GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 193


__ADS_3

Vania terus menggulir foto-foto di dalam Ipad-nya sambil senyum-senyum sendiri. Terkadang ia juga memperbesar foto tersebut. Jika kalian ingin tahu foto siapa yang dilihatnya? Yup betul! Itu adalah foto-foto Aril yang di ambil oleh sekretarisnya pada saat mereka meeting waktu itu.


Wajah tampan Aril seperti mengalihkan dunianya. Mike menghampiri adiknya, ia hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakukan adiknya itu.


"Kamu begitu mengagumi asisten Aril?" tanya Mike duduk di sebelah Vania.


"Memangnya ada alasan untuk pria yang sesempurna dia?" tanya balik Vania.


Mike tersenyum seraya mengelus rambut adiknya. "Tapi kamu tahu kan dia hanya seorang asisten yang derajatnya di bawah kita?"


Vania menatap kesal kakaknya, "Kak! Aku menyukai asisten Aril apa adanya. Aku menyukai pribadinya bukan hartanya!"


"Nanti kalau aku sudah memiliki asisten Aril, aku bisa menjadikannya Direktur di perusahaan kita," sambung Vania. Mike membuang napas, adiknya itu telah tergila-gila pada Aril. Ia memang melihat Aril berbeda dari para pria yang ia kenalkan kepada adiknya.


"Kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengan Lucas saja? Dia kan mapan dan tampan juga," usul Mike.


Vania menggelengkan kepalanya, "Dia bukan tipeku, kak. Tipeku yang tampan dan berwajah dingin seperti Aril," jelasnya sambil kembali menatap foto Aril.


"Kamu benar-benar ingin bersama asisten Aril?" tanya Mike.


"Of course. Aku sangat menginginkannya menjadi milikku," jawab Vania.


"Kalau begitu dekati lah dia. Jangan sampai wanita lain memenangkan hatinya."


"Kakak tenang saja. Siapa sih pria yang tidak terpesona denganku?" ujar Vania dengan percaya diri.


Mike terkekeh, "Kamu memang adikku."


Asisten pribadi Mike datang menghampiri lalu membisikkan sesuatu ke telinga Mike. Mike sedikit terkejut mendengar bisikan asistennya tadi.


"Terus awasi gerak-gerik mereka!" perintah Mike.


"Baik, Pak."


...****************...


Setelah merasa tubuhnya sedikit lebih baik, Caca pergi ke supermarket karena ingin membeli sesuatu. Caca pergi dengan sopir dan satu pengawal, atas suruhan kakeknya. Tuan Ibrahim masih trauma dengan kejadian di kantor kemarin.


Sebenarnya tadi Caca sudah mengajak Aril, tapi pria itu beralasan karena sedang sibuk. Entah apa yang di lakukannya. Pada akhirnya Caca pergi sendiri. Ya walaupun ada pengawal yang menemaninya. Tapi Caca menyuruh pengawal tersebut untuk menunggunya di dalam mobil saja.


Caca mendorong troli ke tempat makanan ringan, tapi seorang wanita yang sedang fokus memainkan ponselnya tak sengaja menabrak Caca.


"Aduhh! Maaf mbak, saya nggak sengaja," sesal wanita itu.


"Lala!" seru Caca. Lala yang sedang memungut ponselnya itu langsung mendongak menatap Caca.


"Caca! Ya ampun lo beneran Caca? Sahabat gue dulu?" girang Lala memeluk Caca dan dibalas oleh Caca.


"Iya aku Caca, sahabat kamu."


Lala melepaskan pelukannya, "Lo apa kabar? Kok nggak kasi tau gue kalau lo udah balik ke Indonesia."


"Aku baik. Gimana aku kasi tau kamu, orang kamu aja menghilang bak ditelan bumi. Kamu bahkan nggak beritahu aku nomor ponselmu yang baru," ucap Caca sinis.


