
Aurora dan Irsyan baru saja menapakkan kaki di gedung HC PROPERTIE'S, ibu hamil itu ingin menemani sang suami bekerja, walau Irsyan sudah melarangnya.
Sesampainya di dalam gedung, mereka berdua langsung mendapat sapaan dari beberapa karyawan disana dan di balas dengan ramah oleh mereka berdua.
Mata Aurora tak sengaja melihat seseorang yang amat familiar dan orang itu berjalan menuju ke arah cafetaria kantor. Tapi mungkin hanya mirip saja, pikir Aurora.
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan menyadarkan Aurora.
"Ah nggak ada kok Mas," jawab Aurora. Irsyan hanya mengangguk mempercayai istrinya. Irsyan merangkul pinggang Aurora berjalan menuju ke lift khusus para petinggi. Mereka berdua masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka.
Tiba-tiba Irsyan berjongkok dan menekuk lutut kaki kirinya.
"Sayang," panggil Irsyan. Aurora heran melihat Irsyan yang seperti itu.
"Eh Mas ngapain begitu? Ayo bangun."
"Sini duduk." Irsyan menepuk satu pahanya yang di tekuk itu dan menyuruh Aurora untuk duduk disana.
"Eh nggak usah Mas, aku berat dan lagi celana Mas nanti bisa kotor," tolak Aurora.
"Kamu nggak berat kok sayang, daripada kamu kelelahan berdiri." Irsyan menarik tangan Aurora untuk duduk di pahanya. Hati Aurora tersentuh dengan sikap dan perhatian sang suami kepadanya.
"Makasih Mas," ucap Aurora tersenyum, tangan kanannya merangkul leher Irsyan lalu wajahnya mendekat dan mencium kening suaminya membuat hati sang empu berbunga-bunga sampai telinganya pun memerah menahan malu. Haish, istrinya membuat dirinya salah tingkah!
"Sama-sama, sayangku."
Ting!
Pintu lift terbuka kini mereka berdua sudah berada di lantai 15, tempat ruangan Irsyan berada. Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangan Irsyan, tepat di ruangan mereka berdua di sambut hangat oleh Aris.
"Selamat pagi Pak Irsyan, Bu Aurora."
"Pagi juga pak Aris," balas mereka berdua dengan serempak.
"Maaf pak Irsyan, pak Rian dan sekretarisnya sudah datang, tapi beliau sedang ke toilet sebentar," ujar Aris.
Rian? Apa benar Rian yang dikatakan Aris tadi adalah Rian yang Aurora kenal? Semoga saja bukan karena nama Rian bukan laki-laki itu saja di dunia ini.
"Baik pak Aris, Bapak sudah persiapkan semua kan?" tanya Irsyan.
"Sudah Pak."
"Terima kasih pak Aris, nanti jika pak Rian sudah balik, beritahu saya," suruh Irsyan pada asisten sekaligus sekretarisnya.
"Baik Pak."
Irsyan tersenyum dan mengangguk, pak Aris memang bisa diandalkan.
"Ayo sayang, kita masuk," ajak Irsyan.
Aurora mengangguk, "Mari pak Aris."
__ADS_1
"Silahkan bu Aurora."
Aurora dan Irsyan masuk ke dalam ruangan, Aurora menuju ke sofa sedangkan Irsyan ke meja kerjanya. Pria itu mulai memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja. Tak lama masuk Aris memberitahukan kepada Irsyan jika kliennya sudah berada di ruang rapat.
"Permisi Pak."
"Ya pak Aris?" tanya Irsyan.
"Pak Rian sudah berada di ruang meeting," jelasnya. Aurora penasaran siapa Rian yang menjadi klien dari suaminya itu.
"Baik Pak, saya segera kesana."
Aris mengangguk dan berlalu keluar dari ruang kerja Irsyan. Irsyan beranjak dari kursi kerjanya, berjalan mendekati Aurora yang ada di sofa.
"Sayang Mas mau meeting sebentar ya? Jangan kemana-mana, kalau butuh apa-apa tinggal kasi tau OB disini," pesan Irsyan.
"Iya siap Mas," ucap Aurora. Irsyan tersenyum dan mendaratkan ciuman di kening Aurora sebelum keluar dari ruangannya. Setelah Irsyan keluar, Aurora memilih memainkan ponselnya dan berselancar di salah satu aplikasi market place memilih beberapa baju bayi yang menurutnya lucu.
Tiba-tiba handphone Aurora berdering dan nama Mila yang terpampang di layar ponselnya, tanpa berlama-lama lagi Aurora segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum Mil."
"Waalaikumsalam Ra, lo ada dimana?" tanya Mila.
"Gue lagi di kantor suami gue, kenapa Mil?"
"Gue mau kasi tau kalau Andre masuk rumah sakit," papar Mila.
"*Wow wow, slow down bumil, jangan teriak gitu. Telinga gue bisa budeg denger teriakan lo," sungut Mila*.
