
Irsyan terburu-buru turun dari tangga, sampai keberadaan orang tuanya yang berada di ruang makan tak di tegur olehnya.
"Irsyan." panggil Harun. Irsyan yang tadi berjalan terus, langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah orang tuanya.
"Iya Pa?"
"Mau kemana? Kok buru-buru banget?"
"Iya Pa, soalnya mau antar Aurora ke kantornya," jawab Irsyan, membuat Harun dan Jihan tersenyum mendengarnya.
"Oh, mau antar mantunya Mama. Nggak sarapan dulu nak?" tanya Jihan.
"Nggak usah Ma, nanti aja Irsyan sarapannya," ucap Irsyan terburu-buru.
"Ya sudah, kamu hati-hati."
"Iya Ma."
Irsyan kembali melangkahkan kakinya dengan langkah yang cepat menuju ke arah garasi rumahnya untuk mengambil motor.
Untung saja tadi ia sudah menyuruh Ujang, sopir pribadi keluarganya untuk memanaskan mesin motornya terlebih dahulu, jadinya ia tak perlu repot-repot lagi untuk memanaskannya. Setelah itu Irsyan melajukan motor sport miliknya menuju ke rumah Aurora.
...****************...
CEKLEK!
Aurora baru saja keluar dari ritual mandinya, ia keluar mengenakan handuk kimono yang membalut tubuhnya dan handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah.
Baru saja Aurora membuka handuk kecil di kepalanya, terdengar suara ketukan pintu kamarnya terdengar.
TOK!
TOK!
TOK!
"Kakak!" suara berat sang adik memanggil Aurora. Dengan segera Aurora membuka pintu kamarnya.
"Kenapa dek?" tanya Aurora pada Aril.
"Ada yang nyariin kakak tuh dibawah," jawab Aril.
Aurora mengerutkan keningnya, siapa yang datang mencarinya pagi-pagi gini? Tiba-tiba saja ia teringat jika semalam Irsyan berkata akan mengantarkan ke kantor. Tapi apakah itu benar Irsyan yang datang? pikirnya.
"Apa dia seorang laki-laki dek?"
Aril mengangguk, "Iya kak, siapa dia? Kayak pernah aku liat deh orang itu," pikirnya, Aril seperti familiar ketika melihat laki-laki yang datang mencari kakaknya itu.
"Dia itu perawat yang rawat ayah di rumah sakit, namanya Irsyan," jelas Aurora.
"Ah pantesan aja kayak pernah aku liat, ternyata dia itu perawat yang rawat ayah," ucap Aril manggut-manggut.
"Oh ya, kamu sudah suruh mas Irsyan masuk dek?" tanya Aurora.
"Sudah lah kak, sekarang dia di ruang tamu."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu temenin dia gih, ajak mas Irsyan ngobrol, soalnya kakak mau pakai baju dulu," titah Aurora.
Aril mengangguk, "Iya kak, cepetan ya? Aku sudah lapar soalnya," ucapnya seraya mengelus perutnya yang sudah lapar.
"Iya, sana deh temenin mas Irsyan." Aril mengangguk, lalu pergi dari depan kamar kakaknya.
Aurora menuju ke lemarinya untuk mencari pakaian kerjanya dan segera mengenakannya, tak lupa juga ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Kemudian Aurora pergi ke meja riasnya, lalu memoles wajahnya dengan beberapa alat make-up dan mencatok rambutnya. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu. Irsyan tersenyum melihat kedatangan Aurora.
"Pagi Aurora," sapa Irsyan.
"Pagi juga Mas, maaf udah bikin mas Irsyan menunggu lama," ucap Aurora tak enak sudah membuat seseorang menunggunya.
"Gapapa santai saja dek."
"Hari ini masuk kerja jam berapa Mas?"
"Jam 5 sore, biasalah aku dapat shift malam."
Aurora manggut-manggut, "Oh ya, Mas sudah sarapan?" tanyanya lagi pada Irsyan.
Irsyan menggeleng, "Belum," jawabnya, Irsyan memang tidak sempat untuk sarapan, karena takut nanti ia akan telat mengantarkan gadis pujaan hatinya ke kantor.
"Kalau gitu kita sarapan bareng yuk Mas," ajak Aurora.
"Memangnya boleh?"
"Bolehlah Mas, ayo sarapan bareng kami." Bukan Aurora yang menjawab, Aril. Remaja laki-laki yang terkenal dingin dan cuek itu sudah akrab dengan Irsyan. Entah mengapa dia langsung suka dengan Irsyan.
