
Deg!
Tiga kata yang keluar dari mulut Caca membuat jantung Aril berdebar tak karuan. Kenapa wanita itu begitu gampangnya mengatakan hal itu kepadanya? Apa dirinya sekarang sedang dilamar? Pikir Aril.
Aril membalikkan badannya menatap Caca. Dengan pelan, Caca turun dari ranjang. Kini kedua insan itu saling bertatapan.
"Ayo kita menikah!" ucap Caca lagi. Aril hanya diam. Perasaannya saat ini bercampur aduk.
"Seperti yang dikatakan oleh kakek tadi. Kita akan mengadakan pesta pernikahan besar-besaran. Kita akan menunjukkan kepada semua orang di dalam dan di luar organisasi siapa kita. Terutama agar mereka tau siapa aku yang sebenarnya," sambung Caca.
"Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan tadi?" tanya Aril.
"Iya aku sadar... Kamu memang tidak mencintaiku," jawab Caca menunduk. Aril menghela napas, bukan itu jawaban yang ingin ia dengarkan dari Caca.
Caca mendongak kembali menatap Aril, "Tapi setelah aku kembali kesini, aku tidak punya orang lain untuk diandalkan ..."
Caca memegang telapak tangan Aril seraya berkata, "Kemarin sore saat aku pingsan di ruang kerjaku, hanya ada kamu disana. Bagiku hanya kamu yang bisa aku andalkan," ujarnya sambil terisak. Ia berusaha keras mati-matian untuk bertahan dari gempuran orang-orang yang tidak menyukainya demi sang kakek dan untungnya ada Aril yang selalu mendukung serta selalu ada untuknya.
"Jadi, bisakah kamu berada di sisiku dan bersamaku?"
"Apakah kamu tahu artinya jika kamu menikah denganku?" tanya Aril.
Caca menggelengkan kepalanya.
"Kamu mungkin tidak akan pernah bisa melarikan diri setelah kita terikat nanti dan kamu akan tahu sifat asliku yang sebenarnya. Jadi... jika kamu belum siap untuk itu, apakah kamu yakin ingin menikah denganku?" tanya Aril sekali lagi, ia mencoba menyakinkan Caca.
Caca langsung terdiam, entah mengapa ia merasa bimbang dengan keputusannya. Apakah ia bisa menikah dan bertahan dengan pria yang tidak mencintainya? Aril yang melihat Caca terdiam itu langsung membuang napas kasar. Ia melepaskan tangan Caca yang memegang tangannya, lalu beranjak pergi dari kamar Caca.
Caca menatap sendu punggung Aril yang keluar itu. Kenangannya bersama Aril kembali terlintas di otaknya seperti kaset yang berputar, dimana Aril yang selalu menjaga, melindungi dan menolongnya di saat dirinya dalam bahaya seperti kemarin sore bahkan tak jarang pria itu mempertaruhkan nyawanya untuk Caca.
Caca pun memantapkan hatinya memilih Aril sebagai pendamping hidupnya, walaupun pria itu tidak mencintainya. Tapi ia akan berusaha membuat Aril mencintainya. Ia berjalan cepat menuju pintu, berharap Aril belum pulang. Saat ia akan membuka handle pintu, dengan bersamaan dari luar sana juga seseorang akan membuka pintunya itu.
Orang tersebut tak lain adalah Aril yang ternyata masih berdiam diri di depan pintu kamar Caca. Ia disana juga sama seperti Caca merenung beberapa saat dan memutuskan menerima tawaran Caca untuk menikah tadi karena sesuatu hal.
Aril kembali masuk ke dalam kamar Caca, ia menarik pinggang Caca lalu mengungkungnya ke arah tembok. Kini wajah mereka berdua begitu dekat, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.
"Aku nggak tau. Apakah aku siap atau tidak. Tapi... bagiku disini, aku hanya memilikimu," ucap Caca gugup.
