GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 128


__ADS_3

Aurora tengah mengoleskan beberapa rangkaian skincare di wajahnya, ia melihat suaminya itu masuk ke kamar dari pantulan cermin di depannya


Irsyan masuk dengan membawa iPad di tangannya, benda kesayangan pria itu. Aurora mendengus kesal, pasalnya suaminya itu terus sibuk di ruang kerjanya, memang sehabis mandi tadi Irsyan izin ke Aurora untuk menuju ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Sayang." Panggil Irsyan sembari menaruh iPad miliknya di atas nakas.


"Hem," balas Aurora dengan cuek.


"Mas kangen," ucap Irsyan memeluk Aurora dari belakang, ia menghirup dalam aroma sampo istrinya.


"Lepas dulu, Mas. Aku belum selesai." Aurora berusaha melepas pelukan Irsyan, namun pria itu malah menggendongnya ke ranjang.


"Mas!" kesal Aurora.


"Aaa Mas kangen sayang," rengek Irsyan sambil memeluk Aurora seperti guling, tapi tidak sampai mengenai perut istrinya.


"Bilangnya kangen dari tapi sibuk mulu sama pekerjaannya," sindir Aurora di balas tertawa kecil dari Irsyan.


"Sini dulu, Mas belum puas meluk kamu." Irsyan kembali menarik Aurora ke dalam dekapannya saat istrinya hendak beranjak.


"Masya Allah, kok istrinya Mas cantik banget sih malam ini?" Irsyan mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Jadi aku cantiknya cuma malam ini doang? Berarti kemarin-kemarin aku jelek?" tanya Aurora kesal.


"Nggak sayang, istrinya Mas selalu cantik, nggak pernah jelek."


"Maaf gombalan anda tidak mempan."


"Mas nggak lagi gombal sayang, Mas ngomong jujur," papar Irsyan.


Aurora hanya diam, lebih tepatnya malas merespon ucapan suaminya.


Cup!


Irsyan mengecup singkat bibir mungil Aurora.


"Mas pengen, boleh ya?"


Aurora menatap mata suaminya yang sudah dipenuhi kilatan gairah, bahkan tangan Irsyan sudah turun ke pahanya.


"Ngapain minta izin kalau tangannya udah kemana-mana?" sindir Aurora membuat Irsyan langsung tertawa. Sial, kenapa suaminya itu selalu tampan ketika ia tertawa, pantas saja pelakor selalu ingin mendapatkan suaminya itu.


"Woman on top ya?" pinta Irsyan. Aurora melotot kan matanya, memang sih gaya seperti itu agar tidak membahayakan janinnya.


"Please sayang," sambung Irsyan memohon sembari mengecup kedua mata Aurora turun ke hidung lalu melu.mat pelan bibir mungil istrinya.


Aurora melepas ******* bibir suaminya lalu menatap lekat mata penuh gairah Irsyan.


"Boleh, tapi pelan-pelan ya? Jangan sampai menyakiti dia," ucap Aurora sambil mengelus perutnya. Mata Irsyan langsung berbinar dan mengangguk semangat.


"Papa mau jengukin kamu di dalam ya, nak." Irsyan berbicara dengan janin yang dikandung Aurora dan langsung direspon oleh tendangan dari calon bayi mereka.


"Tuh Papa di kasi izin sama anak kita, Ma," ujar Irsyan membuat Aurora terkekeh geli dengan tingkah random suaminya. Tak ingin berlama-lama mereka berdua pun melakukan malam yang panas dan bergairah, tapi penuh dengan kelembutan karena Irsyan tak ingin menyakiti sang istri dan calon anaknya.


Keesokan harinya, padahal hari ini hari weekend tapi tetap saja Irsyan sibuk dengan pekerjaan walau ia mengerjakannya di rumah, Aurora melirik suaminya yang sibuk dengan laptopnya. Aurora berdecak, selain iPad, laptop yang berlogo apel digigit itu adalah benda kesayangan dari Irsyan.


