
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam Mas, lagi dimana?"
"Em sayang, maafin Mas. Sepertinya Mas nggak bisa antar kamu ke kantor hari ini," ucap Irsyan tak enak hati dengan calon istrinya.
"Kenapa?" tanya Aurora sedikit kecewa.
"Mas hari ini ada meeting mendadak di perusahaan, soalnya papa nggak bisa datang dan harus Mas yang menggantikannya, sekarang Mas sudah berada di kantor," jelas Irsyan agar Aurora tidak salah paham padanya.
Memang akhir-akhir ini Irsyan lebih banyak sibuk di perusahaan properti papanya daripada dirumah sakit. Hampir satu minggu ini ia cuti dari rumah sakit dan untung saja pihak rumah sakit memberikannya izin, kalau tidak Harun alias papa dari Irsyan bisa mencabut sahamnya dari rumah sakit Atma Jaya.
"Ya sudah nggak apa-apa Mas, aku ngerti," balas Aurora.
"Maaf ya sayang? Mas nggak tau bakal ada meeting mendadak seperti ini."
"Iya nggak apa-apa kok Mas, ya sudah aku mau berangkat ke kantor dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ingat kamu hati-hati di jalan."
"Iya Mas." Aurora segera mematikan sambungan teleponnya.
Di perjalanan menuju ke kantor tiba-tiba saja Aurora di cegat mobil Alphard hitam berhenti di depannya, mau tak mau Aurora mengerem laju motornya dengan mendadak. Lalu keluarlah 3 orang pria berbadan besar dan tinggi menghampirinya, ketiga pria tersebut mengenakan pakaian hitam-hitam seperti seorang bodyguard.
"Ada apa nih? Main berhentikan orang sembarangan aja!" ucap Aurora dengan ketus.
"Ikut dengan kami Nona," ucap salah satu pria itu.
"Dih siapa lo? Kenal aja nggak," sarkas Aurora.
"Ikut dengan kami dengan cara yang baik-baik atau kami paksa dengan cara kekerasan?" timpal pria berkepala plontos.
"Ayo coba cara kekerasan, gue nggak bakal takut sama kalian." Aurora menantang mereka semua tanpa rasa takut sedikit pun.
Pria berkepala plontos melirik ke arah tiga rekannya, ia menganggukkan kepalanya dengan arti menyuruh kedua rekannya tersebut menyerang Aurora. Mereka berdua mengangguk, salah satu dari mereka kembali ke mobil untuk mengambil tongkat baseball.
Tanpa berpikir panjang, Aurora turun dari motor dan membuka helmnya. Ketiga pria tersebut sempat terpesona dengan kecantikan gadis itu, ternyata di foto sama yang asli sama-sama cantik, pikir mereka.
Pria yang membawa tongkat baseball maju menyerang Aurora, dengan gerakan yang cepat Aurora menendang tongkat tersebut hingga terjatuh.
"Siapa yang menyuruh kalian menculik gue hah?" sentak Aurora.
"Kamu nggak perlu tau siapa yang menyuruh kami!" jawab pria gondrong, yang tadi melayangkan tongkat baseball pada Aurora.
"Si anying babi goblok!" umpat Aurora.
BRUKKK!
Aurora mengambil helm dan melemparkannya pada pria gondrong itu.
"Kalau berani jangan pakai benda atau senjata dong, pengecut banget sih kalian," cibir Aurora menatap remeh ke arah tiga pria tersebut.
Ketiga pria tersebut tak terima dikatakan pengecut oleh Aurora, mereka langsung menyerang dengan berbagai tinjuan dan tendangan, Aurora pun dengan senang hati meladeni mereka dan mengeluarkan jurus bela dirinya. Terjadilah aksi baku hantam disana.
__ADS_1
BUGH!
BUGH!
KREK!
BUGH!
"Arrgh ssttt." Aurora terkena satu pukulan dari pria berkepala plontos di bagian sudut bibirnya hingga mengeluarkan darah segar.
