GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 125


__ADS_3

Kiran membuka matanya dengan perlahan, ternyata hari masih gelap, wanita itu menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, setetes air mata meluncur bebas dari sudut matanya, sekelebat bayangan mengenai kejadian semalam kembali menyayat hatinya.


Kiran menoleh ke sampingnya, matanya memanas menatap sosok laki-laki yang teramat sangat ia benci, brengsek, jahat, bajing*n, kata umpatan itu Kiran lontarkan tak peduli lagi dengan status suami-istri mereka.


Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, dengan susah payah Kiran bangkit untuk duduk. Tulang-tulangnya seakan remuk, kewanitaannya seperti robek, kulit putih mulus Kiran sampai lebam-lebam dan bibirnya luka karena digigitnya sekaligus Andre.


Entah jam berapa Andre berhenti dengan aktivitasnya, Kiran tidak tau karena sudah dulu tak sadarkan diri. Hah lucu ya? Sangat lucu jika dirinya mengingat perkataan Andre kemarin, sampai-sampai ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Kiran segera menghapus air matanya dengan kasar.


"Sssttt." Kiran meringis sambil menggigit bibirnya hingga darah kembali keluar dari kulit bibirnya.


Kiran berusaha turun dari atas ranjang, matanya menatap ke arah perutnya yang masih datar dan air matanya kembali mengalir, semoga saja calon bayinya tidak kenapa-napa di dalam sana. Ia melihat ke arah selangkangannya dan tidak ada bercak darah disana membuat Kiran sedikit bernapas lega. Dengan tertatih ia berjalan menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Kiran menggosokkan tubuhnya dengan kuat dan kasar, ia ingin menghilangkan jejak Kevin yang menyentuhnya dan juga Andre yang memberi luka di tubuhnya. Air matanya mungkin sama banyaknya dengan air shower yang mengalir.


"Kenapa... Hiks, kenapa kalian jahat!" Kiran berteriak tertahan sambil menggosokkan tubuhnya sampai kemerahan. Kalian yang dikatakan oleh Kiran adalah Andre dan Kevin.


"Nak, Bunda menyerah aja ya? Bunda nggak kuat, Ayah kamu jahat, dia nyakitin Bunda, padahal Bunda nggak salah apa-apa," adu Kiran sambil mengelus perutnya.


"Kita pergi aja ya? Pergi yang jauh sampai Ayah kamu nggak bisa menemukan kita, kamu mau ikut kan sama Bunda?" lirih Kiran dengan mata yang terpejam, dada wanita itu kembali sesak.


Sekitar 30 menit Kiran berada di kamar mandi, ia keluar dan langsung menuju ke walk in closet, dengan cepat ia mengenakan pakaiannya.


Matanya kembali melihat ke arah lelaki yang masih tertidur pulas di ranjang, air matanya hendak keluar namun dengan cepat ia mendongakkan wajahnya ke atas untuk menghalau cairan bening itu, tapi percuma air matanya kembali merembes dari ujung matanya.


"Jangan nangis lagi Kiran, lo pasti kuat," gumamnya, ia menggeleng tidak membenarkan ucapannya.


"Nggak, gue nggak kuat. Bener-bener nggak kuat." Tangis Kiran tertahan dengan dada yang bergemuruh sakit.


Tangannya terulur untuk menghapus air matanya, lalu Kiran berjalan menuju ke meja rias, ia menahan diri agar tidak berteriak ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Mata yang bengkak, wajah yang kacau, kedua pergelangan tangan yang lebam, menjadi kesakitan yang dirasakan Kiran.


Wanita itu menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya berat. Tangannya mengambil sisir dengan gemetaran, ia akan menggerai rambutnya karena di lehernya banyak meninggalkan bekas kissmark yang dibuat oleh Andre.


Setelah rapi, Kiran mengambil kaca mata hitam dan memakainya untuk menutupi mata bengkaknya. Lalu ia berangkat kerja ke toko kuenya saat jam menunjukkan pukul enam pagi.


Sesampainya di toko, Kiran langsung menempelkan pipinya di atas meja. Ia perlu tidur sebelum nanti jam 11 pagi Kiran pergi ke Dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya lagi, ia takut terjadi sesuatu pada kandungannya akibat perbuatan Andre kemarin.


Andre membuka matanya ketika istrinya sudah berangkat kerja lebih dulu, sambil merenggangkan otot-ototnya, ia melirik ke arah samping, tak mendapati sosok istrinya disana. Seperti tidak ada rasa bersalahnya Andre hanya berlalu turun dari atas ranjang, ia masih marah dan tidak memperdulikan kesakitan Kiran.


Sekitar 15 menit Andre keluar dan mencari pakaian kerjanya, biasanya Kiran yang menyiapkan semuanya. Tapi kali ini tak ada pakaian kerjanya di atas ranjang, memang sedikit aneh rasanya.