Aril mendekati telinga Caca dan berbisik, "Oke. Ayo kita menikah."
Caca tersenyum senang mendengarnya. Semoga ini bukan mimpi di pagi hari.
"Aku akan menepati janjiku 8 tahun yang lalu kepadamu," sambung Aril.
__ADS_1
"Janji apa?" tanya Caca heran.
Aril menjauhkan wajahnya. "Kamu melupakannya?" tanyanya kecewa.
Caca mengangguk, "Maafkan aku. Aku lupa, tapi bisakah kamu memberitahukan ku kembali?" pintanya berharap.
Aril akhirnya menceritakan tentang janjinya 8 tahun yang lalu kepada Caca pada saat wanita itu akan pergi ke Turki. Jika Caca kembali ke Indonesia nanti, Aril akan menjadikan Caca lebih dari seorang teman. Dalam artian entah itu seorang kekasih atau istri.
Aril mengatakan hal itu dengan bersungguh-sungguh. Bahkan ia menyuruh Caca untuk belajar yang rajin di Turki sana agar menjadi wanita hebat dan Aril juga melakukan yang sama, ia akan belajar yang rajin supaya bisa bersanding dengan Caca yang kini sudah menjadi wanita yang hebat menurutnya.
Caca menutup mulutnya, saking terkejutnya mendengar janji yang Aril katakan kepadanya dulu. "Ja-jadi ..."
Aril mengangguk, "Aku akan menepati janjiku itu. Tapi aku belum menjadi pria hebat untuk wanita hebat sepertimu... bahkan aku hanya as--"
Ucapan Aril terhenti, saat Caca menaruh jari telunjuknya di bibir Aril. "Menurutku kamu sudah menjadi pria hebat... sangat hebat. Aku tidak peduli dengan jabatanmu entah itu diatas atau di bawahku. Yang aku inginkan hanyalah menjadi seorang istri dari pria yang membuat diriku menjadi seperti sekarang ini."
Aril tersenyum, hatinya berbunga-bunga mendengar penuturan Caca. "Kamu serius? Jangan sampai kamu menyesali ucapanmu tadi."
"Aku serius, Aril. Apa kamu lupa saat SMA dulu aku begitu mengagumimu dan sering mengejar cintamu yang selalu kamu tolak mentah-mentah dulu," ucap Caca tersenyum miris saat mengingat Aril terus menolak perasaannya.
"I-itu aku ..."
"Walaupun demikian, sampai sekarang rasa itu masih ada disini. Sampai banyak pria yang aku tolak karena dirimu." Caca menunjuk jantungnya. Hah... Aril tidak bisa menggambarkan perasaannya. Ia tidak pernah merasakan hatinya berdegup kencang seperti sekarang ini.
"Aku selalu siap kapanpun kamu mengajakku," jawab Caca. Rasanya Aril ingin mencium bibir Caca yang menggodanya sedari tadi. Tapi ia harus menahannya, Aril tak mau jika Caca berpikir ia adalah pria yang mesum.
"Aku akan menemui tuan Ibrahim," ucap Aril.
Caca mengerutkan dahinya, "Untuk apa?"
"Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengan beliau," jawab Aril.
"Oh ya sudah."
Aril masuk ke dalam ruang kerja tuan Ibrahim tapi sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia akan bertanya tentang ucapan tuan Ibrahim yang menyuruhnya menikah dengan Caca, apakah itu benar atau hanya karena kakek tua itu sedang marah sampai tidak memikirkan apa yang dia ucapkan?
Tuan Ibrahim menyuruh Bimo untuk keluar dan membiarkannya berbicara empat mata dengan Aril.
"Ayo silahkan duduk!"
"Baik, Tuan." Aril duduk di sofa yang ada diseberang tuan Ibrahim.
"Ada apa Aril?"
__ADS_1
"A-apa perkataan anda tadi tentang ingin menikahkan saya dengan nona Caira itu benar?" tanya Aril.
