
Pagi harinya matahari tampak malu-malu untuk muncul, angin berhembus kencang menerpa wajah cantik Aurora saat berdiri di balkon kamar untuk menghirup udara di pagi hari.
"Kayaknya mau hujan deh," gumam Aurora kembali masuk ke dalam kamar dan melihat sang suami baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mas mau pergi kerja? Mau hujan loh ini," tanya Aurora.
Irsyan menaikkan satu alisnya, "Ya kerja dong sayang, toh juga Mas pakai mobil jadi nggak kehujanan," ucapnya.
"Tapi kan jalanan licin Mas, nanti kalau Mas kenapa-napa di jalan gimana? Apalagi Mas nyetir sendiri," balas Aurora. Irsyan menghela napas panjang, fix kalau sudah seperti ini sih istrinya nggak mau di tinggal bekerja. Tapi ya gitu bicaranya harus mutar-mutar dulu, tidak langsung terus terang dan to the point kadang membuat Irsyan menjadi bingung.
"Kamu mau Mas nggak pergi bekerja hem?" tanya Irsyan sambil memeluk Aurora dan masih menggunakan handuk tanpa atasan.
Aurora mendongak dan mengangguk malu-malu. Irsyan tersenyum sambil geleng-geleng kepala, entah kenapa ia tidak bisa marah dan menolak permintaan istrinya itu, untung saja hari ini pekerjaannya tidak banyak jadi Irsyan bisa menyuruh Aris untuk membawa semua pekerjaannya ke rumah.
"Ya sudah Mas hari ini nggak pergi bekerja."
"Beneran Mas?" tanya Aurora dengan mata berbinar.
"Iya sayangku, demi kamu," ucap Irsyan sambil mengecup bibir Aurora sekilas. Senyum sumringah terbit dari bibir Aurora, akhirnya ia bisa bermanja-manjaan seharian ini dengan suaminya.
"Ayo pakai baju dulu Mas, terus kita sarapan," suruh Aurora. Irsyan mengangguk menurut, ia berjalan ke arah ruang wardrobe untuk mengambil pakaian. Sedangkan Aurora membereskan pakaian kerja Irsyan yang tadi sempat ia siapkan untuk suaminya dan memasukkannya kembali ke dalam walk in closet.
Setelah selesai sarapan, Aurora dan Irsyan memilih untuk duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Mas," panggil Aurora, ia bersandar di bahu Irsyan sambil menggambar karya abstrak di dada bidang suaminya itu.
"Kenapa sayang?" tanya Irsyan lembut tanpa menatap Aurora dan fokus melihat ke depan menatap televisi.
"Ih liat aku, Mas!" kesal Aurora memukul dada Irsyan karena suaminya itu tidak menatap ke arahnya.
"Iya kenapa sayangku?" tanya Irsyan yang kini menunduk untuk menatap Aurora.
"Aku pengen jalan-jalan."
"Jalan-jalan kemana sayang? Ini aja masih hujan loh," ucap Irsyan heran.
"Ish nggak peka banget sih, maksud aku itu mau liburan Mas. Kita udah lama nggak liburan, katanya kemarin mau ajak aku liburan kalau proyeknya udah selesai," balas Aurora, bibirnya mengerucut lucu. Ah iya, Irsyan mengingat janjinya saat mereka berada di rooftop beberapa hari yang lalu.
"Iya sayang, Mas ingat janji itu. Memangnya mau kemana hem?" Irsyan berucap sesekali mencium puncak kepala Aurora.
"Kemana pun, asal liburan."
"Gimana kalau kita liburan ke salah satu Villa punya Papa yang ada di desa C? Disana pemandangannya sangat indah, bahkan ada air terjun disekitaran sana," usul Irsyan.
Aurora mengangguk cepat, "Mau Mas!" Wanita itu paling suka jika sudah berlibur yang berbau dengan alam.
"Ya sudah besok sabtu kita perginya, gimana? Mumpung weekend."
"Iya Mas, aku ngikut aja," ucap Aurora memeluk Irsyan dengan senyum bahagia yang terus tersungging di bibirnya.
...****************...
