GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 70


__ADS_3

"Syan!" panggil Aji. Namun Irsyan tidak mendengarkannya, ia tengah fokus pada handphonenya. Entah apa yang dilakukan pengantin baru itu yang walaupun.


"Irsyan!" teriak Aji di telinga Irsyan.


"Eh tai anj-"


"Eh jangan ngomong kasar atau gue bakalan adukan ke bini lo," ucap Aji memotong ucapan Irsyan. Irsyan mendengus kesal, sahabat laknatnya itu memang tau kelemahan dirinya.


"Lo liat apa sih di handphone, sampai fokus gitu?" tanya Aji penasaran.


"Nih." Irsyan memberikan Aji melihat apa yang ia lakukan di handphonenya tadi, ternyata ia sedang mencari informasi tentang bagaimana saja cara meminta maaf kepada istri, sontak hal itu membuat Aji tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja.


"Kirain lo lagi nonton film blue, eh ternyata lagi cari bagaimana cara meminta maaf ke istri toh!" ejek Aji. Otak manusia ini memang terkadang berbau dewasa, tak heran jika Irsyan pun belajar tentang hal yang berbau dewasa dengan sahabatnya ini.


"Lo lagi marahan sama Aurora?" tanyanya.


"Iya Ji," jawab Irsyan mengangguk.


"Gara-gara apa? Maaf-maaf nih gue kepo sama urusan kalian, siapa tau kan gue bisa bantu cari jalan keluarnya," ujar Aji menawarkan bantuan.


Irsyan menghela napas panjang, lalu menceritakan masalah apa yang terjadi dengan dirinya dan Aurora.


"Babi memang si Nina!" geram Aji. Wanita itu semakin menjadi-jadi saja. Aji ingat saat mereka masih duduk di bangku kuliah dulu Nina mengejar-ngejar Irsyan dan telah ditolak berkali-kali oleh Irsyan. Namun entah setan apa yang merasuki Irsyan, dia pun menerima Nina sebagai kekasihnya, dengan alasan kasihan. Jika mengingat itu, Aji menjadi sangat kesal dengan Irsyan.


"Terus lo juga kasi tau masalah ini ke orang tua lo?" tanya Aji.


Irsyan mengangguk dan kembali menceritakan bagaimana tanggapan kedua orang tuanya pada saat dirinya menceritakan kejadian itu.


"Gue sih setuju dengan ucapan Mama lo untuk menyingkirkan wanita dan keluarganya itu!" ujar Aji dengan menggebu-gebu.


"Dan jangan sampai lagi-lagi lo kasihan dengan dia, kalau nggak gue nggak bakal anggap lo sahabat lagi!" lanjut Aji geram sekaligus memberi ancaman pada Irsyan.


Irsyan berdecak, "Iya tenang aja, gue nggak bakal kasihan dengan orang seperti itu lagi. Dah lah gue mau periksa keadaan pasien dulu," ucapnya berdiri, lalu keluar dari ruangan sebelum itu ia mengambil alat tensimeter terlebih dulu.


Irsyan memasuki salah satu ruangan VIP yang pasiennya adalah seorang wanita lansia yang berumur sekitar 65 tahunan.


"Selamat pagi, Nek," sapa Irsyan ramah, kebetulan hari itu masih pukul 10 pagi. Nenek yang bernama Weni itu tersenyum melihat kedatangan Irsyan.


"Gimana kabar Nenek hari ini?" tanya Irsyan basa-basi sambil menaruh alat tensimeter di ranjang pasien nenek Weni.

__ADS_1


"Nenek lebih mendingan dari yang kemarin, nak," jawab nenek Weni.


"Syukurlah." Irsyan memasangkan manset atau kain persegi panjang, lalu dililitkan pada bagian lengan nenek Weni. Lalu mulai memencet tombol On pada tensimeter digital tersebut.


"140/90 mmHg. Tensi darah Nenek normal ya." Irsyan membuka lilitan manset tensimeter pada lengan nenek Weni.


"Nak," panggil nenek Weni.


"Ya nek?"


"Kamu sudah punya kekasih, nak?" tanya nenek Weni tiba-tiba membuat kening Irsyan berkerut.


"Saya nggak punya kekasih nek, tapi saya punya istri," jelas Irsyan.


Nenek Weni tersenyum, "Nenek kira kamu belum memiliki kekasih, eh ternyata udah punya istri. Sebenarnya tadi nenek mau jodohkan kamu dengan cucu nenek, tapi kamu sudah menikah," jelasnya.


Bingo!


Itulah yang terlintas di pikiran Irsyan, pasti ada sangkut pautnya dengan perjodohan yang memang sering dikatakan oleh pasien-pasiennya bahkan keluarga pasien sejak dulu, yang sangat suka menjodohkan dirinya entah itu dengan anak atau cucu dari mereka.


"Hehe iya nek," jawab Irsyan dengan kikuk.


"Iya benar Nek, istri saya memang sangat cantik, baik dan memiliki sifat keibuan, itu yang membuat saya mencintainya dan sangat beruntung memilikinya," ujar Irsyan membanggakan Aurora di depan nenek Weni.


Sebelum sampai di rumah, Irsyan menyempatkan diri untuk membeli bunga dan cokelat berbentuk cinta, bunga dan cokelat tersebut adalah bahan untuk meminta maaf pada istrinya seperti saran yang diajukan oleh sahabat laknatnya tadi sebelum pulang. Terlalu sederhana? Memang, sebenarnya tadi Irsyan ingin membelikan sang istri perhiasan, tapi ia yakin Aurora pasti tidak akan senang jika dirinya boros, padahal harga perhiasan tidak seberapa bagi Irsyan.


