
Aurora sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Dengan tangan yang masih terikat pada kepala ranjang, hanya kakinya saja yang sudah terbebas dari ikatan.
Tidak pernah terpikir olehnya, jika dirinya akan diculik seperti ini. Banyak hal yang dia pikirkan saat ini, bagaimana keadaan orang tuanya dan adiknya? Lalu bagaimana keadaan Irsyan? Apakah suaminya itu sedang mencari keberadaannya?
Lamunannya buyar ketika terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Di sana terdapat Rian yang baru saja memasuki kamar.
"Hai, selamat pagi sayang! Kamu sedang apa?" sapa Rian yang sudah duduk di tepi ranjang.
Rian membelai pipi mulus Aurora, ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Aurora menggeleng-gelengkan kepala, untuk menghindari sentuhan pria itu.
Rian mengikis jarak dengan Aurora, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "K-kamu mau apa, hah? Menjauh dariku!" teriak Aurora dengan tubuh yang bergetar. Ia takut kepada Rian, karena pria itu selalu menyentuhnya namun Aurora tidak bisa menghindarinya.
"Jangan takut Sayang, kamu akan menjadi Istriku. Jadi biarkan aku menyentuhmu!" ucap Rian, memeluk tubuh Aurora dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu.
Aurora merasa geli dan jijik, karena pria gila terus menerus mengecup basah lehernya. Lalu kecupannya naik ke rahang, pipi dan ujung bibir Aurora. Rian menggeram ketika Aurora menghindarinya ketika ia akan mencium bibir wanita itu.
"Aku mohon, lepaskan aku, Rian! Aku ingin pulang!" Aurora bahkan menghilangkan embel-embel 'Mas' pada Rian.
"Kamu ingin pulang?" tanya Rian yang diangguki oleh Aurora dengan semangat.
"Baik, aku akan melepaskan mu. Namun kamu berjanji padaku, jika setelah itu kamu akan menikah denganku! Kita akan hidup bahagia bersama di Dubai. Bagaimana?" tawar Rian menangkup wajah mungil Aurora.
Aurora menggelengkan kepalanya, dia tidak sudi menikah dengan pria gila seperti Rian.
Namun Aurora tidak menjawab pertanyaan Rian. "Baiklah, satu-satunya cara agar kamu mau menikah denganku--" ucapan Rian tergantung.
Ia beranjak dari tempat tidur. Dan segera membuka kancing baju yang menutupi tubuhnya. Aurora membulatkan matanya dengan perasaan yang sangat takut. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"A-apa yang akan kamu lakuk-arghhhh!" jerit Aurora karena Rian secara kasar menarik kedua kaki Aurora hingga wanita itu kini dalam posisi terlentang. Rian segera menindih tubuh mungil wanita itu, tapi tidak sampai menindih perut buncit Aurora.
"Akan aku jadikan kamu menjadi milikku seutuhnya, Ra. Karena sudah aku pastikan, suamimu itu nggak akan sudi lagi bersama istri yang sudah dicicipi oleh pria lain!" ucap Rian menyeringai.
Aurora memberontak dengan cara menggerakkan kakinya, namun hal itu tidak membuat Rian berhenti. Bahkan pria itu terus saja menghisap leher jenjang Aurora.
"Kamu tenang saja Ra, walaupun nanti suamimu meninggalkanmu. Ada aku yang siap untuk menerima mu dan anak yang ada dikandungan mu ini!" bisik Rian tepat di telinga Aurora. Hal itu membuat Aurora semakin takut. Namun bukan takut dengan apa yang akan pria itu lakukan, melainkan ia takut jika kenyataannya Irsyan akan meninggalkannya. Dia tidak mau!
"Aku mohon lepaskan aku! Aku mohon ...," isak Aurora. Namun Rian menulikan pendengarannya.
Sesaat Rian menghentikan aktifitasnya. Ia mengambil sesuatu yang ada di dalam saku celananya. Obat? Benar, Rian mengeluarkan satu buah obat dari benda kecil.
"Buka mulutmu!" pinta Rian. Namun Aurora semakin merapatkan bibirnya, ia takut. Sangat takut, apalagi bisa berakibat fatal pada kandungannya.
Karena sudah tidak sabar, Rian mencengkram kedua pipi Aurora memaksa agar wanita itu membuka mulutnya. Aurora terus saja menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih mengatup.
