GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 107


__ADS_3

Tiba harinya Mila dan kedua orang tuanya akan berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh sekaligus liburan disana. Mila keluar dari kamarnya sambil menarik koper serta membawa barangnya yang lain. Disana luar sana sudah ada kedua orang tuanya yang juga telah siap dan sang abang bernama Damar dan istrinya sedang menunggunya.


“Sudah siap dek?” tanya Damar ke Mila.


“Sudah Bang.”


Mereka semua pun menuju keluar halaman untuk berangkat ke bandara, Mila kaget saat melihat Raka dan Aqila berada di depan rumahnya.


“Raka, Aqila.”


“Buna!” Aqila berlari menuju ke arah Mila dan memeluk kakinya. Membuat orang tua Mila, Damar dan istrinya terkejut saat mendengar panggilan Aqila pada Mila. Mereka menatap tajam ke arah Mila seperti meminta penjelasan.


Mila tersenyum kikuk, ia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada kedua orang tua dan kakaknya. Raka pun maju untuk menjelaskan kenapa putrinya itu memanggil Mila dengan sebutan Buna.


“Oh begitu toh, kasihan nak Aqila, kamu yang sabar ya nak Raka,” ucap Rahma iba saat Raka selesai bercerita. Kedua orang tua Mila mengetahui hubungan antara Mila dan Raka yang pernah berpacaran dulu, tapi mereka tidak tau pasal alasan mengapa hubungan mereka bisa berakhir.


“Terima kasih Tante.”


“Buna mau kemana?” tanya Aqila sambil mendongak, Mila pun berjongkok di depan Aqila.


“Buna mau ke Mekkah sayang,” jawab Mila seraya mengelus rambut Aqila.


“Apa Buna disana akan lama?” tanya Aqila lagi.


“Nggak kok, Buna disana sebentar.”


“Beneran ya Buna? Janji?” Aqila mengacungkan jari kelingkingnya ke Mila. Mila tersenyum dan mengangguk sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari Aqila.


“Iya Buna janji.” Semuanya langsung tersenyum melihat interaksi antara Mila dan Aqila bak ibu dan anak itu.


Tak lama Aurora, Irsyan, Andre, Kiran dan Wawan datang ke rumah Mila.


“Assalamualaikum,” ucap kelima orang yang baru saja datang itu.


“Waalaikumsalam.”


Aurora dan Kiran berjalan cepat menuju ke rah Mila dan langsung saling memeluk seperti acara kartun Teletubbies.


“Lo hati-hati dan jaga kesehatan disana,” ucap Kiran.

__ADS_1


“Dan jangan sampai lo lupa buat pulang kesini, mentang-mentang udah nyaman disana,” timpal Aurora.


“Doain aja semoga gue nggak kenapa-napa nantinya dan juga doain supaya gue dapat jodoh orang arab plus sultan disana,” balas Mila sambil melepas pelukan kedua sahabatnya itu.


“Aamiin,” sahut mereka semua sambil tertawa, terkecuali Raka.


“Aduh kalau jodoh kamu orang arab sih Mama bakal langsung restuin kamu lahir batin,” ujar Rahma tersenyum.


Raka yang mendengar itu mendengus tak suka saat mendengar Mila ingin mencari jodoh disana. Toh dirinya juga termasuk sultan kok walau bukan dari arab. Mata Wawan melihat kea rah Raka, kemudian ia tersenyum miring.


‘Lo nggak akan bisa bersama Mila lagi, karena rasa marah dan kecewa Mila ke lo dan orang tua lo itu sangat dalam,’ batin Wawan. Keempat sahabat Mila memang mengetahui tentang Raka dan Aqila yang memanggilnya dengan sebutan Buna itu.


"Ya udah kami berangkat dulu ya nak?" pamit Erwin. Semuanya mengangguk, kemudian Mila, kedua orang tuanya serta kakaknya masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobilnya menuju ke bandara.


"Ayo kita pulang sayang," ajak Irsyan pada Aurora.


"Iya Mas, tapi mau kue putu yang di jual abang-abang dekat Taman Adicipta itu ya? Bersih dan higenis kok disana," pinta Aurora sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya.


"Iya apapun untukmu, sayang," ucap Irsyan sambil mengelus rambut Aurora.


