GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 37


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa-apaan kalian!" bentak Surya. Beliau datang bersama asistennya yang bernama Yudi.


Irsyan dan Sukma terkejut melihat kedatangan Surya dan Yudi. Dengan cepat Irsyan melepas pelukan Sukma dari perutnya.


"Pak Surya!"


"Ayah!" Cepat-cepat Sukma mengancingkan kembali baju yang tadi dilepasnya.


Surya menghampiri Irsyan dengan langkah yang cepat.


BUGH!


Surya memukul wajah Irsyan hingga terjatuh ke lantai. Pukulan dari Surya membuat ujung bibir Irsyan mengeluarkan darah segar.


"Lancang ya kamu lecehkan putri saya!" hardik Surya.


"Ayah, mas Irsyan nggak salah." Sukma langsung memegang tangan ayahnya.


"Nggak salah kamu bilang? Ayah melihat apa yang terjadi tadi Sukma!" teriak Surya di depan wajah putrinya. Irsyan bangun dari lantai, ia harus menjelaskan tentang yang terjadi. Agar pak Surya tidak salah paham dengannya.


"Pak Surya yang terhormat, sepertinya anda salah paham disini. Saya sama Sukma tidak melakukan apapun dan sama sekali saya tidak melecehkannya!" jelas Irsyan membela diri.


"Saya tidak percaya, karena saya melihatnya sendiri, Irsyan!" bantah Surya.


'Apa dengan cara aku bisa mendapatkan mas Irsyan? Oke, mari kita akting,' batin Sukma mengeluarkan ide jahatnya.


"Bukan mas Irsyan aja yang salah, tapi aku juga, Yah. Kami melakukan itu karena sama-sama saling suka," ucap Sukma mendramatisir.


Irsyan melongo mendengar ucapan Sukma yang sama sekali tidak ada benarnya.


"Apa yang kau ucapkan, Sukma? Jangan fitnah seperti itu!" sentak Irsyan menatap tajam Sukma, bahkan rahangnya pun mengeras dan wajahnya sampai memerah.


"Hiks, kok kamu malah bilang aku fitnah sih, Mas, padahal tadi kita hampir melakukannya," isak Sukma. Irsyan tercengang mendengar ucapan wanita itu.


'Sial! Wanita ular ini mulutnya bener-bener licin,' batin Irsyan. Ia harus mencari solusi untuk mengatasi kesalahan pahaman ini.


"Kalau begitu, besok saya bakal datang ke rumah kamu untuk membicarakan tentang hubungan kalian dengan orang tua kamu agar kamu bisa bertanggung jawab, Irsyan," ucap Surya menatap tajam Irsyan. Tentu saja Irsyan tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Surya.


"Saya menolak pak Surya, karena saya tidak melakukannya. Jika Bapak ingin melihat yang sebenarnya terjadi, Bapak bisa liat cek di Cctv," ucap Irsyan.


Gotcha!


Akhirnya ide itu terlontar juga dari bibir Irsyan. Sukma yang mendengar ucapan dari Irsyan itu langsung gemetar ketakutan. Ia sangat takut jika ayahnya nanti tau kejadian yang sebenarnya.


'Ini tidak boleh terjadi, pokoknya ayah harus percaya sama ucapanku,' batin Sukma.


"Masa Ayah nggak percaya sama ucapan anaknya sendiri, hiks," ucap Sukma yang terus terisak.


"Benar yang di katakan oleh mas Irsyan, Pak. Coba saja kita cek Cctv agar tau kebenarannya," timpal Yudi yang sedari tadi hanya diam saja. Surya mengangguk menyetujui ucapan Irsyan dan Yudi.


"Yudi, tolong ke ruang keamanan dan kamu salin kan saya videonya," titah Surya.


"Baik Pak."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Yudi kembali ke ruangan Surya dengan membawa sebuah flashdisk.


"Ini Pak flashdisk nya." Yudi menyodorkan flashdisk tersebut ke Surya. Lalu Surya memasangkan flashdisk tersebut ke laptop miliknya. Sukma sudah ketar-ketir sedari tadi. Irsyan yang melihat Sukma ketakutan itu hanya tersenyum menyeringai.


'Tuan muda Candra mau di lawan,' batin Irsyan membanggakan dirinya.


Surya yang menonton video Cctv itu membuat rahangnya mengeras menahan emosi. Karena sudah tau dengan kebenaran yang terjadi, ia langsung menutup laptopnya dengan keras.


"Apa-apaan kamu, Sukma?!" bentak Surya langsung berdiri dari sofa dan menampar pipi Sukma.


PLAKKK!


Tubuh Sukma limbung ketika pipinya di tampar oleh ayahnya.


"Kenapa kamu bertingkah seperti perempuan murahan hah?! Ayah sama ibu tidak pernah mengajarkan dan mendidik kamu hal seperti itu!" Surya kini sudah murka terhadap anaknya dan ia sangat malu dengan Irsyan karena telah menuduh hingga memukul wajah laki-laki itu.


"Maafin aku, Yah. Hiks, hiks, hiks." Sukma langsung nangis sesenggukan sambil bersimpuh di bawah kaki ayahnya.


"Ayah akan memberikan kamu surat peringatan dan Ayah akan memberikan kamu skorsing selama satu bulan untuk kamu mengintrospeksi diri."


"Tapi Yah--"


"Tidak ada penolakan, Sukma! Ayah sudah sangat kecewa denganmu!" Sukma langsung terduduk lemas setelah mendengar ucapan dari ayahnya. Surya beralih menatap Irsyan.


