
"Bagaimana hasil pemeriksaannya tadi?" tanya Jihan saat Irsyan dan Aurora sampai di rumah.
"Alhamdulillah janinnya dan kuat sehat Ma," jawab Aurora tersenyum sambil mengelus perutnya.
"Alhamdulillah," ucap Jihan dan Harun serempak. Mereka berdua sangat bahagia saat mendengar sang menantu tengah hamil, bahkan mereka langsung menaikkan gaji semua karyawan-karyawannya sebagai rasa syukur Harun dan Jihan karena akan segera dikaruniai seorang cucu lagi.
"Sudah berapa minggu nak?" tanya Harun.
"Sudah 5 minggu Pa," jawab Irsyan.
"Alhamdulillah ya Allah, kamu ngidam apa nak? Biar Papa belikan," tanya Harun pada Aurora.
"Iya bener sayang, kamu pengen makan apa atau lagi menginginkan apa?" timpal Jihan yang ikut menanyai keinginan menantunya.
"Rora lagi pengen makan asinan Bogor Ma, Pa. Tapi tadi udah beli kok sama Mas," ucap Aurora. Harun dan Jihan langsung manggut-manggut.
"Terus sekarang kamu nggak menginginkan sesuatu lagi?" tanya Jihan lagi pada Aurora. Sepertinya bukan hanya Irsyan saja yang akan memanjakannya, tapi juga kedua mertuanya dan Aurora bersyukur akan itu.
"Nggak ada Ma," jawab Aurora tersenyum.
"Ya sudah kalau kamu menginginkan sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk kasi tau suami kamu, atau Mama dan Papa, oke?"
"Iya Ma."
"Mau dimakan sekarang asinan Bogor nya sayang?" tanya Irsyan yang tengah membawa bungkusan plastik berisi asinan Bogor milik Aurora.
"Nanti saja Mas, selesai makan siang."
"Berarti Mas simpan dulu ya di kulkas?"
Aurora mengangguk, karena Jihan menyuruhnya untuk beristirahat, Aurora pun masuk ke dalam kamar menuruti perintah dari Mama mertuanya itu. Sedangkan Irsyan pergi ke ruang kerja Papanya setelah menaruh asinan Bogor di dapur, karena ada sesuatu hal yang Harun akan bicarakan dengan Irsyan.
"Ada apa ya Pa?"
"Ada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan ingin bekerja sama dengan kita, mereka menginginkan kita untuk mencarikan sebuah tanah di kota S dan dibuatkan hotel bintang lima disana, tapi Papa masih belum ACC permintaan mereka," jelas Harun.
"Kenapa Pa? Itu akan sangat besar loh proyeknya," sahut Irsyan yang menyimak ucapan papanya tadi.
"Iya Papa tau itu, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Papa, seperti menyuruh untuk tidak menerima kerja sama dari mereka," ucap Harun sambil memandang berkas proposal kerja sama yang dilayangkan oleh salah satu perusahaan yang tengah dibicarakan Harun dengan Irsyan saat ini.
"Mungkin itu hanya perasaan Papa saja, Papa baca dan pelajari sekali lagi proposal mereka baik-baik, kalau memang tidak cocok dengan keinginan hati Papa, Papa boleh menolaknya," saran Irsyan. Karena dia berpikir, proyek yang disebutkan oleh Papanya tadi akan sangat menguntungkan untuk perusahaan. Harun mengetuk-ngetuk pulpen di meja mencoba mencerna ucapan Irsyan.
"Ya sudah nanti Papa coba baca lagi proposal mereka." Harun mencoba menuruti ucapan putranya tadi.
"Kalau gitu Irsyan balik ke kamar dulu Pa."
"Iya nak."
Irsyan keluarga dari ruang kerja Papanya, lalu naik ke lantai dua menuju ke kamarnya, terlihat istrinya itu tengah berada di balkon kamar.
"Kok disini sayang?"
"Mas sudah selesai bicara dengan Papa?" bukannya menjawab, Aurora malah bertanya balik pada suaminya.
"Sudah sayang. Kamu istirahat gih, pasti kamu lelah karena mengantri dirumah sakit tadi." Suruh Irsyan pada Aurora.
"Aku belum ngantuk Mas," ucap Aurora.
"Memangnya kamu nggak capek sayang?" tanya Irsyan dengan lembut sambil merangkul pinggang Aurora. Aurora menggeleng dengan kepala yang dia taruh di bahu suaminya.
__ADS_1
"Terus sekarang mau apa?"
"Mau peluk Mas aja," ujar Aurora langsung memeluk tubuh Irsyan.
