
"Sayang, ada yang Mas ingin bicarakan sama kamu," ucap Irsyan. Aurora yang tengah fokus pada televisi sambil memakan keripik kentang kesukaannya itu langsung menatap ke arah suaminya.
"Apaan Mas?" tanya Aurora.
"Besok lusa Mas akan pergi ke kota S, untuk melihat proyek sekalian mau liat perkembangan perusahaan Papa disana, gapapa kan Mas tinggal cuma 3 hari aja kok," jelas Irsyan. Proyek di kota S itu merupakan proyek antaran HC PROPERTIE'S dengan Ammar Group.
"Mas ..." ucap Aurora lirih.
"Kenapa sayang? Kamu nggak ngizinin Mas pergi?" tanya Irsyan dengan lembut. Aurora mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Irsyan, entah kenapa feeling dan hati Aurora menyuruh agar ia tidak mengizinkan suaminya itu untuk pergi ke kota S, seperti akan terjadi sesuatu disana.
Tangan Irsyan mengelus rambut Aurora dengan lembut, "Mas janji akan jaga diri dan sering-sering hubungi kamu."
"Ya sudah tapi janji ya hubungi aku setiap jamnya, mau lewat chat atau telpon," suruh Aurora.
"Iya Mas janji sayang," ucap Irsyan mengecup puncak kepala sang istri.
Aril memencet bel rumah kakak iparnya, tak lama pintu tersebut terbuka dan wajah kakaknya yang terpampang. Aurora sangat terkejut saat melihat kedatangan sang adik apalagi melihat wajah Aril penuh dengan luka lebam.
"Aril, ini wajah kamu kenapa?!" pekik Aurora sambil menelisik wajah sang adik. Aril meringis mendengar pekikan kakaknya. Irsyan yang tadinya di ruang tengah langsung berlari menuju ke pintu utama karena mendengar suara istrinya seperti orang berteriak.
"Ada apa sayang?"
"Ini loh wajahnya Aril penuh dengan luka lebam Mas!" jelas Aurora. Irsyan menatap ke arah Aril, ia juga tak kalah kaget melihat wajah adik iparnya itu.
"Loh kok kamu bisa babak belur gini sih, Ril? Siapa yang berani memukul kamu, hah? Kasi tau kakak!" ucap Irsyan marah. Lagi-lagi Aril meringis mendengar ucapan dari kakak iparnya.
"Kakak nggak suruh aku masuk dulu? Badan aku lemes banget loh ini kak," ujar Aril sengaja membuat nada suara lemah. Aurora segera memapah tubuh Aril menuju ke sofa yang ada di ruang tengah.
"Sekarang jelaskan ke kami, kenapa ini bisa terjadi sama kamu? Siapa yang memukul kamu sampai-sampai wajah kamu jadi begini!" desak Aurora pada adiknya itu.
Aril pun menjelaskan kronologi kejadian dimana ia dan Caca di hadang oleh geng motor The King di jalan dan menjelaskan jika ia berkelahi hebat dengan mereka. Tapi Aril tidak menyebut nama Caca, tetapi hanya mengatakan dirinya bersama dengan temannya.
Raut wajah Aurora dan Irsyan langsung berubah geram, terkejut, emosi dan bangga karena Aril bisa melawan 10 orang sekaligus dengan tangannya sendiri.
"Kamu memang keren adik ipar, sebelas dua belas dengan kakakmu," ujar Irsyan bangga pada adik iparnya itu.
"Tapi teman kamu itu gapapa Ril?" Aurora menanyai tentang Caca.
"Dia gapapa kak, mungkin hanya syok aja," jelas Aril membuat Aurora bernapas lega.
"Ya sudah kakak ambilkan kamu obat dulu." Aurora beranjak dari sofa dan berjalan untuk pergi mengambil kotak P3K.
Irsyan melihat gelagat aneh dari adik iparnya, "Kenapa Ril, kok keliatan kamu gelisah gitu?"
"Aku cuma takut kak, mereka bakal laporin aku ke polisi karena perkelahian tadi," jelas Aril.
