
Ini pertama kali Aurora berkunjung ke kantor milik Papa mertuanya, dia kesana sekalian membawakan makan siang untuk Irsyan. Sudah sebulan Irsyan berhenti bekerja di rumah sakit, atas kemauannya sendiri dan kini dia telah bekerja di perusahaan properti sang Papa sebagai wakil direktur utama. Saat masuk ke dalam gedung HC PROPERTIE'S, Aurora menghampiri meja resepsionis.
"Siang Mbak."
"Eh siang Bu Aurora, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu resepsionis menyambut Aurora dengan hangat.
Hampir semua karyawan mengetahui jika Aurora adalah istri dari Irsyan, karena dulu foto pernikahan mereka sempat viral di kalangan para karyawan HC PROPERTIE'S. Berita pernikahan Irsyan dan Aurora membuat para kaum hawa disana sakit hati dan mengecap sebagai hari patah hati se-perusahaan.
"Pak Irsyan ada di ruangannya, Mbak?" tanya Aurora.
"Ada Bu, mungkin sekarang Bapak sedang meeting," jawab resepsionis yang bernama Yola itu.
"Oh begitu, ya sudah kalau gitu saya nunggu saja di ruangannya," ucap Aurora.
"Bai silahkan, Bu."
Kini Aurora dan Irsyan tinggal dirumah sendiri, rumah berarsitektur Eropa modern yang memang sudah Irsyan beli sejak tiga bulan yang lalu. Mereka pindah dari rumah Harun dengan alasan ingin mandiri, dengan berat hati Harun dan Jihan mengizinkan mereka tinggal terpisah.
Untuk Aji dan Vania, dua sejoli itu sudah menikah 3 minggu yang lalu, kini mereka tengah menikmati bulan madu sebagai pasangan pengantin baru di Maldives sebelum Vania benar-benar kembali ke Australia.
Meeting tadi membuat energi Irsyan terkuras, kepalanya pun sedikit pening bahkan perutnya juga sedikit keroncongan akibat dirinya makan sedikit saat sarapan tadi. Ketika dekat dengan ruangannya, Irsyan cukup terkejut melihat keberadaan istrinya di kantor.
"Sayang." Irsyan segera menghampiri Aurora.
"Siang bu Aurora," sapa Aris dengan ramah.
"Siang juga pak Aris," balas Aurora tak kalah ramahnya.
"Kok kesini nggak bilang-bilang sama Mas sih? Biar Mas nanti yang jemput kamu, Mas nggak mau kamu kelelahan sayang, ingat ada anak kita disini," ucap Irsyan mengelus perut Aurora yang sudah terlihat membuncit karena sudah memasuki usia 4 bulanan. Irsyan tak peduli dengan pandangan karyawan-karyawan yang lewat dari ruangan Irsyan, sedangkan Aris tersenyum melihat keromantisan pasangan di depannya ini.
"Gapapa, aku cuma nggak mau ngerepotin Mas," balas Aurora tersenyum.
"Kamu nggak pernah ngerepotin Mas, sayang. Ayo masuk ke dalam ruangan Mas, kamu pasti lelah," ajak Irsyan. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang kerja Irsyan.
Aris pun juga masuk ke dalam ruangannya, kini Aris telah menjadi asisten sekaligus merangkap sebagai sekretaris tetap Irsyan. Sedangkan asisten dan sekretaris untuk Harun sudah digantikan oleh orang lain.
Irsyan meletakkan barang bawaan istrinya di atas meja tengah yang berada di antara sofa tamu dalam ruang kerja Irsyan. Kemudian Irsyan melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya.
"Nyaman dan luas banget ruangan kamu, Mas," ucap Aurora yang melihat sekeliling ruangan Irsyan.
__ADS_1
Irsyan tidak menjawab ucapan Aurora tadi, ia mendudukkan dirinya di kursi kerja sambil memijit pelipisnya yang sedari tadi sudah pening. Aurora menatap Irsyan dan tersenyum tipis, ia segera mengeluarkan beberapa box makanan yang Aurora bawa dari dalam paper bag. Irsyan yang sedang memejamkan mata sambil memijit pelipisnya tidak menyadari apa yang tengah dilakukan oleh Aurora.
Aurora menghampiri Irsyan dan pelan-pelan duduk disamping Irsyan dengan kursi yang tadinya berada di depan meja kerja suaminya. Kursi yang di duduki Irsyan di geser pelan oleh Aurora membuat Irsyan terkejut dan langsung membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan, sayang?" tanya Irsyan terkejut saat mendapati Aurora sudah berada di depan wajahnya tengah tersenyum manis.
"Aaakk, ayo makan dulu, aku suapi Mas," ucap Aurora sambil bersiap untuk memasukkan makanan ke dalam mulut Irsyan dengan tangannya langsung tanpa menggunakan sendok karena Aurora tau jika suaminya itu lebih suka kalau dirinya menyuapi menggunakan tangan.
Irsyan tersenyum sebentar, lalu menerima suapan dari istrinya.
"Enak nggak Mas?" tanya Aurora.
"Masakan kamu selalu enak sayang," ucap Irsyan sambil mengelus puncak kepala Aurora.
Hati Irsyan menghangat, jantungnya berdegup kencang saat menatap Aurora yang menyuapinya dengan pelan dan telaten. Sesekali Aurora menyeka sudut bibir Irsyan yang terkena saus dengan tissue.