"Manja banget sih istriku ini, kita pelukannya di kasur saja ya sayang? Biar lebih enak," ajak Irsyan. Aurora mengangguk, tanpa berbasa-basi Irsyan mengangkat tubuh Aurora dan membawa Aurora ke ranjang. Mereka berdua pun berpelukan sambil mengobrol atau pillow talk tentang masa lalu mereka.
"Pasti waktu SMA dulu banyak yang suka ya sama kamu?" tanya Irsyan.
"Mas mau tau banget?" tanya Aurora. Irsyan mengangguk cepat.
"Iya dulu banyak laki-laki yang mendekati aku bahkan ada guruku dulu yang ingin melamar aku waktu aku sudah lulus SMA," jelas Aurora membuat Irsyan cemburu.
"Terus kamu bilang apa?" tanya Irsyan.
"Ya tentu saja aku tolak, kalau aku terima nggak mungkin aku bisa menikah dengan Mas," jawab Aurora mendongak sambil mengecup dagu Irsyan. Irsyan tersenyum, ia salah telah mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu.
"Mas sangat beruntung dipilih menjadi suami kamu dari banyak laki-laki yang mencoba mendekati mu," ucap Irsyan memeluk erat tubuh Aurora.
"Aku juga sangat beruntung dipilih menjadi istri Mas, dari banyaknya wanita cantik yang mendekati bahkan terobsesi dengan Mas," timpal Aurora sambil menyembunyikan wajahnya di dada Irsyan.
...****************...
Aurora tengah berdandan untuk pergi ke acara pernikahan sahabatnya, tak lain adalah Kiran dan Andre yang hari ini akan melangsungkan pernikahan. Aurora mengenakan gaun berwarna putih dengan detail yang pendek di depan dan panjang di belakang. Tak lupa juga ia mengenakan aksesoris untuk mempermanis penampilannya.
"Perfect!" ucap Aurora setelah melihat hasil riasannya. Lalu ia mencari heels yang cocok dengan dress yang dikenakannya. Setelah mendapatkan heels yang cocok, Aurora segera mengenakan sehingga kakinya terlihat semakin jenjang.
"Kamu ngapain pakai heels, sayang?" tanya Irsyan yang baru masuk ke kamar. Irsyan hari ini menggunakan menggunakan kemeja putih dilapisi dengan jas berwarna hitam dan jam rolex serta sepatu pantofel keluaran Dior yang menghiasi pergelangan tangan dan kakinya.
"Memangnya kenapa?" tanya Aurora bingung.
"Pakai heels itu berbahaya untuk ibu hamil sayang, kalau kamu jatuh atau kenapa-napa nantinya, gimana? Mas nggak mau hal itu terjadi," jelas Irsyan.
"Pokoknya kamu harus ganti!" kekeh Irsyan sambil pergi ke ruang wardrobe untuk mencarikan sepatu pengganti untuk istrinya. Irsyan pun memilih salah satu flatshoes berwarna putih senada dengan gaun yang dikenakan oleh Aurora.
"Pakai ini saja sayang." Irsyan berjongkok di depan Aurora sambil melepaskan heels yang dikenakan oleh istrinya dan memakai flatshoes yang tadi diambilnya. Aurora langsung cemberut saat Irsyan mengganti heelsnya, ia merasa tidak rela.
"Nah pakai gini saja sudah buat kamu tinggi sayang," ucap Irsyan. Aurora hanya membalas dengan berdehem singkat.
Sesampainya di tempat acara, pernikahan Andre dan Kiran dilangsungkan di salah satu hotel atas keinginan dari kedua orang tua dari Kiran. Acara akad nikah langsung dengan resepsi pernikahan, karena Kiran dan Andre ingin acaranya cepat selesai. Dekorasi di dalam ballroom hotel itu sangatlah mewah, yang mengusung tema dekorasi tersebut tak lain adalah ibu dari Kiran yang memang seorang WO atau wedding organizer.
Andre dan Kiran sudah duduk berdampingan dengan Wilantara dan Bapak penghulu di depan, lalu di samping kanan kiri ada paman dari Kiran dan Andre yang menjadi saksi di pernikahan mereka.
Sedari tadi kaki Kiran terus gemetaran, sungguh ia sangat gugup.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Andre berbisik pada Kiran.
"Aku deg-degan banget yang," jawab Kiran. Andre tersenyum, ia pun sebenarnya juga sangat gugup, tapi Andre bisa menyembunyikannya.
"Bisa kita mulai?" tanya Bapak penghulu.
"Bisa Pak!" jawab Andre dengan tegas.