Dengan kilat Aurora membalasnya dengan pukulan bertubi-tubi. Membuat semua pria tersebut terkapar di atas aspal, menurut Aurora mereka bertiga itu bukan tandingan baginya.
"Cari uang yang halal bego, mau aja kalian di suruh-suruh sama orang. Emangnya anak sama istri kalian mau dikasi makan uang haram hah?" bentak Aurora sedikit menundukkan badannya sambil mencengkram kerah baju si pria berkepala plontos, sepertinya dia adalah ketua dari pria-pria tersebut.
Aurora tidak menyadari ternyata ada satu lagi pria yang keluar dari dalam mobil Alphard tersebut, sepertinya pria itu tadi tidak ikut baku hantam dengan Aurora dan teman-temannya. Pria itu berjalan perlahan menghampiri Aurora yang sedang membelakanginya, bahkan di tangan pria itu terdapat sebuah kain yang sudah ada obat biusnya.
"Gue tau jaman sekarang kita susah cari uang tapi eumpttt-" tiba-tiba saja mulut Aurora di bungkam oleh pria itu, ia sempat memberontak. Namun obat bius yang berada di kain tersebut sepertinya sangat ampuh membuat tubuh Aurora lemas dan tak sadarkan diri.
"Ayo angkat gadis itu dan segera pergi dari sini," titah pria berkepala plontos pada teman-temannya, mereka semua mengangguk.
Di dalam mobil, ada seseorang yang memperhatikan Aurora ketika di bawa oleh keempat pria tersebut. Dia adalah Beni, si kulkas berjalan alias salah satu sahabat dari Irsyan.
"Itu kan Aurora? Terus kenapa dibawa sama pria-pria berbadan besar itu?" monolog Beni.
"Jangan-jangan Aurora di culik? Wah nggak bener nih, gue harus telpon Irsyan." Baru saja Beni akan menelepon Irsyan, mobil yang membawa Aurora tadi sudah melaju, mau tidak mau Beni mengikuti mobil tersebut sambil mencoba menelpon Irsyan.
"Sial! Kenapa Irsyan nggak angkat sih telpon dari gue sih padahal lagi keadaan genting kayak gini, apalagi yang diculik itu calon istrinya!" kesal Beni, tapi ia terus saja mencoba menelpon Irsyan, namun nihil sahabatnya itu tidak mengangkat telpon darinya sama sekali.
Sedari tadi pikiran Irsyan tidak fokus pada rapat yang sedang dilaksanakan, pikirannya benar-benar tertuju pada Aurora. Perasaan laki-laki itu pun merasa tidak enak, seperti merasakan ada sesuatu yang terjadi pada calon istrinya.
"Apa ada yang ingin bertanya ada proyek perumahan kali ini?" tanya Wildan, Manajer Proyek. Wildan menatap ke arah Irsyan.
"Gimana pak Irsyan?" tanyanya. Irsyan yang dipanggil langsung tersentak.
"Ah i-itu semuanya sudah bagus apalagi perumahan dengan rancangan modern dan klasik seperti itu, pasti akan banyak peminatnya, tinggal kita merealisasikannya saja," jelas Irsyan tegas, walaupun tadi sempat gelagapan karena tidak fokus.
Setelah beberapa saat kemudian, rapat pun telah selesai pada pukul 10 pagi.
"Baik sekian dari meeting hari ini, semoga proyek kita cepat terlaksana dengan cepat dan lancar tanpa ada halangan apapun, selamat pagi," ucap Wildan mengakhiri rapat.
"Selamat pagi," balas semuanya.
Setelah itu semua karyawan pada berbondong-bondong keluar dari ruang rapat, kecuali 4 rekan bisnis alias investor proyek perumahan kali ini.
"Kalau begitu kami pamit undur diri dulu pak Irsyan. Semoga proyek kita berjalan dengan lancar," ucap Rio, salah satu rekan bisnis HC Propertie's.
"Terima kasih atas kerja samanya dan terima kasih sudah mempercayai HC Propertie's untuk bekerjasama dengan perusahaan anda semua," balas Irsyan tersenyum sambil berjabat tangan dengan mereka satu persatu. Mereka semua tersenyum dan mengangguk lalu ingin beranjak keluar dari ruang rapat.