Lala nyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya, "Sorry, Ca. Soalnya handphone gue yang dulu hilang. Jadinya gue lupa sama nomor orang-orang di handphone gue itu," jelasnya.


Caca mendengus, ternyata itu alasannya kenapa sahabatnya itu menghilang selama ini.


Setelah berbelanja, Caca dan Lala akan hangout di salah satu cafe tak jauh dari supermarket tadi. Mereka akan bercerita tentang kehidupan mereka yang sudah tidak bertemu selama 8 tahun lamanya.


Caca pun menceritakan dirinya yang akan segera menikah dengan Aril. Sontak Lala sangat terkejut sekaligus senang mendengarnya.


"Hah kok bisa lo sama Aril menikah?" pekik Lala.


"Panjang banget kalau aku ceritakan La," balas Caca.


"Ih ceritain ke gue dong. Gue kepo nih. Pas udah ketemu sama lo, eh langsung denger berita lo mau nikah aja. Mana sama Aril lagi," desak Lala begitu penasaran dan masih tidak percaya karena setahunya Aril tidak memiliki perasaan kepada Caca.


Caca pun mau tak mau menceritakan semuanya kepada Lala, dari awal ia bertemu kembali dengan Aril. Aril yang menjadi asistennya. Kejadian di perusahaan kemarin hingga kakek menyuruhnya menikah dengan Aril dan ketika Aril mengutarakan janjinya kepada Caca dulu.

__ADS_1


"Wah, wah! Ini mah yang namanya jodoh pasti bertemu! Walaupun sama siapa kita dekat dan sejauh mana kita pergi, kalau memang dia jodoh kita pasti Tuhan akan mendekatkan kita kepadanya," ucap Lala yang terharu mendengar cerita Caca tadi.


"Tumben kamu bijak," ledek Caca.


Lala mendengus sebal, "Sialan lo! Gue udah bijak dari dulu kali!"


Caca terkikik, "Iya sorry Lala cantik."


"Bentar-bentar. Berarti lo atasan gue di YH GROUP dong?" pekik Lala.


Caca mengangguk seraya mengulurkan tangannya kepada Lala, "Kenalkan saya Caira Masya Dilaver, CEO baru di YH GROUP."


Lala menjabat tangan sahabatnya itu, "Sumpah sih gue nggak percaya kalau sahabat gue ini udah jadi orang sukses aja!" serunya.


Caca terkekeh, "Kamu bisa aja."


"Eh terus kapan nih lo sama Aril nikah?" tanya Lala.


"Aku belum tahu. Besok kalau udah di tentukan tanggalnya, aku akan menghubungimu."


"Oke Ca. Hah... aku turut bahagia untukmu. Akhirnya kamu bisa bersatu dengan laki-laki yang kamu cintai sejak dulu. Semoga kamu dan Aril selalu bahagia dan langgeng," ucap Lala yang terharu, matanya sampai berkaca-kaca.


Caca segera memeluk sahabatnya itu, "Makasih, La. Doa untukmu juga, semoga kamu segera menemukan jodohmu."


"Eh lo tau nggak Ca!" ujar Lala yang kembali ceria sambil melepaskan pelukannya.


"Kenapa?"


"Gue suka sama salah satu penjaga keamanan di perusahaan lo," jawab Lala sambil mesem-mesem.


"Siapa?"


"Kalau nggak salah sih namanya Elang."


Mata Caca membulat mendengarnya. "Elang si pria kaku?" pekiknya.


Lala hanya mengangguk.


"Iya, Ca. Gue suka sama Elang sejak pertama kali kita bertemu," jawab Lala tersipu. Wajahnya langsung merona.


"Lalu apakah kamu sudah melupakan Naufal?"


Pertanyaan Caca tadi membuat raut wajah Lala berubah. "Gue udah ngelupain laki-laki nyebelin itu!" ketusnya.