"Sayang." Irsyan menghampiri Aurora yang berada di atas ranjang dan langsung menyodorkan sebuket bunga dan cokelat untuk istrinya.


"Ini untuk kamu." Aurora menerimanya, tapi dengan raut wajah yang dingin. Ingat dia masih marah dengan suaminya. Irsyan pun hanya bisa memakluminya.


Irsyan duduk di samping Aurora sambil memegang kedua tangannya. Seperti janjinya tadi Irsyan menjelaskan siapa sebenarnya Nina dan apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya dicium oleh Nina. Raut wajah Aurora seketika berubah saat itu juga saat Irsyan menceritakannya.


"Jadi dia itu mantan kekasih yang dulu pernah ninggalin Mas?" tanya Aurora.


Irsyan menganggukkan kepala, "Iya sayang, dia mantan pacar Mas dulu." Mulai sekarang ia harus lebih terbuka dengan istrinya. Irsyan tak ingin cerita di masa lalu membuat hubungannya dengan sang istri menjadi renggang.


"Apa Mas masih suka dengan dia?" tanya Aurora lagi. Pertanyaan itu membuat Irsyan tak suka, mana mungkin dirinya masih suka dengan wanita penghianat itu.


"Ya nggak lah sayang, kamu ada-ada saja!"

__ADS_1


"Ya siapa tau kan Mas ingin balikan gitu," sindir Aurora.


"Itu nggak akan pernah Mas lakukan. Mas nggak mungkin mau jatuh ke lubang yang sama lagi, wanita itu yang selalu kejar-kejar Mas," jelas Irsyan. Ia menarik tangan Aurora lalu menaruhnya di dada sebelah kirinya.


"Tolong percaya dengan Mas, di hati Mas ini hanya ada nama kamu sayang. Bahkan Mas rela jika bertukar nyawa denganmu," lanjut Irsyan agar Aurora memercayai bahwa dirinya akan selalu setia dan tidak ada pernah mengkhianatinya. Seketika air mata Aurora terjatuh dengan derasnya, ada ketakutan tersendiri yang ia rasakan.


Irsyan segera membawa tubuh Aurora ke dalam dekapannya. "Hey jangan nangis sayang."


"Aku takut Mas," lirih Aurora sambil terisak. Irsyan menguraikan pelukannya dan kini memegang kedua bahu Aurora.


"Apa yang kamu takutkan sayang?" tanya Irsyan lembut.


"Aku takut Mas pergi ninggalin aku dan pergi kembali bersamanya. Karena aku tau, dialah penyebab Mas menjadi laki-laki yang tak tersentuh. Dialah yang membuat Mas susah untuk jatuh cinta dengan perempuan lain." Tangis Aurora semakin pecah saat mengucapkan itu. Irsyan membawa Aurora kembali ke dalam dekapannya.


"Sayang jangan berpikiran yang tidak-tidak, Mas jadi orang yang tidak tersentuh dan susah untuk jatuh cinta itu bukan karena belum move on dari wanita itu, tapi karena Mas belum menemukan perempuan yang tepat dan alhamdulilah sekarang Mas sudah bertemu dengan perempuan yang tepat, yaitu kamu, bidadari cantiknya Mas," jelas Irsyan sambil mengusap lembut surai panjang nan hitam milik Aurora.


"Kalau saja Mas bisa memutar waktu, Mas berharap lebih memilih bertemu dengan kamu terlebih dahulu daripada wanita itu. Agar Mas tidak merasakan sakitnya di khianati dan ditinggalkan ketika lagi sayang-sayang nya," lirih Irsyan. Aurora menghentikan tangisnya walaupun masih sesenggukan, ia mengelus punggung Irsyan, Aurora pun bisa mengerti bagaimana perasaan suaminya dulu.


"Apa aku boleh meminta sesuatu ke Mas?"


Irsyan menguraikan pelukannya dan menatap Aurora dengan tatapan lembut, "Minta apa sayang? Insya Allah Mas akan penuhi."


"Aku hanya minta Mas untuk setia dan cukup hanya aku yang ada di hati Mas," pinta Aurora.


"Tanpa kamu minta, Mas pasti akan setia dengan kamu sayang," balas Irsyan sambil mengecup kening Aurora. Irsyan tak mungkin akan menyia-nyiakan wanita seperti Aurora, mungkin dia pria terbodoh di dunia ini jika melakukan hal itu.


"Beneran ya Mas?"


"Apa kamu meragukan perasaan Mas?" tanya Irsyan dengan lirih.


Aurora menggeleng, "Bukan seperti itu Mas, aku hanya takut saja Mas akan berpaling ke wanita lain karena yang aku liat banyak wanita cantik di sekeliling Mas," ucapnya lirih.


"Walaupun banyak wanita di sekeliling Mas, buktinya Mas milih kamu sebagai pasangan hidupnya Mas. Bagi Mas kamu adalah wanita tercantik yang pernah Mas temui selain Mama. Mas mohon sama sama kamu, jangan pernah ragukan cinta dan kesetiaan Mas padamu ini," balas Irsyan dengan nada memohon.


"Iya Mas, maafkan aku yang udah over thinking sama Mas," ucap Aurora dengan penuh sesal.


"Nggak sayang, Mas yang salah sudah buat kamu salah paham," jawab Irsyan. Ia memajukan wajahnya ke wajah Aurora, dengan lembut Irsyan mencium bibir istrinya. Aurora pun membalas ciuman tersebut dan malam panjang pun terjadi diantara pasangan suami-istri yang baru saja selesai dari kesalahpahaman.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2