
Aurora membiarkan Irsyan beristirahat, ia lebih memilih beranjak dari ranjang dan duduk di sofa yang ada di kamar Irsyan sambil memainkan handphonenya.
"Hoam, kok ngantuk banget ya?" Aurora merasa matanya sangat berat, karena tak tahan lagi Aurora pun tertidur di sofa.
Matahari sudah menjulang tinggi, namun kedua manusia berbeda jenis itu belum juga bangun dari tidurnya.
Drtt . . Drtt . . Drtt . .
Handphone Irsyan berdering, membuat sang empu membuka matanya. Irsyan meraba-raba meja samping untuk mengambil handphonenya. Ia langsung mengangkat telpon tersebut walaupun tanpa melihat nama si penelepon.
"Halo Syan."
"Kenapa Ji?" tanya Irsyan pada Aji.
"Kok lemes banget suara lo? Kurang asupan dari jal*ng lo ya semalam?"
"Gue lagi sakit setan! Jangan macem-macem deh lo!" sentak Irsyan dengan ketus.
"Hehe, sorry. Ternyata lo bisa sakit juga ya."
"Ada apa nelpon gue?" bukannya menjawab ucapan Aji, Irsyan malah langsung to the point perihal maksud Aji menelponnya.
"Gue mau nanya kenapa lo belum ke rumah sakit hari ini, eh ternyata lo lagi sakit. Ya sudah lo istirahat aja entar gue izinin lo, terus nanti pulang kerja gue langsung ke rumah lo."
"Hem, assalamualaikum."
Irsyan hanya menjawab singkat dan memutuskan panggilan secara sepihak. Di ujung telpon sana, Aji tengah misuh-misuh karena telponnya di putus secara pihak oleh Irsyan padahal dia belum selesai berbicara.
Tiba-tiba di otak Irsyan terlintas nama gadis yang telah merawatnya tadi. Ia langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Aurora mana?" Irsyan menatap di sekeliling kamarnya, matanya melihat ke arah sofa disana ia melihat gadis pujaannya itu tengah tidur meringkuk disana.
Irsyan bernapas lega, "Ternyata dia tidur disana."
Irsyan beranjak dari kasur, lalu melangkah kan kakinya menuju ke sofa tempat dimana Aurora tertidur. Ia duduk di tepi sofa yang masih tersisa sedikit.
"Cantik banget sih kalau tidur begini," gumam Irsyan sambil mengelus rambut Aurora. Karena kasian melihat Aurora tidur dengan tidak nyaman, Irsyan pun mengangkat gadis itu menuju ke kasur king size miliknya.
"Aku yakin suatu hari nanti, kamu bakal tidur di kasur yang sama dengan aku," gumam Irsyan menatap wajah Aurora yang tengah tertidur itu.
Setelah puas menatap wajah Aurora, Irsyan memutuskan untuk mandi karena badannya terasa lengket, lalu ia melangkah kan kakinya menuju ke kamar mandi..
Suara gemericik air dari kamar mandi membangunkan Aurora dari tidurnya, Aurora langsung merubah posisinya menjadi duduk. Dia sangat terkejut dan panik ketika mengetahui dirinya tengah berada di atas kasur milik Irsyan, apalagi melihat tubuhnya yang terbalut oleh selimut.
Aurora menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, seketika ia bernapas lega karena dirinya masih mengenakan pakaian yang utuh.
"Syukurlah, tidak terjadi apa-apa," ucap Aurora.
CEKLEK!
Suara pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Irsyan yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, bulir-bulir air pun masih menetes di tubuhnya, dia terlihat sangat sexy dan menggairahkan.
Aurora pun sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya pada tubuh sixpack milik Irsyan. Irsyan yang melihat Aurora melongo melihat tubuhnya itu hanya tersenyum kecil.
"Ekhem, tutup mulut kamu, nanti lalat bisa masuk loh!" goda Irsyan. Aurora langsung gelagapan karena tertangkap basah tengah memperhatikan tubuh laki-laki itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya pun kini sudah memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Ish apaan sih Mas!" Irsyan terkekeh geli melihat wajah Aurora yang memerah itu, lalu ia mencoba menghampiri Aurora di kasurnya.
"Kamu bisa melihat dan memegang ini setiap hari kalau kita sudah menikah nanti." Irsyan kembali menggoda Aurora. Ucapan Irsyan membuat Aurora semakin malu.
"Dasar mesum! Sana deh Mas pakai baju dulu," ucap Aurora menutup wajahnya menggunakan kedua tangan, karena tak ingin Irsyan melihat wajah memerahnya. Lagi-lagi Irsyan terkekeh, ia senang sekali menggoda dan menjahili gadis itu.
'Gemes banget sih, jadi pengen makan dia,' batin Irsyan.
"Iya ini aku mau pakai baju." Irsyan pun pergi menuju ke ruang walk in closet untuk mengambil pakaiannya dan langsung mengenakan pakaiannya disana. Setelah melihat kepergian Irsyan, Aurora pun langsung melepas kedua tangan yang tadi menutupi wajahnya.
"Huh, laki-laki itu sangat berbahaya bagi kesehatan jantung gue," gumam Aurora sambil memegang dadanya.
Setelah Irsyan selesai mengenakan pakaiannya, ia pun kembali menuju ke tempat Aurora berada.