"Oh ya? Kalau Naufal masih menyukaimu bagaimana?"


"Gue nggak peduli, Ca. Naufal sudah menjadi masa lalu gue dan masa depan gue sekarang adalah ayang Elang," kata Lala sambil menopang kedua pipinya menggunakan tangan. Caca hanya geleng-geleng melihat sahabatnya itu menjadi budak cinta Elang.


"Terserah kamu aja deh. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."


"Kapan-kapan kita menonton bioskop yuk? Gue udah kangen banget nonton bareng lo."


"Boleh. Nanti kalau aku ada free, aku akan kasi tau kamu."


"Oke, Ca."


...****************...


Disisi lain, tepatnya di rumah orang tua Aurora dan Aril. Aril mengajak kedua orang tuanya untuk berbicara hal penting. Untungnya ada sang kakak dan kakak iparnya sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, jadi ia tidak capek-capek lagi untuk memberitahukan mereka satu-persatu.


"Mau bicarakan apa, nak? Kayaknya penting banget," tanya Nuri.


"Aril mau menikah, Bu," ungkap Aril.


Aurora yang sedang meminum jus jeruk itu tersedak dan batuk-batuk mendengar ucapan adiknya tadi. Dengan sigap Irsyan yang berada di samping Aurora mengusap punggung istrinya.


"Astaga sayang, pelan-pelan minumnya!" peringat Irsyan.


Semuanya yang ada disana terkejut mendengar ungkapan Aril yang tiba-tiba itu. Setahu mereka Aril tidak memiliki kekasih atau teman dekat.

__ADS_1


"Kamu akan menikah dengan siapa, nak? Setahu kami, kamu tidak memiliki pacar atau teman dekat," tanya Alfian.


"Aku akan menikahi Caca, Yah," jawab Aril.


Lagi-lagi ucapan Aril membuat mereka semua semakin syok. Menikahi Caca? Wanita itu kan atasan Aril di kantornya, bagaimana bisa Aril akan menikahi bosnya sendiri?


"Kamu lagi nggak ngelindur kan, dek?" tanya Aurora.


Aril menggeleng. Ia sudah mengira pasti seperti ini tanggapan dari keluarganya, mereka tidak akan percaya dengan ucapannya. "Aril benar-benar akan menikahi, Caca."


"Kenapa bisa? Setahu Ibu kamu tidak berpacaran dengan nak Caca. Coba jelaskan dengan pelan-pelan kepada kami semua," suruh Nuri.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, Bu. Kami menikah karena kami memang saling mencintai," jelas Aril. Tidak mungkin ia menjelaskan jika dirinya disuruh menikah dengan Caca oleh tuan Ibrahim.


"Tapi kamu tau kan derajat keluarga kita dengan keluarga Caca seperti apa?" sahut Alfian. Bukannya tidak merestui hubungan putranya dan Caca, tapi ia sadar jika kasta keluarganya dengan keluarga Caca sangatlah jauh.


Aril menunduk, "Aril tau, Yah. Tapi keluarga Caca tidak mempermasalahkan hal itu," lirihnya.


"Tapi nanti kalau kamu selalu dipojokkan dan direndahkan oleh keluarga Caca karena kasta keluarga kita dibawah mereka, gimana? Kakak nggak ingin kamu diperlakukan seperti itu, RIl!" timpal Aurora. Sama seperti ayahnya, Aurora juga menginginkan Caca sebagai adik iparnya. Tapi apalah daya kesetaraan keluarga mereka bak langit dan bumi.


Irsyan mengelus tangan Aurora yang ada di pahanya, "Sayang nggak boleh bilang seperti itu. Seharusnya kita mendukung Aril. Aril sudah bilang kan tadi, kalau keluarga Caca tidak mempermasalahkan tentang kasta bahkan mereka menerima Aril apa adanya."


"Tapi Mas ..."


Aril berlutut di hadapan orang tuanya membuat semuanya kaget.


