GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 138


__ADS_3

"Gimana?"


Aril mengangguk, lalu memberikan kedua jempolnya kepada Aurora, "Enak, kak." Lelaki itu sudah 2 hari menginap di rumah kakak iparnya. Di rumah ia sendirian, karena kedua orang tuanya pergi ke rumah sang Nenek di desa P.


Aurora tersenyum senang, ia mengusap kepala sang adik yang duduk di kursi ruang makan, "Syukurlah kalau enak, ayo di habisin," suruhnya pada Aril. Tentu saja lelaki bujangan itu sangat antusias menghabiskan cup cake buatan sang kakak.


Hari ini, Aurora mencoba membuat cup cake dengan di bantu oleh tutorial di YouTube. Selain itu Aril juga membantu dalam pembuatannya.


"Kata Ibu kamu dekat sama salah satu teman perempuan mu bernama Caca, apa benar?" tanya Aurora.


"Uhuukk uhuukk." Aril seketika tersedak mendengar pertanyaan kakaknya. Ish! Ibunya kompor sekali, pasti ini gara-gara Caca mengirimkannya makanan waktu itu.


Aurora menyodorkan segelas air putih pada adiknya dan segera diminum oleh Aril, "Makanya makan itu pelan-pelan, nggak bakal ada yang ambil kok," omel Aurora sambil menepuk-nepuk punggung Aril dengan pelan.


Aril mendengus sebal, "Ini juga gara-gara pertanyaan kakak tadi!"


"Memangnya kenapa sama pertanyaan kakak tadi? Ada yang salah?"


"Nggak ada sih, aku sama Caca itu hanya temenan aja kok kak, nggak lebih. Kan kakak juga tau kalau aku itu malas pacaran," jelas Aril dan dibenarkan oleh Aurora.


"Ya juga sih, kapan-kapan ajak Caca untuk kenalan sama kakak ya," pinta Aurora membuat kening Aril berkerut.


"Kakak mau ngapain sama Caca?" tanyanya heran.


"Nggak ada sih kakak cuma penasaran aja sama perempuan yang deket sama adiknya kakak ini," goda Aurora.


Aril hanya memutar matanya jengah, ia tak menanggapi ucapan sang kakak dan lebih memilih fokus menghabiskan cup cake nya.


"Permisi Nyonya, ini tadi ada paket bunga dan makanan untuk Nyonya," ucap salah satu pelayan yang bernama Bi Uyun.


Aurora mengambil alih apa yang dibawa oleh Bi Uyun karena wanita paruh baya itu terlihat kesulitan membawanya, "Loh ini dari siapa, Bi? Saya nggak pernah pesan kok," tanya Aurora heran.


"Katanya dari Tuan Irsyan, Nyonya," jawab Bi Uyun.


Aurora menarik ujung bibirnya untuk tersenyum, "Oh dari suami saya, makasih ya Bi."


Bi Uyun mengangguk, "Sama-sama Nyonya, kalau gitu Bibi ke belakang lagi," izinnya dan di balas anggukan kepala oleh Aurora.


"Itu dari kak Irsyan?" tebak Aril.


"Iya dek, tunggu bentar kakak mau telpon kak Irsyan dulu," ucap Aurora. Aril hanya mengangguk.


Aurora mengambil handphonenya, ia mencari kontak suaminya lalu menekan tombol hijau untuk menelponnya.


"Assalamualaikum sayang, udah datang paket bunga dan makanan yang Mas kirimkan?" tanya Irsyan di seberang sana.


"Waalaikumsalam Mas, kok tumben kirim junk food?"


Irsyan tersenyum dengan keheranan istrinya. "Semalam, Mas sempat denger gumaman kamu pengen makan junk food, Mas yakin kamu mengidam makan itu kan? Makanya Mas pesenin di ojek online."

__ADS_1


"Biasanya juga Mas sering larang aku buat makan itu."


"Gapapa sayang, toh juga kamu udah lama nggak pernah makan itu, jadi sesekali boleh lah makan junk food."


"Makasih Mas sayang, tau aja istrinya lagi ngidam makan junk food. Oh ya terus maksud Mas ngirim bunga matahari apa? Biasanya juga kan Mas beliin aku bunga mawar," ucap Aurora yang kembali heran.


"Ya itu karena kamu selalu cantik dan bersinar seperti bunga matahari, makanya Mas beliin bunga itu."


Aurora menahan senyumannya. Ia ingin menjerit, tapi malu karena disana ada Aril dan sambungan teleponnya masih tersambung. Ah, suaminya itu selalu membuatnya menjadi salah tingkah saja.


"Makasih Mas, aku sama Aril tadi buat cup cake. Mas mau?" tawar Aurora.


"Mas mau dong, sisain ya untuk Mas atau Mas sekarang ke rumah aja ya?"


"Heh, kalau masih ada kerjaan mending Mas selesaikan dulu pekerjaannya!" omel Aurora.


Irsyan terkekeh kecil, "Jadi kangen kamu bawain makan siang untuk Mas ke kantor, pengen banget di masakin dan bawakan kesini, tapi Mas nggak mau kecapekan nantinya," keluh pria itu.


"Aku nggak kecapekan kok Mas, gimana kalau besok aku bawakan makan siang untuk Mas ke kantor?"


"Boleh deh sayang, tapi jangan sampai buat kamu kecapean ya? Mas nggak mau kamu dan calon bayi kita kenapa-kenapa nantinya," nasehat Irsyan.


