
Pagi harinya setelah mandi, mengenakan pakaian dan lain sebagainya, Aurora mengambil tas selempang lalu keluar dari kamar dan tak lupa berpamitan dengan kedua orangtuanya. Lalu melangkahkan kakinya ke garasi di samping rumahnya, setelah itu melajukan motornya menuju ke rumah sakit Atma Jaya untuk menjenguk Andre.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Aurora bergegas masuk ke dalam rumah sakit, namun sebelum itu ia bertemu dengan Irsyan di pintu masuk, sepertinya dia juga baru datang.
"Aurora," panggil Irsyan.
"Eh Mas Irsyan?"
"Kamu ngapain disini? Ayah kamu kan kontrolnya setiap hari senin saja," ucap Irsyan bingung dengan keberadaan Aurora di rumah sakit ini.
"Oh disini aku pergi menjenguk sahabat aku Mas, kemarin dia kecelakaan dan dirawatnya disini," jelas Aurora pada Irsyan yang tengah kebingungan itu.
"Astaghfirullah, dia sekarang di rawat di ruangan apa?"
"Di ruangan anggrek nomor 3," jawab Aurora.
"Ya sudah ayo Mas antar kamu kesana." Aurora mengangguk, lalu mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit dan mereka berdua selalu menjadi pusat perhatian.
"Udah jangan di dengarkan omongan-omongan mereka," ucap Irsyan pada Aurora karena mendengar bisikan-bisikan orang yang tak suka melihat kedekatan mereka.
Aurora mengangguk, "Iya santai aja Mas, aku mah bodo amat sama omongan mereka."
Irsyan tersenyum mendengarnya, "Baguslah," ucapnya.
Sukma yang melihat Irsyan dan Aurora dari kejauhan pun sangat kesal dan marah. Ia memutar otaknya untuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan Irsyan. Walaupun itu harus menurunkan harga dirinya, sepertinya Sukma sangat terobsesi pada Irsyan.
Sampailah mereka di depan pintu ruang anggrek nomor 3.
"Nah ini ruangannya," ucap Irsyan memberitahukan pada Aurora.
Aurora mengangguk, "Makasih udah nganterin aku, Mas," balasnya tersenyum.
"Sama-sama kalau aku mau ke ruangan ku dulu."
"Iya silahkan Mas." Irsyan mengangguk dan meninggalkan Aurora menuju ke ruangannya.
CEKLEK!
Aurora membuka pintu ruang rawat Andre, terlihat disana ada ibu dari Andre dan Kiran tengah berbincang-bincang.
"Assalamualaikum," ucap Aurora.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Eh nak Aurora, sini Nak," ucap Santi, ibu dari Andre.
"Iya Tante." Aurora menghampiri Santi dan Kiran yang berada di samping brankar Andre, lalu menyalaminya.
"Lo kapan kesini nya Ki?" tanya Aurora pada Kiran.
"Baru aja gue sampai sebelum lo," jawab Kiran, Aurora hanya manggut-manggut.
"Oh ya, Tante mau ke kantin sebentar ya? Mau beli sarapan, kalian berdua udah sarapan belum?" tanya Santi pada Aurora dan Kiran. Mereka berdua menggeleng tanda jika mereka belum sarapan.
"Ya sudah nanti sekalian Tante belikan kalian juga," ucap Santi.
"Makasih Tante," balas Aurora dan Kiran serempak. Santi tersenyum dan mengangguk, lalu keluar dari ruang rawat inap Andre.
Aurora menatap Andre, "Kenapa lo bisa kecelakaan kayak gini Ndre?"
"Gue nggak fokus waktu latihan kemarin," jawab Andre seadanya.
Aurora menghela napas, "Ngapain sih lo masih ikut balapan Ndre? Gue kira lo udah taubat."
"Ya mau gimana lagi, Ra. Hasil balap itu nanti buat nambah-nambah biaya hidup keluarga gue, kalian tau kan gue jadi tulang punggung keluarga semenjak bokap gue meninggal," ucap Andre.
Andre memang menjadi tulang punggung keluarga semenjak sang ayah meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Kini biaya hidup ibu dan kedua adiknya yang masih sekolah dialah yang menanggung semuanya. Apalagi Andre adalah anak pertama. Karena hal itulah dia suka balapan motor untuk menambah biaya hidupnya dan keluarganya.
