GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 111


__ADS_3

Selang beberapa menit akhirnya mereka selesai sarapan, "Alhamdulillah kenyang juga," ucap Mila sambil mengelus perutnya seperti orang yang sedang hamil.


Satria yang melihat itu tersenyum kecil, gadis itu memang tak ada malu, pikirnya.


"Nak Mila sehabis ini mau kemana?" tanya Lena.


"Aku juga belum tau mau kemana Bun, nanti aku ikuti kemana perginya Mama sama Papa aja," jawab Mila.


"Gimana kalau ikut kami ke Al-Hijaz Mall, kami mau belanja-belanja disana, sekalian juga ajak orang tuamu," usul Lena.


"Hem memangnya gapapa kalau aku sama Mama Papa ikut?" tanya Mila sungkan.


"Tentu saja boleh nak," sahut Wildan yang tak mempermasalahkan jika Mila dan orang tuanya ikut, siapa tau nanti bisa jadi besan, pikir Wildan.


"Ya sudah kita balik ke kamar dulu untuk siap-siap," kata Lena dan mereka semua mengangguk lalu balik ke kamar masing-masing, sebelum itu Mila ke kamar hotel orang tuanya untuk memberi tau tentang ajakan kedua orang tua Satria tadi. Rahma dan Erwin pun menyetujuinya.


Mila memakai gamis syar'i berwarna hitam yang memiliki corak batik di tepinya dan memakai hijab berwarna cokelat, setelah selesai ia mengambil tas selempang nya dan keluar menuju ke kamar hotel orang tuanya.


TOK!


TOK!


TOK!


"Ma, Pa. Udah siapa belum?" tanya Mila.


Pintu kamar itu pun di buka oleh Papanya, "Sudah kok nak."


Sekarang Mila dan kedua orangtuanya tinggal menunggu keluarga Satria. Orang yang pertama keluar adalah Satria, Mila terkejut saat melihat baju yang dikenakan oleh Satria selaras dengan gamis yang ia kenakan sekarang.


'Subhannallah, nggak salah kan hamba mengagumi salah satu ciptaan mu ini Ya Allah,' batin Mila saat melihat penampilan Satria sangat cocok dengannya dan membuatnya semakin tampan di mata Mila.


Satria pun juga terkejut ketika melihat gamis yang di kenakan Mila selaras dengan baju Koko yang ia kenakan saat ini, tetapi ia langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.


'Masya Allah,' batin Satria. Kemudian Satria menghampiri Mila dan kedua orangtuanya.


"Halo Om, Tante. Saya Satria, temannya Mila," ucap Satria sambil menyalami tangan Rahma dan Erwin.


"Salam kenal nak Satria, kamu sangat gagah dan tampan ya?" puji Rahma tersenyum, apalagi saat melihat otot bisep milik Satria walaupun tertutup baju Koko tapi masih tampak jelas terlihat.


"Ya iyalah Ma, dia kan polisi," celetuk Mila.


"Oh ya kamu seorang polisi nak?" sahut Erwin dengan antusias.

__ADS_1


Haish, Mila mengingat bahwa sang Papa menginginkan calon menantu seorang ustadz atau polisi.


'Salah ngomong deh gue,' batin Mila merutuki dirinya.


"Iya Om," jawab Satria tersenyum tipis.


"Eh udah pada selesai ya? Maaf ya udah buat kalian menunggu," ucap Lena yang keluar dari kamar hotelnya bersamaan dengan Wildan dan Rifqi.


"Tidak apa-apa Jeng, kami juga baru saja keluar kok," timpal Rahma tersenyum. Lalu para orang tua itu saling memperkenalkan diri.


"Wih baju kalian kok warnanya sama? Kayaknya jodoh nih," sahut Wildan menggoda Mila dan Satria.


Seketika pipi Mila memerah mendengar itu, ia pun menundukkan kepalanya agar tidak ada orang yang melihat pipinya yang memerah karena malu.


"Iya Rifqi juga setuju kalau kakak cantik menikah sama Abang," timpal Rifqi.


"Rifqi darimana tau kamu tau kata-kata seperti itu nak?" tanya Lena menatap sang anak bungsu.


"Dari guru Rifqi di sekolah Bun, hehe."


"Kita juga nggak tau pakaian kita bisa selaras seperti ini," celetuk Satria, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ya sudah ayo kita berangkat," ajak Wildan mengalihkan topik pembicaraan. Mereka semua mengangguk.


