
Hari pun berlalu kini hari terakhir bagi para relawan berada di desa U, sebagai kepala desa, pak Burhan membuat acara syukuran kecil-kecilan di balai desa atas kerja keras para relawan selama 2 minggu ini.
"Ayo silahkan disantap hidangannya," ucap Burhan. Semuanya mengangguk. Satu meja berisi 4 orang, Irsyan duduk bersama Aji, Budi dan Huda. Tapi Huda belum datang, karena tadi ia sempat ketiduran dan dibangunkan oleh Aji, mungkin pria itu sekarang lagi bersiap-siap.
Sari membawa nampan yang berisi kopi lalu membagikannya kepada semua orang yang ada disana.
"Ini kopinya Mas," ucap Sari sambil menaruh kopi di depan Irsyan.
"Ya makasih," jawab Irsyan seadanya. Sari mengangguk, setelah jauh dari meja Irsyan, ia langsung tersenyum menyeringai, entah apa arti dari senyuman itu.
"Hah.. Hah.. Hah.." Huda berlari menuju ke meja Irsyan dan teman yang lain. Napas ngos-ngosan hingga di keningnya pun terlihat mengeluarkan keringat.
"Acara makan-makan nya belum dimulai kan?" tanya Huda sambil duduk di kursi samping kiri Irsyan.
"Ini baru mau dimulai," jawab keempat rekannya, termasuk Irsyan.
Huda pun lega, untung saja ia tepat datangnya. Lalu matanya melihat ke arah kopi di depan Irsyan yang masih utuh itu.
"Lo nggak minum kopi Syan? Kok masih utuh?"
"Oh gue memang nggak terlalu suka minum kopi hitam dan gue juga nggak mau begadang nanti, biar paginya gue jadi lebih seger," jelas Irsyan. Ia lebih suka meminum teh, apalagi teh chamomile yang memiliki banyak manfaat.
"Gue aja yang minum sini," pinta Huda.
"Oh ini, minum aja, Da." Irsyan menggeser posisi gelas berisi kopi itu ke depan Huda dan membiarkan rekannya itu yang meminumnya.
"Thanks, Syan." Huda segera meminum kopi tersebut hingga tandas. Setelah itu Huda melanjutkannya dengan memakan makanan yang sudah disediakan, tapi lama kelamaan entah kenapa gairah s*ksual atau libido Huda meningkat. Badannya terasa panas dan kepalanya sedikit pusing.
"Lo kenapa Da?" tanya Irsyan saat melihat Huda memijit pelipisnya.
"Nggak tau Syan, kepala gue pusing banget. Gue duluan ke mess ya?" izin Huda ke rekan-rekannya dan mendapat anggukan dari semua.
"Lo bisa sendiri kesana? Atau mau kita anter?" tawar Budi.
Huda menggeleng, "Nggak usah Bud, gue bisa sendiri kok," tolaknya.
"Ya sudah."
Huda berjalan sedikit sempoyongan, ia mencoba memfokuskan penglihatannya. Saat sampai di mess, Huda langsung menuju ke kamarnya. Huda mengerutkan kening, ia bingung kenapa lampu kamarnya bisa mati, hanya ada lampu tidur saja yang menyala dengan remang-remang. Tapi perasaan sebelum ia pergi ke balai desa, lampu di kamarnya itu sudah ia nyalakan.
Huda tidak peduli akan itu, ketika ia sudah menutup pintu, Huda dikejutkan oleh seorang wanita yang tiba-tiba mencium bibirnya dengan ganas. Huda mendorong tubuh orang yang menciumnya itu.
"Apa--"
"Ussstt nikmati saja Mas," ucap wanita itu membekap mulut Huda dan kemudian menggantikannya dengan ciumannya lagi. Hasrat Huda yang memang sedang tinggi, membuatnya membalas ciuman wanita itu tak kalah ganasnya, mereka saling bertukar salivanya.
Huda membawa dan membaringkan tubuh wanita itu ke atas ranjang, lalu malam panas dan bergairah pun terjadi diantara mereka.
Hingga suara jeritan pelepasan dari kegiatan panas itu pun keluar dari mulut Huda dan wanita itu.