"Pak Aris," panggil Irsyan pada sekretaris papanya.
"Ya pak Irsyan?"
"Apa jadwal saya nanti?" tanya Irsyan.
__ADS_1
"Anda akan bertemu dengan anak dari pak Hermawan di restoran Glitter siang nanti dan makan siang bersama," jawab Aris.
'Cih palingan si tua bangka itu mau jodohin gue sama anaknya. Nggak habis pikir gue, padahal udah gue tolak berkali-kali tapi tetep saja kekeh jodohin gue sama anaknya yang kayak tante-tante girang itu,' cibir Irsyan dalam hatinya.
"Batalin aja hal yang tidak penting seperti itu Pak," titah Irsyan dengan tegas.
"Baik Pak."
Irsyan pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat menuju ke ruang kerjanya. Baru saja ia duduk di kursi kerjanya, handphone Irsyan tiba-tiba saja berdering dan nama Beni lah yang tertera disana dan ternyata laki-laki itu sudah nelpon Irsyan terus menerus.
"Si triplek berjalan ngapain telpon gue? Tumben banget, mana udah 50 kali lagi lebih dia nelpon gue, ada apa ya?" gumam Irsyan. Tanpa berlama-lama lagi, Irsyan pun mengangkat telpon dari sahabatnya itu.
"Halo Ben?"
"Bang sat, lo dimana hah? Dari tadi gue telpon tapi lo nggak angkat-angkat!" bentak Beni.
"Kenapa sih lo hah? Tiba-tiba ngomong kasar kayak gitu. Tadi gue lagi meeting terus handphone gue di ruangan makanya gue nggak angkat telpon dari lo!" kesal Irsyan yang tidak terima sahabatnya itu mengumpat dirinya.
"Heh lo tau? Calon istri lo sekarang lagi di culik!"
"Maksud lo apa?" tanya Irsyan terkejut sampai berdiri dari kursinya.
"Aurora sekarang lagi di culik, Irsyan!"
"Lo nggak bohong kan?" sentak Irsyan.
"Astaghfirullah, ya kali gue bohongin lo, Syan. Tadi gue sempat kejar tu mobil penculik, tapi gue malah kehilangan jejaknya," jelas Beni frustrasi.
"Ya Allah kenapa Aurora bisa di culik," ucap Irsyan. Tubuhnya langsung melemas setelah mendengar calon istrinya diculik.
"Cepat lo cari Aurora, sebelum terjadi apa-apa sama dia!"
"Iya Ben, ini sekarang gue mau cari dia."
"Oke Syan, tenang aja gue juga bakal bantuin lo. Nanti kasi tau gue kalau lo sudah mau pergi mencari Aurora."
"Iya Ben."
Panggilan pun diputuskan oleh Irsyan. Mata laki-laki itu langsung memerah dan rahangnya mengeras menahan amarahnya.
"Brengs*k! Siapa yang berani culik calon istri gue!" ucap Irsyan sambil menggenggam erat handphonenya. Dengan cepat, Irsyan menelpon salah satu anak buah papanya dan menyuruhnya untuk mengerahkan seluruh rekan-rekannya untuk mencari keberadaan Aurora.
Irsyan teringat akan sesuatu. "Astaga, gue lupa. Kalau gue kan taruh GPS di kalungnya Aurora. Gue harus lacak secepatnya!" Irsyan mengotak-atik handphonenya dan mencari keberadaan Aurora.
GOTCHA!
Irsyan menemukan keberadaan Aurora, ternyata calon istrinya dibawa ke sebuah gedung bekas pabrik gula yang sudah berhenti beroperasi dan lumayan jauh dari pemukiman warga.
"Akhirnya ketemu! Tunggu aku disana sayang," lirih Irsyan. Irsyan segera keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa tanpa menanggapi sapaan dari karyawan-karyawan disana. Sebelum itu Irsyan menghubungi Satria dan Beni terlebih dahulu untuk membantunya nanti.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1