GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 104


__ADS_3

Aurora dan Fani berada di salah satu toko baju, sekitar 10 menit yang lalu mereka sampai di Mall. Fani sangat antusias jika sudah dihadapkan dengan baju-baju yang menurut pandangannya menarik.


"Kak, aku ke toilet sebentar ya?" izin Aurora pada Fani.


"Mau kakak antar?" tawar Fani.


Aurora menggeleng, "Nggak usah kak, kakak tunggu disini aja."


"Ya sudah cepetan ya Ra?"


"Iya kak." Aurora langsung pergi ke toilet yang ada di toko tersebut.


Setelah selesai membuang air kecil, Aurora mencuci tangan di air keran wastafel sambil bercermin. Ketika akan berbalik, ia kaget melihat keberadaan Nina yang baru saja masuk ke dalam toilet.


"Aurora," ucap Nina lirih. Ia juga cukup terkejut melihat Aurora disana. Saat hendak akan keluar, tangan Aurora langsung di tahan oleh Nina.


"Ra gue mau ngobrol sama lo sebentar aja," pinta Nina dengan wajah memelas nya.


"Gue nggak bisa!" ucap Aurora dengan datar.


"Please Ra, gue mohon." Aurora menghela napas panjang lalu mengangguk. Nina tersenyum akhirnya ia bisa berbicara empat mata dengan Aurora. Nina mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Aurora.


"Ra, gue mau minta maaf sama lo karena gue pernah menjadi duri di hubungan lo sama mas Irsyan. Gue khilaf dan menyesal Ra, karena dibutakan cinta gue jadi melakukan itu," ucap Nina tulus sambil menatap Aurora.


"Gue mohon maafkan gue, Ra. Maaf banget." Kata maaf terus terlontar dari mulut Nina.


"Lo minta maaf bukan karena suruhan dari Wawan kan?" tanya Aurora dingin.


Nina menggeleng, "Bukan Ra, ini atas kemauan gue sendiri. Bahkan sampai sekarang mas Wawan marah dan nggak pernah hubungi gue," jelasnya. Terlihat wajah Nina langsung sedih saat mengatakan itu. Walaupun Wawan jauh muda 2 tahun darinya, tapi Nina tetap memanggil Wawan dengan sebutan Mas.


Aurora menghela napas kasar, ia harus memaafkan Nina karena Aurora tidak suka memiliki musuh. Ia ingin hidup aman dan damai jauh dari masalah dan dendam.


"Ya gue maafkan lo, Nin," ucap Aurora tersenyum.


"Lo serius Ra?"


"Iya Nin, gue juga nggak mau punya musuh dan pengen hidup tanpa dendam," jelas Aurora. Nina langsung memeluk Aurora dan menangis.


"Makasih Ra, lo baik banget. Memang tak salah mas Irsyan memilih lo sebagai istrinya."


"Tolong jaga dan cintai Wawan ya Nin, gue percayakan sahabat gue pada lo," balas Aurora menepuk-nepuk pelan punggung Nina. Nina mengangguk lalu menguraikan pelukannya.


"Gue pasti akan mencintai mas Wawan dengan sepenuh hati," ujar Nina tersenyum membuat Aurora juga mengembangkan senyuman.


"Ya sudah gue keluar dulu ya, takut kakak gue nyariin soalnya," papar Aurora.


"Iya Ra, sekali lagi makasih udah mau maafin gue."


Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari toilet dengan perasaan lega karena musuhnya telah berkurang satu.


"Kamu kemana aja sih Ra? Kok lama banget ke toiletnya," kata Fani yang tadinya ingin menyusul adik iparnya itu.


"Maaf lama kak, soalnya di toilet cukup ramai," elak Aurora. Jika ia memberitahu yang sejujurnya, pasti Fani akan marah karena setau Aurora keluarga suaminya sangat tidak menyukai Nina.

__ADS_1


"Oh gitu, ya sudah ayo kita pilih-pilih lagi," ajak Fani.


"Iya kak."


Sehabis dari Mall, Aurora pergi mengunjungi rumah orang tuanya karena sudah seminggu lebih ia tidak pernah kesana.


"Kakak nggak bisa mampir ya Ra, soalnya mau jemput Alvaro di rumah Om Hasbi," ucap Fani.


"Iya gapapa kak, makasih udah temenin aku jalan-jalan dan anterin aku kesini," balas Aurora.


"Iya sama-sama, kalau mau pergi jalan-jalan lagi, jangan sungkan untuk minta kakak yang temenin, oke?" papar Fani. Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia sangat beruntung memiliki mertua dan ipar yang baik kepadanya. Setelah sepeninggal mobil Fani, Aurora pun masuk ke dalam rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum Ibu." Aurora melihat sang ibu tengah berjemur pakaian di belakang rumah.


"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu datang juga kesini, lupa jalan rumah dulu ya?" sindir Nuri pada sang putri. Aurora langsung nyengir kuda, ibunya itu memang paling jago jika sudah menyindir.


"Maaf Bu, kemarin Aurora kan sibuk," jawab Aurora sambil menyalami tangan Nuri.


