
Kini Aurora, Irsyan, Fani, Adit beserta si bocil menggemaskan Alvaro berada di salah satu tempat wisata terkenal di Korea Selatan bernama istana Gyeongbokgung, tempat wisata yang terletak di jantung kota Seoul.
Mereka sampai di Korea Selatan kemarin sore, menghabiskan waktu penerbangan hingga 7 jam lebih lamanya. Irsyan pun telah reservasi hotel bernama Sheraton Seoul, yang berada di Gangnam untuk 5 hari ke depan.
"Kak fotoin aku sama Aurora dong," pinta Irsyan pada Fani. Mereka berlima mengenakan hanbok, pakaian khas dari negeri ginseng itu dengan cara menyewa sekitar tujuh ribu Won sampai tiga puluh lima ribu Won, jika di rupiahkan menjadi sekitar delapan puluh delapan ribu hingga empat ratus empat puluh ribu rupiah. Harga tersebut sesuai dengan jenis hanbok yang akan disewa.
"Om, Al ikut foto!" sahut Alvaro.
"Nggak boleh!"
"Al mau ikut Om," rengek Alvaro.
"Nanti ya sayang, biar Om sama Tante dulu, nanti Al fotonya berdua sama Tante, gimana?" bujuk Aurora. Irsyan mendelik tak suka ke arah Aurora saat istrinya itu memanggil Alvero dengan sebutan sayang.
"Oke Tante cantik," balas Alvero antusias.
"Sama keponakan sendiri masih aja cemburu," cibir Adit. Irsyan langsung mendengus kesal.
"Ayo dong siap-siap, katanya mau di foto," ucap Fani.
"Iya kak." Irsyan merangkul pinggang agar menghadapnya.
"Sudah siap?" tanya Fani. Irsyan dan Aurora mengangguk. Fani pun mengambil beberapa foto mereka berdua.
"Lagi nggak?"
"Iya lagi, kak. Sayang liat aku," ucap Irsyan sambil memegang kedua bahu Aurora.
DEG!
Padahal sudah sering kali bertatapan dengan suaminya itu, tapi entah kenapa jantung Aurora selalu berdebar saat menatap mata Irsyan.
Irsyan mendekatkan wajahnya pada Aurora. Keduanya saling bertatap mata, semakin lama semakin dekat hingga mengikis jarak diantara mereka. Perlahan tapi pasti, bibir keduanya bertemu.
Fani mengambil foto lagi pada saat Irsyan mendekatkan wajahnya ke Aurora sampai bibir mereka menyatu. Dengan cepat Adit menutup mata sang putra, karena itu tak patut ditonton untuk anak sekecil Alvaro.
"Dasar pengantin baru! Mesumnya nggak tau tempat!" cibir Adit kesal.
Sontak Aurora mendorong Irsyan hingga ciuman mereka terlepas.
"Mas ini tempat umum, main nyosor aja ih!" ujar Aurora malu terlihat dari pipinya yang sudah merah seperti tomat. Irsyan yang melihat istrinya malu itu langsung terkekeh geli.
"Gapapa lah sayang, coba kamu liat pasangan lain, mereka juga berciuman loh disini!" Aurora menatap orang-orang di sekelilingnya, dan benar saja beberapa pasangan dengan santainya berciuman di tempat umum.
"Itu kan mereka sudah terbiasa, lah kita kan nggak, Mas!"
"Makanya harus dibiasakan dong sayang," balas Irsyan dengan gamblangnya. Aurora mendengus sebal. Fani dan Adit hanya geleng-geleng kepala, ingin rasanya mereka menimpuk kepala Irsyan dengan palu.
"Syan, fotoin aku sama adik ipar ya," pinta Fani menghampiri Irsyan dan Aurora.
"Mana? Sini kameranya kak," ujar Irsyan meminta kameranya.
"Tante, katanya tadi mau ajak Al foto," sahut Alvaro cemberut.
"Alvaro nggak di ajak," ejek Irsyan sambil menjulurkan lidahnya.
"Mami ..." Alvaro mencoba mengadu pada Fani.
"Sini gendong sama Tante," ucap Aurora merentangkan kedua tangannya pada Alvaro.
