GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 161


__ADS_3

"SAH!"


"Alhamdulillah!" ujar semuanya.


Rona bahagia terpancar dari semua tamu undangan terutama kedua mempelai pengantin, sedari tadi tak henti-hentinya Mila meneteskan air matanya, bukan air mata kesedihan tapi kebahagiaan, dia masih tak menyangka jika dirinya sudah menjadi istri dari pria yang selama ini Mila ucapakan di setiap doanya.


Tak terkecuali Aurora dan Irsyan yang ikut bahagia melihat sahabatnya itu menikah, sudah tidak ada lagi sahabat dari mereka berdua yang masih lajang.


"Ana uhibbuki fillah, istriku," ucap Satria menatap lekat mata Mila, setelah dia mencium kening wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Jantung Mila serasa berlari kencang setelah mendengar ucapan cinta dari Satria untuk pertama kalinya.


"Ana uhibbuka fillah, suamiku," balas Mila tersipu.


Setelah itu satu-persatu tamu undangan menyalami kedua mempelai.


"Selamat bro, akhirnya lo udah bisa belah duren juga," ucap Rilen sambil menjabat tangan Satria.


"Yoi bro, dia sudah tidak main solo lagi," timpal Aji.


Satria berdecak, sahabatnya yang dua itu memang suka asal ceplas-ceplos, tapi itulah yang Satria suka, daripada harus bersahabat dengan orang yang bermuka dua.


"Ya dong sekarang kan gue udah punya istri yang melayani gue nantinya," imbuh Satria sambil merengkuh pinggang Mila membuat pipi Mila memerah malu dengan perkataan suaminya.


"Emangnya lo Ji, yang sekarang suka main solo," celetuk Irsyan membuat Aji mendengus sedangkan yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Dasar kakak ipar laknat!" umpat Aji.


"Happy wedding sahabat ku, akhirnya kamu menikah juga dengan pria impian kamu," ucap Aurora memeluk Mila, bergantian dengan Kiran.


"Makasih Rora, Kiran. Ini juga berkat doa dari kalian," balas Mila tersenyum.


"Jadi nggak galau lagi deh mikirin si doi," ujar Kiran sedikit menggoda Mila.


"Apaan sih lo!" ucap Mila tersipu. Satria yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.


Sepulang dari acara pernikahan Mila dan Satria, pasangan suami-istri yang sebentar lagi akan dikaruniai anak itu, pergi ke salah satu restoran es krim yang cukup terkenal dengan kelezatan es krim gelato nya. Sepertinya Aurora sedang mengidam memakan es krim.


"Mau rasa apa aja, sayang?" tanya Irsyan.

__ADS_1


"Aku mau yang rasa dark chocolate, tiramisu, stoberi sama pistachio," pesan Aurora sambil menunjuk ke es krim yang ia inginkan. Dengan sigap, pramusaji itu menyiapkan pesanan Aurora.


Puas memakan es krim dan membeli beberapa jajanan serta rujak, Aurora dan Irsyan pun langsung memutuskan untuk pulang, tapi mereka pulang ke arah jalan rumah Harun. Katanya Jihan merindukan putra dan menantunya itu.


...****************...


Aurora berlari menghindari Rian yang terus mengejarnya. Kakinya sampai sakit karena terus menerus menginjak batu kerikil. Tangannya bergetar hebat dengan dipenuhi keringat dingin. Aurora sudah tak kuasa untuk berlari, namun sekarang bukan waktunya yang tepat untuk berhenti dari kejaran Rian.


Sebenarnya, Aurora tidak dibolehkan untuk berlari disaat tengah mengandung besar. Namun sialnya, disaat di restauran tadi ia berpapasan dengan Rian. Alhasil Rian mengejarnya sampai Aurora keluar dari restauran sampai meninggalkan sahabat-sahabatnya.


Katanya Rian dipenjara, tapi mengapa orang itu berada di restauran? Sungguh Aurora takut berada diposisi dan keadaan seperti ini, apalagi jalan yang ia lalui begitu sepi tidak ada orang yang berlalu lalang.


Rian masih setia mengejarnya. Dengan senyum yang mengerikan dan tatapan tajam dari lelaki itu membuat Aurora ketakutan.


Ingatan ketika waktu itu ia diculik sampai ingin diperkosa dan berakibat ia kehilangan trauma sangat besar, sehingga membuatnya takut untuk keluar rumah jika tidak di temani. Aurora tidak mau hal serupa terjadi lagi, apalagi ia juga tengah mengandung. Aurora tidak siap jika kehilangan anaknya, Aurora sungguh tidak mau kehilangan anaknya.


Napasnya semakin ngos-ngosan, Aurora berhenti sejenak kala tidak mendapati Rian yang mengejarnya.


