GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 119


__ADS_3

Irsyan sedang bertemu dengan salah satu kliennya di salah satu restoran dan kliennya tersebut seorang wanita. Aris tak ikut ke kota S, memang Irsyan yang menyuruhnya untuk diam dan menghandle perusahaan HC PROPERTIE'S yang ada di kota M.


"Anda sudah menikah pak Irsyan?" tanya Marissa tiba-tiba setelah kerja sama mereka sudah selesai ditandatangani, dia adalah klien yang akan bekerjasama dengan HC PROPERTIE'S.


Irsyan paling tidak suka jika sudah bertemu dengan klien seperti ini yang selalu ingin tau tentang kehidupan pribadinya.


"Ya saya sudah menikah bu Marissa," ucap Irsyan sambil menunjukkan cincin kawinnya.


Hah... Pupus sudah harapan Marissa untuk mendekati Irsyan, sayangnya ia tadi tidak melihat cincin itu di jari Irsyan.


"Oh seperti itu, saya kira anda belum menikah tadi karena kelihatannya umur anda masih sangat muda," balas Marissa kikuk.


"Saya permisi ke toilet sebentar." Irsyan beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke toilet karena malas menanggapi ucapan Marissa.


Drrtt Drrtt Drrtt...


Ponsel Irsyan berdering, tapi sayang ia lupa bawa ke toilet dan ketinggalan di atas meja. Marissa yang penasaran pun melihat siapa yang menelepon Irsyan dan terpampang nama 'Istriku' disana.


"Aku angkat atau tidak ya?" gumam Marissa bimbang.


Karena panggilannya tidak diangkat oleh suaminya, Aurora kembali menelpon dan dengan lancangnya Marissa mengangkat telpon dari Aurora.


"Assalamualaikum Mas."


"Maaf ini saya Marissa, Irsyan nya lagi di toilet," jelas Marissa menyebut Irsyan tanpa ada embel-embel 'Bapak'. Cari mati memang.


"Kamu siapa? Kenapa handphone suami saya ada di kamu hah?" sentak Aurora marah. Pikiran negatif langsung terbayang-bayang di otaknya.


"Saya ini--" Belum selesai Marissa berbicara handphone itu langsung di rebut oleh Irsyan.


"Lancang sekali anda memegang bahkan mengangkat telpon dari handphone saya!" berang Irsyan. Wajahnya seketika memerah, amarahnya mulai memuncak, ia tak suka dengan orang yang lancang menyentuh bahkan memegang barang pribadinya tanpa seizin darinya.


"Ma-maaf Pak itu tadi saya--"


"Saya tidak perlu penjelasan dari anda bu Marissa, kerja sama kita saya batalkan!" ujar Irsyan geram.

__ADS_1


"Tapi Pak--" Irsyan langsung meninggalkan restoran tersebut dan menghiraukan panggilan dari Marissa.


...****************...


PRANGGG!


Gelas yang dibawa oleh Aurora jatuh ke lantai membuat sang empu kaget karena gelas tadi ia pegang dengan baik-baik, tapi setelah itu hatinya menjadi was-was dan gelisah entah kenapa.


"Ya Allah ada apa ini," lirih Aurora sambil memegang dada kirinya.


"Kenapa nak? Kok gelasnya bisa jatuh sih?" tanya Nuri. Aurora sedang berada di rumah orang tuanya dan memang dua hari belakangan ini ia menginap disana karena masih marah bercampur kesal dengan Irsyan.


"Nggak tau Bu, tiba-tiba jatuh padahal tadi Rora bawa gelasnya kuat kok. Terus kenapa hati aku jadi nggak tenang gini ya Bu?" ujar Aurora.


"Mungkin itu hanya perasaan kamu aja, nak. Ayo kita ke ruang tengah lagi," ajak Nuri. Aurora hanya mengangguk, ia mencoba untuk berpikir positif dan berharap semoga tidak akan terjadi sesuatu nantinya.


