
"Masa lo lupa gue itu kakak kelas lo waktu SMA, William," ujar laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai William.
Kiran mencoba mengingat-ingat kembali siapa laki-laki di hadapannya ini. Ah iya, dia mengingat William itu kakak kelasnya waktu SMA dulu, laki-laki itu dulu menjabat sebagai wakil ketua OSIS dan dia pernah menyatakan cintanya pada Kiran, tapi Kiran menolaknya dengan alasan perbedaan keyakinan yang membuat benteng di antara mereka terlalu tinggi.
"Kak William, wakil ketua OSIS itu!" pekik Kiran saat telah mengingat siapa laki-laki di hadapannya ini sambil membuka kaca matanya.
William terkekeh, "Akhirnya lo inget juga. Lo apa kabar?" tanyanya, entah kenapa hati William berbunga-bunga setelah bertemu lagi dengan Kiran.
"Gue baik. Lo gimana?" tanya balik Kiran. Tak mungkin dirinya memberitahukan kepada William jika sekarang dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Gue juga baik, ngomong-ngomong lo tinggal di apartemen ini juga?"
Kiran mengangguk, "Iya, lo juga tinggal disini?"
"Iya gue udah 3 tahunan tinggal di apartemen ini karena kebetulan dekat dengan kantor gue, tapi kok gue nggak pernah berpapasan sama lo sih?"
"Ah itu, gue baru sewa kemarin dan hari ini baru gue pindah kesini," jelas Kiran berbohong.
William manggut-manggut, "Eh iya apartemen lo di lantai berapa--" tanyanya menjeda sambil melihat tombol angka yang berjejeran di didepannya.
"Apartemen lo di lantai 10? Kalau gue sih di lantai 12," sambung William karena melihat tombol yang menyala di angka 10.
"Ya seperti yang lo liat," jawab Kiran.
William melangkah mendekat ke arah Kiran, lalu matanya menelisik wajah wanita itu, terutama pada bagian mata bengkak dan bibir Kiran yang masih sedikit bengkak bahkan membiru.
"Mata lo kenapa bisa bengkak dan bibir lo juga? Habis disengat tawon lo?" seloroh William. Kiran cukup kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari laki-laki itu.
Kiran langsung merubah raut wajah terkejutnya lalu ia tersenyum manis seakan dirinya sedang tidak menghadapi masalah apapun.
"Hehehe ini kemarin gue kepeleset di kamar mandi terus nggak sengaja bibir gue kepentok di bathtub. Sakit banget rasanya sampai bikin gue nangis seharian," jelas Kiran berbohong lagi.
__ADS_1
William sepertinya meragukan ucapan Kiran, "Tapi yang gue liat, lukanya kayak bekas gigitan gitu. Nggak mungkin kan di gigit sama cowok?" tebak William sambil tubuhnya menunduk mensejajarkan dengan wajah Kiran hingga membuat mata mereka saling bertubrukan.
Kiran terkejut bukan main saat William memajukan wajahnya seperti itu jiwa penasaran yang tinggi tak berubah dari William sejak dulu. Untung saja hanya mereka berdua di dalam lift kalau tidak, orang pasti akan mengira jika Kiran dan William seperti akan berciuman.
Dan memang William tidak mengetahui tentang Kiran yang sudah menikah karena mereka berdua sudah lama saling lost contacts.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Kiran menghembuskan napas lega, buru-buru ia menggeserkan tubuh William, kemudian melangkah cepat keluar dari dalam lift dengan menarik kopernya.
"Gue duluan ya kak William, see you." Kiran melambaikan tangan kepada William sebelum pergi menuju ke unit apartemennya.
"Wah gila tu cowok, dari dulu memang nggak bisa di bohongi," ucap Kiran geleng-geleng kepala.
William langsung tersenyum penuh arti saat Kiran sudah tak keliatan lagi di pandangnya, "Akhirnya kita bertemu lagi, Kiran," ucapnya pelan.
"Apa aku bisa hidup tanpa kamu, Ndre," lirih Kiran. Tak lama kemudian ia terlelap saking lelah hati dan tenaganya menghadapi Andre tadi.
Di lain tempat, rumah yang tadinya rapi, kini hancur berantakan bagai habis di terpa gempa bumi yang dahsyat.
PRANGGG!
"Arrgghh Kiran!" teriak pria yang sangat amat menyedihkan itu.
