GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 109


__ADS_3

Begitu menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah dari dekat, Mila hanya bisa tertegun. Hanya ucapan alhamdulillah dan subhanallah yang sempat terlontar dari mulut, meski sama sekali tak terdengar.


Dada rasanya bergemuruh. Hiruk-pikuk orang di sekeliling Mila seperti tak terdengar. Tanpa terasa, air mata mengucur dan membasahi pipi. Lidah pun terasa kelu. Bibir tak lagi mampu mengucap kata. Hanya hati yang sepenuhnya bicara dengan segala puja-puji dan permohonan doa.


Bersama jamaah umroh lain yang masih satu rombongan, Mila lalu melakukan thawaf, berjalan mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Setelah sholat sunnah, Mila dan rombongannya pun lantas melanjutkan rukun umroh selanjutnya yakni sa’i dari bukit Shafa dan Marwah tujuh kali untuk melengkapi ritual umroh wajib.


Saat tiba di bukit Marwah, mulut Mila terus berdzikir dan memanjatkan doa kepada sang khalik dengan khusyuknya, sampai air matanya kembali mengalir dengan deras.


'Ya Allah jika dia adalah jodoh hamba, maka dekatkanlah hamba, jika tidak hamba mohon beri hamba jodoh yang terbaik menurutmu.' Itulah salah satu doa yang Mila panjatkan.


Keesokan harinya, Mila dan kedua orang tuanya keluar dari kamar masing-masing, ia dan rombongannya akan pergi ke tempat-tempat bersejarah disini. Tapi ia lupa mengambil sesuatu Mila pun kembali ke kamar dan menyuruh agar Mama Papanya menunggu di lobby. Setelah mengambil barangnya yang ketinggalan, Mila keluar dari kamar hotelnya.


"Masya Allah cakep-cakep bener ya orang Arab, pengen deh nanti anak gue lahir disini, sekalian aja gitu gue punya suami orang sini," gumam Mila sedikit menghayal saat melihat seorang pria keturunan Arab melintas di depan kamarnya. Biasalah namanya orang jomblo, jadi terserah dia mau menghayal seperti apa.


Saat hendak berbalik Mila tak sengaja melihat sekeluarga yang juga akan keluar dari kamarnya, tepatnya di samping kamar hotel Mila.


"Loh nak Mila?"


Mila terkejut ketika mengetahui jika orang yang berbicara dirinya adalah bunda Lena. Lagi-lagi ia terkejut saat melihat Satria berdiri di samping Lena.


"Ah iya Bunda," ucap Mila gugup sambil menyalami Lena.


"Kamu disini juga lagi umroh nak?" tanya Lena.


"Iya Bun, sekalian liburan sama Mama Papa. Ini kamar hotel aku," tunjuk Mila ke arah kamar hotelnya.


"Wah bisa pas banget, tuh di depan kamar kamu kamarnya Satria dan di samping kamar kamu kamar Bunda dan Ayah," jelas Lena. Mila melirik Satria canggung lalu mengangguk.


"Ngomong-ngomong Rifqi mana ya Bun? Apa dia ikut?" tanya Mila.


"Iya ikut dia lagi di restoran bawah sama Ayahnya, kita juga sekeluarga disini ibadah umroh sekaligus liburan sama seperti kamu." Mila hanya manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Orang tua lo mana?" tanya Satria tiba-tiba membuat Mila menepuk jidatnya, ia lupa jika orang tuanya tengah menunggu di lobby, pasti mereka lelah menunggunya.


"Mama sama Papa lagi di lobby, kalau gitu aku pamit dulu ya Bunda, mas Satria. Soalnya Mama Papa udah nungguin disana," pamit Mila sopan.


"Iya silahkan nak, tapi nanti kita bakal ketemuan lagi kan ya?"


"Iya pasti Bunda, assalamualaikum Bunda, mas Satria."


"Waalaikumsalam," balas Lena dan Satria.


Meta pun pergi dari sana. Lena menatap ke arah anak sulungnya itu.


"Mila cantik kan nak?" tanya Lena tersenyum penuh arti saat melihat Satria terus memandangi Mila yang sudah pergi itu.