"Guys gue sama mas Irsyan duluan ya?" pamit Aurora pada ketiga sahabatnya itu dan mendapat anggukan dari mereka. Irsyan membukakan pintu mobil untuk Aurora, setelah itu ia pun berlari kecil memutari mobil dan masuk. Tak lama Andre, Kiran dan Wawan juga ikut meninggalkan rumah orang tua Mila.


DUG!


Sebuah bola basket melayang hingga mengenai kepala seorang gadis dan membuat gadis itu pingsan. Dengan cepat seorang laki-laki menghampiri dan membopong tubuh gadis itu ke UKS, orang yang membawa gadis itu merupakan ketua tim basket.


"Ck merepotkan saja!" lirih laki-laki itu yang tak lain adalah Aril Putra Hadi, adik dari Aurora. Laki-laki yang terkenal dingin dan cuek ini merupakan ketua tim basket sekaligus anggota dari ekstrakurikuler taekwondo.


Sesampainya di UKS Aril membaringkan gadis yang selalu mengganggu dan mengejar-ngejarnya di sekolah. Gadis itu bernama Caira Masya Dilaver, biasa disapa dengan Caca. Caca memang menyukai Aril sejak mereka MOS, entah kenapa dia menyukai laki-laki dingin bak kulkas berjalan itu.


10 menit berlalu Caca pun siuman setelah diolesi minyak kayu putih oleh petugas PMR dan Aril dengan setia menunggunya, ya walaupun bukan dia yang melempari bola ke arah Caca, tapi sebagai ketua tim basket ia harus bertanggung jawab.


"Eeuugghh." Caca melenguh dan mulai membuka mata.


"Udah sadar?"


Caca melihat orang yang mengajaknya bicara dan betapa terkejutnya ia melihat Aril berdiri tak jauh darinya masih menggunakan baju basketnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan datar.


"Aril!" Caca mencoba terbangun tapi kepalanya sangat sakit.

__ADS_1


"Aduhhh kepala gue." Dengan cepat Aril menghampiri Caca dan menyuruhnya untuk kembali terbaring.


"Makanya jangan bangun dulu tau masih sakit," suruh Aril. Caca cukup tercengang mendengar ucapan Aril yang menurutnya sangat panjang karena bisanya laki-laki itu hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata saja.


"Wah apa sebentar lagi akan kiamat?"


Aril mengerutkan keningnya, ia bingung dengan pertanyaan bodoh dari gadis di depannya ini, sepertinya terkena lemparan bola basket membuat otaknya menjadi sedikit korslet.


"Maksud lo?" tanya Aril.


"Ya maksud gue itu lo yang terkenal irit berbicara, apalagi sama gue nih tiba-tiba tadi lo ngomong sama gue panjang banget, seperti sebuah keajaiban bagi gue," seru Caca sambil bertepuk tangan. Aril memijit pelipisnya ternyata karena itu Caca melontarkan pertanyaan bodoh padanya.


"Gue pergi." Aril hendak keluar dari ruang UKS, tapi kembali ditahan oleh panggilan Caca.


"Aril tunggu!"


"Kenapa?" tanya Aril dan tetap dengan wajah datarnya.


"Enak aja lo main pergi tanpa minta maaf dulu sama gue, gara-gara lo nih gue jadi pingsan kena bola basket!" sungut Caca berapi-api.


"Tapi bukan gue yang lempar," bela Aril.


"Terus siapa?"


"Gino." Setelah itu Aril benar-benar keluar dari ruang UKS membuat Caca yang di dalam sana langsung misuh-misuh tak jelas.


"Dasar kulkas berjalan!" teriak Caca kesal. Teriakannya itu terdengar di telinga Aril dan laki-laki itu hanya bisa tersenyum tipis, saking tipisnya nyamuk pun tak bisa melihatnya.


"Gimana keadaan Caca, Ril?" tanya Gino khawatir karena lemparan bolanya membuat seseorang pingsan. Laki-laki itu menunggu di luar UKS.


"Dia baik-baik aja, hanya sedikit memar di keningnya," jelas Aril membuat Gino sedikit lega.


"Syukurlah untung aja lemparan gue nggak buat anak orang amnesia." Aril hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan sahabatnya itu dan memilih pergi meninggalkannya menuju ke kelas.


"Woy Ril, tungguin gue!" Gino pun langsung mengejar Aril.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2