"Hehe iya sorry, gue kaget soalnya tadi," ucap Aurora cengengesan. Mila mendengus sebal.
"Tadi pagi Tante Santi kasi tau gue kalau tu bocah bangor masuk rumah sakit, dia nyiksa dirinya sendiri pake pecahan kaca, kemarin dia sempat kritis karena hampir kehabisan darah, untungnya dia selamat," jelas Mila panjang lebar. Aurora terkejut bukan main dengan sikap nekat dari sahabatnya itu.
"Gila, nekat banget sih! Pasti ini ada sangkut pautnya sama masalahnya dengan Kiran," timpal Aurora.
"Ya menurut gue juga kayak gitu. Eh lo nggak pergi jengukin dia?" tanya Mila.
"Nanti deh habis pulang mas Irsyan dari kantor, Insya Allah gue pergi jengukin Andre," jawab Aurora.
"Oke, gue juga nanti habis pulang dari kantor langsung ke rumah sakit. Udah dulu ya, Ra? Soalnya bentar lagi mau rapat."
"Oke Mil, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ada rasa iri sedikit di hati Aurora, ia masih ingin bekerja tapi apalah daya ia harus jadi istri yang berbakti kepada suaminya.
...****************...
Caca dan Lala keluar dari kelas sambil membawa mukena serta sajadah di tangan mereka. Di tengah perjalanan menuju ke mushola, ia melihat Aril bersama ketiga sahabatnya yang ingin memasuki mushola seperti dirinya. Disana pun ada Bintang dan kawan-kawannya berada di depan mushola.
__ADS_1
"Ca, kita beruntung banget bisa liat most wanted ngumpul semua di mushola kayak gini," seru Lala setelah mereka sampai di depan mushola. Caca hanya geleng-geleng kepala dengan ucapan sahabatnya.
"Wih ada Caca nih," ucap Dandy salah satu teman Bintang.
"Hai kak," balas Caca kikuk.
"Seorang Naufal bisa sholat juga?" ledek Lala menatap remeh Naufal.
"Gue islam btw," jawab Naufal dengan nada datar, gadis itu memang selalu mencari masalah dengannya.
"Kata Ibu, masakan lo enak," sahut Aril tiba-tiba, semua orang penasaran dengan maksud ucapan Aril itu untuk siapa.
"Oh gue, Ril?" tunjuk Caca ke dirinya sendiri. Aril mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka semua. Lusa kemarin Caca sengaja memasak makanan untuk Aril dan ia tidak mengetahui jika laki-laki itu juga memberikan masakan Caca pada ibunya.
"Eh kok duluan?" tanya Gino heran.
"Gue mau adzan," jawab Aril.
"Oh iya udah waktunya nih, lo juga yang jadi imam, Ril?" celetuk Dennis. Aril hanya berdehem singkat dan berjalan menuju ke mimbar mushola untuk mengumandangkan adzan.
"Udah ganteng, jadi ketua basket, jadi anggota taekwondo, pinter di semua mata pelajaran apalagi pelajaran agama, beuh... Cocok banget jadi calon imam," ucap Lala mendramatisir tentang Aril, Caca memutar matanya jengah.
"Biar gue aja yang jadi imamnya!" sahut Bintang tiba-tiba.
"Hah?" teman-teman Bintang terkejut mendengar perkataan dari laki-laki itu pasalnya ini pertama kalinya Bintang ingin menjadi imam sholat di sekolah.
"Sekalian gue yang mengumandangkan adzan nya," ucap Bintang langsung memasuki mushola dan mengambil alih mic yang sudah berada di tangan Aril.
"Biar gue aja!" ujar Bintang. Aril menaikkan satu alisnya lalu mengangguk.
"Serah."
Semua melongo dengan tingkah ketua OSIS itu, terutama sahabat-sahabatnya.
"Woy malah pada melamun, sana pada wudhu udah adzan tuh!" sentak Caca dan diangguki mereka semua.
Caca cukup kagum saat mendengar suara Bintang mengumandangkan adzan.
Selesai sudah kewajiban mereka sebagai umat muslim, Caca dan Lala membereskan mukena mereka lalu berjalan keluar untuk memakai sepatu.
Lalu satu persatu mereka pergi meninggalkan mushola, Bintang dengan sengaja menyenggol bahu Aril dan memandang tajam Aril bak musuh bebuyutan.
Aril membersihkan seragam sekolahnya yang ditabrak oleh Bintang tadi layaknya seperti ada kotoran yang terkena di seragam itu dan membalas tatapan Bintang dengan tatapan membunuh.
"Jauhi Caca!" desis Bintang pelan sebelum ia pergi menjauh dari mushola.
"Cih!" Aril berdecih pelan saat mendengar gumaman Bintang yang menyuruhnya untuk menjauhi Caca dan itu tak mungkin ia lakukan.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1