Merasa ada yang meliriknya, Irsyan memutuskan kontak matanya dari laptop lalu menatap istrinya.


"Kenapa sayang?" tanya Irsyan.


Aurora mendengus lalu beranjak ke dapur. Seketika perasaan ibu hamil itu tidak mood saat kembali mengingat perkataan suaminya setelah mereka selesai bercinta semalam tentang suaminya yang akan menyiapkan posisi anaknya di kantor nanti.


Bayangkan saja, anak yang di kandungnya masih enam bulan namun posisinya di kantor sudah di siapkan oleh sang ayah. Lahir saja belum, melihat dunia saja belum, belajar berjalan saja belum, belajar berbicara saja belum.


Huh, Aurora jadi kesal di buatnya.

__ADS_1


Jika perlu Aurora ingin anaknya nanti pekerjaan yang lain, cukup suaminya yang sibuk dengan urusan kantor, ia tidak mau anak-anaknya kelak mengikut kesibukan ayahnya. Jika ingin egois, Aurora mau anak-anaknya selalu ingin bersamanya setiap saat. Itu adalah pikiran Aurora saat ini, mungkin saja nanti akan berbeda.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Irsyan yang menyusul Aurora ke dapur.


"Dari tadi pagi loh kamu kayak cuekin, Mas. Apa Mas ada salah?" Kini tangan kekar Irsyan melingkar di perut buncit Aurora, ia memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang," panggil Irsyan dengan lembut.


Aurora seakan menulikan pendengarannya namun tangannya tetap bergerak mengupas bawang.


Merasa tidak di tanggapi, Irsyan kembali menuju ke ruang tengah tanpa berkata apa-apa lagi.


Seketika ada perasaan kosong yang Aurora rasakan saat suaminya melepas pelukannya. Ia menoleh dan hanya bisa melihat punggung Irsyan yang kian menjauh.


"Apa dia marah?" pikir Aurora setengah melamun.


Aurora kembali memotong bawang dan sayur-sayuran untuk lauk makan siang nanti. Namun disela-sela memasak ia menghela napas, saat mengingat kembali perlakuan suaminya barusan.


Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca ada perasaan hampa dan sakit Aurora rasakan saat ini. Bahkan Aurora kini memasak dalam keadaan keadaan menangis.


Mood ibu hamil memang tidak bisa ditebak.


Selesai memasak, Aurora memanggil Irsyan untuk makan siang. Setelah memanggilnya, Aurora memilih menuju ke kamar, wanita itu kembali menangis disana.


Suara pintu terbuka, Irsyan masuk dan duduk di samping istrinya. Aurora dengan cepat menghapus sisa air matanya namun Irsyan telah melihatnya lebih dulu.


"Kenapa Mas nggak makan?" tanya Aurora.


Irsyan mengabaikan pertanyaan Aurora, pria itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya seraya mengelus punggungnya.


"Apa Mas ada salah sama kamu, sayang?" tanya Irsyan gusar.


'Aku kesal sama Mas, aku nggak mau anak aku nantinya diharuskan untuk bekerja di kantor Mas, aku nggak suka Mas yang selalu sibuk. Kenapa tadi Mas lepasin pelukan Mas dan pergi begitu saja? Mas marah? Seharusnya aku yang marah!' Sayangnya semua itu hanya terucap di dalam hati saja. Nyatanya Aurora hanya diam di pelukan Irsyan.


"Mas minta maaf kalau Mas ada salah," ucap Irsyan namun tidak direspon oleh Aurora.


"Ayo kita makan siang dulu," ajak Irsyan karena Aurora masih mendiamkannya.


Aurora menggeleng sebagai respon membuat Irsyan lagi-lagi menghela napas.


"Anak kita lapar loh, sayang."


