GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 168


__ADS_3

Pagi menjelang, Caca kedatangan tamu. Aril membawa kedua rekan kerjanya yakni Naufal dan satu lagi, dia seorang penjaga keamanan bernama Elang. Mereka berdua merupakan orang yang paling Aril percaya di kantor.


"Naufal," sapa Caca. Naufal tersenyum saat Caca menyapanya, ternyata wanita itu tidak melupakannya.


"Selamat pagi, Nona. Saya Naufal, karyawan di bagian IT. Saya akan menjadi orang kedua setelah Aril yang akan mendukung anda sebagai presiden YH GROUP," ucap Naufal.


"Saya Elang, yang kan menjaga keamanan anda nanti di YH GROUP," timpal Elang. Pria itu sebelas dua belas dengan Aril, dia kaku dan dingin. Laki-laki itu ia juga sangat tampan. Tapi bagi Caca, Aril paling tampan dari laki-laki yang ia kenal.


Caca mengangguk, "Terima kasih. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik nantinya," ujarnya tersenyum.


"Oh ya, kalian sudah sarapan?" tanya Caca.


"Bel--"


"Sudah!" Ucapan Naufal di potong oleh Aril.


"Kita belum sarapan loh, Ril. Lo pagi-pagi buta udah suruh kita kesini!" protes Naufal pada Aril.


Aril menatap tajam Naufal, membuat sang empu langsung menunduk. Naufal paling takut dengan tatapan Aril seperti akan membunuhnya. Caca tersenyum tipis, dari dulu Naufal memang sangat takut dengan Aril.


"Ayo kita sarapan samaan," ajak Caca.


"Memangnya boleh, Nona?" tanya Naufal antusias.


"Tentu saja. Saya nggak mau nantinya pegawai saya sakit gara-gara belum sarapan," jawab Caca. Naufal tersenyum sumringah. Aril menghela napas, sahabatnya itu memang tidak tau malu sedangkan Elang hanya memasang wajah datarnya.


Aril geleng-geleng kepala melihat cara makan sahabat laknatnya itu seperti orang yang 1 bulan tidak pernah makan. Sementara Elang, pria itu makan dengan kalemnya.


Setelah selesai sarapan, mereka berempat pergi menuju ke rumah sakit. Dengan Elang sebagai sopir, Naufal di sampingnya. Sedangkan Aril dan Caca duduk di kursi belakang.


"Fal, sejak kapan kamu kerja di YH Group?" tanya Caca.


Naufal menghadap ke belakang, "Sejak 2 tahun yang lalu, Nona."


Caca manggut-manggut mengerti, walaupun sebenarnya ia sedikit risih dengan panggilan Nona yang terlontar dari bibir teman lamanya itu.


"Dan Elang?" tanya Caca ke Elang.


"Saya kerja baru 1 tahun di, Nona."


"Oh gitu."


"Aril nggak ditanya juga, Nona?" celetuk Naufal.


Aril yang sedang memeriksa email di iPad itu langsung mendongak dan menatap Naufal dengan tatapan ingin menerkam. Naufal yang ditatap langsung melihat ke arah lain.


"Kalau Aril udah berapa lama kerja di YH Group?" tanya Caca.


Aril menatap Caca. "Saya sudah 3 tahun bekerja disana."

__ADS_1


Caca mengalihkan pandangannya, ia paling tidak kuat jika sudah saling bertatapan dengan Aril. Caca takut hilang kontrol.


"Oh gitu, ternyata lama juga kamu kerja disana," ucap Caca.


Aril tak sengaja melihat ke arah leher Caca yang tengah menggunakan kalung pemberian darinya dulu. Kalung silver yang berliontin infinity yang bersimbol kan kebahagiaan dan cinta abadi. Aril memberikan itu dengan harapan Caca selalu diberikan kebahagiaan dan berharap jika kelak wanita itu bisa menjadi cinta abadinya.


Tapi setelah bertemu kembali dengan Caca, Aril menjadi minder karena kesetaraan keluarga mereka bagaikan langit dan bumi yang sangat jauh dan tidak mungkin bisa digapai. Aril merasa dirinya tak cocok bersanding bersama Caca yang kini menjadi atasannya.


Mereka berempat berjalan, Caca dan Aril di depan. Sedangkan Naufal dan Elang berjalan di belakang mereka. Di kejauhan seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menatap mereka.