"Aril mohon ayah, ibu... Restui Aril menikah dengan Caca," ucap Aril. Alfian dan Nuri membangunkan putranya itu agar tidak berlutut lagi dan mendudukkannya di tengah-tengah mereka.


"Insya Allah, Ibu dan Ayah akan merestui hubungan kalian. Tapi kalau kamu direndahkan oleh keluarga nak Caca, jangan hanya diam saja dan segera beritahu ke kami," nasihat Nuri.


"Baik, Bu. Terima kasih telah merestui hubungan kami. Aril juga akan memperkenalkan Caca ke keluarga yang lain saat acara besok malam," ucap Aril.


"Gimana baiknya kamu, nak. Ayah hanya bisa mendoakan kebahagiaan untukmu," timpal Alfian berkaca-kaca. Putranya itu kini sudah dewasa, telah menentukan jalan hidupnya sendiri bahkan akan segera menikahi seorang wanita pujaan hatinya. Rasanya seperti kemarin melihat anaknya itu bisa berjalan, kini sudah akan memiliki keluarganya sendiri.


"Terima kasih Ayah." Aril memeluk kedua orang tuanya.


Aril menatap kakaknya yang sedari tadi membuang wajahnya. Ia tau kakaknya itu sedang kesal kepadanya. Aril mendekati Aurora dan berjongkok di depannya. "Kak ...," panggilnya lembut.


Aurora hanya menatap datar adiknya.


"Aku meminta restu dari kakak. Kakak mau kan merestui hubungan ku dengan Caca?" pinta Aril memohon.


Aurora mendesah pelan. Ia paling tidak bisa melihat wajahnya adiknya seperti itu. Aurora menyerah dan membawa Aril ke dalam pelukannya. "Kakak akan merestui hubungan kalian. Hiduplah dengan bahagia. Pesan kakak, jangan sampai kamu menyakiti hati Caca. Kalau kamu sampai sakiti hatinya sama saja kamu menyakiti hati Ibu dan kakak. Kamu paham kan?"


Aril melepaskan pelukannya, menatap Aurora dan mengangguk, "Aku akan mengingat pesan kakak ini."


"Kalau kamu membutuhkan apapun, jangan sungkan untuk, beritahu kakak," sahut Irsyan sambil menepuk-nepuk pundak Aril


Aril mengangguk dan tersenyum, kakak iparnya itu memang yang terbaik.


Tiba-tiba Alina berlarian menuju kedua orang tuanya karena di kejar oleh sang kakak.


"Mama, Papa... Abang Hans sangat menyebalkan! Masa adek lagi main boneka di gangguin," adu Alina.


"Adek bohong Ma, Pa! Dia malah merobek komik kesayangan Abang, makanya Abang marah dan mengejarnya!" balas Hansel tak terima.


Aurora dan Irsyan menatap putrinya itu untuk memberikan penjelasan. Alina langsung menunduk, "Maafkan adek, Ma, Pa. Adek tidak sengaja, soalnya tadi Abang tidak mau kasi adek pinjam komiknya. Jadinya Adek tarik, eh malah jadi robek," jelasnya dengan raut wajah bersalahnya.


Irsyan dan Aurora menghela napas. Anak-anaknya itu memang sangatlah jarang akur seperti mereka berdua dulu yang juga jarang akur dengan saudara mereka.


"Alina sayang... ayo minta maaf sama Abang Hans," suruh Aurora dengan suara lembutnya.


Alina mengangguk lalu mendekati Hansel dan menyodorkan tangannya, "Maafin adek ya, Bang? Adek benar-benar tidak sengaja."


Hansel mencoba meredam emosinya dan menjabat tangan adiknya. "Abang maafkan. Tapi jangan diulangi lagi, paham?"


"Iya Bang."


Semuanya tersenyum melihat tingkah Alina dan Hansel itu.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2