
Malam harinya, Aurora tengah memasak untuk makan malam, tadinya ia di temani oleh bibi Pina, tapi wanita paruh baya itu saat ini sedang pergi ke belakang sebentar. Suara derap langkah menuju ke arahnya dan tiba-tiba dua lengan kokoh memeluk Aurora dari belakang membuat sang empu terjengkit.
"Mas ih! Seneng banget suka tiba-tiba meluk!" kesal Aurora berbalik menghadap ke belakang.
Irsyan terkekeh pelan dan mencium pipi istrinya, "Maaf sayang," ucapnya, kini kepalanya berada di bahu sang istri. Aurora langsung mendengus sebal kemudian kembali fokus pada masakannya.
"Ingat kamu nggak boleh kecapekan sayang," tegur Irsyan.
"Iya Mas sayang, udah deh nggak usah ganggu, aku mau masak loh ini," ujar Aurora namun Irsyan masih enggan melepaskan pelukannya.
"Tapi nanti kita begadang ya, yang?" pinta Irsyan.
"Begadang ngapain? Main game?" tanya Aurora pura-pura tidak mengerti.
"Jangan pura-pura nggak ngerti deh sayang atau mau Mas tambah sama pagi hem?" ucap Irsyan mengeluarkan deep voice nya. Aurora seketika merinding dan geli pada saat terpaan napas hangat suaminya terkena lehernya, apalagi sesekali pria itu mencium lehernya, dimana itu adalah salah satu letak sensitif Aurora.
"Mas jangan gini ih! Nanti diliat sama Bi Pina."
"Makanya jawab dulu, nanti kita begadang ya?"
Aurora menghela napas lalu mengangguk pasrah membuat Irsyan kegirangan, setelah mendapat jawaban dari sang istri Irsyan langsung pergi ke ruang tengah.
Setelah selesai makan Aurora bergegas duluan menuju ke kamar, sedangkan Irsyan masih mengobrol dengan paman Dadang dan beberapa pekerja kebun serta peternakan yang datang mengenai laporan hasil penjualan bulan ini.
Aurora mengganti pakaiannya dengan lingerie seperti kimono, lalu mendudukkan dirinya di ranjang sambil menunggu suaminya.
Dua jam kemudian, Irsyan belum juga masuk ke kamar membuat Aurora sampai mengantuk menunggu suaminya itu. Tanpa sadar ia pun tertidur.
Belum lama setelah Aurora tertidur, Irsyan masuk ke dalam kamar, tubuhnya langsung melemas saat melihat sang istri sudah tertidur, padahal tadi ia sangat antusias akan begadang malam ini, apalagi ketika Irsyan melihat gaun malam yang dikenakan oleh terangkat dan Aurora terlihat sangat menggairahkan saat ini sampai membuat Irsyan susah menelan ludahnya.
Entah kenapa semenjak Aurora hamil, Irsyan melihat istrinya itu semakin **** dan menggairahkan saja.
Irsyan membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendeknya saja, lalu menaiki ranjang. Irsyan mencium seluruh wajah Aurora, berharap istrinya itu akan terbangun.
"Eeuugghh Mas," desis Aurora.
"Bangun dong sayang, katanya mau begadang," ucap Irsyan, tangannya membuka ikatan kimono yang Aurora kenakan dan tangannya mulai meraba-raba tubuh istrinya membuat Aurora melenguh.
"Tapi aku ngantuk, Mas."
"Tapi adiknya Mas udah bangun sayang." Irsyan mengambil tangan Aurora dan membawanya ke juniornya sang sudah turn on.
"Gimana kalau aku pakai tangan aja, Mas?" usul Aurora.
Irsyan menggeleng cepat, "Mana terasa sayang."
Tanpa berbasa-basi lagi, apalagi dirinya sudah tak tahan, Irsyan langsung menyambar bibir Aurora dengan rakus. Aurora cukup tersentak mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu, tak lama ia pun membalasnya dan pada akhirnya mereka pun begadang hingga pukul 2 pagi.
...****************...
Di tempat lain, gadis cantik berwajah bak Barbie hidup itu sedang berencana keluar dari rumah tapi tetap di antar oleh sopir. Jika tidak, orang tuanya akan melarang kerasnya untuk keluar sendirian.
Malam ini adalah malam minggu, biasanya para remaja seusianya akan jalan-jalan bersama pasangan mereka masing-masing.
Jadi karena Caca jomblo alias sendiri tak punya pasangan, maka tak heran ia keluar sendiri, eh ralat keluar bersama sang sopir.
__ADS_1
Gadis itu menatap sekeliling yang ramai, ia langsung tertarik pada tempat itu, disana banyak orang yang berdatangan. Pak Udin pun menghentikan mobil di area parkiran tempat yang dimaksud Caca.
"Pak Udin mau ikut atau diam di mobil?" tanya Caca pada sopirnya.
"Bapak di mobil aja Non, tapi Bapak mau izin ke minimarket sebentar ya Non?"
"Ya sudah Pak, tapi cepetan balik ya?" suruh Caca.
"Siap Non."
"Kalau gitu Caca mau keluar dulu," ucap Caca dan dibalas anggukan kepala oleh pak Udin.
Caca pun keluar dari mobil, "Udah lama banget nggak ke pasar malam," gumamnya.
"Yuk lah masuk! Kayanya seru banget!" girang Caca.
Caca menatap orang yang berlalu lalang. Hingga matanya terfokus pada stand penjual permen kapas. Mata Caca langsung berbinar, segera gadis itu berlari kecil menghampiri tempat yang ia akan tuju.