Irsyan mengangguk, lalu mereka bertiga melangkah kan kakinya menuju ke ruang makan. Tadi sebelum mandi, Aurora masak terlebih dahulu. Ia memasak nasi goreng, telur ceplok dan ayam goreng.
"Gapapa dek, ini udah lebih dari cukup kok," ucap Irsyan lembut. Aurora tersenyum dan mengangguk, lalu mengambilkan nasi goreng untuk Aril dan Irsyan.
"Cukup segini atau tambah lagi Mas?" tanya Aurora.
"Cukup segini aja dek." jawab Irsyan. Aurora mengangguk, lalu mengambilkan telur ceplok dan ayam goreng untuk kedua laki-laki itu.
'Apa begini rasanya punya istri? Ah rasanya gue nggak sabar pengen nikah,' batin Irsyan sambil membayangkan jika Aurora itu adalah istrinya.
"Ayo dimakan Mas," titah Aurora.
"Eh iya dek." Khayalan Irsyan langsung buyar karena ucapan Aurora. Lalu mereka bertiga menyantap sarapan buatan Aurora.
"Enak nggak Mas?" tanya Aurora ragu, ia takut jika masakannya tidak sesuai dengan lidah Irsyan.
Irsyan mengangguk, "Enak, enak banget malah," ucapnya tersenyum. Aurora tersenyum lega, untung saja Irsyan suka dengan masakannya.
...****************...
Sehabis sarapan, mereka bertiga bersiap-siap untuk berangkat ke kantor dan sekolah.
"Kak, aku minta uang dong buat bayar SPP. Soalnya kemarin aku lupa minta uang sama Ibu," pinta Aril.
"Berapa dek?" tanya Aurora.
__ADS_1
"300 ribu kak," jawab Aril. Baru saja Aurora akan mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, Irsyan sudah mengeluarkan 7 lembar uang berwarna merah dan menyodorkannya pada Aril.
"Ini ambil Ril."
"Eh nggak usah Mas," ucap Aurora.
"Iya nggak usah mas Irsyan," tolak Aril.
"Gapapa Ril, kamu ambil aja." Dengan berat hati, Aril mengambil uang yang Irsyan sodorkan itu.
"Makasih Mas, tapi ini kebanyakan uangnya," ucap Aril tak enak hati.
"Sudah gapapa, itu nanti sekalian buat jajan kamu nanti di sekolah." Aril mengangguk dan tersenyum, lalu menaruh uang pemberian Irsyan tersebut ke dalam saku bajunya.
"Makasih loh Mas, kamu ini ngerepotin aja," ucap Aurora sungkan pada laki-laki royal di hadapannya ini.
"Sama-sama dek, udah jangan dibahas lagi. Ayo kita berangkat, nanti telat loh. Aril kamu berangkat sama siapa?"
"Sama temen Mas," jawab Aril.
"Oh ya sudah, kamu hati-hati dijalan."
"Iya Mas, kalian juga hati-hati dijalan," ucap Aril. Aurora dan Irsyan mengangguk.
"Ayo kita berangkat Mas, kita duluan ya dek?"
"Iya kak," Aril menyalami Aurora dan Irsyan.
Lalu mereka berdua pergi menuju ke motor sport milik Irsyan. Untung saja Aurora mengenakan celana, jadi tak perlu khawatir jika pahanya terlihat dan dia juga bisa duduk dengan cara menunggang.
"Pakai helmnya dulu," titah Irsyan seraya menyodorkan helm untuk Aurora. Aurora mengambil dan memakainya.
"Sudah siap?" tanya Irsyan.
Aurora mengangguk, "Sudah Mas."
Setelah itu Irsyan melajukan motor sportnya dengan kecepatan rata-rata.
Kurang lebih 20 menit, Aurora tiba di kantornya. Dengan segera ia turun dari atas motor Irsyan. Aurora membuka helm namun tak bisa, Irsyan yang paham pun membantu Aurora membuka helm.
KLIK!
"Makasih udah anterin aku Mas," ucap Aurora tersenyum seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Sama-sama, sana gih masuk."
"Iya, Mas hati-hati di jalan."
"Iya dek," ucap Irsyan, ia senang jika sudah diperhatikan seperti itu oleh Aurora.
Lalu Aurora melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor. Setelah melihat Aurora masuk ke dalam kantornya, Irsyan pun kembali melajukan motornya pergi meninggalkan kantor Aurora.
Di dalam sebuah mobil ada seorang laki-laki yang sedang emosi saat melihat gadis yang ia sukai diantar oleh laki-laki lain.
"Sialan! Siapa laki-laki yang tadi mengantar Aurora?" ucap laki-laki itu sambil memukul setir mobilnya.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.