
Sesampainya di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebelum pulang tadi Aurora menyempatkan diri untuk makan malam terlebih dulu di salah satu Cafe.
Keadaan rumahnya sangat lah sepi, karena ibu dan adiknya berada di rumah sakit. Lalu Aurora pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Ia melemparkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, Aurora merasa kelelahan setelah pulang dari kantor ia langsung menuju ke rumah sakit, lalu pergi melabrak Rivan dan selingkuhannya di hotel.
"Ah capek banget hidup, rasanya pengen jadi batu aja gue," keluh Aurora.
Aurora bangun dari posisinya saat teringat sesuatu. Dia berjalan menuju ke arah lemarinya untuk mencari apa saja pemberian dari Rivan, sang mantan pacar.
Aurora menemukan beberapa pakaian, tas dan beberapa aksesoris perhiasan yang dulu Rivan beri padanya. Lalu ia menaruh dan mengumpulkan itu semua di dalam sebuah kotak.
"Ini semua terus gue mau apakan?" pikir Aurora, tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya.
"Aha! Gimana kalau ini semua gue jualin, terus uangnya gue sumbangkan ke panti asuhan Kasih Bunda?"
"Oke gue jual ini semua dan nanti uangnya gue sumbangkan ke panti asuhan Kasih Bunda," ucap Aurora sepakat dengan idenya.
Setelah itu Aurora kembali ke ranjangnya dan mulai memejamkan mata, berharap esok pagi adalah hari yang menyenangkan.
...****************...
Keesokan paginya, Aurora berangkat ke kantor dengan perasaan yang sangat bahagia seperti beban hidupnya berkurang satu. Kalian pasti tau kan penyebabnya apa?
Tadi juga sebelum berangkat berkerja Nuri sang ibu memberitahukan kepada Aurora tentang kondisi sang ayah sudah membaik dan sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, mendengar hal itu tentu saja membuat Aurora sangat lega dan bahagia.
"LELAKI KARDUS!"
"LELAKI KAMPRET!"
"LELAKI MENCRET!"
Aurora bersenandung ria dengan suara cempreng nya, tanpa memperdulikan pegawai-pegawai lain menatapnya dengan aneh dan ada juga yang tertawa geli mendengar nyanyiannya.
"LELAKI BANGS..."
"Heh!"
Tepukan seseorang dari belakang membuat Aurora berhenti bernyanyi.
"Eh Bapak," ucap Aurora cengengesan setelah melihat orang yang menepuk pundaknya.
"Lagi bahagia banget rupanya, nak?" tanya Ahyar Purnama, sang walikota di kota M alias paman dari Aurora.
Jika sedang berada di lingkungan kantor Aurora memanggil Ahyar dengan sebutan bapak, sedangkan jika sudah berada diluar ia akan memanggil Ahyar dengan sebutan Om.
__ADS_1
"Hehe iya nih Pak, lagi ketiban durian runtuh soalnya."
"Sakit nggak?" tanya Ahyar ambigu.
"Hah?" beo Aurora tak mengerti.
"Kan katamu tadi lagi ketiban durian runtuh, pasti sakit kan?"
"Hah, gimana Pak? Rora belum ngerti sumpah." Aurora yang mikir lama itu membuat Ahyar greget dengan keponakannya ini.
"Hah, heh, hah, heh. Sudahlah Bapak greget sama kamu yang suka mikir lama."
"Hehe soalnya Rora tadi belum sempat sarapan dirumah, jadinya bikin telat mikir deh," ucap Aurora cengengesan.
"Kamu ini, nanti ke kantin dulu buat sarapan biar bisa konsen kerjanya."
"Oke siap Pak."
Aurora dan Ahyar memang sangat dekat bak anak dan ayah. Ahyar menyayangi Aurora seperti anaknya sendiri, begitu pun dengan Aurora sudah menganggap dan menyayangi Ahyar sudah seperti ayahnya sendiri.
Banyak dari pegawai disana yang sangat iri melihat keakraban dua orang berbeda generasi itu, karena mereka tidak mengetahui jika Aurora adalah keponakan dari sang walikota. Mungkin hanya segelintir orang saja yang mengetahui fakta tentang mereka berdua yang sebenarnya.