"Iya pasti Mas, aku tutup ya telponnya? Mas lanjutkan saja dulu pekerjaannya."


"Eh sayang tunggu!"


"Kenapa Mas?" tanya Aurora.


"Hah?"


"Siap-siap ya sayang, nanti malam Mas jemput pas Mas pulang dari kantor. Nggak usah pakai baju yang aneh-aneh dan ingat pakai jaket. Bye my love," ucap Irsyan dan langsung mengakhiri panggilan telponnya.


Aurora hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala, lalu kembali duduk bersama adiknya.


"Ayo di makan ayam goreng sama pizza nya," suruh Aurora.


"Siap kak."


...****************...


Irsyan memberhentikan mobilnya di basemen apartemen. Aurora tidak tau apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu di apartemennya, dia hanya bisa mengikutinya saja. Kini mereka berada di sebuah lift yang kosong untuk menuju ke lantai 20. Tak lama kemudian lift pun terbuka, Irsyan dan Aurora keluar sambil saling menggenggam tangan.


Mereka berhenti di depan pintu apartemen Irsyan, sang pemilik mengeluarkan kartu akses apartemennya dan mereka berdua masuk ke dalam apartemen tersebut.


Irsyan melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuka lemari pendingin, "Kamu mau minum jus? Tapi yang sudah dalam kemasan," tawar Irsyan pada Aurora.


"Mau Mas, aku maunya yang guava dan apel."


"Oke sayang." Irsyan mengambil sebuah tote bag, ia memasukan beberapa minuman dan makanan ringan ke dalam tote bag tersebut. Setelah selesai Irsyan kembali menggenggam tangan Aurora keluar dari apartemen.

__ADS_1


"Mau naik lift atau tangga darurat ke rooftop nya?" tawaran Irsyan yang menurutnya cukup gila, ya kali istrinya yang sedang hamil ini naik dari tangga darurat sedangkan menuju ke rooftop membutuhkan 10 lantai lagi yang harus mereka lewati.


"Lewat tangga darurat, tapi Mas yang gendong aku ya sampai ke atas!" ucap Aurora ketus.


Irsyan terkekeh, "Maaf sayang, Mas hanya bercanda."


Irsyan memencet tombol lift, setelah terbuka mereka berdua masuk ke dalam dan menekan tombol di angka 30. Berapa menit kemudian, pintu lift terbuka, mereka keluar dari sana dan melangkah ke pintu yang menuju ke rooftop.


"Masya Allah," gumam Aurora yang terkagum melihat pemandangan malam hari dari atas rooftop gedung apartemen tersebut sangatlah indah.


Irsyan tersenyum melihat reaksi dari Aurora, ia menarik tangan istrinya untuk duduk di bangku yang terbuat dari kayu. Irsyan menaruh tote bag bawaannya tadi dan menyimpan semua minuman serta makanan ringan di atas meja.


"Kamu kedinginan ya sayang?" tanya Irsyan.


Aurora menggelengkan kepalanya, "Nggak kok, Mas."


"Bohong banget, tangan kamu aja dingin gini." Irsyan membuka jas nya, lalu memakaikannya ke tubuh Aurora. Irsyan menggeser kan duduknya untuk lebih dekat dengan istrinya, lalu menyimpan kepalanya di pundak Aurora.


"Dulu Mas sering kesini kalau ada masalah, karena menurut Mas disini adalah tempat ternyaman untuk menyendiri, merenung dan meluapkan semua emosi yang bersarang di pikiran," ucap Irsyan sambil menggenggam tangan Aurora.


"Berarti Mas sekarang udah jarang kesini lagi ya?" tanya Aurora.


Irsyan mengangguk, "Ya ngapain di apartemen? Kalau Mas punya kamu untuk pulang," jawabnya.


Aurora terkekeh pelan, "Apaan sih Mas."


Cuaca malam ini begitu dingin, tapi cuaca dingin itu tidak membuat kedua insan itu terganggu. Dengan pemandangan city light yang bagus membuat mereka tak henti-hentinya berdecak kagum. Di langit, bulan memancar sinarnya begitu terang dan banyak sekali bintang-bintang yang bertaburan. Malam ini begitu sempurna.


Suasana hening sejenak, mereka merasakan sensasi yang begitu nyaman dan hangat. Irsyan melingkarkan tangannya ke perut buncit istrinya, memeluk Aurora dengan erat.


DUG!


Tiba-tiba tangan Irsyan terkena tendangan dari calon bayinya, sepertinya dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh orang tuanya.


"Eh kok nendang tangan Papa?" ucap Irsyan gemas.


"Mungkin adek nya rindu sama Papa nya yang akhir-akhir ini sibuk bekerja," balas Aurora dengan nada menyindir.


Irsyan menghela napas berat, "Maafkan Mas ya sayang, sekarang jarang ada waktu sama kamu. Mas janji, setelah proyek yang sekarang Mas kerjakan selesai, Mas ajak kamu pergi liburan kemanapun kamu inginkan."


"Serius Mas?" tanya Aurora dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya sayang, memangnya kamu mau kemana hem?"


"Itu masih aku pikirkan," jawab Aurora.


Irsyan terkekeh kecil dan mengelus puncak kepala Aurora, "Ya sudah, nanti kalau sudah tau mau kemana, langsung kasi tau ke Mas ya?"


"Oke Mas."

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2