"Apaan sih Bun, semua wanita itu terlahir cantik. Tapi menurut Satria, Bunda adalah wanita yang paling cantik di dunia ini," ucap Satria sambil memeluk lengan Lena.


Lena terkekeh pelan, "Kamu ini bisa aja, ayo kita turun, pasti Ayah sama Rifqi nungguin kita." Satria hanya mengangguk, mereka berdua masuk ke lift untuk menuju ke restoran.


Mila menormalkan detak jantungnya karena dia benar-benar syok akan kehadiran Satria, apalagi kamar laki-laki itu berhadapan dengan kamarnya. Apa ini yang dinamakan jodoh?


"Astaghfirullah. Oke tenang Mila, jangan panik. Masa begitu doang lo panik sih?!" gumam Mila sambil menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tenang.


"Mila kenapa lama banget sih nak? Rombongan kita sudah menunggu tuh!" ucap Rahma.


"Ah iya Ma." Mila berlari kecil menuju menghampiri kedua orangtuanya, setelah itu mereka bertiga keluar dari hotel dan masuk ke dalam bis.


Tujuan Mila dan rombongannya saat ini adalah pegunungan Al-Hada. Dimana di gunung bisa melihat sebagian besar kota Mekkah, sebelum itu ia dan rombongannya membawa bekal supaya mereka tak kelelahan nantinya karena mereka tau untuk sampai disana memerlukan waktu cukup lama.


Selama perjalanan ke pegunungan Al-Hada, merasa seperti tengah berjalan di atas awan, penuh liku dan tikungan yang tajam, khas jalanan di pegunungan.


Cukup memakan waktu, Mila dan rombongannya pun sampai di pegunungan Al-Hada. Mereka turun dari bis, Mila melihat banyak orang disini, ia tersenyum lalu mulai berjalan menuju ke pegunungan itu mengikuti orang tua dan rombongan lainnya.

__ADS_1


"Mbak Mila," sapa Fitri teman satu rombongan dengan Mila. Ia juga pergi ke Mekkah bersama dengan kedua orang tuanya.


"Ya Fitri?"


"Bolehkah kita berjalan beriringan? Biar aku ada teman berbicara," pinta Fitri.


"Tentu saja, ayo kita jalan bersamaan," ajak Mila dengan senang hati, toh agar dia juga ada teman berbicara yang seumuran dengannya. Ya walaupun Fitri lebih muda 4 tahun darinya.


Rombongan Mila mulai berjalan ke atas puncak pengunungan. Mila dan Fitri terus berbincang selama perjalanan sesekali beristirahat memakan bekal yang mereka bawa.


Akhirnya rombongan itu pun sampai di puncaknya. Mila bernapas lega, akhirnya ia sampai di puncak gunung Al-Hada dengan selamat.


"Masya Allah, lihatlah dari atas sini kita bisa melihat menara jam yang terletak di Masjidil Haram," ucap Fitri dengan antusias.


"Iya Masya Allah, benar-benar sangat indah," timpal Mila.


"Benar sekali mbak, jadi nggak sia-sia perjalanan kita tadi."


"Bener banget." Mila pun memotret pemandangan disana, tak lupa juga ia berfoto-foto dengan kedua orang tua dan rombongannya.


Sepulangnya dari pegunungan Al-Hada itu, Mila dan lainnya langsung balik ke hotel karena mereka benar-benar kelelahan. Mila merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan merentangkan kedua tangannya.


"Bisa nggak ya selama gue disini nggak ketemu sama mas Satria lagi?" Monolog Mila sambil menatap langit-langit kamar.


"Tapi gimana bisa? Buset dah kamar kita aja berhadapan kek gitu!"


Mila memejamkan matanya karena sungguh sebenarnya ia juga sangat mengantuk tapi masih sempat-sempatnya mengoceh tidak jelas.


Malamnya Mila terbangun dari tidurnya, lalu ia melirik ke arah jam dinding menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit malam.


"Astaghfirullah gue belum sholat magrib!" Mila langsung beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2