
Bulan berganti bulan, Aurora menjalani hari-harinya penuh dengan warna bersama Irsyan. Kini kehamilannya sudah menginjak 9 bulan. Sebentar lagi malaikat kecil yang ada di dalam perut buncit Aurora akan keluar.
Hampir setiap hari Irsyan dibuat meringis melihat perut sang istri yang mengerikan seperti balon udara.
Pagi yang cerah di rumah mewah orang tua Irsyan...
"Sayang kamu diem aja deh, Mas ngeri lihatnya," ujar Irsyan saat melihat Aurora tengah asyik menyiram tanaman di taman depan rumah orang tuanya.
"Nggak usah di lihatin Mas, aku aja yang hamil biasa aja," jawab wanita berpipi chubby itu dengan santai.
Irsyan mendesah pasrah, entah mengapa semenjak hamil Aurora begitu suka sekali menyiram bahkan menanam bunga.
"Mas berangkat dulu, kalau kamu ngerasa perutnya nggak enak. Langsung telpon Mas," perintah Irsyan sambil mencium kening Aurora lembut sebelum pergi ke kantor, tidak lupa ia juga berjongkok di depan perut besar Aurora. "Papa berangkat dulu baby, kamu jangan nakal sama Mama."
Cup!
Satu kecupan Irsyan daratkan dengan gemas-gemas ngeri di permukaan perut buncit Aurora yang terhalang dress rumahan yang dikenakan wanita hamil itu.
"Babay Papa," kata Aurora saat Irsyan melenggang pergi menuju mobilnya.
"Love you, sayang!" ungkap Irsyan.
"Iya aku tau, Mas!" ledek Aurora sambil menjulurkan lidahnya.
"Awas kamu ya," kekeh Irsyan dengan tatapan gemas pada sang istri.
"Moymoy!" teriak Aurora yang tengah memanggil kucing sultan milik Alvaro. Tak lama si Moymoy datang dan menggesek-gesekkan kepalanya pada kaki Aurora. Kucing jenis Persia milik Alvaro itu sedang dititipkan di rumah Harun, ini memang atas permintaan Aurora yang ingin bermain dengan Moymoy. Sebagai kakak ipar yang baik, Fani pun menuruti ngidam adik iparnya dan membawa kucing kesayangan putranya tersebut ke rumah sang Papa.
"Sayang! Jangan deket-deket sama dia! Aku cemburu!" kesal Irsyan dengan suara lantangnya.
"Dih, apaan sih mas Irsyan. Sama Moymoy aja cemburu," gumam Aurora lirih.
__ADS_1
Berjongkok dengan gerakan pelan, Aurora membawa si kucing mahal itu menuju ayunan yang ada di taman.
Cup!
"Uluh .. uluh .. gemesnya," ucap Aurora.
"Jangan di cium, Aurora!" amuk Irsyan dari dalam mobil.
"Mas minggat sana, ngerecokin terus dari tadi," teriak Aurora kesal.
Irsyan keluar mobil, menutup pintunya dengan kasar. Kesal sekali Irsyan saat melihat Aurora begitu dekat dengan si kucing
Moymoy sialan itu. Jika Irsyan tau kalau ujung-ujungnya kasih sayang Aurora untuknya akan terbagi dengan si Moymoy. Mungkin Irsyan tidak akan pernah mau menuruti kemauan Aurora pada waktu itu yang ingin mengidam bermain dengan Moymoy. Dasar pencemburu!
"Siniin si burik itu." Irsyan meraih Moymoy dari pangkuan Aurora, berniat menjauhkan hewan berbulu itu sejauh mungkin dari jangkauan istrinya. Irsyan takut kalau bulu-bulu si Moymoy akan berdampak buruk pada kesehatan Aurora dan calon bayinya.
"Mas Irsyan sini kembalikan Moymoy!" teriak Aurora semakin jengkel, wanita dengan perut buncit itu berlari kecil mengejar Irsyan yang akan membawa pergi Moymoy.
