
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lima hari kemudian dan selama itu Rian tak pernah masuk kerja semenjak ia menyatakan perasaannya pada Aurora pada malam itu. Aurora merasa bersalah jika hal tersebut yang membuat Rian tidak datang bekerja.
"Bu Dona, kok sudah lima hari ini Rian nggak pernah masuk kerja ya?" tanya Sam pada Dona. Aurora langsung ikut menyimak obrolan dua orang partner kerjanya itu.
"Berita yang saya dengar dari pak Sekretaris tadi, katanya Rian mau mengundurkan diri dari sini mungkin lebih tepatnya dia memilih pensiun muda," jawab Dona. Aurora dan Sam terkejut mendengarnya.
"Yang bener Bu?" tanya Aurora yang masih tak percaya dengan ucapan Dona.
"Iya nak, tadi Ibu denger langsung dari pak Sekretaris." Rasa bersalah Aurora semakin menjadi-jadi pada Rian.
"Terus sekarang itu anak kerja apaan? Udah di enak jadi PNS, malah memilih pensiun muda," gerutu Sam.
"Itu anak bujang pasti sekarang lebih memilih bantuin bisnis papanya," ucap Dona.
"Emangnya apa bisnis orang tuanya mas Rian, Bu?" tanya Aurora penasaran. Dia hanya tau Rian itu anak dari salah satu pengusaha sukses di kota M, namun Aurora tidak tau apa usaha apa yang digeluti oleh orang tua dari laki-laki itu.
"Ibu pernah di kasi tau sama Rian, kalau orang tuanya itu pengusaha batubara dan pemilik dari beberapa hotel ternama di kota M," jawab Dona. Jawaban Dona membuat Aurora dan Sam cukup tercengang mendengarnya.
"Wah ternyata bujangan satu itu anak Sultan, tapi dia malah memilih jadi PNS," ucap Sam geleng-geleng kepala, ia sangat heran dengan kelakuan Rian yang memilih bekerja sebagai PNS daripada pengusaha yang lebih menghasilkan banyak uang.
"Ya sepertinya Rian tidak suka dengan hal-hal yang berbau bisnis, tapi mungkin sekarang dia sudah berubah pikiran," jelas Dona. Sam hanya manggut-manggut mengerti sedangkan Aurora hanya diam saja sambil menyimak obrolan mereka.
"Kamu nggak kangen sama Rian, nak?" goda Sam pada Aurora.
"Ih nggak lah Pak, ada-ada saja." Sam dan Dona langsung terkekeh mendengar ucapan Aurora.
Sepulang dari kantor, Aurora tak langsung pulang ke rumahnya, melainkan ia akan pergi ke rumah Irsyan atas suruhan Jihan, ibu dari laki-laki itu.
TING NONG..
TING NONG..
TING NONG..
Aurora memencet bel rumah mewah milik orang tua Irsyan.
CEKLEK!
"Assalamualaikum Bi Aci," sapa Aurora.
"Waalaikumsalam. Eh Non Aurora, mari masuk Nyonya besar sudah menunggu Nona di ruang keluarga," ucap Aci, asisten rumah tangga di rumah orang tua Irsyan.
"Iya Bi, makasih." Aurora masuk ke dalam rumah, lalu melangkah kan kakinya menuju ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Assalamualaikum Tante," sapa Aurora pada Jihan.
"Waalaikumsalam. Eh kamu sudah datang nak? Ayo duduk sini." Jihan menepuk sofa di sampingnya. Aurora mengangguk, lalu duduk di samping Jihan.
"Gimana kabarnya Tante?" tanya Aurora.
"Alhamdulillah sangat baik nak," jawab Jihan tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Oh ya Tante ada oleh-oleh dari Singapura buat kamu." Jihan memberikan 4 paper bag kepada Aurora, 3 paper bag yang berukuran lumayan besar dan 1 paper bag berukuran kecil.
"Ya ampun terima kasih banyak Tante. Tante ngerepotin banget sih," ucap Aurora sungkan.
"Nggak ngerepotin sama sekali kok nak. Oh ya coba kamu buka isi dari paper bag itu," titah Jihan.
Aurora mengangguk, lalu membuka satu-persatu isi dari paper bag tersebut. Isi dari tiga paper bag yang berukuran besar yakni dress, tas, dan sepatu heels.
"Ya ampun Tan, pasti ini semua harganya mahal. Aku jadi nggak enak nerima ini."
"Gapapa nak, Tante memang khusus belikan itu semua buat kamu," ucap Jihan.
"Coba sekarang buka yang paper bag kecil," titah Jihan lagi. Aurora mengangguk, sekarang ia membuka paper bag yang berukuran kecil. Betapa terkejutnya ia melihat isi dari paper bag tersebut, isinya yakni sebuah gelang emas putih yang sangat cantik.