Aurora mengalihkan pandangannya tepat pada manik mata hitam Irsyan, lalu mereka saling tatap cukup lama dan Aurora yang tak tahan ditatap seperti itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih, Mas?" tanya Aurora yang sedikit salah tingkah dengan tatapan Irsyan padanya.
"Gapapa, cuma lagi pandangi bidadari cantik yang ada di depan Mas ini aja," ucap Irsyan jujur membuat pipi Aurora semakin memerah dibuatnya.
"Ish dasar gombal!"
"Aww sakit, Mas!" teriak Aurora dan segera memeriksa jarinya.
"Sakit sayang?" tanya Irsyan sambil tertawa.
"Iyalah malah tertawa lagi, Mas pasti sengaja ya? Udah kayak bayi aja, main gigit jari!"
"Iya maaf sayangku, sini tangannya." Irsyan mengambil tangan Aurora lalu meniupnya, namun lama-kelamaan tiupan itu menjadi jilat-jilatan membuat Aurora kegelian.
"Mas jangan gini, geli ih!"
Aurora hendak menarik tangannya tapi ditahan oleh Irsyan dan menatap istrinya dengan tatapan menggoda lucu.
Tiba-tiba saja Harun datang dan membuka pintu ruang kerja Irsyan.
"Ekhem seperti Papa datang di waktu yang tepat nih, kalau gitu Papa balik aja."
__ADS_1
Aurora terjengkit kaget dan menarik tangannya paksa, kali ini Irsyan melepaskan tangan Aurora dan menoleh santai ke arah sang Papa.
"Masuk aja Pa, kita sudah selesai kok makannya," ucap Irsyan. Harun pun menghampiri Irsyan dan Aurora lalu duduk di kursi depan mereka.
"Gimana kabar cucunya Papa, nak?" tanya Harun.
"Alhamdulillah sehat Pa, dedek bayinya semakin aktif gerak-gerak," jelas Aurora tersenyum sambil mengelus perutnya menggunakan tangan kiri. Irsyan pun ikut mengelus perut istrinya.
"Anak Mas pasti nanti bakal jadi anak yang pintar, cerdas dan pengusaha sukses seperti Papa dan Opanya," ucap Irsyan.
"Pastinya dong, kalau sudah besar dia akan menjadi pewaris bisnis keluarga Candra," timpal Harun. Aurora hanya tersenyum mendengar ucapan suami dan Papa mertuanya itu sambil membereskan sisa-sisa makanan dan kotak nasi bawaannya.
"Ngomong-ngomong ada yang ingin Papa bicarakan makanya sampai ke ruangan Irsyan gini? Biar nanti Irsyan saja yang ke ruangannya Papa." Irsyan menanyai alasan sang Papa ke dalam ruangan karena jika ada apa-apa pasti Harun akan memanggil Irsyan ke ruangannya.
"Gapapa sesekali lah Papa ke ruangan mu. Oh ya Papa mau bicarakan tentang kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Ammar Group."
"Kalau gitu Aurora keluar dulu deh, biar obrolan Mas sama Papa nggak keganggu," ujar Aurora berdiri dari kursi.
"Nggak usah keluar sayang, kamu istirahat aja di ruangan pribadinya Mas." Irsyan berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sebuah pintu yang ternyata itu adalah pintu kamar pribadi Irsyan yang ada di ruangannya. Saat pintu terbuka, Irsyan masuk dan diikuti Aurora.
"Wah kamar pribadi Mas disini lengkap juga ya." Aurora kaget serta kagum melihat isi ruangan suaminya yang terkesan mewah sebelas dua belas dengan kamar yang ada di rumah. Di kamar pribadi Irsyan dilengkapi dengan kasur, kamar mandi, sofa, televisi besar dan lemari pendingin.
"Iya sayang, ya sudah Mas mau ke Papa lagi ya?"
"Iya sana, kasihan Papa nunggu." Sebelum benar-benar keluar, Irsyan mencuri ciuman di bibir Aurora terlebih dulu.
"Gimana Pa?" tanya Irsyan yang kini sudah berhadapan dengan Harun.
"Pemilik Ammar Group mau kita mencarikan dia tanah untuk membangun sebuah hotel bintang lima di kota S, perusahaan itu baru beberapa minggu ini Papa ACC proposal kerja samanya, gimana kamu setuju kan?" jelas Harun dengan raut wajah yang serius.
"Irsyan setuju-setuju aja Pa, yang penting kerja samanya itu menguntungkan untuk perusahaan kita, kapan perwakilan dari Ammar Group akan datang kesini untuk membahas tentang kerja sama itu?" tanya Irsyan.
"Sepertinya besok lusa, nanti coba Papa konfirmasi ke sektretaris pak Ammar dulu," jawab Harun dan Irsyan hanya menganggukkan kepalanya.
Satu jam kemudian Irsyan berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya dan mendapati Aurora sudah tertidur pulas di sofa sambil televisi yang masih menyala.
Irsyan pun duduk di samping Aurora yang tengah tertidur itu, perlahan ia mendekat ke wajah istrinya lalu menyentuh kening, mata hidung, bibir dan leher jenjang Aurora.
"Sangat cantik, aku tidak menyangka akan jatuh cinta dengan gadis bar-bar tapi baik hati yang selalu aku juluki kucing manis ini. Seluruh duniaku akan kuberikan padamu istriku," ucap Irsyan dengan suara lirihnya kemudian mengecup Aurora cukup lama dan mengangkat tubuh Aurora ke atas ranjang agar tidur istrinya itu lebih nyaman.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.