"Baik, untuk calon mempelai pria bisa menjabat tangan calon ayah mertuanya," titah bapak penghulu. Andre segera menjabat tangan Wilantara.
"Silahkan dimulai."
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Andre Rizawan Husein bin Almarhum Ali Husein dengan anak saya Kiran Swari Handoyo binti Wilantara Handoyo dengan mas kawin seratus juta rupiah dan emas 10 gram dibayar tunai!" ucap Wilantara dengan suara tegasnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kiran Fitri Handoyo binti Wilantara Handoyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" balas Andre tak kalah tegas dan lantangnya.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!" jawab semuanya.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin," ucap pak Penghulu dan di akhiri dengan doa. Andre dan Kiran yang tadinya tegang dan gugup, kini sudah bisa bernapas lega.
Setelah selesai akad nikah, Andre dan Kiran buru-buru mengganti pakaian mereka dengan pakaian khusus untuk acara resepsi pernikahan mereka.
"Selamat untuk kalian berdua, nggak nyangka sahabat-sahabat gue ini akhirnya menikah juga, semoga kalian selalu bahagia, langgeng sampai maut memisahkan dan segera dikaruniai momongan," ucap Aurora sambil memeluk Kiran.
"Aamiin, terima kasih bumil cantik." Kiran membalas pelukan Aurora sambil menitikkan air mata, bukan air mata kesedihan, tapi itu adalah air mata kebahagiaan. Tentang kehamilan Aurora telah diketahui oleh sahabat-sahabatnya.
"Jangan nangis, sayang nanti dandanan lo luntur." Aurora menghapus air mata Kiran. Kiran hanya mengangguk, lalu Aurora beralih ke Andre.
"Ndre, titip sahabat gue, cintai dan sayangi dia sepenuh hati. Jangan sampai lo sakiti dia. Kalau sampai lo sakiti Kiran, lo bakal berurusan sama gue!" ancam Aurora pada Andre. Kiran semakin meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Aurora tadi.
"Iya Ra, gue janji bakal cintai dan sayangi Kiran dengan sepenuh hati dan gue bakal janji untuk tidak menyakiti dia," ucap Andre dengan serius.
"Itu baru sahabat gue."
"Ra gue boleh peluk lo sebentar nggak?" pinta Andre memelas. Aurora menatap ke arah suaminya dan Kiran, mereka mengangguk menyetujui permintaan Andre tadi, sedikit rasa tidak rela di hati Irsyan melihat sang istri di peluk laki-laki lain walaupun orang itu adalah sahabat dari Aurora sendiri.
Andre pun memeluk tubuh Aurora, ia sampai meneteskan air matanya. Aurora juga salah satu orang yang berjasa di dalam hubungannya dengan Kiran.
"Terima kasih atas semuanya Ra, lo adalah sahabat terbaik di dalam hidup gue," lirih Andre. Aurora tersenyum dan mengelus punggung Andre sebentar, lalu melepaskan pelukannya.
"Lo, Kiran dan lain juga sahabat terbaik buat gue, jadi gue harap kita bisa bersahabat untuk selamanya," ucap Aurora dengan mata yang sudah memerah menahan air matanya yang sebentar lagi akan mengucur.
"Itu pasti Ra," ucap Andre dan Kiran hanya mengangguk.
"Selamat ya untuk kalian berdua, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah," ucap Irsyan memberikan selamat pada Andre dan Kiran.
"Aamiin, makasih Syan."
"Aamiin, makasih mas Irsyan."
"Ya sudah kita turun dulu ya, nggak enak sama tamu ya lain," ujar Aurora.
"Iya Ra, sekali lagi makasih." Aurora tersenyum dan mengangguk. Lalu Aurora dan Irsyan turun dari atas pelaminan, kemudian berjalan menuju ke tempat keberadaan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Kalian berdua kapan nih nyusul Andre sama Kiran?" tanya Aurora pada Mila dan Wawan.
"Insya Allah secepatnya, kalau jodoh gue datang," jawab Mila.
"Secepatnya Ra," timpal Wawan.
"Emangnya lo udah ada calonnya?" tanya Mila pada Wawan.
"Sudah. Tapi dia seorang janda," jawab Wawan dengan santai.
"Wih janda semakin di depan nih! Kalah deh gue yang masih perawan ting-ting!" ucap Mila dengan heboh dengan sedikit sindiran disana, membuat Aurora dan Irsyan tertawa terbahak sedangkan Wawan langsung mendengus.
"Ingat nanti kenalkan dia ke kita-kita," titah Aurora.
"Siap, pasti gue bakal kenalin dia ke kalian," ucap Wawan.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1