"I-ini beneran untuk aku, Tan?" tanya Aurora.
"Iya itu untuk kamu nak, kamu nggak suka ya sama gelangnya?" tanya Jihan balik.
Anak sama Ibu sama saja, kemarin Irsyan yang memberikan Aurora barang-barang yang mahal, sekarang malah ibunya juga, kan dirinya jadi enak. Eh nggak enak maksudnya.
"Gapapa, rezeki nggak boleh di tolak loh nak," ucap Jihan. Dengan berat hati, Aurora pun menerimanya. Ia tak ingin membuat wanita paruh baya itu sakit hati karena menolak pemberiannya.
"Sekalian gelangnya di pakai ya?" titah Jihan. Aurora mengangguk, ia mengambil gelang tersebut dari dalam kotak beludru lalu ia kenakan di tangan sebelah kirinya.
"Assalamualaikum," ucap Irsyan tiba-tiba datang. Sepertinya dia baru saja pulang dari perusahaan papanya, terlihat dari pakaian kerja yang ia kenakan.
"Waalaikumsalam," balas Jihan dan Aurora serempak menatap ke arah Irsyan.
Aurora terpana melihat penampilan Irsyan saat ini yang mengenakan kemeja hitam yang di balut dengan jas abu-abu dan celana kain warna senada dengan jasnya.
"Eh ada kamu disini dek, sejak kapan kamu datang?" tanya Irsyan yang terkejut dengan keberadaan Aurora dirumahnya.
"Sekitar 15 menit yang lalu Mas," jawab Aurora.
"Oh baru-baru ini kamu datang."
"Kamu nggak pulang sama papa, nak?" tanya Jihan pada putranya.
"Nggak Ma, tadi katanya papa mau mampir ke perusahaan travelnya dulu," jelas Irsyan. Jihan manggut-manggut mengerti, suaminya itu memang workholic.
__ADS_1
"Kalau gitu aku mau ke kamar dulu."
"Iya nak," ucap Jihan, sedangkan Aurora hanya mengangguk. Irsyan melangkah kan kakinya menuju ke kamar.
"Akhirnya Irsyan yang dulu kembali lagi," ucap Jihan tersenyum kecil.
"Memangnya kenapa dengan mas Irsyan, Tan?" tanya Aurora penasaran.
"Semenjak Irsyan di tinggal nikah sama pacarnya yang dulu, dia menjadi lebih pendiam dan suka melamun. Dan terkadang kalau malam hari dia suka menangis diam-diam di dalam kamarnya," jelas Jihan dengan mata yang sudah berkaca-kaca jika mengingat kembali putranya yang dua tahun belakangan ini. Aurora mengelus pundak Jihan, berniat untuk memenangkan wanita paruh baya itu.
"Hati Tante dan Om rasanya sangat sakit dan sesak melihat Irsyan seperti itu. Dia sampai susah untuk dekat perempuan karena masih trauma dengan hubungannya yang dulu." Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Jihan. Aurora ikut sedih mendengar cerita Jihan.
'Kasian banget mas Irsyan,' batin Aurora yang iba dengan masa lalu Irsyan.
"Tapi semenjak dia kenal sama kamu, Irsyan yang ceria dan humoris kembali lagi," ucap Jihan tersenyum kecil. Jihan memegang kedua tangan Aurora.
"Nak, Tante mohon sama kamu, bantulah Irsyan untuk bisa move on dari masa lalunya."
"Maksud Tante bagaimana?" tanya Aurora bingung.
"Kamu harus jadi pacarnya Irsyan."
DEG!
Jantung Aurora berdegup kencang mendengar ucapan Jihan.
"Tapi sepertinya mas Irsyan nggak mau pacaran deh, Tan," ucap Aurora.
"Oh ya? Masa sih?"
"Iya Tan, mas Irsyan yang bilang langsung ke aku kalau dia nggak mau pacaran tapi dia langsung mau men--" ucapan Aurora terpotong oleh Irsyan yang baru turun dari kamarnya.
"Lagi obrolin apaan sih? Serius banget."
"Ah ini lagi obrolin masalah fashion nak," elak Jihan.
"Oh gitu." Irsyan duduk di samping Aurora.
"Kalau gitu Mama mau ke kamar dulu ya?"
"Iya Ma."
"Iya Tante." Jihan beranjak dari sofa, lalu pergi menuju ke kamarnya.
Tiba-tiba saja Irsyan menaruh kepalanya di pundak Aurora, membuat sang empu sedikit terkejut dengan tingkah laki-laki di sampingnya ini.
"Diam sebentar aja, Mas butuh ini Ra," lirih Irsyan. Aurora pun membiarkannya, mungkin laki-laki itu sangat lelah dan sedang butuh orang untuk dijadikan sandarannya.
"Mas capek?" tanya Aurora, Irsyan hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.