
Hari pun berganti, Irsyan mengeluarkan barang bawaannya di bantu oleh pekerja dirumahnya dan di masukan ke dalam bagasi mobil, sebelum pergi ia berpamitan dengan istri dan kedua orangtuanya terlebih dahulu.
"Mas berangkat dulu ya sayang." Irsyan mengatakan itu, tapi masih memeluk erat Aurora, ia merasa tak rela jika pergi meninggalkan istrinya.
"Katanya mau berangkat, tapi masih lengket aja tuh sama istri!" sindir Jihan mencibir putranya. Bibir bawah Irsyan mengerucut, Mamanya ini benar-benar tidak mengerti.
"Namanya juga bucin akut, Tan," timpal Aji ikut mencibir Irsyan. Dia menjemput Irsyan agar mereka bisa berangkat bersama.
"Diem lo! Besok lo juga bakal ngerasain gimana rasanya jadi gue! Gue doain lo nanti bakalan lebih bucin sama istri lo daripada gue!" balas Irsyan kesal sambil menguraikan pelukannya. Aji mendengus, sedangkan Aurora, Harun dan Jihan langsung terkekeh.
"Sampai disana langsung hubungi aku ya Mas?" pinta Aurora.
Irsyan mengangguk, "Iya pasti sayang." Irsyan mengecup kening Aurora cukup lama tak peduli dengan orang-orang disekitarnya, apalagi Aji yang langsung melihat ke arah lain, tak kuasa melihat adegan romantis seperti itu di depan matanya, membuat jiwa jomblonya semakin meronta-ronta.
'Dasar pasangan bucin! Nggak liat situasi dan kondisi dulu napa kalau mau bermesraan, nggak tau apa ada cowok jomblo disini,' decak Aji dalam hatinya.
Irsyan beralih menyalami dan memeluk kedua orang tuanya. "Ma, Pa. Irsyan berangkat dulu."
"Kamu jaga diri dan kesehatan disana, jangan macam-macam, ingat ada istri dan calon anakmu menunggu di rumah. Kalau kamu berani macam-macam, Mama coret kamu dari hak waris!" ancam Jihan tak main-main.
"Iya Mamaku tersayang, nggak mungkin aku bakalan macam-macam disana, orang istri aku aja udah Masya Allah cantiknya kebangetan. Berarti aku orang bodoh jika aku berani mengkhianatinya," ucap Irsyan sambil menatap Aurora dengan penuh cinta, membuat semua orang yang ada disana tersenyum mendengarnya, terutama Aurora yang juga langsung salah tingkah.
"Itu baru anak Mama," balas Jihan menepuk-nepuk lengan putranya.
"Kalau ada apa-apa langsung telpon Papa," timpal Harun.
"Siap Pa." Irsyan dan Aji masuk ke dalam mobil, sebelum benar-benar pergi meninggalkan pekarangan rumah, Irsyan menurunkan kaca jendela mobil lalu melambaikan tangan pada istri dan kedua orangtuanya. Ia melihat mata istrinya berkaca-kaca dan mulai terisak, Aurora pun langsung dipeluk dan ditenangkan oleh Jihan.
"Maafkan Mas sayang," lirih Irsyan. Aji yang melihat itu pun ikut merasa iba, jika dirinya telah memiliki istri pasti ia juga akan merasakan seperti yang Irsyan rasakan saat ini.
"Sayang ayo masuk," ajak Jihan pada Aurora. Aurora hanya mengangguk pelan, lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
"Mau makan apa sayang? Atau kamu lagi menginginkan sesuatu?" tanya Jihan menawarkan sesuatu ke Aurora, agar mengalihkan rasa sedih menantunya itu.
"Iya nak, apa cucu Papa tidak mengidamkan sesuatu?" timpal Harun.
Aurora menggeleng seraya tersenyum tipis, "Aurora lagi nggak ngidam apa-apa kok Ma, Pa," ucapnya. Jihan harus memikirkan cara agar bisa menghibur sang menantu.
__ADS_1
"Gimana kalau kita pergi shopping ke Mall? Mama udah lama nih nggak ke Mall," ajak Jihan.
"Ke Mall Ma?" tanya ulang Aurora.
"Iya nak, kamu mau kan? Sekalian beli baju untuk kamu juga, Mama yakin baju-baju kamu pasti habis kekecilan karena ada si kecil disini," ucap Jihan sambil mengelus perut Aurora. Aurora membenarkan ucapan sang Mama mertua, semenjak hamil hampir semua bajunya menjadi kekecilan.
"Iya aku mau Ma."
"Oke, Mama ambil tas dulu di kamar. Papa dirumah ya? Soalnya ini hanya waktu untuk para wanita saja."
"Iya Ma," jawab Harun dengan singkat, toh dia juga harus menyelesaikan pekerjaannya.