"Maafkan saya, Irsyan. Saya sudah salah paham sama kamu dan bahkan tadi saya memukul wajah kamu."


"Tidak apa-apa, Pak. Mungkin jika saya berada di posisi Bapak sekarang, saya bakal melakukan hal itu juga," ucap Irsyan. Surya tersenyum mendengar ucapan Irsyan.


"Terima kasih Irsyan. Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan putri saya."


"Iya Pak, saya sudah maafkan. Kalau gitu saya permisi dulu, karena ada beberapa pasien yang harus saya cek," pamit Irsyan.


Surya mengangguk, "Baik silahkan."


'Terima kasih Ya Allah, engkau masih melindungi ku dari gangguan manusia seperti Sukma,' batin Irsyan.


...****************...


Sepulang dari rumah sakit, entah kenapa Irsyan sangat ingin mengunjungi Aurora di rumahnya. Ia pun melajukan motornya ke rumah gadis yang telah mengisi pikirin dan hatinya itu.


Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumah Aurora.


"Rumah yang sangat indah," gumam Irsyan tersenyum ketika melihat rumah Aurora yang asri penuh dengan bunga dan tanaman hias.


TOK!


TOK!


TOK!


"Assalamualaikum," ucap Irsyan sambil mengetuk pintu rumah Aurora.


CEKLEK!


"Waalaikumsalam, eh nak Irsyan. Kok tau rumahnya ibu disini?" ucap Nuri kebingungan karena melihat kedatangan Irsyan, sang perawat ke rumahnya.


Irsyan menggaruk tengkuknya, "Em, sebenarnya saya sudah lama dekat Aurora, Bu. Semenjak pak Alfian dirawat," jelasnya untuk menjawab kebingungan wanita paruh baya di hadapannya ini.


"Oalah pantesan. Itu anak nggak pernah cerita sama ibu kalau dia dekat sama kamu," ucap Nuri tersenyum.

__ADS_1


"Ayo nak masuk dulu." Nuri mempersilahkan Irsyan untuk masuk ke dalam rumah.


"Iya Bu."


"Ayo duduk," titah Nuri. Irsyan mengangguk, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu minimalis tersebut.


"Kabar Ibu sama Bapak bagaimana?" tanya Irsyan sedikit basa-basi.


"Alhamdulillah baik nak, kesehatan Bapak juga sudah baik dari sebelumnya. Mungkin hanya cara bicaranya saja yang belum lancar seperti dulu."


"Alhamdulillah, bagaimana kalau Bapak di terapi saja, Bu?"


"Apa nak Irsyan tau tempat terapi untuk orang stroke?" tanya Nuri.


"Saya tau Bu, kebetulan mertua dari kakak saya seorang Dokter spesialis syaraf dan dia punya klinik terapi untuk penyakit seperti yang dialami Bapak," jelas Irsyan dengan sopan.


"Apa Ibu boleh meminta alamatnya?"


"Tentu saja boleh, Bu. Biar nanti saya kirimkan lewat Aurora saja ya Bu?"


"Baik lah nak, terima kasih ya? Kamu baik sekali, coba saja jadi mantunya Ibu," ucap Nuri. Irsyan sangat bahagia mendengarnya, sepertinya dia sudah mendapatkan lampu hijau dari ibunya Aurora.


"Ah Ibu bisa aja. Oh ya, Aurora nya ada Bu?" tanya Irsyan.


"Ada nak, tunggu bentar ya Ibu panggilkan dulu," ucap Nuri.


"Iya Ibu." Nuri pun pergi meninggalkan Irsyan sendirian di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian, keluar lah Aurora dengan wajah baru bangunnya. Gadis itu masih terlihat cantik dan imut walaupun rambutnya sedikit berantakan.


"Hai mas Irsyan."


"Hai, kamu baru bangun tidur?" tanya Irsyan. Wajah bangun tidur Aurora sangat cantik di mata Irsyan.


Aurora mengangguk pelan, "Iya Mas." Aurora duduk di samping Irsyan.


"Maaf ya sudah mengganggu waktu tidur kamu," ucap Irsyan sedikit menyesal.


"Gapapa Mas, jugaan aku udah lumayan lama tadi tidurnya," ucap Aurora tersenyum. Matanya menelisik wajah Irsyan, ia melihat diujung bibir Irsyan itu membiru.


"Bibir Mas kok bisa lebam gitu?" tanya Aurora.


"Ah ini, biasalah urusan laki-laki," ucap Irsyan santai sambil memegang bibirnya. Aurora hanya mengangguk tak memperpanjang keingintahuannya.


"Mas sudah obati lukanya itu?"


"Iya sudah kok."


Irsyan tadi di obati oleh Aji di ruangannya. Ia menceritakan semua kejadian di ruangan Surya, tentu saja Aji sangat murka ketika mendengar cerita dari sahabatnya itu. Namun, Aji juga lega ketika tau jika Sukma di hukum oleh ayahnya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku kira tadi belum Mas obati," ucap Aurora lega.


"Oh ya, mas Irsyan mau minum apa? Biar aku buatkan." tanya Aurora.


"Apa saja asal kamu yang buat, Mas pasti akan minum kok," ucap Irsyan sedikit menggoda Aurora.


"Ish apa sih Mas! Ya sudah tunggu bentar ya Mas?"


"Iya Dek." Aurora beranjak dari sofa lalu pergi menuju ke dapur.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2