Di kota S, Irsyan tinggal di rumah Papanya yang ada disana. Di setiap kota yang ada cabang perusahaan Harun, pasti dia akan membeli sebuah rumah agar Harun tidak lelah-lelah untuk menyewa hotel. Orang kaya agak memang beda.


Irsyan baru saja keluar dari ruangan kerjanya dan berniat untuk pulang, ia berjalan menuju ke parkiran, bahkan mobil pun sudah disediakan oleh Papanya. Irsyan menyetir mobil sendiri tanpa sopir.


kliennya pada Aurora, tapi istrinya itu terus berpikiran negatif dan menuduh dirinya berselingkuh di belakangnya.


Saat melalui jalan lurus tanpa berkelok, Irsyan melajukan kendaraannya cukup kencang, tiba-tiba ada bapak-bapak yang bersepeda dan akan menyebrang, sontak Irsyan mengerem mobilnya tapi tidak bisa berhenti.


"Astaghfirullah rem mobil aku blong, aku harus bagaimana Ya Allah?" ucap Irsyan panik dan ketakutan. Dengan terpaksa ia dia memutar setir mobil ke arah kirinya, namun naas, Irsyan malah menabrak pembatas jalan.


"Arrgghh!!!"


BRAKKK!


"Ya Allah berikanlah hamba kesempatan untuk hidup, hamba ingin melihat wajah anak hamba yang beberapa bulan lagi akan terlahir ke dunia ini," lirih Irsyan. Sedetik kemudian, ia langsung menutup matanya, tak tau apa yang terjadi selanjutnya.


Orang-orang langsung berbondong-bondong menghampiri mobil Irsyan untuk segera membawa Irsyan menuju ke rumah sakit terdekat.


...****************...

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Sukses Tuan, dia kecelakaan karena menabrak pembatas jalan," jelas pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi itu pada atasannya.


"Bagus, saya berharap dia pergi dari dunia ini," ujar pria itu tersenyum miring hatinya sangat bahagia mendengar orang ia benci mendapatkan musibah.


Alfian yang tadinya ada di belakang rumah langsung lari tergopoh-gopoh dengan menghampiri istri dan anak-anaknya yang ada di ruang tengah dengan raut wajah yang penuh kepanikan.


"Ayah kenapa?" tanya Nuri yang ikut panik.


"Irsyan kecelakaan, Rora."


"Apa?! Ayah bercanda kan?" pekik Aurora masih belum percaya.


"Ayah nggak mungkin bercanda dengan hal seperti itu, tadi Papa mertua kamu nelpon dan bilang kalau suami kamu kecelakaan di kota S dan sekarang Irsyan ada di rumah sakit di kota S sana," jelas Alfian.


Aurora terkejut bukan main, jantungnya seperti berhenti berdetak. Badannya melemas seketika, bahkan tanpa permisi air matanya luruh dengan derasnya. Ternyata kegelisahan dirinya selama 3 hari ini karena akan terjadi sesuatu pada suaminya, Aurora berharap ini adalah mimpi.


"Mas Irsyan." Badan Aurora limbung dan langsung ditahan oleh Aril.


"Astaga kakak."


"Kamu harus berdoa ya nak, semoga nak Irsyan nggak kenapa-napa," ucap Nuri menenangkan putrinya, wanita paruh baya itu juga ikut menangis mendengar menantu kesayangannya mendapat musibah.


"Iya benar kata Ibumu nak. Ayo kita siap-siap untuk ke bandara, kita akan ke kota S sekarang juga, nanti ada sopir keluarga pak Harun yang akan menjemput kita menuju ke Bandara," ujar Harun.


"Aril juga ikut Yah?" tanya Aril.


"Ya kamu juga harus ikut!"


Aurora hanya bisa terdiam lemas di sofa dan Nuri yang membantunya untuk packing barang bawaannya.


'Ya Allah semoga suami hamba lukanya tidak terlalu parah dan kuatkan hamba serta mas Irsyan untuk menerima dan melewati cobaan ini,' batin Aurora.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2