"Aduh kenapa orang-orang bilang gue udah nikah padahal mah belum, jomblo fii sabilillah nih gue," gumam Mila dan di dengar oleh Satria. Satria hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala mendengar gumaman Mila tadi.


Mereka bertujuh masuk ke dalam mobil yang di sewa oleh Wildan. Wildan yang menyetir dan di temani oleh sang istri di sampingnya, Rahma dan Erwin duduk di kursi penumpang tengah, sedangkan Satria, Mila dan Rifqi duduk di kursi penumpang paling belakang.


Kurang lebih 15 menit mereka sampai di Al-Hijaz Mall. Mereka pun turun dari mobil dan jalan beriringan masuk ke dalam gedung Mall besar itu.


"Ma, Pa. Mila mau pergi keliling sendirian ya? Nanti kalau udah selesai Mila telpon Mama," izin Mila pada kedua orang tuanya.


"Eh nggak usah nak, nanti kalau kamu kesasar bagaimana?" tolak Rahma yang tentu saja tidak mengizinkan anak perawan satu-satunya itu pergi sendirian.


"Iya bener kata Mama kamu nak Mila, jangan pergi sendirian. Kalau gitu biar Satria aja yang nemenin kamu," timpal Lena yang menyuruh sang putra untuk menemani Mila.


"Hah?"


"Nah kalau yang itu Mama juga setuju," cicit Rahma.


"Udah sana, Bang jagain nak Mila ya?" pesan Lena menatap lembut Satria.


"Iya Bun." Satria mengangguk mengiyakan saja. Agar sang Bunda bahagia, apapun ia akan lakukan.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan berdampingan keliling di Mall tersebut mencari barang yang dikehendaki Mila sekaligus oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat-sahabatnya di Indonesia. Banyak orang tersenyum menatap mereka berdua, lagi dan lagi mereka dikira pasangan suami-istri yang baru saja menikah.


"Mas," panggil Mila.


"Kenapa?"


"Mas Satria kalau nggak mau nemenin gue balik aja ke yang lain atau mencar ke tempat lain," ucap Mila.


"Nggak! Gadis kayak lo itu harus di jaga takutnya nanti ilang disini," sahut Satria.


"Emangnya gue bocil apa yang suka ilang!" sungut Mila tak terima. Dia sudah dewasa loh, ya kali bisa hilang, aneh memang si pak Polisi.


"Ya tapi kadang kelakuan lo kayak bocil yang pecicilan dan bar-bar!" balas Satria.


"Mana ih fitnah aja ni orang!" sewot Mila.


"Kalian lucu deh," kata ibu-ibu yang lewat di depan mereka menggunakan bahasa Indonesia dan pastinya ibu-ibu itu berasal dari Indonesia, dia juga sama seperti mereka berdua yang ke Mekkah untuk ibadah umroh sekaligus liburan.


"Ah iya Bu," jawab Mila kikuk.


"Sepertinya kalian ini pasangan pengantin baru ya? Semoga hubungan kalian selalu bahagia dan langgeng," doa ibu-ibu itu dengan mata berbinar-binar, Mila yang mendengar itu hanya bisa melongo.


"Aamiin, terima kasih atas doanya Bu," balas Satria tersenyum. Doa yang baik-baik harus diamini kan? Jadi Satria tidak salah dong.


Setelah kepergian ibu-ibu tadi, Mila mendongak menatap Satria dengan tatapan horor, "Maksud Mas apa?!" tanya Mila sewot.


Satria menunduk menatap mata Mila sebentar lalu berdiri tegap seperti biasa. Mila langsung menunduk saat di tatap Satria, ia paling lemah jika sudah ditatap seperti itu apalagi oleh pria yang ia sukai.


"Yang sopan ya istriku," goda Satria sambil tersenyum menyeringai.


'Allahuakbar, KUA di Mekkah dekat mana nih?' batin Mila meronta-ronta.


PLAK!


Mila memukul lengan Satria cukup keras membuat sang empu terkejut dan sedikit meringis.


"Apaan sih Mil?"


"Mas tuh nggak sopan! Bikin hati gue jadi dag-dig-dug gini kan!" ketus Mila sambil melihat ke arah lain karena pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus takut dilihat oleh Satria. Satria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh kecil.


'Seru juga jahili dia,' batin Satria.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2