
TOK!
TOK!
TOK!
Pipit mengetuk pintu kamar sang anak yang tak lain adalah Sari, sejak sore tadi tidak keluar dari kamarnya, padahal sekarang sudah jam 9 malam dan Sari belum makan malam.
"Nak buka pintunya!" tidak ada sahutan dari dalam. Pipit lagi mengetuk pintu kamar putrinya sampai Sari pun menyuruh sang ibu untuk masuk ke kamarnya.
"Masuk aja Bu!"
Pipit membuka pintu kamar sang putri, ia melihat Sari tengah duduk meringkuk di atas ranjang. Pipit tau putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa nak?" tanya Pipit sambil duduk di pinggir ranjang Sari.
"Gapapa Bu," jawab Sari dengan suara serak tanpa menatap sang ibu. Dari situ Pipit tau jika putrinya itu habis menangis.
"Ayo cerita sama Ibu siapa tau nanti Ibu bisa bantu?" bujuk Pipit agar putrinya itu menceritakan masalahnya. Sari merubah posisi menghadap ke ibunya, terlihat mata yang bengkak dan memerah serta hidungnya pun seperti itu.
"Ya ampun nak, kamu kenapa? Siapa yang buat kamu menangis gini? Ayo kasi tau Ibu, biar Ibu kasi mereka pelajaran!" ucap Pipit dengan menggebu-gebu.
"Aku di tolak sama mas Irsyan, padahal ini pertama kalinya aku mengungkapkan perasaan pada seorang laki-laki," jelas Sari kembali menangis.
*Flashback on*
Siang itu saat Irsyan akan mengambil sesuatu yang tertinggal di mess, Sari pun mengikutinya karena penasaran siapa wanita yang dipeluk oleh Irsyan tadi. Sari pun menunggu Irsyan di depan teras mess.
"Mas Irsyan!" panggil Sari yang melihat Irsyan keluar sang empu yang dipanggil cukup kaget melihat keberadaan Sari disana.
"Ya Sari?"
"Aku mau nanya sesuatu sama Mas," ujar Sari.
"Mau nanya apa ya? Saya nggak bisa lama soalnya sudah ditungguin."
"Em, wanita yang Mas peluk tadi itu siapa ya?" tanya Sari.
Irsyan mengerutkan kening, "Ada apa ya kamu tanya soal itu?" tanyanya.
"Nggak ada sih Mas."
Irsyan menghela napas panjang, gadis itu membuang-buang waktunya saja. Saat Irsyan hendak pergi, lagi-lagi dia ditahan oleh Sari.
"Mas Irsyan tunggu!" panggil Sari. Mau tak mau Irsyan pun menghentikan langkahnya dan kembali menatap Sari.
"Kenapa lagi?" tanya Irsyan menahan rasa kesalnya. Sari memilin rok yang dikenakannya, ia sangat gugup saat ini karena Sari ingin mengungkapkan perasaannya pada Irsyan.
"Hem aku suka sama mas Irsyan," ungkap Sari. Irsyan terkejut mendengar pengakuan dari Sari, sudah ia duga dengan gerak-gerik dan tingkah Sari selama satu minggu lebih jika berada di dekatnya.
"Maaf Sari saya tidak bisa membalas perasaan kamu," balas Irsyan.
"Kenapa Mas? Aku cantik, orang-orang disini bilang aku kembang desa, aku anak dari kepala desa, bahkan banyak laki-laki yang mengejar ku tapi aku tolak semua, tapi aku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepada mas Irsyan, tapi Mas malah menolak ku, apa yang kurang dari aku?" ucap Sari panjang lebar dengan menyombongkan dirinya, padahal itu akan membuat Irsyan muak terhadapnya. Alasan Irsyan memilih Aurora menjadi istrinya itu ya karena Aurora rendah hati, apalagi ia tidak pernah menyombongkan wajah cantiknya.
"Saya menolak kamu itu karena saya sudah menikah dan punya istri!" jelas Irsyan agar Sari tidak mengharapkannya lagi sambil menunjukkan cincin kawinnya. Sari sangat syok, jantungnya berdebar kencang seketika air matanya pun luruh.
