
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari telah tiba matahari mulai memunculkan sinarnya, Aurora terusik pelan lalu tak lama kemudian kedua matanya terbuka, lalu menatap ke arah jam berada di atas meja samping ranjang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Aurora mengalihkan pandangannya ke arah pria yang tertidur dengan menindih sedikit tubuhnya itu dengan kepala Irsyan di atas dadanya. Ia tersenyum kecil saat mengetahui jika suaminya itu sangat manja padanya, tapi Aurora sangat menyukai sifat manja suaminya itu.
"Mas bangun yuk, udah pagi loh ini." Aurora membangunkan Irsyan dengan suara lembutnya.
Irsyan mulai terusik dan menggeliat lalu membuka matanya, ia langsung mengembangkan senyum manisnya saat mendongak menatap wajah bantal istrinya yang menurutnya sangat cantik natural.
"Morning baby," sapa Irsyan dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"Pagi juga sayang, bangun yuk kan hari ini Mas dapat shift pagi."
"Mas nggak ke rumah sakit hari ini, disuruh ke perusahan travelnya Papa," ucap Irsyan.
Apakah pekerjaan Irsyan sebagai perawat itu hanya sebagai pekerjaan sampingan saja? Pikir Aurora sedari dulu. Ia bingung dengan pekerjaan sang suami yang sebenarnya, tak ambil pusing yang penting cuan terus masuk ke dalam rekeningnya. Aurora matre? Hell no, perempuan itu harus materialistis, apalagi matre ke suami sendiri kan nggak apa-apa.
"Makanya mandi, aku juga mau mandi," balas Aurora.
"Aaaa Mas masih ngantuk," rengek Irsyan sambil mengeratkan pelukannya.
"Ini udah jam setengah tujuh loh Mas, nanti Mas bisa telat. Aku juga nanti bisa telat ke kantornya," ucap Aurora mencoba untuk menahan kesabaran menghadapi bayi besarnya ini.
"Tapi mandi berdua ya, yang?" pinta Irsyan dengan wajah memelas seperti kucing minta makan.
"Nggak! Nanti yang ada lama di kamar mandinya!" tolak Aurora karena tau modus suaminya itu jika sudah minta mandi bersama.
"Cuma 30 menit aja kok. Mau ya, please?" bujuk Irsyan. Aurora tak yakin jika suaminya itu bermain-main dengannya hanya 30 menit, ia tau tabiat dari Irsyan seperti apa.
"Tapi kemarin kan udah, Mas."
"Gapapa lah, kan biar cepat jadi babynya. Dosa loh kalau nolak keinginan suami," ucap Irsyan. Dah lah, kalau sudah bawa-bawa dosa segala Aurora hanya bisa mengangguk dan pasrah menuruti permintaan suaminya.
__ADS_1
"Yes!" Tanpa berlama-lama lagi, Irsyan mengangkat tubuh Aurora ala bridal style menuju ke kamar mandi.
Setelah dirasa cukup puas, pasangan suami-istri itu pun keluar dari dalam kamar mandi dengan raut wajah yang berbeda-beda. Irsyan keluar dengan raut wajah yang senang dan puas, sedangkan Aurora dengan raut wajah cemberut dan kesal.
"Katanya 30 menit, itu mau satu jam tau!" sungut Aurora. Irsyan terkekeh geli melihat kekesalan istrinya.
"Ya udah maafin aku sayang," ucap Irsyan sambil memeluk Aurora dari belakang.
Aurora mendengus. "Awas lepas! Aku mau ambil baju." Irsyan pun melepaskan pelukannya, ia tak mau mendapat amukan pagi-pagi dari singa betina.
Aurora pergi menuju ke ruang wardrobe dan diikuti oleh Irsyan. Walaupun masih kesal, Aurora tetap meyiapkan pakaian kerja untuk suaminya karena ini memang adalah kewajibannya.
"Ini pakaiannya, Mas." Aurora memberikan setelan pakaian kerja untuk suaminya.
"Makasih sayang," ucap Irsyan mencium kening Aurora.
"Sama-sama, Mas."
Giliran Aurora yang mengambil pakaian, dengan santainya Aurora membuka handuk kimono dan mengenakan pakaian di depan suaminya. Sah-sah saja kan?
