GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 91


__ADS_3

"Mau makan apa nak?" tanya Jihan, saat ini ia dan Aurora berada di salah satu restoran, untuk makan siang karena waktu telah menunjukkan pukul setengah 1 siang, saking hebohnya berbelanja sampai mereka lupa waktu. Namun sedari tadi Aurora sibuk mengecek ponselnya, dia berharap jika sang suami menghubunginya.


"Kamu lagi nungguin telpon dari Irsyan ya, nak?" tanya Jihan saat Aurora tidak menjawab ucapannya dan malah terus melihat ke arah layar ponselnya.


"Eh iya Ma, aku tungguin telpon dari mas Irsyan," jawab Aurora yang sedikit tersentak.


"Mungkin Irsyan belum sampai sayang, nanti kalau dia sudah sampai pasti kok menghubungi kamu," ucap Jihan menenangkan menantunya yang sedang gelisah itu. Sebab Irsyan tadi berangkat ke desa U tersebut dari jam 8 pagi, diperkirakan sampai disana menempuh 5 jam perjalanan, berarti kurang lebih sekitar 30 menit lagi Irsyan dan rombongan sampai di desa U.


"Iya Ma."


"Ayo makan siang dulu, kamu mau pesan apa?" tanya Jihan ulang. Di samping mereka sudah ada waiters yang sudah siap mencatat pesanan.


"Saya pesan iga bakar madu, nasi putih dan jus alpukat," pesan Aurora. Pesanan Aurora itu pun ditulis oleh waiters, lalu kini giliran Jihan yang memesan.


"Kalau saya Wagyu steak yang medium rare dan jus semangka. Oh ya, jangan lupa dengan air mineralnya sekalian." Jihan memang sangat menyukai makanan-makanan western.


"Baik Nyonya, mohon ditunggu pesanannya," ujar waiters itu dan mendapat anggukan dari Aurora serta Jihan. Lalu waiters itu pergi dari meja mereka.


30 menit pun berlalu, makanan yang mereka pesan pun sudah datang. Baru beberapa suapan, handphone Aurora tiba-tiba berdering, sang empu melihat ke arah layar ponselnya disana tertera nama 'Suamiku' yang menelpon. Dengan perasaan yang girang, Aurora segera mengangkat telpon dari suaminya. Jihan yang melihat itu ikut tersenyum.


"Assalamualaikum sayang," ucap Irsyan.


"Waalaikumsalam Mas. Mas udah sampai?" tanya Aurora antusias.


"Udah sayang sekitar 10 menit yang lalu Mas sampai sekarang lagi mess, kamu lagi dimana? Kok suaranya ramai sekali disana," tanya balik Irsyan. Irsyan tinggal di mess atau tempat tinggal yang telah disediakan khusus untuk dia dan rombongannya. 1 rumah untuk 3 orang dan Irsyan tinggal bersama Aji serta satu temannya bernama Huda.


"Aku di Mall dan sekarang lagi makan sama Mama," jelas Aurora.


"Alihkan ke video call cepet!" suruh Irsyan yang penasaran. Dengan cepat Aurora mengalihkannya ke mode video call, terpampang disana wajah lelah suaminya, namun masih terlihat tampan dan menawan, maka tak heran jika banyak benalu yang masuk ke dalam hubungannya dengan sang suami.


"Kamu lagi sama Mama?" tanya ulang Irsyan.


"Iya Mas." Aurora memberikan handphonenya ke Jihan.


"Iya nak, istrimu Mama ajak pergi shopping ke Mall," jelas Jihan.


"Jangan kasi istri Irsyan kelelahan loh, Ma. Ingat dia lagi hamil," tegur Irsyan pada Mamanya.


"Iya Mama ngerti, habis kamu makan kita langsung pulang kok," balas Jihan.


"Nah itu lebih bagus, Ma. Ma kasi handphonenya ke Aurora lagi dong," pinta Irsyan yang rindu melihat wajah Aurora padahal baru beberapa jam tidak bertemu.


"Iya-iya dasar bucin!" cibir Jihan, lalu mengembalikan handphone tersebut pada Aurora.


"Ini nak." Setelah mengembalikan handphone Aurora, Jihan kembali menyantap makanannya.


"Sayangnya Mas lagi makan apa?" tanya Irsyan dengan lembut.

__ADS_1


Aurora mengalihkan kamera handphonenya ke kamera belakang, lalu memberitahu apa yang ia makan dan minum pada Irsyan.


"Nice, selama aku pergi kamu nggak usah makan yang aneh-aneh dan pedas, apalagi makan fast food nggak baik untuk ibu hamil," pesan Irsyan karena ia tau jika istrinya itu suka makan makanan seperti itu, salah satunya ia suka makan fast food yang ada di restoran brand yang memiliki cabang sampai ke seluruh dunia itu.


"Iya aku ngerti Mas. Mas istirahat aja, kasian pasti kelelahan di perjalanan tadi," suruh Aurora pada Irsyan.


"Iya sayang, Mas capek dan pegel banget. Ya sudah Mas matikan ya telponnya? Soalnya Mas mau beresin pakaian yang ada di koper dulu."


"Iya Mas."