"Nanti Bapak sama tante Saras mau pergi ke rumah sakit jenguk ayah kamu." Saras adalah istri dari Ahyar dan bibi dari Aurora.
"Alhamdulillah kalau begitu, berarti kondisi ayahmu sudah mulai membaik," ucap Ahyar lega mendengar kondisi adik sepupunya mulai membaik.
"Iya alhamdulilah pak, Rora juga seneng dengernya."
"Oh ya pak, nanti kan bapak mau ke rumah sakit nih, jangan lupa bawain martabak manis ya?" pinta Aurora tak tau diri, untung minta dengan pamannya sendiri.
"Mau rasa apa?" tanya Ahyar lembut.
"Nutella ditambah keju. Em, kalau bapak nggak keberatan sih beliin martabak telurnya sekalian." pinta Aurora lagi pada pamannya.
Nah kan gadis ini makin ngelunjak, udah di kasi jantung malah minta ginjal lagi. Tapi untung saja Ahyar tidak pernah menolak permintaan keponakannya ini.
"Ya sudah nanti Bapak belikan, mau minta di beliin apa lagi?" tanya Ahyar, sang paman yang royal dan baik hati.
"Itu aja deh pak," ucap Aurora.
"Ya sudah, kalau gitu Bapak mau ke ruangan dulu."
"Silahkan Pak."
"Oh ya nanti inget jam 10 ada rapat,"
__ADS_1
"Siap laksanakan bos," ucap Aurora semangat seraya mengangkat tangannya seperti orang hormat ke arah tiang bendera saat upacara hari senin.
Ahyar geleng-geleng kepala dengan tingkah random keponakannya ini. Lalu ia melangkah kan kakinya menuju ke ruangan miliknya.
...****************...
Pukul 12 siang waktunya istirahat sejenak dari lelahnya bekerja. Banyak pegawai yang berbondong-bondong pergi ke kantin untuk istirahat makan siang.
Sama halnya seperti dua gadis cantik yang tengah menunggu pesanannya ini.
"Sugar babi."
"Hem, kenapa Mil?" tanya Aurora.
"Gue lihat hari ini roman-roman nya lo lagi bahagia nih, ada gerangan apakah yang membuat sugar babi ku ini bahagia?" tanya Mila penasaran.
"Tau aja lo gue lagi bahagia. Gue kasi tau ke lo kalau kemarin gue putus sama si Rivan," jawab Aurora tersenyum bangga.
Mila memicingkan mata, tentu saja ia tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu, karena yang dia tau jika Aurora sangat bucin dengan si cowok yang sering dia sebut dengan nama pantat panci itu.
"Hah serius lo? Nggak percaya gue, lo kan bucin banget alias cinta mati sama dia."
Aurora berdecak kesal, "Ya elah serius gue, kemarin gue pergi ciduk sekaligus melabrak si Rivan sama selingkuhannya di hotel Raflesia," jelasnya agar Mila percaya dengan ucapannya.
"Eh nggak apa itu hotel tempat Andre bekerja?"
Aurora mengangguk, "Iya Mil, dia yang kasi tau gue tentang keberadaan sekaligus nemenin gue pergi menciduk Rivan dan selingkuhannya."
"Ih gue penasaran sama ceritanya, ceritain gue dong." ucap Mila penasaran.
"Males banget gue bahas-bahas tentang cowok itu lagi."
"Ih Rora ceritain gue napa, gue penasaran banget sama ceritanya." desak Mila.
Aurora menghela napas, dengan malas-malasan ia menceritakan kejadian kemarin waktu ia bersama Andre pergi menciduk sekaligus melabrak Rivan dan selingkuhannya di hotel tempat Andre bekerja.
"Woah! Lo keren banget sampai mukulin dia," ucap Mila heboh sampai bertepuk tangan. Aurora hanya memutar matanya jengah.
Ternyata obrolan kedua gadis itu di dengar oleh seorang laki-laki yang sedari tadi mengamati dan menyimak diam-diam obrolan mereka berdua.
"Well, akhirnya gadis incaran gue single juga dan sekarang gue udah nggak punya saingan lagi untuk miliki dia," gumam laki-laki itu tersenyum menyeringai.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1