"Jadi wanita yang Mas peluk itu istrinya mas Irsyan?" tanya Sari dengan suara lirihnya.
"Iya dia istri saya! Saya harap kamu berhenti berharap dan mendekati saya lagi!" ucap Irsyan tegas, lalu meninggalkan Sari di depan teras itu sedangkan Sari langsung terduduk karena tak bisa menahan bobot tubuhnya yang mulai melemah.
__ADS_1
*Flashback off*
"Apa! Kamu bilang suka kepada, nak Irsyan?" teriak Pipit terkejut. Sari hanya mengangguk lesu. Pipit memijit pelipisnya, ia pusing dengan tingkah laku putrinya ini.
"Ya pantas lah dia nolak kamu, nak Irsyan kan udah punya istri, cantik, anggun dan dilihat dari penampilannya di pasti dari keluarga orang kaya. Sangat beda dengan kasta kita nak." Bukan membela sang putri, Pipit malah memuji Aurora.
"Kok ibu malah muji dia sih daripada bela aku sebagai anak ibu!" kesal Sari.
"Ibu bukan memihak pada istri dari nak Irsyan, tapi itu memang kenyataannya. Jadi kamu berhenti mengharapkan nak Irsyan, masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik, tampan dan kaya dari nak Irsyan," ujar Pipit menasehati putrinya. Heh, dia tidak tau saja keluarga Irsyan masuk 20 besar orang terkaya di Indonesia.
"Tapi Bu--" Ucapan Sari langsung dipotong oleh ibunya.
"Nggak ada tapi-tapian! Ibu nggak mau kamu di cap sebagai perusak rumah tangga orang nantinya. Memangnya kamu dikira pelakor sama orang-orang?" tanya Pipit dan Sari hanya menggeleng.
"Nah begitu dong, ayo sekarang kamu keluar makan malam, nggak enak nanti lauknya pada semua jadi dingin," suruh Pipit.
"Ya Bu."
...****************...
"Vania!" Aurora mengetuk pintu kamar Vania, ia berencana untuk mengajak Vania pergi ke kebun stroberi.
"Ya masuk aja Ra!" sahut Vania dari dalam kamar. Aurora masuk ke dalam kamar Vania, di dalam Vania sedang duduk di ranjang sambil fokus di depan laptopnya.
"Lagi ngapain Van?" tanya Aurora.
"Oh ini ada tugas sedikit dari kampus, padahal lagi libur," jelas Vania terselip nada kesal disana. Aurora duduk di pinggir ranjang, samping Vania.
"Lo ambil fakultas apa Van?"
"Fakultas hukum dan sekarang ini lagi ambil magister, makanya kak Aji lama menunggu," jelas Vania terkekeh diakhir ucapannya.
"Lo ini!" balas Aurora yang ikut terkekeh. Dulu Aurora sangat ingin mengambil program studi magister tapi sayang ekonominya tidak mencukupi.
"Gue ambil fakultas ekonomi dan bisnis."
"Oh bagus tuh. Eh iya ngomong-ngomong ada apa nih?" tanya Vania.
"Gue mau ajak lo jalan-jalan ke kebun stroberi, lo mau nggak?" ajak Aurora.
"Ih mau banget dong! Tunggu bentar ya, gue mau selesaikan ini dulu," ujar Vania kembali fokus ke depan laptop dengan mengetik terburu-buru. Sekitar 10 menit, tugas Vania pun telah selesai.
"Yuk kita pergi!" ucap Vania semangat dan Aurora mengangguk tak kalah semangatnya.
"Emang udah izin sama suami lo?" tanya Vania.
"Udah, sebenernya gue ngidam pengen makan stroberi semalam, karena setau gue disini ada kebun stroberi terus gue suruh mas Irsyan belikan sekaligus petikin gue, tapi kan mana mungkin kebun stroberi itu buka malam-malam. Makanya sekarang gue ajak lo, mau ajak mas Irsyan tapi kan kerja," jelas Aurora.
"Oh gitu pantesan, untung aja lo nggak ngidam di petikin stoberi di Korea. Eh tapi deket nggak tempatnya?"