"Ya sudah gapapa, gimana kandungan kamu nak? Sehat-sehat aja kan?" tanya Nuri. Tangannya yang sudah mulai keriput itu mengelus perut Aurora.


"Alhamdulillah sehat Bu," jawab Aurora.


"Alhamdulillah, kamu masih suka mual-mual?"


"Iya masih Bu, tapi kemarin waktu aku ke desa U, aku nggak mual-mual sama sekali, aneh kan Bu?"


"Ya mungkin karena disana ada Papanya, makanya bayi kamu merasa tenang," ujar Nuri membuat Aurora manggut-manggut serta membenarkan ucapan sang ibu.


"Kayaknya anak kamu bakal lebih mirip sama Papanya deh," ucap Nuri seraya terkekeh diakhir ucapannya.


"Iya sepertinya Bu, soalnya kalau Rora mual dan muntah gitu terus ada mas Irsyan yang mengelus perutku, entah kenapa jadi langsung berhenti mual gitu, Bu."


"Mungkin itu naluri antara Ayah dan Anak sangatlah kuat. Ngomong-ngomong kamu sudah darimana nak? Sudah makan siang?" tanya Nuri.


"Dari Mall Bu, tadi aku perginya sama kak Fani dan sekalian makan siang disana tadi. Ah ya aku sampai lupa, ini ada kue kesukaan Ayah sama Ibu dan donat kesukaan Aril," ucap Aurora menyodorkan dua plastik berisi kue dan donat dari 2 toko yang berbeda.


"Makasih nak, kamu tau aja Ibu pengen makan ini. Ayo masuk, Ibu sudah buatkan salad buah kesukaan kamu," ajak Nuri.


"Tau aja Rora pengen makan salad buah." Aurora menggandeng tangan ibunya dan masuk ke dalam rumah.


Saat sedang asyik-asyiknya menikmati salad buah dan mengobrol dengan sang Ibu, tiba-tiba datang Aril yang baru saja pulang sekolah.


"Assalamualaikum." Membuat Aurora dan Nuri menghadap ke belakang sambil menjawab salam dari Aril.


"Waalaikumsalam."


"Eh kamu pulang juga dek, tumben pulang telat?" ucap Aurora.


"Iya kak." Aril menyalami sang ibu dan kakak secara bergantian lalu duduk di samping Aurora dengan raut wajah lelahnya.


"Capek banget ya nak?" tanya Nuri.


"Iya Bu, tadi ekskul taekwondo dulu baru pulang," jawab Aril. Aurora menyodorkan segelas air putih pada adiknya.

__ADS_1


"Nih minum dulu."


"Makasih kak." Aril langsung meminum air putih tersebut sampai tandas tak bersisa.


"Kamu belum makan siang nak?"


"Belum Bu, Aril lapar," rengek Aril sambil mengelus perutnya. Inilah sifat Aril bila sudah dengan keluarganya, namun jika di sekolah ia akan menjadi anak yang dingin dan cuek. Tapi hal itu yang membuat Aril menjadi idola gadis-gadis di sekolahnya.


"Ya sudah Ibu siapkan dulu ya makanannya?"


"Iya Bu, makasih," ujar Aril.


"Iya nak." Nuri beranjak dari sofa dan pergi menuju ke dapur.


"Bagaimana sekolah kamu?" tanya Aurora sambil terus menyuapi salad buah ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah lancar kak," jawab Aril.


"Kamu udah pacar belum?"


"Kenapa kakak nanyanya begitu?" tanya Aril heran.


"Nggak ada kakak hanya penasaran aja."


"Aku belum mau pacaran kak, mungkin aku lebih baik langsung menikah aja," jawab Aril dengan santai. Ya, walaupun banyak gadis yang mengejarnya, tapi hal itu tidak membuat Aril ingin berpacaran.


"Ya itu lebih bagus. Oh ya bentar lagi kan ulang tahun kamu yang ke 17, mau hadiah apa dari kakak?"


Aril memikirkan apa hadiah yang ia inginkan dari kakaknya itu.


"Mau motor boleh kak?" pinta Aril.


"Mau motor apa?"


"Mau motor Ninja boleh?" ujar Aril dengan hati-hati, sebenarnya ia tak berharap diberikan hadiah oleh sang kakak, tapi karena ditawarkan maka dengan senang hati Aril menyebutkan keinginannya.


"Tentu saja boleh, besok sehari sebelum ulang tahun kamu, ikut kakak ke dealer ya untuk beli motor yang kamu inginkan itu."


"Seriusan kak?" ucap Aril antusias matanya pun sampai berbinar-binar.


"Iya kakak serius, kamu tenang aja kakak akan belikan kamu motor pakai uang tabungan kakak sendiri."


Aril langsung memeluk sang kakak yang selalu memberikan apa yang ia mau.


"Makasih banget udah mau belikan aku motor, kakak memang yang terbaik."


"Iya sama-sama. Asal jangan di pakai untuk balap-balapan," pesan Aurora. Aril melepas pelukannya dan mengangkat tangan kemudian ia taruh di kening seperti orang yang sedang hormat.


"Siap komandan," ucap Aril tegas membuat Aurora tertawa pelan.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2