"Akhhh!"
"Akhhh mas Irsyanhh!"
Huda tidak memikirkan suara jeritan dari wanita itu yang menyebut laki-laki lain karena badannya terasa lelah, ia berguling ke samping dan mulai memejamkan mata.
Aji mengetuk pintu kamar Huda, karena sudah jam 8 pagi pria itu belum juga keluar dari kamar, padahal mobil jemputan mereka sebentar lagi akan sampai.
"Woy Huda bangun!" teriak Aji.
__ADS_1
"Gimana Ji?" tanya Irsyan.
"Dia belum bangun juga, heran gue biasanya dia paling cepat bangun," jawab Aji.
"Ya udah lo tinggal buka aja pintunya," usul Irsyan. Aji mengangguk menyetujui usulan dari Irsyan.
Ketika membuka pintu kamar Huda, betapa terkejutnya ia dan Irsyan melihat Huda tengah berpelukan dengan seorang wanita tanpa busana dan hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Astaghfirullah apa-apaan kalian ini!" teriak Irsyan, suaranya menggelegar di kamar tersebut. Teriakan Irsyan membuat Huda dan wanita itu terjengkit dan terbangun.
"Mas Irsyan!"
"Sari!" ujar Irsyan dan Aji syok saat melihat wajah wanita yang bermalam dengan rekannya itu adalah Sari, anak dari kepala desa.
Wajah Sari langsung terlihat bingung, kenapa Irsyan ada disana terus semalam ia melakukan hubungan badan dengan siapa?
Sari melirik ke arah sampingnya, ia terkejut dengan kenyataan bahwa bukan Irsyan lah yang berhubungan badan dengannya tapi Huda. Sepertinya semalam Sari juga salah kamar dan yang meminum kopi berisi obat perangsang itu bukanlah Irsyan melainkan Huda.
"Kamu?!" Huda pun tak kalah terkejutnya bahwa ia semalam telah melakukan hubungan badan dengan Sari.
"Apa yang terjadi Huda? Kenapa kalian bisa melakukan hal yang tak pantas begini?" tanya Aji marah. Sari langsung menunduk, marah, kecewa dan malu bercampur jadi satu.
"Gue nggak tau Ji, seingat gue semalam waktu dari balai desa gue pusing, gue memutuskan untuk kembali ke mess terus habis itu gue lupa, sumpah gue nggak inget sama sekali!" jelas Huda dengan jujur. Irsyan menatap kedua manusia di depannya ini dengan datar, tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang aneh dan mengganjal tapi ia tidak tau apa itu.
"Lo harus tanggung jawab dengan perbuatan lo, Huda," sahut Irsyan dengan ekspresi masih datar.
"Tapi gue udah punya pacar Syan," balas Huda yang tak mungkin menikahi Sari sedangkan dirinya memiliki seorang kekasih.
"Lo harus tetap bertanggung jawab Da, kalau terjadi sesuatu karena akibat perbuatan lo gimana? Sari hamil misalnya?" timpal Aji. Huda langsung terdiam mendengar ucapan Aji.
"Aku nggak mau nikah sama dia!" seru Sari.
"Ya bener kata Irsyan, kalian harus segera menikah!"
Dan dihari itu pun Huda dan Sari menikah walaupun terpaksa. Saat Burhan dan Pipit mengetahui jika sang putri telah melakukan hal yang menimbulkan dosa besar, mereka berdua sangat murka bahkan Pipit menampar pipi Sari, ia sangat kecewa terhadap putrinya itu.
Nasi telah menjadi bubur, mereka sebagai orang tua pun harus menerima dengan lapang dada.
Irsyan dan rekan kerjanya yang lain pun tidak bisa pulang hari ini karena kejadian itu. Handphone Irsyan berdering pertanda bahwa ada seseorang yang menelponnya, disana tertera nama istrinya, Irsyan yakin Aurora tengah khawatir menunggu kepulangannya.
"Siapa Syan?" tanya Aji. Setelah pulang dari pernikahan Huda dan Sari, Irsyan beserta rekan kerjanya yang lain tengah duduk di kursi teras depan mess.