Setibanya di Mall, Jihan langsung membawa Aurora ke tempat salah satu toko baju dengan brand ternama di dunia dan Aurora hanya pasrah mengikuti kemanapun Mama mertuanya itu mengajak dirinya.
"Ini, ini dan ini bagus untuk kamu sayang," ujar Jihan sambil membawakan beberapa dress ibu hamil untuk Aurora.
"Ayo di coba," sambung Jihan menyuruh Aurora untuk mencoba dress tersebut.
"Iya Ma."
Aurora melihat-lihat koleksi tas di toko tersebut dan ia hanya bisa mengelus dada saat mengetahui harga dari tas-tas tersebut.
"Kamu mau yang mana, nak? Ambil saja nanti biar Mama yang bayar," suruh Jihan.
"Tapi mahal-mahal Ma," ucap Aurora.
"Gapapa nak, ambil saja tas mana yang kamu mau. Masalah harga jangan dipikirkan, uang Papamu nggak akan habis sampai tujuh turunan dan tanjakan," balas Jihan dengan santainya dengan membanggakan harta kekayaan sang suami pada menantunya.
"Beneran boleh Ma?" tanya Aurora memastikan. Ia telah jatuh cinta dengan tas berwarna abu-abu berbentuk mini yang harganya mencapai lima puluh jutaan lebih.
"Iya ambil saja sayang." Dengan senang hati Aurora mengambil tas yang ia inginkan itu dibantu oleh pramuniaga toko.
"Mau tas yang mana lagi nak? Atau mau cari di toko brand lainnya" tanya Jihan.
"Eh nggak usah Ma, tas ini udah cukup. Di rumah juga masih ada beberapa tas pemberian dari mas Irsyan dan dari Mama yang belum terpakai," tolak Aurora dengan halus. Jihan langsung manggut-manggut mengerti.
"Ya sudah, sekarang kita bayar dulu," ajak Jihan. Aurora menganggukkan kepala, mereka berdua pergi ke kasur untuk membayarnya. Setelah pembayaran selesai, Aurora dan Jihan keluar dari toko tersebut namun saat di pintu mereka berpapasan dengan Rian dan seorang wanita yang tengah memeluk manja lengan Rian.
__ADS_1
"Aurora!" sapa Rian.
"Eh mas Rian," balas Aurora sedikit kaget saat bertemu dengan Rian di Mall.
"Kamu habis belanja di toko ini?" tanya Rian berbasa-basi.
"Iya Mas," jawab singkat Aurora. Sedangkan Jihan menatap tak suka ke arah Rian, wanita paruh baya itu tau jika pria di depannya ini menyukai menantunya walaupun dilihat hanya dari tatapannya saja.
"Dia siapa honey?" tanya wanita di samping Rian itu.
"Oh kenalkan dia rekan kerja aku dulu waktu di kantor walikota namanya Aurora dan Aurora kenalkan ini Dania, tunangan aku," ucap Rian memperkenalkan Aurora pada Dania sebagai rekan kerjanya dan sebaliknya Rian memperkenalkan Dania ke Aurora sebagai tunangannya.
"Hai, aku Aurora," sapa Aurora sambil menyodorkan tangannya ke arah Dania. Dania menatap jijik dan remeh arah Aurora, bahkan ia tak ingin menyalami tangan Aurora.
Aurora yang merasa tangannya dihiraukan, ia langsung menjauhi tangannya itu dan tersenyum tipis. Jihan yang melihat menantunya diperlakukan seperti itu langsung geram.
"Ayo kita pergi dari sini nak, kita harus menjauh dari orang-orang sombong dan tidak tau diri, yang ada nanti kita malah ketularan lagi sama sifat jeleknya itu," sindir Jihan sambil menarik tangan Aurora untuk pergi menjauh. Rian menatap sendu punggung Aurora, lalu beralih menatap Dania dengan tatapan tajam.
"Apa-apaan sih kamu! Pakai nolak bersalaman dengan Aurora!" hardik Rian pada Dania.
"Kamu bentak aku gara-gara wanita itu?" tanya Dania tak percaya.
"Kalau iya emangnya kenapa hah?!" sentak Rian lagi membuat atensi orang-orang disana langsung ke arah mereka berdua, bahkan orang-orang itu langsung berbisik-bisik.
"Tega ya kamu bentak-bentak aku karena wanita itu? Aku ini tunangan kamu, Rian!" sentak balik Dania.
"Aku nggak peduli! Aku harap kamu jangan menemui aku dulu untuk beberapa hari ke depan, karena aku lagi malas melihatmu dan kamu harus mengintropeksi diri dulu, dimana letak kesalahan kamu!" ujar Rian dingin.
"Tapi honey aku-"
"Shut up! Jangan panggil aku honey!" potong Rian dan meninggalkan Dania sendirian.
"Honey tunggu!" ucap Dania sambil mengejar Rian.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1