"Memangnya berapa hadiah dari balapan itu Ndre?" tanya Kiran.
Andre menggeleng, "Gue nggak tau, mereka pasti taruhan uang yang paling sedikit 10 juta dan terkadang mereka sampai motornya sendiri dijadikan sebagai taruhan," ucapnya.
"Woah lumayan juga. Oh ya, orang lain boleh ikutan nggak Ndre?" tanya Aurora.
Andre mengerutkan keningnya, "Ya boleh lah, memangnya kenapa? Jangan bilang lo mau ikutan?" selidiknya. Aurora mengangguk dan nyengir menampilkan deretan gigi putihnya.
Selain bela diri, Aurora juga pintar balapan motor. Dulu waktu SMA, dia dan Andre sering mengikuti balapan. Setelah mengenal Rivan, ia langsung taubat untuk mengikuti balapan motor.
Kiran mendorong kepala Aurora, "Jangan macem-macem deh, Ra. Gue nggak mau lo kenapa-napa nantinya." Bibir Aurora mencebik kesal.
"Ya elah, cuma balapan doang. Jugaan balapannya di sirkuit kan?"
"Beneran lo mau ikut?"
Aurora mengangguk, "Iya beneran, terus nanti uangnya buat lo," ucapnya. Andre dan Kiran terkejut mendengar ucapan Aurora.
"Eh janganlah, lo yang balap masa gue yang dikasi hadiahnya," ucap Andre sungkan.
__ADS_1
"Gapapa, anggap saja itu nanti sebagai hadiah lo. Tapi kalau gue menang sih," ucap Aurora cengengesan.
"Tapi itu kan juga harus ada taruhannya, Ra," ucap Kiran.
"Tenang aja, gue ada uang kok buat dijadiin taruhannya," ucap Aurora dengan santai.
"Terus motor untuk lo balap gimana?" tanya Kiran.
"Nanti pakai motor gue aja dan sekaligus motor gue aja buat di jadiin taruhannya," ucap Andre, walaupun sebenarnya di dalam hatinya yang terdalam, ia tak ikhlas motornya dijadikan taruhan. Tapi ia percaya jika Aurora bisa menang dalam balapan itu.
"Eh jangan dong, nanti kalau gue kalah gimana? Bisa raib motor lo," tolak Aurora.
"Tenang aja, gue yakin lo pasti bisa menang," ucap Andre meyakinkan Aurora.
"Ya udah deh, gue terima. Memang tanding balapannya kapan Ndre?"
"Nanti malam jam 9 di sirkuit Montana," jawab Andre.
"Oke, doain gue guys, supaya menang nantinya," ucap Aurora meminta untuk didoakan pada kedua sahabatnya itu, Andre dan Kiran mengangguk.
"Kita pasti doakan lo, Ra. Asal lo hati-hati nanti pas tanding," ucap Kiran.
"Insyaallah. Tapi kalian jangan kasi tau yang lain ya?" Yang lain maksud Aurora adalah Wawan dan Mila.
"Lah kenapa? Kan mereka juga harus tau."
"Iya gue tau, tapi gue yakin mereka nggak bakal izinin gue ikut balapan. Apalagi si Wawan, tu orang posesif banget sama gue," jelas Aurora. Andre dan Kiran pun mengangguk mengerti.
"Terus nanti lo kesana pergi sendirian gitu?" tanya Andre.
Aurora mengangguk, "Iya gue sendiri aja kesana."
"Mau gue temenin kesana?" tawar Kiran, ia tidak mungkin membiarkan Aurora pergi sendirian.
"Nggak usah, Ki. Gue sendirian aja," tolak Aurora.
"Beneran? Kalau lo di apa-apain sama anak motor lain nanti gimana?" Aurora tau jika Kiran khawatir padanya, sungguh ia tak apa-apa kalau pergi ke sirkuit itu sendirian.
"Lo tenang aja, nggak usah khawatir," ucap Aurora coba menenangkan kekhawatiran Kiran. Kiran mengangguk ragu, sahabatnya yang satu itu memang keras kepala dan nekat.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1