__ADS_1
"Alvaro berat loh sayang, jangan di gendong," ujar Irsyan mencegah Aurora agar tidak menggendong keponakannya yang memiliki tubuh sedikit gempal itu.
"Gapapa Mas, aku bisa kok." Aurora menggendong Alvaro.
"Alvaro nggak berat kan, Tante?" tanya Alvaro polos.
"Iya nggak kok sayang," jawab Aurora.
"Cih dasar bocah menyebalkan!" gumam Irsyan kesal. Dengan malas Irsyan mengambil beberapa foto mereka bertiga.
"Coba kakak liat hasilnya," pinta Fani. Irsyan memberikan kamera yang dipegang kepada kakaknya.
"Bagus-bagus fotonya, cocok deh kamu jadi fotografer, Syan," ucap Fani terkekeh.
"Dih yakali lulusan keperawatan sama ilmu bisnis dan manajemen jadi fotografer? Nggak banget deh!" balas Irsyan tak terima. Aurora, Fani dan Adit langsung terkekeh geli.
Malam harinya, mereka berlima melanjutkan pergi ke salah satu area perbelanjaan yang terkenal bernama Myeongdong. Myeongdong juga terkenal dengan menjadi salah satu tempat street food di Korea Selatan yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing.
"Ra, kita masuk ke toko kosmetik itu yuk?" ajak Fani sambil menunjuk ke toko kosmetik yang sangat terkenal karena banyak artis Korea yang menggunakannya, bahkan kosmetik itu sudah tersebar di beberapa negara, termasuk Indonesia.
"Boleh kak, Mas mau ikut masuk?" tanya Aurora pada Irsyan.
"Nggak deh, Mas, kak Adit sama Alvero tunggu diluar aja."
"Ya sudah."
Aurora dan Fani pun masuk ke toko kosmetik itu. Sedari tadi banyak orang yang menatap Aurora, Aurora yang ditatap pun sedikit risih apalagi dia merupakan orang asing disana.
"Mereka ngapain sih dari tadi natap aku kak? Apa ada yang salah dengan penampilan aku?" tanya Aurora ke Fani.
"Oh itu, mereka bilang kalau muka kamu itu kayak idol Korea bahkan mereka mengira kamu itu pasti seorang trainee dari salah satu perusahaan entertainment disini," jelas Fani yang mendengar dan cukup mengerti apa arti dari ucapan orang-orang yang silih berganti menatap Aurora.
"Hah? Serius mereka bilang seperti itu kak?"
Setelah selesai mengambil beberapa kosmetik dan membayar, kedua wanita itu pun keluar dari toko tersebut.
"Lama banget sih belanjanya!" sungut Adit.
"Ih kayak Papi nggak tau aja kalau wanita belanja itu suka lama!" balas Fani.
"Syan, kamu tau nggak, istri kamu di tatap sama orang-orang di dalam toko kosmetik tadi," ucap Fani.
"Kenapa kak? Kok bisa istri aku di tatap seperti itu?" tanya Irsyan bingung sambil menatap Aurora, tidak ada yang aneh dengan penampilan bahkan dengan dandanan istrinya, kok bisa orang-orang menatapnya, pikir Irsyan.
"Mereka bilang kalau istri kamu ini sangat cantik seperti idol korea bahkan ada tadi cowok yang terang-terangan meminta nomor telepon Aurora, tapi Aurora langsung menolaknya," jelas Fani sambil terkekeh saat melihat raut wajah muram bercampur kesal Irsyan.
"Ya sudah kita balik ke hotel," ucap Irsyan menarik tangan Aurora.
"Jangan mulai deh Mas," balas Aurora kesal dengan sikap posesif suaminya.
"Tapi sayang--"
"Mas!" Aurora menatap tajam Irsyan. Irsyan pun melepas genggamannya, namun wajahnya langsung cemberut. Fani dan Adit terkekeh geli melihat raut wajah Irsyan seperti tikus kejepit.
"Jaga istri kamu, Syan. Jangan sampai istri kamu di gondol sama oppa-oppa Korea disini," ucap Adit mencoba menakuti-nakuti Irsyan.