"Gue tadi nggak salah liat kan? Apa benar tadi itu Caca? Tapi setahu gue dia masih di Turki," ucap wanita itu yang ternyata Lala, sahabat dari Caca.


Sesampainya di depan ruang rawat tuan Ibrahim, ada beberapa orang berbaju hitam tengah berjaga. Diyakini para bodyguard tersebut adalah penjaga dari Arsal dan Ibunya, yang berarti mereka berdua berada di dalam ruang rawat tuan Ibrahim.


"Tante Kalina, Arsal!"


Dua orang yang dipanggil langsung berbalik menghadap Caca. Arsal menatap tajam ke arah Caca.


"Mau ngapain kamu kesini!" ketus Arsal.


"Ya tentu saja untuk bertemu dengan kakek!" balas Caca. Ia menatap ke arah brankar, betapa terkejutnya Caca tidak melihat sang kakek disana.


"Kakek kemana?!" tanya Caca.


"Ya mana aku tau. Atau jangan-jangan kakek kamu yang sembunyikan, biar kamu bisa menguasai perusahaan kakek?" tuduh Arsal.


"Jangan asal nuduh kamu, Arsal!" protes Caca tak terima. Baru 5 hari tinggal di rumah kakeknya, Arsal dan Ibunya seperti mengibarkan bendera perang kepada dirinya.


"Jangan sembarangan bicara kamu, Caca!" Kalina melayangkan tangannya, tapi sebelum mengenai pipi putih dan mulus Caca, Aril segera menghalangi. Pria itu berdiri di depan Caca seraya memegang kedua bahu Caca dan alhasil punggung Aril yang terkena tamparan dari Kalian.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Aril. Caca yang tadinya memejamkan mata, sontak mendongak menatap Aril yang cukup dekat dengannya.


Caca menggeleng, "Aku gapapa, Ril." Perlakukan Aril ini membuat detak jantung Caca menjadi tidak karuan.


Aril mengangguk lega. Lalu ia berbalik menghadap ke Kalina dengan tatapan tajamnya. Kalina pun kembali ingin menampar Caca, dengan cepat tangan Aril mencegahnya dan mencengkram tangan Kalina.


"Jangan berani-berani menyentuh ibuku!" bentak Arsal sambil menunjuk Aril.


"Jika Anda tidak ingin membuat keributan, Anda sebaiknya berhenti," ucap Aril dengan wajah datarnya.


"Siapa kamu yang berhak berbicara seperti itu denganku?!" sentak Kalina marah.


Aril tersenyum miring, "Jika bukan karena nona Caira, saya tidak akan pernah berbicara dengan anda atau anak anda!" balas Aril. Sejak pertama kali bekerja di YH GROUP, Aril memang sudah tidak suka dengan Arsal dan Ibunya yang arogan dan suka seenaknya saja dengan karyawan-karyawan disana.


Caca tersentak dan menatap ke arah Aril. Hatinya dibuat semakin tak menentu saat Aril membelanya tadi.


"Cih, kamu itu hanya asisten pribadi. Jangan berani ikut campur dengan urusan keluarga Harsa!" Kalina geram Aril yang terlalu ikut campur.


"Arsal!" panggil Kalina.

__ADS_1


"Ya ibu?"


"Panggil orang yang bertanggung jawab dan tutup rumah sakit ini! Jangan sampai ada satu orang pun yang berani keluar dari sini, terutama mereka. Ibu yakin pasti merekalah yang menyembunyikan kakekmu dan pasti ada orang dalam yang membantu mereka!" Kalina yakin jika keponakan dan antek-anteknya inilah dalang dari hilangnya tuan Ibrahim.


"Dan kerahkan anak buah kamu untuk mencari kakek mu ke seluruh penjuru rumah sakit ini!" perintah Kalina.


"Baik, Bu." Arsal menyuruh asisten pribadinya bernama Romi melakukan semua perintah dari ibunya tadi.


"Kalian sudah menculik pasien dengan niat membunuh--"


"Tuduhan anda begitu kejam, Nyonya. Tapi faktanya kita tidak pernah melakukan hal sekotor itu! Merekalah yang akan membunuh anggota keluarganya untuk keuntungan besar." Aril memotong ucapan Kalina tanpa ada rasa takut.