"Istri gue Ji," jawab Irsyan.
"Ya udah cepat lo angkat," suruh Aji dan Irsyan mengangguk, ia pergi ke dalam kamar untuk menelpon disana.
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam, Mas udah sampai mana? Kok belum sampai-sampai juga," tanya Aurora dengan nada khawatirnya.
"Maaf ya Mas belum bisa pulang hari ini."
"Yah kenapa gitu Mas?"
"Tadi ada kejadian yang tak terduga terjadi antara Huda dan Sari," jawab Irsyan. Ia tidak pernah bercerita kepada Aurora tentang Sari yang mengungkapkan perasaan kepadanya, Irsyan takut jika istrinya itu akan marah dan nanti bisa berimbas pada kandungannya.
"Sari anak bu Pipit maksudnya Mas?"
"Iya dia sayang."
__ADS_1
"Memangnya dia kenapa dengan mas Huda?" tanya Aurora penasaran.
"Mereka menikah karena telah melakukan hal diluar batas," ujar Irsyan seadanya walaupun begitu Aurora langsung mengerti dengan ucapan dari suaminya.
"What menikah?! Maksud Mas diluar batas itu, mereka melakukan hubungan badan?" teriak Aurora karena kaget.
"Ya begitulah sayang."
"Astaghfirullah, kok bisa gitu."
"Entahlah sayang, Mas nggak mau terlalu ikut campur."
"Ya juga sih Mas."
"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Irsyan mengalihkan pembicaraan.
"Aku lagi baca novel, tapi bosan pengen jalan-jalan, mau ajak Mila dan Kiran tapi mereka pasti lagi sibuk kerja," rengek Aurora.
"Ya kan kamu bisa ajak Vania untuk jalan-jalan, sayang."
"Nggak bisa, soalnya hari ini orang tua Vania pulang dari Malaysia," jelas Aurora. Irsyan menepuk jidatnya, ia lupa jika hari ini Om dan Tantenya itu akan pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan acara lamaran sang putri.
"Ah iya Mas lupa kalau hari ini Om Hasbi dan Tante Evi pulang dari Malaysia. Ya kamu ajak kak Fani aja kalau gitu."
"Ya sudah nanti aku coba ajak kak Fani, semoga dia nggak sibuk."
"Kak Fani kan sekarang udah jadi ibu rumah tangga seperti kamu, pasti dia nggak sibuk kok," jelas Irsyan.
"Ya Mas. Kalau gitu aku matikan ya telponnya? Assalamualaikum."
"Iya sayangku, waalaikumsalam." Irsyan memasukkan handphone ke dalam saku celananya. Setelah itu ia kembali keluar ke teras
...****************...
Aurora dan Fani tengah berada diperjalanan menuju ke Mall, ternyata benar kata Irsyan jika kakak iparnya itu mau di ajak jalan-jalan dan untungnya Alvero sekarang berada di rumah Vania.
"Irsyan nggak jadi pulang hari ini, Ra?" tanya Fani tanpa menatap Aurora karena ia sedang menyetir.
"Nggak jadi kak, katanya temannya ada sedikit problem disana," jelas Aurora. Fani yang tidak terlalu peduli dengan masalah orang lain pun hanya mengangguk.
"Sekarang usia kandungan sudah berapa minggu?"
"Alhamdulillah udah berjalan 8 minggu kak," jawab Aurora sambil menunduk mengelus perutnya.
"Alhamdulillah, kamu maunya anak perempuan atau laki-laki?" tanya Fani lagi.
"Apapun yang Allah berikan mau perempuan atau laki-laki, aku dan mas Irsyan akan menerimanya yang penting sehat."
"Kalau kakak sih berharapnya perempuan, biar nanti kakak bisa ajak ke salon terus jalan-jalan ke mall," ucap Fani membuat Aurora terkekeh kecil.
"Kenapa nggak kakak aja buatin adik untuk Alvero?"
"Ini kakak lagi program, semoga aja cepet jadi," jelas Fani.
"Aaamin." Untung saja kakak iparnya baik dan satu frekuensi dengannya, jadi Aurora bisa cepat akrab.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1