Mendengar keributan yang terjadi di luar rumah, Jihan sontak keluar dengan segelas susu ibu hamil yang tadi memang sengaja ingin Jihan berikan pada menantu cantiknya. Namun siapa sangka saat Jihan berada di teras luas rumahnya, ia malah melihat Aurora tengah berlarian mengejar Irsyan sambil memegangi perutnya yang besar.
"Kalian berdua ngapain sih pada saling kejar-kejaran begitu? Sudah tau istri sedang hamil besar juga!" omel Jihan.
"Mas Irsyan tuh, Ma. Masa aku lagi main-main sama Moymoy malah di ganggu dan Moymoy dibawa kabur sama dia!" adu Aurora seraya menatap jengkel suaminya.
Jihan menghela napas dan geleng-geleng kepala, "Ini minum dulu susunya, nak. Irsyan ayo sana berangkat kerja!" perintah Jihan pada putranya sambil menyodorkan segelas susu yang ia bawa tadi ada Aurora.
"Iya, Ma." Irsyan menaruh Moymoy di tanah, lalu mencuci tangan di air keran, setelah itu ia menyalami kembali tangan sang Mama. Walaupun tengah Aurora kesal pada Irsyan, ia tak luput mencium punggung tangan sang suami. Aurora tak ingin menjadi istri yang durhaka nantinya.
"Udah ya main sama Moymoy, Mas takut terjadi apa-apa nanti sama kandunganmu!" peringat Irsyan seraya mengelus puncak kepala Aurora.
"Iya Mas," ucap Aurora malas. Irsyan berlalu masuk ke mobil dan meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
"Ayo masuk, nak. Sepertinya puding buah yang kita buat semalam sudah jadi," ajak Jihan. Aurora mengangguk dan wanita berbeda
...****************...
Malam harinya, Aurora dan Irsyan bergandengan tangan masuk ke dalam cafe milik Aurora. Disana sudah ada sahabat-sahabat mereka yang menunggu, baik itu sahabat dari Aurora maupun Irsyan. Yang sebenarnya mengajak mereka untuk berkumpul disana adalah Satria dan Mila, ada sesuatu yang penting ingin mereka katakan kepada teman-temannya.
"Karena semuanya sudah pada kumpul, ada yang ingin gue sampaikan ke kalian semua," ucap Satria.
"Apaan, Sat?" tanya Rilen. Semua mata tertuju pada Satria dengan tatapan penasaran dengan apa yang ingin diucapkan selanjutnya oleh pria yang berprofesi sebagai polisi itu.
"Gue sama Mila mau pindah ke kota L," ujar Satria membuat semua terkejut.
"Kenapa?" tanya Aurora.
"Mas Satria di pindahan tugas kesana, Ra," jawab Mila. Walau sebenarnya ia juga sangat berat meninggalkan kota M, keluarga dan teman-temannya disini.
Kiran yang mendengar itu langsung terisak, dengan sigap Andre mengelus punggung Kiran. Semenjak hamil, istrinya itu sangat lah sensitif dan tentu Kiran juga tidak rela jika berjauhan dengan sahabat baiknya. "Lo mau pergi ninggalin kita-kita, Mil?" tanyanya.
"Iya Ki, mau gimana lagi. Sebagai istri yang baik, gue harus mengikuti kemanapun suami gue pergi," jawab Mila.
"Lo baik-baik disana ya Mil, jangan lupa hubungi kita. Jangan sampai lost contact," timpal Wawan dan di angguki Mila. Tanpa sadar, air mata Mila terjatuh melihat wajah sedih dua sahabat perempuannya itu.
"Huwaaaa jangan nangis Ra, Ki. Gue jadi nggak rela buat ninggalin kalian," ucap Mila terisak. Aurora dan Kiran segera mendekati Mila, mereka bertiga pun saling berpelukan, semua yang melihat itu terharu dengan persahabatan mereka.
"Kalau lo butuh bantuan apa-apa, kasi tau ke kita-kita ya, Sat. Jangan sungkan-sungkan," ujar Aji.
Satria mengangguk dan tersenyum, "Iya pasti, Ji."
"Jaga Mila baik-baik ya bang Satria, gue titip dia," kata Andre.
"Itu pasti, Ndre. Gue bakal jaga dia, walaupun nyawa gue taruhannya," balas Satria.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.