Tuan Ibrahim tersenyum, "Tentu saja. Saya tidak pernah salah dalam mengucapkan sesuatu. Kenapa? Kau ingin menolaknya?"
"T-tidak, tidak! Bukan begitu, Tuan. Maksud saya apa Ketua tidak masalah dengan status sosial keluarga saya? Saya ini hanya kalangan kecil, Tuan. Jika di bandingkan dengan keluarga Tuan. Apalah saya ini hanya setitik debu ibaratnya," jawab Aril dengan hati hati takut menyinggung perasaan tuan Ibrahim.
"Hahaha.." Tuan Ibrahim justru tertawa mendengar penuturan Aril.
"Kau tak usah khawatir, Aril. Keluarga kami tak pernah membandingkan status sosial terhadap siapapun. Kalau memang cucu saya bisa bahagia tak masalah dengan siapapun ia memilih orang yang ingin di jadikannya pendamping hidup," terang tuan Ibrahim.
"Karena saya tahu jika Caca sangat mencintaimu dari dulu ..."
Aril tersentak mendengarnya.
"Dan saya juga percaya bahwa kau bisa melindungi cucu saya dari musuh-musuh saya. Jangan kecewakan saya dan keluarga saya, terutama cucu saya yang begitu mencintaimu. Jika kau melakukannya, saya akan sangat membencimu," sambung tuan Ibrahim sambil memeringati Aril.
"Tapi saya hanyalah seorang asisten sedangkan nona Caira adalah atasan saya," lirih Aril.
"Itu tidak masalah bagi saya. Nanti saya akan mengangkat mu menjadi Direktur bagian produksi di YH GROUP."
"Tidak perlu, Tuan. Jika saya menjadi Direktur, saya tidak bisa berada di samping nona Caira saat dia membutuhkan saya," tolak Aril.
Tuan Ibrahim tersenyum merasa tersentuh dengan ucapan Aril. Tidak salah jika ia memilih Aril menjadi cucu menantunya. "Saya mengerti. Tapi jika kau ingin, kau bisa menjadi Direktur bagian produksi disana."
"Baik. Terima kasih atas tawarannya, Tuan."
"Kalau begitu bawalah secepatnya orang tuamu untuk bertemu denganku, kita akan membahas tentang pernikahan kalian," perintah tuan Ibrahim.
"Baik Tuan, secepatnya saya akan membawa kedua orang tua saya untuk bertemu dengan anda. Namun sebelum itu izinkan saya memperkenalkan nona Caira terlebih dahulu kepada keluarga saya, agar mereka tidak terkejut mendengar berita pernikahan kami yang tiba-tiba seperti ini," ucap Aril dan langsung di setujui tuan Ibrahim.
"Saya mengizinkanmu. Tapi setelah kalian menikah, tinggal dan menetap lah disini. Agar saya tidak terlalu kesepian," pinta tuan Ibrahim.
Aril berpikir sejenak, "Untuk itu saya belum bisa menjawabnya, Tuan. Saya harus merundingkan hal tersebut terlebih dahulu dengan kedua orang tua saya."
"Baiklah."
"Untuk biaya pesta pernikahan kami, biarkan saya yang membiayai semuanya. Maaf bukannya tidak menghargai anda, Tuan. Tapi saya tidak ingin harga diri saya jatuh sebagai laki-laki di depan semua orang. Saya memiliki tabungan yang cukup membuat pesta pernikahan seperti keinginan anda," ucap Aril.
Tuan Ibrahim semakin melebarkan senyuman, hingga kedua matanya menyipit. Walaupun disuruh membuat pesta hingga 7 hari 7 malam, tuan Ibrahim siap membiayainya. "Baiklah. Itu adalah pernikahanmu dengan Caca, jadi kau bisa melakukan apapun."
Aril hanya mengangguk.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.