"Capek ...," lirih Aurora sembari menetralkan deru napasnya yang diambang batas. Aurora berdecak kesal karena tidak membawa tasnya, padahal ia ingin menghubungi Irsyan namun sialnya ponselnya ia taruh di dalam tas.


Aurora masih menunduk menatap perutnya yang membuncit besar. Selang beberapa detik, terdapat sepatu hitam dihadapannya. Lantas Aurora mendongak, alangkah terkejutnya. Dihadapannya ada Rian dengan senyum yang mengerikan.


“Kamu mau lari ke mana lagi?" tanya lelaki itu tanpa ekspresi.


Aurora mati kutu. Tidak bisa berkata saking terkejutnya. Bagaimana bisa Rian berada dihadapannya sedangkan tadi lelaki itu jauh dari pandangan matanya dan hampir tak terlihat ada, tapi sekarang?


“Lo gak bisa lari lagi dari gue. Ayo ikut gue!" katanya sembari menarik pergelangan tangan Aurora.


“Lepasin gue! Mau di bawa ke mana gue, hah?!"


“Diem lo! Niat gue waktu itu belum berjalan, makanya sekarang lo nggak bisa kabur dari gue," ucapnya.


Aurora melotot. Ia tahu apa yang dimaksud Rian. Dasar lelaki sialan, brengsek cuma mampu melawan perempuan hamil sepertinya. “LEPASIN GUE! LO JAHAT TAU!NGGAK! LO BUKAN MAS RIAN YANG GUE KENAL DULU!"


Rian tersenyum menyeringai, "Tapi sayangnya, gue memang bukan Rian yang dulu, yang menyerah begitu aja ketika apa yang belum tercapai."


"LEPASIN GUE SIALAN!"

__ADS_1


Aurora terus memberontak kala Irsyan menepuk-nepuk pipinya. Sampai pada nyatanya, Aurora tersadar dengan kondisi badan yang basah oleh keringat.


Nyatanya dia hanya bermimpi.


Tapi rasanya, seperti nyata.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Irsyan ketika istrinya sudah sadar dari alam mimpinya. Irsyan cukup kaget kala mendengar sang istri berteriak bahkan mengumpat kata kasar. Entah apa yang tengah diimpikan istrinya sampai seperti itu.


"Minum dulu. Mimpi apa sih kok sampai keringatan banyak?" tanya Irsyan heran.


Aurora meneguk air itu sampai tandas. Menormalkan deru napasnya sesaat sebelum menatap Irsyan dengan pandangan yang berkaca-kaca. "Rian ..."


"Kenapa sama pria bejat itu?"


"Aku mau di bawa sama dia, aku takut, Mas."


Irsyan membawa tubuh Aurora untuk dipeluk. Mengelus surai rambut istrinya perlahan. "Itu hanya mimpi, sayang. Rian nggak ada di sini, dia aja belum keluar dari penjara. Tenang oke, rileks... Jangan sampai mikirin macem-macem, nanti bisa berakibat fatal pada kandunganmu."


Sumpah! Mimpi sore tadi seperti nyata. Padahal Aurora baru saja pulang dari rumah Papa mertuanya, lalu dia duduk di atas ranjang sambil memainkan handphonenya dan Aurora tidak tau jika tadi dirinya sampai ketiduran, padahal sudah sore hari.


Ingatan itu sampai membuat Aurora ketakutan. Apalagi mendengar ucapan Rian yang di mimpi itu seperti nyata sekali. Wajahnya, senyum mengerikan, tergambar sudah di dalam ingatannya.


“Tidur. Kamu nggak usah pikirin mimpi sore itu lagi. Itu hanya mimpi aja, nggak akan terjadi, sayang."


"Tetap takut. Aku takut mimpi itu jadi kenyataan Mas," balas Aurora sambil mengigit bibirnya.


"Mimpi cuma bunga tidur aja, sayang. Udah nggak usah dipikirin lagi, sekarang kamu mending tidur aja udah malam," suruh Irsyan mengelus bibir Aurora agar wanita itu tidak lagi menggigit bibirnya.


"Tapi elusin perut aku sampai tertidur ya?" pinta Aurora dan langsung di angguki oleh Irsyan. Tangan Irsyan mengelus perut istrinya yang tinggal beberapa bulan lagi akan melahirkan buah cinta mereka. Aurora mulai memejamkan matanya.


Irsyan tersenyum saat mendengar suara deru napas Aurora yang sudah teratur, berarti istrinya itu sudah tertidur. Irsyan setengah terbangun dan menatap Aurora lalu mengecup kening serta perut istrinya.


"Aku akan selalu menjaga kalian, walau nyawa adalah taruhannya," ucap Irsyan.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2