"Kamu tenang aja Ril, selama ada kakak dan Papa Harun semuanya akan baik-baik saja, toh yang duluan buat masalah itu mereka kan?" ucap Irsyan mencoba menenangkan dan meyakinkan Aril.
"Iya juga sih kak."
"Makanya kamu tenang aja."
"Iya makasih kak," ucap Aril tulus.
"Sama-sama kamu kan adiknya kak, sudah seharusnya kakak membantu kamu," balas Irsyan sambil menepuk-nepuk pundak Aril, Aurora yang melihat itu hanya tersenyum bersyukur karena suaminya itu sangat peduli pada keluarganya.
...****************...
__ADS_1
"Sayang, dasi Mas mana?" teriak Irsyan membuat Aurora berdecak kesal. Sudah ke berapa kalinya pria itu berteriak pagi ini.
Aurora mematikan kompor lalu beranjak ke lantai atas dan memasuki kamar dengan perasaan kesal.
"Dasi yang mana sih, Mas? Kan tadi udah aku persiapkan semuanya."
"Dasi Mas yang biru navy itu loh sayang," ucap Irsyan sambil membongkar laci yang berisi puluhan dasi milik pria yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah itu.
Aurora memukul gemas lengan Irsyan, ia yang mencintai kerapihan tentu saja merasa jengkel melihat tingkah suaminya yang dengan enteng membongkar susunan dasi yang berada di sana.
"Yang ini bukan, Mas?" tanya Aurora seraya menunjuk dasi berwarna biru navy yang letaknya paling ujung. Lantas Irsyan langsung tersenyum dan mengangguk.
"Nah iya yang itu sayang, dicariin juga dari tadi," omel Irsyan.
Aurora menghela napas, "Makanya cari baik-baik dulu Mas, kan jadi berantakan nih," ucapnya greget dengan menahan diri agar tidak emosi.
"Iya maaf sayangku, Mas kan nggak tau."
Aurora mendengus, setelah itu ia kembali ke dapur. Baru saja menuruni beberapa anak tangga, suaminya kembali berteriak.
Aurora memejamkan matanya dengan jemarinya memegang kuat railing tangga. Wanita hamil itu menghela napas kasar lalu kembali menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamar.
"Apa lagi sih Mas!" Aurora berkacak pinggang sambil menatap tajam suaminya.
"iPad Mas mana?" tanya Irsyan.
"Kok tanya aku sih?"
"Siapa tau kan kamu liat sayang."
"Terus kemana dong? Ya kali iPad bisa jalan sendiri, semalam kan Mas taruh nya di sana," ujar Irsyan sambil menunjuk meja kecil samping ranjang.
"Ya mana aku tau Mas," jawab Aurora mengangkat kedua bahunya acuh.
"Kamu sengaja ya sembunyikan iPad nya Mas kan, supaya Mas nggak jadi pergi ke kota S?" tuduh Irsyan memicingkan matanya.
Aurora memutar matanya jengah, memang siang ini Irsyan jadi pergi ke kota S guna melihat properti tanah yang akan menjadi tempat proyek pembangunan hotel milik Ammar Group itu, sekaligus akan memantau perkembangan perusahaan properti Papanya yang ada di sana.
"Aku nggak selicik itu kali Mas, main sembunyikan iPad kamu," balas Aurora cuek.
Mood wanita hamil itu akhir-akhir ini sering turun naik. Kadang kesal, bahagia, marah-marah tak jelas, manja dan paling yang tidak bisa Irsyan tebak yakni diamnya Aurora.
Pernah Irsyan mengira istrinya itu marah padanya karena mendiamkannya hampir tiga jam lamanya ternyata Aurora itu hanya kepikiran akhir dari sinetron channel ikan terbang yang di tonton nya kurang memuaskan.
Pernah juga Aurora marah-marah tak jelas karena Irsyan memakai parfum yang berbeda dari biasanya. Irsyan tak ambil pusing, jika diladeni yang ada ia menjadi tidak waras nantinya.
"Terus iPad Mas dimana?" tanya Irsyan gusar.