"Mas aku mau pulang dulu," pamit Aurora. Entah kenapa Irsyan tak suka jika Aurora pulang.
"Nanti sore aja pulangnya."
"Aku maunya sekarang, jugaan kan Mas udah mendingan," ucap Aurora.
"Nggak ada bantahan, Aurora. Nanti sore pulang atau kamu akan Mas akan tahan terus disini sampai besok pagi?" ucap Irsyan menatap tajam Aurora.
Aurora menghela napasnya, "Ya sudah nanti sore aku pulangnya." Padahal Aurora ingin pulang itu karena perutnya sudah keroncongan dari tadi minta diisi. Ia lupa jika dirinya belum sarapan dan makan apapun dari tadi pagi.
Irsyan tersenyum mendengarnya, "Nah gitu dong. Oh ya besok malam kamu ada acara nggak?" tanyanya.
"Nggak ada Mas, memangnya kenapa?" tanya Aurora balik.
"Mas mau ajak kamu ke pesta pernikahan sepupunya Mas, kamu mau ya?"
"Ngapain harus malu sih Dek? Kamu itu cantik-" ucapan Irsyan langsung disela oleh Aurora.
"Bukan karena itu Mas," bantah Aurora menatap Irsyan.
"Terus karena apa?" tanya Irsyan. Aurora hanya diam menunduk sambil melintir ujung pakaiannya.
"Jangan bilang kamu malu karena kasta keluarga kita yang berbeda?" Pertanyaan Irsyan membuat Aurora langsung menatap ke arah laki-laki itu. Aurora hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Irsyan menghela napas panjang, "Apa Mas pernah menjelek-jelekkan keluarga kamu?" tanyanya. Aurora hanya menggeleng.
"Aurora, tatap mata Mas," ucap Irsyan sambil memegang kedua bahu Aurora. Aurora pun menatap mata Irsyan yang hitam dan jernih.
"Aurora dengerin Mas, Mas nggak pernah memilih bahkan memilah dengan siapa Mas berteman atau dengan siapa nanti Mas akan berjodoh. Walaupun gadis yang berjodoh dengan Mas itu dari kalangan orang biasa-biasa saja. Sekarang kamu mengerti kan?" ucap Irsyan panjang lebar sambil menatap dalam mata Aurora.
Aurora hanya mengangguk, walaupun sedikit bingung dengan ucapan Irsyan yang sampai menyangkut pautkan dengan jodoh segala.
"Pokoknya besok malam ikut sama Mas, oke?"
Aurora mengangguk, "Iya Mas."
"Oh ya, tunggu sebentar." Irsyan berlari kembali menuju ke walk in closet, untuk mengambil sesuatu disana Setelah mengambilnya, ia kembali ke kasurnya.
"Ini buat kamu." Irsyan menyodorkan sebuah paper bag berukuran besar merk brand terkenal kepada Aurora.
"Apaan ini Mas?" tanya Aurora bingung.
__ADS_1
"Kamu buka aja," titah Irsyan tersenyum. Aurora membuka paper bag tersebut, ternyata didalamnya ada sebuah dress panjang berwarna navy dengan sedikit manik-manik yang mempercantik tampilan dress tersebut.
"Cantik sekali," puji Aurora pada dress tersebut.
"Kamu nanti pakai itu ya ke acara pernikahan sepupunya, Mas?"
"Ini untuk aku?"
"Bukan, itu untuk kang Ujang!" ucap Irsyan memutar matanya jengah.
"Iya untuk kamu lah Aurora," ucap Irsyan greget, Aurora langsung nyengir kuda.
"Makasih ya Mas, ngerepotin banget."
"Iya sama-sama, sekarang buka kotak yang lain," titah Irsyan. Tidak hanya dress itu saja yang ada di dalam paper bag, ternyata masih ada 2 kotak lagi. Lalu Aurora pun membuka 2 kotak tersebut. Isi dari 2 kotak tersebut adalah tas dan sepatu heels, dua-duanya berwarna hitam.
"Ini juga untuk aku?" tanya Aurora. Ia merasa tak enak dengan Irsyan, karena dari sepengetahuannya barang-barang yang diberikan oleh Irsyan ini sangatlah mahal.
Irsyan mengangguk, "Iya, pokoknya itu semua nanti kamu pakai di acara pernikahan sepupunya, Mas," titahnya.
"Iya Mas, nanti aku pakai deh." Tiba-tiba saja perut Aurora berbunyi.
KRUK ..
KRUK ..
KRUK ..
Aurora meringis malu mendengar suara perutnya.
"Kamu lapar?" tanya Irsyan. Aurora hanya mengangguk.
"Ya sudah kita pesan makanan aja ya?" tawar Irsyan.
"Iya terserah Mas aja," jawab Aurora.
"Mau makan apa?" tanya Irsyan lagi.
"Lalapan bebek sama nasinya juga," pesan Aurora.
"Apa juga?"
"Rujak sama es campur."
"Oke." Lalu Irsyan mengotak-atik handphonenya untuk memesan makanan di salah satu aplikasi ojek online.
"Oke sudah," ucap Irsyan.
"Bagaimana kalau kita nonton TV di ruang keluarga sambil menunggu pesanan kita sampai?" tawar Irsyan.
"Boleh Mas," jawab Aurora.
"Ayo." Lalu mereka berdua pun keluar dari kamar Irsyan menuju ke ruang keluarga.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.