"Pulang-pulang dari Mall, langsung telpon atau chat Mas, oke?"


"Siap Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam sayang." Aurora mematikan sambungan telepon, tapi senyuman yang tadi mengembang langsung memudar.


"Kenapa nak? Kok habis nelpon sama Irsyan wajah kamu langsung murung gitu?" tanya Jihan yang heran dengan perubahan ekspresi wajah menantunya itu.


"Nggak tau juga Ma, padahal mas Irsyan baru aja nelpon, aku udah kangen aja," lirih Aurora. Jihan tersenyum mengerti dengan perasaan menantunya itu.


"Mungkin itu bawaan baby kamu nak, dia sepertinya kangen dengan Papanya," papar Jihan.


"Sepertinya begitu Ma."


...****************...


"Vania?" panggil seseorang. Yah, gadis itu adalah Vania, sepupu dari Irsyan yang baru saja pulang dari Australia. Ia balik ke Indonesia hanya untuk liburan beberapa minggu, karena ia sedang libur kuliah.


"Bang Sat?" ucap Vania dengan girang ketika melihat sahabat dari kakak sepupunya itu. Ia, Irsyan dan keempat sahabat Irsyan yang lainnya dulu sering bermain-main saat Vania masih duduk di bangku SMP sedangkan Irsyan beserta keempat sahabatnya dulu masih duduk di bangku SMA.


Satria yang dipanggil seperti itu langsung mendelik. "Udah balik lo dari Aussie?" tanyanya.


Vania mengangguk cepat, "Tapi disini gue cuma liburan doang, terus balik lagi ke Aussie," jelasnya dan Satria hanya manggut-manggut.


"Lo disini ngapain Bang?" tanya balik Vania.


"Gue mau jemput Nenek dan Kakek gue, tapi sepertinya pesawat mereka belum turun," jelas Satria.


"Oh gitu. Oh ya, lo juga udah nikah kayak kak Irsyan, Bang?"


"Belum," jawab Satria singkat.


"Si katak gurun juga belum?" tanya Vania lagi. Katak gurun yang dimaksud oleh Vania adalah Aji. Vania dan Aji memang tidak pernah akur dari dulu, mereka sudah seperti kucing dan tikus.


"Belum, apalagi dia si jomblo ngenes," jawab Satria membuat Vania tertawa.


"Entah siapa yang ditunggu sama manusia ajaib itu, udah 5 tahun ini dia masih enggan cari perempuan, gue takutnya tu anak malah belok lagi," ucap Satria. Vania yang mendengar itu langsung terdiam, ia mengingat sesuatu, tapi dengan cepat ia mengenyahkan pikirannya itu.

__ADS_1


"Mungkin belum ada yang tepat," pungkas Vania.


"Ya sepertinya begitu. Sekarang dia sama Irsyan lagi di desa U."


"Hah? Mereka ngapain disana?" tanya Vania terkejut.


"Mereka lagi jadi relawan disana," jelas Satria.


"Terus kakak ipar ngizinin kak Irsyan pergi kesana?" Kakak ipar yang di maksud Vania, tentu saja Aurora.


"Ya Aurora ngizinin si Irsyan pergi, padahal istrinya tu bocah lagi hamil."


"Kakak ipar lagi hamil?" Lagi-lagi Vania terkejut dengan ucapan Satria.


"Iya hamil, memangnya lo nggak tau?" tanya Satria heran.


"Iya Bang, kayaknya mereka lupa kasi tau ke gue," ucap Vania tersenyum tipis. Dia tak menyalahkan Irsyan, Aurora atau siapapun karena dirinya tidak diberitahu tentang kehamilan Aurora. Tapi memang 1 bulan belakangan ini Vania sangat sibuk dengan ujiannya, untuk membuka handphone saja jarang dan bisa dihitung jari.


"Terus lo kapan nikahnya sih Bang? Ingat umur lo 28 tahun, udah matang untuk menikah, cari istri bukan pacar lagi," kata Vania mengomeli Satria.


"Iya gue tau, tapi gue belum nemuin calon yang tepat aja," balas Satria dengan santai.


"Memangnya lo cari calon istri kayak gimana sih? Jangan muluk-muluk cari cewek, nanti yang ada lo lama dapat jodohnya."


"Kayak Aurora," ucap Satria pelan, saking pelannya Vania pun tak bisa mendengar ucapannya.


"Kayak siapa Bang? Kecil banget suara lo."


"Ah maksud gue itu pastinya yang seiman, baik, lembut dan keibuan," jelas Satria. Vania langsung manggut-manggut.


"Oh gitu."


"Permisi Nona," panggil seorang pria paruh baya, sepertinya dia adalah sopir dari keluarga Vania.


"Eh pak Sapto? Bang gue duluan ya, soalnya pak Sapto udah datang," pamit Vania pada Satria.


"Iya Van, lo hati-hati."


"Iya Bang, kapan-kapan kita ngumpul ya sama yang lain juga?" ajak Vania.


"Sip, nanti lo kasih info aja kapan kita kumpul nya," jawab Satria.


"Oke." Vania pun pergi menuju ke tempat mobilnya berada dengan koper yang dibawakan oleh pak Sapto.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2