Sepulang kerja, Mila menunggu Satria datang menjemputnya di depan kantor, mereka berdua berjanji akan pergi makan bersama. Ini sebagai ungkapan rasa terima kasih Mila karena Satria menolongnya saat di ganggu preman lusa kemarin, entah kebetulan atau memang takdir, setiap kali Mila mendapatkan masalah, baik itu di copet atau di gangguin preman segala lah, pasti Satria datang menolongnya. Laki-laki itu sudah seperti pahlawan bagi Mila.
Sebuah mobil berhenti di depan Mila, pemilik mobil membuka kaca jendela mobilnya, "Ayo masuk Mil," suruhnya, lelaki itu juga masih mengenakan seragam polisinya.
"Iya Mas," jawab Mila lalu masuk ke dalam mobil Satria dan duduk di kursi penumpang samping lelaki itu.
Mila dan Satria memasuki restoran seafood yang berada di pinggir pantai. Mereka berdua lebih memilih duduk di outdoor supaya lebih leluasa menatap laut.
Sedari tadi Mila hanya diam, tak tau ingin berbicara apa karena ia kesulitan mencari topik pembicaraan. Bahkan Satria pun ikut diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Sampai makanan pesanan mereka pun datang, lalu menatap makanan mereka ditemani ombak di dalam keheningan itu.
"Mas Satria ad--" Ucapan Mila terpotong karena bunyi handphone Satria.
Satria pun membuka handphonenya dan segera mengangkat telpon tersebut.
"Assalamualaikum mas Satria."
"Waalaikumsalam Aish, kenapa?" tanya Satria dengan nada lembutnya, sangat berbeda jika berbicara dengan Mila.
"Mas Satria belum pulang kerja?" tanyanya.
"Iya sebentar lagi aku pulang," jawab Satria. Mereka sudah seperti istri yang sedang mengkhawatirkan suaminya belum pulang berkerja, membuat hati Mila menjadi panas mendengar perbincangan mereka.
"Kalau pulang jangan lupa belikan Bunda Vitamin, itu tadi pesan Bunda untuk Mas Satria."
"Bunda titip Vitamin?"
"Iya Mas, jangan lupa dibelikan di apotek."
"Oke nanti aku belikan, kalau begitu aku matikan ya telponnya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Satria pun menutup panggilan itu lalu memandang Mila yang sudah menyelesaikan makannya.
"Lo tadi mau bicara apa, Mil?" tanya Satria ke Mila.
"Nggak jadi Mas," jawab Mila sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo udah selesai makan?" tanya Satria lagi.
"Iya udah."
"Sama-sama Mas, tadi Aisha ya yang nelpon?" tanya Mila dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Satria.
"Dia nyuruh Mas Satria cepetan pulang?"
"Iya, katanya vitamin yang sering di minum Bunda habis, jadi dia disuruh Bunda buat nelpon gue," jelas Satria.
"Ya sudah kalau begitu mas Satria pulang aja," suruh Mila.
Satria memandang heran Mila, "Kenapa? Gue nggak mau ninggalin lo sendirian disini."
"Pulang aja, gue mau disini sebentar sambil main-main di pantai sekalian," suruh Mila lagi.
"Tapi gue nggak bisa ninggalin lo sendirian disini. Pulang sama siapa nanti lo?"
"Tenang aja nanti gue tinggal pesen ojek online. Bunda udah nungguin Mas kan? Ya udah pulang aja."
"Oke kalau gitu gue pulang dulu," ucap Satria.
Mila hanya mengangguk ditambah dengan senyuman terpaksa. Ia memandang Satria sendu, Mila langsung bangkit dari duduknya lalu memakai sweater nya dan keluar dari restoran tersebut setelah selesai membayar makanan.
Mila berjalan menuju ke bibir pantai, lalu duduk pasir sambil menunggu matahari tenggelam. Ia mengambil handphonenya saat melihat matahari mulai tenggelam, Mila tersenyum senang lalu memotret itu. Banyak orang juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Mila pun mengunggah hasil potretannya itu ke status WhatsApp dengan kata-kata 'Loving you was my favorite mistake'. Jika di artikan ke bahasa Indonesia yang memiliki arti mencintaimu adalah kesalahan favoritku.