Rian menggeram kesal. Dengan sekuat tenaga ia merem*s dada Aurora, yang membuat wanita itu berteriak. Dan saat itulah obat tersebut masuk kedalam mulut Aurora. Beberapa detik kemudian, Rian segera mencumbunya. Ia mencecap bibir Aurora penuh dengan nafsu.
Aurora menangis, dia kotor! Tubuhnya penuh dengan kecupan pria itu, tangan Rian terus bergerilya pada tubuh Aurora.
__ADS_1
SREKKK!
Baju yang dipakai oleh Aurora pun kini sudah tidak berbentuk. Pria brengsek itu sudah menyobeknya. Dan kini ia sudah tidak menggunakan sehelai kain pun.
"Tidakkkkkk! Aku mohon jangan lakukan ini! Aku mohon, Rian!" mohon Aurora berteriak. Dengan air matanya yang semakin deras membasahi pipinya. Dia tidak mau. Dia tidak sudi. Dia tidak ikhlas jika pria brengsek itu memasuki miliknya.
Sungguh ini mimpi buruk baginya. Aurora terus saja memberontak di bawah kungkungan Rian. Hingga ia merasakan sesuatu yang keras mendesak pada inti tubuhnya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi, inti tubuhnya itu hanya untuk suaminya, bukan pria lain!
"Bersiaplah Sayang, kamu akan menjadi milikku!" ucap Rian menyeringai, Sebelum mengecup lembut pipi Aurora.
"Kamu gila, Rian! Pria bedebah! Pria laknat!" umpat Aurora berteriak dengan sisa tenaga yang ta punya. Namun Rian tidak menghiraukan semua itu. Dia masih berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Aurora.
Hingga pada akhirnya...
"ARGHHHHH..."
"TIDAKKKKKKKK!" teriak Aurora.
"Sayang, kamu kenapa? Bangun, Ra. Aurora?"
Aurora langsung membuka matanya, ketika ia merasa ada seseorang yang menepuk pipinya. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok pria yang terlihat sangat cemas, yang sedang menggenggam tangannya dengan erat.
"M-Mas." Aurora segera bangun dari tidurnya dan menghambur pada pria itu untuk segera memeluk tubuhnya. Dengan tubuh Aurora yang masih bergetar hebat.
"Aku takut Mas, a-aku takutt!" isak Aurora dengan suara bergetar dan menangis di pelukan suaminya.
"Kamu tenang, sayang. Kamu hanya mimpi buruk. Mas akan selalu ada bersamamu. Nggak akan Mas biarkan hal itu terjadi kembali!" Irsyan mengelus punggung Aurora dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ia sangat mengerti dengan apa yang istrinya ini rasakan.
Sungguh ia merasa panik ketika ia sedang melihat wajah Aurora yang sedang terlelap tiba-tiba wanita itu berteriak kencang, menandakan seberapa takutnya wanita itu hingga terbawa mimpi. Walaupun ia tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Rian. Namun sudah dipastikan jika pria itu telah mencoba untuk menyentuh istrinya.
Terbukti saat tadi Irsyan membawa Aurora pulang, dia harus sekuat tenaga mengontrol dirinya akibat perbuatan laknat Rian.
*Flashback on*
"Kamu brengsek! Bajing*n! Pergi ke neraka kamu, Rian!" teriak Aurora, ketika Rian melepaskan cumbuannya.
Aurora sungguh merasa jijik pada dirinya, ia lemah sekali tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya memang terkunci oleh pria itu.
'Ya Allah... Mas. Kamu ada di mana? Tolongin aku disini.' Aurora tidak henti-hentinya mengeluarkan air matanya.
Lagi-lagi Rian harus menghentikan cumbuannya, ketika terdengar suara ketukan pintu. Itu pasti anak buahnya, ia merasa kesal karena telah diganggu.
Aurora bernapas lega, ketika Rian turun dari tubuhnya dan pergi ke arah pintu, untuk membuka pintu tersebut.
"ADA AP--"
BUGH!
__ADS_1
Aurora tersentak ketika mendengar suara pukulan yang sangat keras. Ia membelalakkan matanya. Irsyan?! Benar. Orang yang sedang menghajar Rian habis-habisan itu adalah Irsyan. Suami tercintanya.