Setelah siap dengan segala atribut yang ada di pakaian kerjanya, Andre mengendarai motornya menuju ke hotel tempatnya bekerja.


...****************...


Caca di panggil oleh wali kelasnya ke ruangan guru karena nilainya di beberapa mata pelajaran menurun dan wali kelasnya itu menyuruh seseorang untuk membimbing alias membantu Caca belajar.

__ADS_1


"Nak Caca nilai kamu di beberapa mata pelajaran di bawah KKM. Bu guru tidak ingin kamu nantinya tidak naik kelas," ucap Bu Rika, wali kelas XI IPS 2.


"Terus saya harus bagaimana, Bu?" tanya Caca. Ia tak ingin kedua orangtuanya kecewa dengan hasil raportnya nanti.


"Ibu akan suruh seseorang untuk menjadi mentor kamu nantinya."


"Siapa, Bu?" tanya Caca penasaran.


"Nak Aril," jawab Bu Rika membuat Caca kaget sekaligus senang mendengarnya.


"Seriusan dia yang jadi mentor saya Bu?"


Bu Rika mengangguk mantap, "Iya, nak. Nanti dia yang akan membimbing kamu."


TOK!


TOK!


TOK!


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang guru.


"Masuk!"


Pintu pun terbuka, terpampang lah wajah Aril yang datar itu dan Bu Rika langsung menyuruh Aril untuk duduk.


Aril hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah saya percayakan ke kamu untuk jadi mentor Caca," ucap Bu Rika.


"Kalau gitu kami keluar dulu Bu," izin Caca.


"Iya silahkan. Ingat ya belajar dengan rajin," pesan Bu Rika pada Caca.


"Baik Bu."


Caca dan Aril pun keluar dari ruang guru berjalan beriringan menuju ke kelasnya.


"Aril," panggil Caca.


"Kenapa?"


"Kapan kita akan belajarnya?"


"Terserah."

__ADS_1


"Ish lo ngomongnya udah kayak cewek, terserah mulu!" sungut Caca kesal dengan jawaban Aril.


Aril berdecak, "Nanti istirahat temuin gue di perpustakaan," ucapnya berlalu meninggalkan Caca duluan.


Caca berdecak kesal, "Dasar kulkas berjalan!" cibirnya.


Seperti janji Aril tadi yang menyuruh Caca untuk pergi ke perpustakaan untuk belajar setelah bel istirahat berbunyi dan gadis itu pun menurutinya. Untung saja nanti setelah bel masuk istirahat, para guru sedang mengadakan rapat dan jadwal para siswa selanjutnya dikosongkan, alhasil Caca bisa belajar lebih lama dengan Aril.


Tidak tau kenapa jantung malah Caca deg-degan, apa karena akan berdekatan dengan Aril?


'Please jantung, jangan deg-degan gini dong,' jerit Caca dalam hatinya.


Caca pun masuk ke dalam perpustakaan, ia menghampiri Aril yang sudah menunggunya disana, lalu Caca duduk di kursi sebelah Aril.


"Telat 5 menit," celetuk Aril sambil fokus membaca buku.


"Ya elah Ril, tadi gue ke kamar mandi sebentar," ujar Caca.


"Waktu gue itu sangat penting jadi jangan buang-buang waktu gue," balas Aril datar.


"Iya-iya maaf deh, kalau begitu ayo kita belajar sekarang," ajak Caca.


Caca pun membaca buku yang di berikan oleh Aril, setelah selesai ia disuruh untuk menjawab soal yang Aril berikan kepadanya. Sesekali Caca bertanya jika ia tidak mengerti soal tersebut.


"Lo salah 7, dari 50 soal," ucap Aril sesudah ia memeriksa jawaban Caca.


"Alhamdulillah untung dikit hehe."


"Lo harus banyak latihan sampai nggak ada yang salah. Jangan cepat merasa puas dengan hasil segitu."


"Baik pak Guru," ujar Caca dengan malas.


"Terus besok lo mau belajar dimana lagi?" tanya Aril.


"Di rumah gue aja, Ril. Soalnya kan enak kalau di rumah bisa sambil rebahan belajarnya terus sambil ngemil pasti sedap tuh," jawab Caca.


"Ck, makan dah rebahan itu kelakuan orang malas, apa lo itu termasuk golongan orang-orang seperti itu heh?" papar Aril yang menusuk sampai ke uluh hati.


"Enak aja sebenarnya gue rajin, tapi pas waktu-waktu tertentu aja," imbuh Caca cengengesan.


Aril menghela napas sambil geleng-geleng kepala. "Ya sudah besok habis pulang sekolah gue ke rumah lo."


"Oke Ril." Caca sangat antusias mendengar jika Aril akan ke rumahnya.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2