Miniatur dan guci yang berjejer rapi di meja di banting hingga patah serta pecah sampai berserakan, tak ada satupun yang utuh. Kaki dan tangannya pun tergores hingga jejak kakinya di tandai dengan darah yang mengucur.
Tak peduli seberapa perih luka di kaki dan tangannya, pria itu menjatuhkan tubuhnya sambil meraung menyebut nama istrinya.
Ia hancur berantakan, tangannya menjambak kuat rambutnya sendiri, Andre bahkan terus memukul-mukul kuat lantai meluapkan kesedihan dan penyesalan yang amat menyakitkan hingga jari-jari dan punggung tangannya tertusuk pecahan beling sampai merobek kulitnya yang sudah terbalut dengan darah.
__ADS_1
"Aku nggak mau cerai, Kiran. Aku sayang kamu, aku cinta sama kamu dan aku sakit saat liat kamu bersama dia waktu itu," tangis Andre tertahan, dadanya terasa sesak, untuk bernapas pun sulit akibat sesenggukan yang tak dapat ia kontrol.
"Sakit banget sayang," lirihnya sambil membanting tubuhnya terlentang di lantai yang penuh dengan pecahan beling dan patahan kayu.
Bahkan pecahan-pecahan beli itu merobek punggungnya tapi tak sesakit dan seperih pernyataan Kiran yang ingin bercerai dengannya.
Andre meletakkan lengan kanannya dan menutupi matanya, "Apa aku sebrengsek itu ya, Ki?" lirihnya lagi dan diiringi dengan tangis yang menyakitkan.
Tangan sebelah kiri pria itu menggenggam erat pecahan beling hingga merobek kulit dan menembus daging pada telapak tangannya.
"Malam itu kamu kesakitan banget ya, sayang? Kamu tau, aku juga sakit, hiks... Suami mana yang nggak salah paham liat istrinya yang paling dia sayang dan cinta, sedang bercumbu dengan laki-laki lain di dalam ruang kerja istrinya sendiri?" Andre tak bisa menahan dirinya lagi, ia semakin menekan pecahan beling tadi sampai mengiris lebih dalam telapak tangannya.
Darah mengalir deras bagaikan air dari telapak hingga punggung tangannya, jangan lupa bagian belakang tubuhnya dan kaki Andre juga mengeluarkan darah segar. Mungkin bisa tak segera di tindak lanjuti atau di obati maka pria itu 98,9% meninggal karena kehabisan darah.
Tubuh Andre mulai melemah, kepalanya bertambah sakit seakan tengkorak kepalanya akan dipecahkan dengan batu yang amat besar. Perlahan genggamannya mulai melemah menekan pecahan beling tersebut.
"Kiran, aku--" jeda Andre menarik napas panjang sungguh ia seperti tak berdaya, sekujur tubuhnya mati rasa dan amat perih, air matanya pun tak berhenti menetes sedari tadi.
"Nggak pernah bohong kalau kamu itu hidup dan mati aku," lanjutnya kembali bersuara, bibirnya yang bergetar hebat.
"Sakit banget dan aku takut kehilanganmu, Ki." Ketakutan terbesarnya datang memberikan sapaan yang amat menyakitkan. Dimulai kekhawatiran Andre, ketika pria dari masa lalu Kiran datang bagai duri beracun yang kapan saja mengusik rumah tangga mereka, kemudian apa yang ia khawatirkan menjadi kenyataan ketika melihat wanita pertama dan terakhir yang ia cintai sedang bercumbu mesra bersama pria masa lalunya.
Sore itu ia merasa marah, kecewa, sakit dan takut dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, ditambah pernyataan Kevin bagaikan dirinya tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam dan sangatlah sesak.
Penyesalannya adalah Andre tak dapat mengontrol emosi dan rasa cemburu berlebihnya pada Kiran. Apalagi ditambah dengan lontaran kata penghinaan dengan tatapan kebencian, amarah, kesedihan dan kekecewaan yang dibidik oleh mata wanita itu kepadanya.
"Maafin aku, Kiran," ucap Andre dengan napas yang sudah tersengal dan derai air mata, perlahan ia mulai kehilangan kesadaran. Sebelum Andre benar-benar hanya mendapati kegelapan, samar-samar ia mendengar suara sang mama dan Raffa, adik pertamanya yang berteriak histeris dan segera menyadarkan anak dan kakak sulungnya agar tetap sadar. Setelah itu Andre tidak tau apa yang terjadi selain kegelapan yang menyelimutinya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1