Seketika WhatsApp Mila penuh dengan notifikasi pesan yang diyakini itu dari sahabat-sahabatnya atau bahkan rekan kerjanya, tapi Mila memilih tidak menanggapi pesan-pesan itu, saat ini ia butuh menyendiri.
Handphone Mila terus berdering, ia melihat panggilan itu dari Satria. Mila tak mengangkat panggilan dari Satria dan terus melihat saja, tak sengaja tangannya itu menerima panggilan tersebut, Mila ingin mematikan panggilan itu tetapi ditahan oleh suara Satria.
__ADS_1
"Jangan dimatikan!" perintah Satria yang terdengar jelas di telinga Mila.
Mila pun mendekatkan handphonenya di telinga.
"Kenapa belum pulang?" tanya Satria.
Mila hanya diam tak menjawab pertanyaan itu, ia tidak suka dikhawatirkan oleh Satria. Sebab Mila akan mengira jika Satria menyukai dirinya makanya lelaki itu khawatir dengan Mila.
Astaga pikiran Mila terlalu jauh, ia takut nanti akan sakit jika khayalannya itu tidak akan pernah terjadi.
"Halo!" panggil Satria berkali-kali.
"Mila Agustina!"
Mila pun tersadar dari lamunannya lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia berdiri mengambil ranting pohon yang ada di dekatnya, lalu menuliskan namanya di pasir pantai dengan ranting tersebut. Setelah selesai, ia mematahkan ranting tersebut lalu membuangnya sembarangan tanpa tau ranting tersebut mengenai kaki seseorang.
"Siapa nih yang melempar ranting ini ke gue!" tanyanya marah.
Mila yang mendengar itu terkejut, ternyata ranting yang ia lempar tadi mengenai seseorang.
"Mampus!" gumam Mila.
"Lo kan yang lempar ranting ini ke gue?" tanya orang itu sambil menunjuk Mila.
"Eh gue nggak sengaja, maaf ya," ucap Mila mendongak menatap orang yang kena lemparannya tadi.
"Loh mbak Mila!"
"Zain!"
Masih ingat dengan Zain? Laki-laki rekan kerja yang satu ruangan dulu dengan Aurora. Mila pun mengetahui Zain karena ia sering ke ruangan kepegawaian.
"Maaf ya Zain, tadi saya nggak sengaja melempar ranting itu," ucap Mila tak enak hati. Ia bahkan merubah tata bahasanya dengan bahasa formal.
"Nggak apa-apa mbak, toh mbak Mila kan nggak sengaja," balas Zain tersenyum.
"Makasih Zain. Oh ya, pakai bahasa santai aja, pakai lo-gue juga gapapa. Jugaan kan kita nggak lagi di kantor," suruh Mila.
Zain mengangguk menyetujui, "Mbak Mila ngapain disini dan lo disini sendirian Mbak?" tanyanya.
"Iya gue sendirian, ya gue kesini mau cari angin, melepas penat selepas seharian bekerja," jawab Mila sambil memandang ke depan.
Zain hanya manggut-manggut saja.
"Kalau lo, ngapain disini?" tanya balik Mila.
"Ya gue sama kayak lo mbak," jawab Zain sambil terkekeh pelan. Mila ikut terkekeh dan hening sejenak diantara mereka.
"Lo nggak pulang mbak? Udah mau magrib loh," tanya Zain memecahkan keheningan.
"Iya Zain, tapi gue mau mesen ojek online dulu."
"Gimana kalau gue aja yang antar Mbak pulang?" tawar Zain. Tentu saja Mila menerima ajakan Zain, toh dia jadi bisa menghemat uangnya.
"Boleh deh Zain."
"Ayo mbak," ajak Zain dan Mila hanya mengangguk.
Tak jauh dari tempat mereka berdua mengobrol, ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka. Niatnya ingin menemui dan mengajak Mila untuk pulang tetapi sayangnya ia terlambat. Mila sudah pulang dengan laki-laki lain yang tidak diketahui dirinya sama sekali.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.