuruh Hansel ke kamar untuk beristirahat dan mengangkat tubuh Alina lalu membawanya ke kamar gadis kecil itu. Kedua anaknya memang memiliki kamarnya masing-masing.
Irsyan kembali ke kamarnya, membaringkan tubuhnya di samping Aurora sambil menatap wajah teduh nan ayu istrinya. "Sayang, kalau kita punya anak lagi gimana?" tanyanya.
Aurora yang tadinya memejamkan matanya, sontak menatap suaminya. "Ya aku terima. Mungkin itu rezeki dari Allah. Dipercayakan lagi untuk kita jaga sama-sama."
Irsyan tersenyum seraya membawa Aurora ke dalam pelukannya. "Berarti kamu ingin memiliki anak lagi?"
__ADS_1
"Ya sedikasihnya aja, Mas. Tapi aku takut nanti kalau anak-anak tidak ingin memiliki adik."
"Jangan berpikiran seperti itu. Anak-anak kita pasti akan menerimanya dan mereka juga pasti akan senang sekali memiliki teman bermain lagi," ujar Irsyan.
"Semoga aja, Mas."
Irsyan melepaskan pelukannya, menunduk dan berbisik di telinga Aurora. "Kalau begitu gimana kalau kita usaha lagi? Biar anak kita cepat jadi."
Aurora mendorong dada Irsyan dan menatap tajam suaminya, "Nggak! Ini masih siang dan Mas tau juga kan kalau aku lagi nggak enak badan!"
Irsyan terkekeh melihat wajah garang istrinya, tadi ia hanya bercanda dan kembali memeluk istrinya. "Aku hanya bercanda, sayang."
...****************...
Lala terburu-buru masuk ke dalam gedung YH Group sambil membenahi pakaiannya tanpa melihat orang di depannya, hingga akhirnya Lala menabrak orang hingga ia terpental sedikit ke belakang.
"Aduhhh!" ringis Lala memegang dahinya. Punggung orang yang ditabrak benar-benar terasa kuat.
"Eh kamu tidak apa-apa?" tanya orang yang ditabrak Lala.
"Aku tidak apa-apa dan maaf karena tadi aku tidak--" Saat Lala mendongak menatap orang di hadapannya ini, betapa terkejutnya ia melihat orang tersebut.
"Lo!" pekik Lala dan orang itu secara bersamaan.
"Lo ngapain disini?" tanya Naufal ketus.
"Ya gue kerja lah. Lo ngapain disini? Jangan-jangan lo ngikutin gue ya?" tuduh Lala.
"Hah gue ngikutin lo? Jangan mimpi lo!" ucap Naufal sambil mendorong dahi Lala dengan jari telunjuknya. Dorongan jari Naufal membuat dahi Lala menjadi sedikit memerah.
"Gue udah lama kerja sini asal lo tau!" lanjut Naufal.
Lala mengusap dahinya, "Ya santai dong! Nggak usah main dorong kepala!" sentak nya kesal.
"Bodo amat, gue nggak peduli!" ujar Naufal dan pergi meninggalkan Lala yang sedang mencak-mencak karena kesal.
"Awas aja lo, Naufal!" teriak Lala. Ia mencak-mencak sambil memberikan sumpah serapahnya kepada Naufal.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.