Aurora melepas pelukan suaminya lalu tangannya mengelus perut buncitnya. Melihat itu, Irsyan juga ikut mengelus perut istrinya.


"Anak Papa lapar nggak?" tanya Irsyan mencoba berbicara dengan calon bayinya.


"Iya Pa, adek lapar." Irsyan menjawab sendiri pertanyaannya dengan suara anak kecil yang dibuat-buatnya.


Sontak Aurora dibuat geli oleh tingkah suaminya.


"Adek tau kenapa dari tadi pagi Mama cuekin Papa?" tanya Irsyan lagi.


"Mungkin karena Papa terlalu tampan," balas Irsyan masih dengan suara anak kecil.


Terus hubungannya apa? Namun Aurora tertawa dengan jawaban asal suaminya.


"Emang Papa tampan?" tanya Aurora sambil menunduk sambil mengelus perutnya.


"Iya dong, Ma. Papa adalah makhluk Tuhan paling tampan yang hidup di dunia ini." Irsyan masih menjawab dengan suara anak kecil.


"Masa sih?"


Irsyan menarik dagu Aurora agar pandangan mereka bertemu.


"Coba kamu liat Mas selama 10 detik," suruh Irsyan.

__ADS_1


Melihat kebingungan istrinya, Irsyan kembali bersuara, "Kita lihat sampai di detik ke berapa kamu bisa bertahan melihat makhluk Tuhan paling tampan dan seksi di dunia ini," ucapnya dengan percaya diri. Lagi-lagi Aurora tertawa geli mendengar ucapan suaminya.


"Ayo mulai, Mas hitung ya?"


Aurora kembali menatap wajah suaminya.


"Satu."


Aurora menatap rahang suaminya yang sudah mulai di tumbuhi bulu halus.


"Dua."


Matanya beralih menatap kumis tipis Irsyan yang sering membuat dirinya kegelian saat Irsyan menciumnya.


"Tiga."


Lalu beralih ke alis tebal milik suaminya.


"Empat."


Kemudian hidung mancung bak perosotan anak TK milik suaminya.


"Lima."


Lalu mata elang dan tajam milik Irsyan. Pandangan mereka bertemu, Aurora bisa merasakan ada banyak cinta untuknya dari sorot mata suaminya.


"Enam."


Aurora segera memutuskan kontak matanya, lalu menatap ke arah bibir ranum yang selalu aktif dan sangat pandai mencumbunya.


Sial, kenapa Aurora jadi menginginkan untuk mencium bibir merah itu.


"Tujuh."


Masa bodoh dengan suaminya yang masih berhitung, dengan cepat Aurora memajukan wajahnya dan meraup bibir Irsyan.


Irsyan tersenyum di sela-sela ciuman istrinya. Tak membuang kesempatan, ia membawa Aurora ke atas pangkuannya dengan bibir yang masih saling berpagutan.


Aurora mende.sah saat ciuman Irsyan turun ke lehernya, itu salah satu titik sensitifnya.


"Masshhh." Dengan susah payah Aurora menarik kepala suaminya agar menjauh dan berhenti.


"Mas pengen sayang," pinta Irsyan dengan tatapan mata sayu nya.


"Kan semalam sudah."


"Tapi Mas pengen lagi," ujar Irsyan. Aurora menghela napas, ia cukup menyesal telah membuat suaminya itu turn on, bahkan Aurora merasakan ada tonjolan di bawah bokongnya.


"Jangan sekarang," papar Aurora menatap mata Irsyan yang penuh gairah.


"Tanggung banget, sayang."


Aurora berdecak lalu turun dari pangkuan Irsyan.


"Sayang ..." rengek Irsyan dengan suara manjanya membuat Aurora bergidik geli.


"Janji deh bakal main cepet," kata Irsyan.


Sontak Aurora melempar guling ke wajah suaminya.


"Dasar mesum!"


"Sayang main solo nggak enak!"


"Bodo amat!" teriak Aurora lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2