"Dekat kok, nanti kita juga nanya-nanya dengan warga sekitar," ujar Aurora.
"Oke, ayo kita pergi!"
Di jalan Aurora dan Vania bertemu dengan Aca, Haikal dan satu temannya lagi bernama Firman.
"Hai adik-adik," sapa Aurora.
"Eh kak Aurora, kak Vania!" Ketiga bocah itu segera menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Vania.
"Kita mau pergi mancing ikan di sungai kak," jawab Haikal sambil memperlihatkan pancing yang ia bawa. Memancing di sungai merupakan hal biasa yang sering dilakukan oleh anak-anak di desa ini.
"Em gimana kalau kita pergi ke kebun stroberi aja, gimana?" usul Aurora. Ketiga bocah itu saling pandang.
"Aca sih mau aja kak," sahut Aca. Aurora menatap ke arah Haikal dan Firman. Aca baru berusia 5 tahun, Haikal dan Firman berusia 7 tahun.
"Tapi kita nggak ada uang untuk masuk ke sana kak," ujar Firman.
"Kamu tenang aja, biar kakak yang bayarin kalian, gimana kalian mau kan?" tawar Aurora lagi, ketiga bocah itu langsung mengangguk.
"Let's go kita pergi!" ucap Vania mengandeng tangan Haikal dan Firman, sedangkan Aurora mengandeng tangan Aca.
"Kebun stroberi itu dekat nggak dari sini?" tanya Aurora.
"Nggak kok kak, dekat dari sungai tempat aku dan teman-teman memancing," jelas Haikal.
"Memang kalian sering pergi ke sana?" Kini giliran Vania yang bertanya.
"Kita nggak pernah kesana kak," jawab Firman.
"Kenapa?"
"Karena kami nggak punya uang untuk masuk kesana, walaupun kami sangat ingin kesana." Aurora dan Vania merasa iba dengan ketiga bocah itu, padahal mereka adalah warga asli sini, tapi masuk ke kebun stroberi yang notabennya ada disini pun tidak pernah sama sekali.
Tak membutuhkan waktu lama mereka pun tiba di kebun stroberi, Aurora mengeluarkan dompetnya dari dalam tas dan membayar tiket masuknya sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk lima orang, untuk satu orang dipatok dengan biaya tiga puluh ribu rupiah. Jika ingin membawa hasil petikan stoberi disana dipatok dengan biaya lima puluh ribu rupiah/kilogram.
"Ini keranjang untuk kalian dan petik stroberi sebanyak yang kalian mau," ucap Vania sambil menyerahkan satu-persatu keranjang untuk ketiga bocah itu.
"Beneran kita boleh memetik sebanyak yang kita mau?" tanya Haikal yang sudah sangat antusias.
"Iya Haikal, kalau kalian mau petik untuk ibu dan ayah dirumah juga boleh," timpal Aurora membuat ketiga bocah itu kegirangan.
"Yey, yuk kak Haikal, kak Firman kita petik sepuasnya," ajak Aca bersemangat. Firman dan Haikal mengangguk, lalu mereka bertiga berlari ke arah kebun stroberi itu. Aurora dan Vania yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
"Yuk Ra, kita juga ikut petik, kan keponakan gue mau makan stroberi dari semalam," ajak Vania.
"Yuk."
Mereka disana hampir satu jam lebih lamanya, setelah menimbang stoberi yang mereka petik, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Kalian lapar nggak?" tanya Vania.
"Lapar kak!" jawab ketiga bocah itu dengan serempak.
"Oke kita pergi makan dulu ya, tapi kalian tau nggak tempat makan yang enak disini ada dimana?" tanya Vania lagi.
"Ada kak, tapi yang mereka jual itu hanya lalapan," jelas Haikal.
"Lalapan bebek ada?" tanya Aurora yang sepertinya sedang mengidam makan lalapan bebek, membayangkan itu membuat air liur Aurora hampir menetes.
"Ada kak."
"Oke ayo kita kesana!"
Ternyata sedari tadi ada seseorang yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Cih dasar wanita sok cantik!" umpat orang itu.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.