"Apaan sih kak!"
Mereka lalu mencari makanan street food yang menggugah selera disana. Dari tteobokki, bunggeopang, odeng, kimbab, hotteok, corndog dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Mas, aku mau es krim itu," pinta Aurora sambil menunjuk ke salah satu stand es krim.
"Al juga mau, Om!" sahut Alvaro antusias.
"Iya, mau rasa apa?"
"Al mau rasa vanila."
"Kalau kamu sayang?" Irsyan bertanya pada Aurora.
"Aku mau rasa cokelat, Mas."
"Oke." Irsyan pun memesankan dua es krim seperti permintaan Aurora dan Alvaro.
"Ini es krim kalian." Irsyan menyodorkan es krim yang dia beli tadi ke Aurora dan Alvaro.
"Makasih Mas."
"Makasih Om."
"Sama-sama," balas Irsyan sambil mengelus rambut Alvaro dengan penuh kasih sayang, yah walau terkadang ia suka kesal dengan keponakan itu.
Irsyan terkekeh geli melihat bibir Aurora yang belepotan saat memakan es krim, dengan jahilnya Irsyan memotret istrinya.
"Mas, ngapain sih foto aku!" teriak Aurora kesal.
"Eh jangan teriak gitu, diliatin orang tau nggak," ujar Irsyan. Aurora hanya mendengus kesal.
"Ah imutnya istriku ini," ujar Irsyan sambil melihat hasil jepretannya. Aurora menghentak-hentakkan kakinya kesal, sementara Fani dan Adit hanya geleng-geleng melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.
"Balik ke hotel yuk sayang, aku capek banget," ajak Irsyan setelah cukup lama jalan-jalan di Myeongdong. Aurora mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, kebetulan dirinya juga kelelahan setelah seharian jalan-jalan.
Aurora baru saja keluar dari kamar mandi dengan dress tidur pendek hingga di atas lutut, bertali spaghetti dan berwarna pink. Sedangkan Irsyan tengah tidur tengkurap di atas ranjang kamar hotel. Mungkin dia lelah sampai tepar disana.
"Mas ganti baju dulu gih," titah Aurora. Namun Irsyan hanya diam tak menjawab.
"Mas Irsyan bangun ih!" Aurora membalikkan tubuh Irsyan. Namun sialnya, Irsyan malah menarik tangannya sehingga membuat Aurora jatuh di atas tubuh pria itu.
"Awwhhh ssttt ..." desis Aurora.
DEG!
Lagi dan lagi jantung Aurora berdegup kencang saat mata mereka saling bertemu.
"I love you, sayang," ucap Irsyan tiba-tiba.
"Tumben banget bilang gitu," balas Aurora meledek.
"Ish jawab dong, sayang!" kesal Irsyan karena Aurora tidak menjawab ucapannya tadi.
"I love you too, suamiku," balas Aurora tersenyum. Irsyan pun ikut mengembangkan senyumnya.
Tangan Irsyan menarik tengkuk Aurora perlahan, ia mencium Aurora lembut. Ciuman Irsyan semakin dalam dan menuntut. Aurora pun hanya bisa memejamkan mata dan mencoba membalas ciuman Irsyan.
"Ngghhh Mas," desah Aurora. Entah sejak kapan mereka berpindah posisi menjadi Irsyan di atasnya. Ciuman Irsyan kini beralih ke leher Aurora, ia tidak hanya mencium tapi juga menggigitnya sampai membuat tanda disana.
Irsyan pun kembali mencium bibir Aurora. Tangannya pun tak bisa diam, tangan Irsyan meraba dan merem*s salah satu gundukan gunung milik Aurora, membuat Aurora melenguh dan kini mereka berdua sudah polos tanpa pakaian satu pun yang melekat di tubuh mereka.
"Boleh kan sayang?" tanya Irsyan dengan mata yang sudah berkabut gairah. Aurora yang juga sudah diselimuti gairah pun hanya bisa mengangguk, membiarkan Irsyan menyentuhnya malam itu. Dan malam panjang dan bergairah pun terjadi diantara mereka berdua.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.