Aurora mengangkat bahunya acuh, ia berjalan keluar dari kamar mengabaikan suaminya yang sedang kelimpungan mencari salah satu benda paling penting di hidupnya itu.
Dipertengahan anak tangga Aurora menepuk jidatnya lalu kembali menuju kamar. Ia segera membuka laci meja riasnya dan mengambil iPad milik suaminya.
Irsyan yang melihat itu langsung menghembuskan napas lega, bahkan bahunya yang tegang tadi kini mulai perlahan rileks.
"Maaf aku lupa, Mas. Ternyata aku yang simpan di dalam laci meja riasku," cicit Aurora.
Irsyan hanya mengangguk, semenjak hamil sikap istrinya itu terkadang suka aneh. Selain keanehan seperti di atas, satu lagi keanehan dari Aurora, yakni pelupa.
__ADS_1
"Maafin aku Mas, aku lupa beneran," ucap Aurora bergelayut manja di lengan Irsyan.
"Iya," balas Irsyan singkat. Sontak balasan singkat dari Irsyan membuat Aurora menjadi kesal.
"Mas marah ya sama aku?" tuduhnya.
Irsyan langsung menggeleng, "Nggak sayang, Mas nggak marah sama kamu."
"Bohong! Jelas-jelas Mas kesal kan gara-gara aku lupa tempat menaruh Ipad-nya Mas?"
"Sini deh sayang." Irsyan menarik Aurora ke dalam pelukannya.
"Mas nggak kesal apalagi marah dengan istri cantiknya Mas ini," ucap Irsyan dengan lembut. Aurora memanyunkan bibirnya namun kedua tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.
"Mas sayang sama kamu." Irsyan mengecup kening Aurora.
Aurora mendongak menatap Irsyan yang selalu terlihat tampan dan menawan diberbagai sisi itu.
"Mas habis cukuran ya?" tanya Aurora dan langsung diangguki Irsyan.
"Kenapa?" Irsyan bingung dengan tanggapan dari istrinya yang begitu datar.
"Kamu sengaja ya cukuran buat narik perhatian wanita-wanita di sana?" tuduh Aurora.
Irsyan terkekeh, "Kamu cemburu sayang?"
Dengan cepat Aurora menggelengkan kepalanya, "Coba aja kalau berani udah aku potong-potong adik kamu!" Aurora merapatkan tubuhnya dan menyenggol pelan sesuatu milik berharga dari suaminya itu.
Napas Irsyan tercekat, membuat Aurora tersenyum puas. Kemudian Aurora segera kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang tertunda.
"Sayang!" teriak Irsyan.
"Apa sih Mas, ini rumah bukan hutan!"
Irsyan mengusap wajahnya gusar. Sial, istrinya telah membangunkan juniornya.
Aurora melanjutkan kegiatan memasaknya, hanya masakan simple yang ia masak mengingat suaminya itu sebenar lagi akan ke bandara. Sedangkan Aril, sudah berangkat dari jam setengah tujuh tadi karena akan ada turnamen basket antar sekolah.
"Pak Nudi yang akan antar Mas ke bandara?" tanya Aurora saat Irsyan sudah duduk di kursi makan. Pak Nudi adalah supir pribadi Irsyan.
"Hem," jawab singkat Irsyan.
"Ini." Aurora menaruh sepiring nasi beserta lauk pauknya di depan Irsyan.
"Terima kasih sayang." Irsyan makan dengan lahap, masakan istrinya memang terenak sedunia.
"Mau buah nggak Mas?" tawar Aurora.
"Nggak usah deh sayang," tolak Irsyan sambil melirik ke arah jam tangannya lalu berdiri dari kursi.
"Mas mau berangkat dulu," pamit Irsyan.
Irsyan memanggil Nudi untuk membantunya mengangkat kopernya yang masih ada di depan pintu kamar. Setelah itu Irsyan mengecup kening sekaligus bibir Aurora, tak lupa ia juga berpamitan pada calon anaknya yang ada di dalam perut sang istri sebelum Irsyan masuk ke mobil.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1