"Apa maksud dari perkataanmu itu?"


"Maksud perkataan saya tadi, anda pasti mengerti," jawab Aril. Ia tersenyum menyeringai melihat raut wajah ketakutan Kalina.


"Arsal, sekarang telpon polisi dan laporkan mereka!" perintah Kalina lagi pada putranya.


"Tunggu!" Suara bariton milik tuan Ibrahim terdengar jelas membuat semua orang yang ada di dalam melihat ke arah kakek tua yang baru saja masuk ke dalam ruangan inap tersebut. Membuat mereka semua cukup terkejut sekaligus bernafas lega melihat kedatangannya.


Ternyata sebenarnya tuan Ibrahim tadi sedang berada di taman rumah sakit untuk menghirup udara segar dan setelah puas, beliau menyuruh Bimo mengantarkannya kembali ke kamar inapnya. Sesampainya di depan kamar inapnya, tuan Ibrahim mendengar semua perkataan orang-orang di dalam kamar inapnya.


Kursi roda tuan Ibrahim didorong oleh Bimo untuk lebih mendekat.


"Kakek! Kakek dari mana saja? Kakek baik-baik saja kan?" tanya Arsal. Tuan Ibrahim membalas pertanyaan Arsal tadi hanya dengan anggukan kepala saja.


Tuan Ibrahim menatap putri keduanya itu. "Apa maksud dari perkataan mu tadi? Kamu menuduh keponakan mu sendiri dan akan melaporkannya ke polisi?"


"Ayah kemana saja? Dimana mereka menyembunyikan Ayah? Apa ada yang terluka? Apa perlu aku memanggilkan Dokter untuk memeriksa Ayah?" Kalina mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Itu tidak perlu Kalina. Aku sudah tua, tapi aku kuat. Aku selamat dari paruh pertama hidupku. Adapun paruh kedua di hidupku tidak ada yang bisa menjebak ku," ucap tuan Ibrahim. Tak lama kakek tua itu terbatuk-batuk. Dengan sigap, Bimo mengusap punggung tuan Ibrahim. Tuan Ibrahim mengangkat satu tangannya, menyuruh Bimo berhenti mengusap punggungnya.


Tuan Ibrahim menatap ke arah Caca dan tersenyum. "Aku dulu berpikir bahwa aku memiliki umur panjang untuk hidup. Tetapi kali ini, aku merasa hari-hari aku tinggal hitungan. Jadi hari ini, aku akan mengatakan apa yang perlu aku katakan."


Tuan Ibrahim mengalihkan pandangannya ke arah Kalina. "Bisnis keluarga akan dibagi rata antara kamu dan saudara perempuan mu, Ranti. Kalian masing-masing akan mewarisi setengah dari bisnis. Saya mendirikan YH GROUP, tetapi selama beberapa dekade terakhir, Ranti bersama suaminya lah yang mengembangkan perusahaan."


"Seharusnya Ranti yang akan mewarisi YH GROUP. Tapi sayangnya, dia memilih tinggal di Turki bersama suaminya. Untungnya, kini sudah ada Caca disini." Tuan Ibrahim kembali menatap Caca. Kalina dan Arsal menatap sinis ke arah Caca.


Caca mendekati dan berdiri di samping sang kakek. "Apa maksud kakek?"


"Caca, ekuitas yang ditinggalkan mommy mu akan di warisi olehmu. Ekuitas tersebut akan ditransfer kepadamu. Kamu akan menjadi pemegang saham terbesar di YH GROUP," ucap tuan Ibrahim membuat Kalina dan Arsal geram dan emosi, pria itu bahkan sekarang tengah mengepalkan tangannya. Tentu saja mereka tidak terima dengan pernyataan tuan Ibrahim tadi.


"Caca cucuku ..." Tuan Ibrahim mencoba meraih tangan Caca. Dengan cepat, Caca berjongkok di depan sang kakek.


"Ya, Kek?"


"Keluarga Harsa, YH GROUP dan semuanya sekarang berada di tanganmu. Kakek mengandalkan mu," ujar tuan Ibrahim dengan penuh senyuman. Caca semakin terkejut mendengar pertanyaan dari kakeknya, ia tak yakin bisa menangani itu semua sendiri. Sementara Arsal dan Ibunya semakin berang dan ingin segera melengserkan Caca dari keluarga Harsa.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2