Setelah selesai, Aurora melangkahkan kakinya keluar dari ruang wardrobe namun terhenti saat Irsyan menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa Mas?" tanya Aurora heran.
"Pakaikan Mas," titah Irsyan sambil menyodorkan dasinya. Aurora menurut, lalu mengambil dasi dari tangan Irsyan.
"Mas, nunduk." Perintah Aurora dan langsung dituruti Irsyan.
Aurora mulai melingkarkan dasi di kerah kemeja Irsyan. Sedangkan Irsyan melingkarkan tangannya di pinggang Aurora.
Mata Irsyan terus menatap wajah cantik Aurora yang tengah fokus membuat simpul dasinya.
"Sudah Mas," ucap Aurora. Namun Irsyan hanya diam saja dan terus menatap Aurora.
"Kenapa sih Mas? Kok ngeliatin aku kayak gitu banget?" tanya Aurora heran.
"Mata Mas nggak bisa jauh dari wajah cantik kamu," jawab Irsyan jujur. Membuat Aurora tersipu malu.
__ADS_1
"Udah ah, ayo kita ke bawah," ajak Aurora. Untuk berdandan, Aurora memilih berdandan di kantornya saja nanti, karena waktunya tidak cukup. Walaupun tidak berdandan wajah Aurora tetap cantik alami.
Dengan berat hati Irsyan melepas pelukannya dari pinggang Aurora. Mereka berdua pun keluar dari kamar menuju ke ruang makan.
"Ekhem udah ngapain aja, kok lama banget turun?" sindir Jihan.
"Biasalah Ma, kita keramasan dulu," ucap Irsyan santai tanpa dosa. Aurora mencubit pinggang Irsyan karena kesal dengan ucapan suaminya tadi.
"Awwww sakit yang!" Irsyan meringis saat mendapat cubitan maut dari Aurora.
"Siapa suruh bicara yang aneh-aneh!" kesal Aurora.
"Iya maaf sayang," ucap Irsyan. Jihan dan Harun terkekeh geli melihat putranya yang tunduk dengan istrinya.
Di rumah sakit, tepatnya di ruang VIP 1 bangsal cempaka, seorang pasien ngamuk karena hanya ingin Irsyan yang merawatnya. Yah tak lain pasien itu adalah Nina, mantan kekasih Irsyan.
"Pokoknya aku mau mas Irsyan yang rawat aku!"
"Maaf Mbak, tapi Irsyan sedang tidak masuk hari ini," ucap Budi memberi pengertian pada Nina.
"Kenapa?" tanya Nina sedih.
Ah ya, Nina sudah memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, karena tak mungkin ia melanjutkan hubungan toxic itu. Toh Nina belum memiliki anak dari suaminya itu. Jadi dulu Nina pernah keguguran karena sesuatu hal, dari semenjak itulah suaminya itu terus bertindak kasar kepadanya. Apakah ini juga karma karena dia sudah menyakiti Irsyan? Entahlah.
"Dia lagi ada pekerjaan lain," jawab Aji dingin. Kalau saja bukan di rumah sakit, mungkin Aji sudah menyumpal mulut Nina dengan semp@k miliknya yang memiliki bau naudzubillah. Sikap Nina yang kekanakan membuat Aji sangat muak.
Nina memajukan bibir bawahnya, padahal dia sudah berdandan cantik agar Irsyan terpesona dengannya.
"Sarapan dulu yuk nak, terus minum obat," ujar Zara lembut. Zara belum memberitahukan kepada putrinya tentang Irsyan yang sudah menikah, ia takut jika Nina akan melakukan tindakan diluar nalar. Sebab Zara tau, Nina itu orangnya sangat nekat.
"Pokoknya aku nggak mau makan sama minum obat, kalau mas Irsyan nggak ada!" teriak Nina. Aji yang sudah jengah itu memilih keluar dari ruangan Nina, daripada tensi darahnya menaik gara-gara wanita stres itu.
"Bisa-bisanya dulu Irsyan punya pacar stres kayak dia," gumam Aji geram. Untung sekarang sahabatnya itu sudah bertemu dengan perempuan yang tepat menjadi pasangan hidupnya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1