"A-Ayah!" teriak Aurora semakin deras mengeluarkan air matanya saat melihat sosok Alfian yang baru saja memasuki kamar tersebut.
Alfian segera menghampiri Aurora dan melepaskan tali pada tangan putrinya.
"Sayang, putriku." Alfian menarik tubuh Aurora agar duduk, dan segera memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat. Ia benar-benar sangat khawatir karena telah kehilangan putrinya selama beberapa hari ini.
"Ayah, aku takut, Yah!" isak Aurora dengan tidak kalah erat memeluk Alfian.
"Maafkan Ayah, yang baru bisa menemukanmu saat ini. Maafkan Ayah, nak!" ucap Alfian yang diangguki oleh Aurora.
"Kamu yang tenang nak, sekarang kamu sudah aman!" Alfian mengelus punggung putrinya.
Aurora tidak sengaja melihat Irsyan yang secara membabi buta menghajar dan menendang Rian yang sudah penuh dengan luka di wajahnya. Tidak tertinggal, sumpah serapah yang Irsyan berikan kepada pria yang telah menculik istrinya itu.
Aurora semakin menangis di pelukan Alfian. Ia masih shock dengan perbuatan Rian kepadanya.
"Irsyan, berhenti!" teriak Alfian saat menengok ke arah pria itu yang masih saja menghajar Rian. Namun Irsyan mengabaikannya, dia terus saja memukul dan menendang Rian yang sudah dipenuhi dengan darah segar di tubuhnya.
Alfian melepaskan pelukan pada tubuh putrinya dan ia segera menghampiri Irsyan.
"Cukup, Irsyan!" Alfian menahan tubuh Irsyan yang memang sedang teramat murka.
"Dengarkan Ayah! Ayah tidak ingin suami dari anakku dan ayah dari calon cucuku nanti menjadi seorang pembunuh! Lebih baik kamu tenangkan Aurora yang sedang ketakutan di sana!" kata Alfian menatap wajah Irsyan dengan serius.
Irsyan pun mengalihkan tatapannya pada Aurora, akhirnya dia bisa melihat wanita yang sangat dicintainya itu. Dengan langkah pasti, Irsyan segera menghampiri Aurora dan segera mengangkat tubuh wanita itu untuk didudukkan di pangkuannya. Irsyan memeluk tubuh Aurora dengan sangat erat, begitupun dengan Aurora. Mereka saling melepas kerinduan yang beberapa hari ini hadir dalam dirinya.
"Mas Irsyan," lirih Aurora, dalam pelukannya. Irsyan tidak henti hentinya mengecup bahu dan pelipis Aurora, Ya Tuhan, ia sangat merindukan wanitanya ini.
"Kamu sudah aman sayang, Mas berjanji akan menjagamu! Mas janji, kejadian ini nggak akan terulang lagi!" janji Irsyan, yang diangguki oleh Aurora.
Mereka terdiam cukup lama, tidak ada yang mereka katakan selain memilih untuk saling melampiaskan rasa rindunya dengan sebuah pelukan dan juga kecupan yang tiada akhir.
Tanpa ada yang menyadari, Irsyan meneteskan air matanya. Ia sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan istrinya, seseorang yang telah menjadi dunianya. Dunia Irsyan hancur seketika saat Aurora menghilang tanpa bisa ia temukan. Aurora adalah anugerah untuknya, Irsyan bahkan rela mengorbankan segalanya hanya demi kebahagiaan dan keselamatan Aurora.
"Sekarang kita pulang!" Irsyan beranjak dari tempat tidur dengan posisi Aurora yang masih ada dalam gendongannya.
Saat keluar dari kamar, Aurora meringis melihat darah yang berceceran di lantai. Rasanya mual sekali melihat hal itu. Ia melihat anak buah Rian yang sudah babak belur oleh anak buah Irsyan.
"Tutup matamu, sayang!" pinta Irsyan. Aurora pun segera menutup matanya. Irsyan tahu jika Aurora sedang merasa ketakutan saat ini, bisa ditebak dari tubuhnya yang bergetar dan dingin.
Irsyan segera membuka pintu mobilnya, dan menurunkan Aurora secara perlahan. Ia mendudukkan wanita itu dengan penuh kehati-hatian. Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan, Irsyan terus saja menggenggam tangan Aurora dengan begitu erat, tidak lupa dengan kecupan-kecupan yang dia berikan pada punggung tangan istrinya itu.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1