Setelah sampai di depan stand penjual permen kapas, mata Caca semakin berbinar-binar melihat Abang-abang yang sedang membuat gulali yang berbentuk bak awan itu. Menggiurkan sekali, sampai abang penjualnya gemas melihat wajah Caca.
"Bang, saya mau beli permen kapas yang rasa stroberi ya," pesan Caca.
"Baik Neng, tunggu sebentar ya saya buatkan dulu," kata Abang penjual permen kapas.
Caca hanya mengangguk sambil melihat proses pembuatan permen kapas tersebut. Gadis itu menjadi tidak sabar untuk memakannya.
"Nih Neng, udah jadi," ujar Abang penjual seraya memberikan permen kapas pesanan Caca.
Caca menerimanya dengan cepat, "Makasih Bang," ucapnya. Lalu mulai melangkah menjauh dari tempat itu.
Caca meringis malu, astaga ia sampai melupakan itu. Caca berbalik berjalan menuju tempat penjual permen kapas itu lagi, "Berapa Bang?"
"Sepuluh ribu, Neng," kata Abang penjual.
Caca mengambil dompetnya dari dalam tas, saat membuka dompetnya, tidak ada sepeserpun uang disana yang ada hanya beberapa kartu ATM dan kartu tanda pengenal miliknya.
Caca menepuk jidatnya, ia lupa tadi mengambil uang cash di mesin ATM. Caca memang sangatlah jarang memiliki uang cash karena biasanya ia akan membayar lewat kartu kredit atau e-wallet. Ia memeriksa tasnya siapa tau ada uang yang menyelip disana, tapi nihil tak ada pun uang disana.
Ingin pinjam uang pada pak Udin, tapi sayangnya pak Udin sekarang sedang pergi. Sial, Caca harus bagaimana? Ia mulai panik.
"Bang, bisa bayar pakai kartu kredit nggak?" tanya Caca. Abang penjual langsung melongo mendengar ucapan Caca.
"Disini teh pasar malam, Neng. Bukan di Mall, jadi nggak ada tempat menggesek kartu," jelas Abang penjual.
"Disini tempat mesin ATM jauh nggak, Bang?" tanya Caca.
"Lumayan jauh Neng dari sini. Neng nya ada uang nggak sih?"
"Ada bang, sebentar," jawab Caca cepat namun terbata-bata.
"Ya udah cepetan atuh Neng," desak Abang penjual tak sabar.
Caca menatap sekeliling untuk mencari orang yang ia kenal. Pucuk cinta ulam pun tiba, ia melihat seorang lelaki yang ia sangat kenal sedang membeli cemilan di stand seberang. Caca pun berteriak memanggil namanya.
"Aril!!!"
__ADS_1
Aril yang merasa namanya di panggil langsung menengok ke sumber suara. Ia cukup kaget melihat keberadaan Caca di tempat yang sama dengan dirinya.
Caca menghampiri Aril dan menarik tangan lelaki itu membawa ke tempat stand penjual permen kapas.
"Ril, pinjem uang lo dulu dong. Buat bayar permen kapas," bisik Caca kepada Aril.
Tanpa banyak bicara Aril mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribuan lalu memberikannya pada penjual tersebut.
"Ini Mas kembaliannya," kata Abang penjual menyodorkan uang kembalian pada Aril.
Aril menolak, "Nggak usah Bang, buat abangnya aja."
Abang penjual memasukkan kembali uang tersebut ke dalam tas pinggangnya, tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Aril.
"Makasih Mas, semoga rezeki Mas selalu lancar."
"Aamiin!" Caca langsung menarik tangan Aril menjauh dari tempat penjual permen kapas. Ia sangat malu karena tidak membawa uang.
"Makasih ya Ril udah bayarin gue, soalnya tadi gue lupa ambil uang cash di mesin ATM. Gue janji besok pagi gue ganti di sekolah," ucap Caca.
"Nggak usah, Ca," tolak Aril.
"Eh nggak boleh di tolak gitu, walaupun 20 ribu itu berharga tau!" kata Caca.
"Hem, serah lo aja!" Aril hendak pergi, tapi ditahan oleh tangan Caca.
"Lo mau kemana, Ril?" tanyanya.
"Gue mau ke anak-anak," jawab Aril. Anak-anak yang dimaksud Aril adalah Gino, Naufal dan Dennis.
"Memangnya mereka dimana sekarang?"
"Mereka lagi masuk ke rumah hantu," jelas Aril.
"Kok lo nggak ikut masuk kesana? Jangan bilang lo takut ya?" goda Caca.
"Cih ngapain juga gue takut? Nggak banget. Gue nggak masuk kesana karena malas aja, denger orang-orang berteriak nggak jelas terus lebay. Padahal itu hantu bohongan," jelas Aril malas. Caca manggut-manggut membenarkan ucapan Aril.
"Gue ikut lo ya Ril?" ujar Caca memelas.
"Nggak, nanti yang ada lo ngerepotin gue lagi!" tolak Aril.
Caca langsung cemberut, "Please lah Ril, lo nggak kasian liat gue sendirian? Kalau nanti gue diculik bagaimana?"
Aril terdiam sebentar, benar juga yang dikatakan Caca. Apalagi disini kadang suka rawan pencopetan. Tak lama kemudian Aril pun mengangguk menyetujui jika Caca ikut dengannya.
Seketika Caca jingkrak-jingkrak kegirangan, "Asik gue ada temen juga, yuk Ril," ajak Caca sambil menggandeng tangan Aril.
"Lepasin tangan gue atau lo nggak usah ikut?" ucap Aril datar. Mendengar itu, Caca pun langsung melepaskan genggamannya.
Aril berjalan duluan dan Caca hanya mengikutinya dari belakang.
...----------------...
To be continued
__ADS_1