
Setelah selesai sholat, Mila mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Ia tak lupa memasang hijab yang senada dengan gamisnya. Mila berencana untuk berjalan-jalan sendirian tanpa ditemani oleh orang tua dan lainnya, nekat memang.
Ia mengambil tas selempang nya lalu keluar dari kamar hotelnya, ia menempelkan kartunya atau card lock ke pintu, tentu saja untuk mengunci kamarnya.
Mila membalikkan badannya ternyata kebetulan atau mungkin jodoh, Satria juga ikut keluar dari kamar hotelnya.
"Assalamualaikum mas Satria," sapa Mila dengan ramah.
"Waalaikumsalam," balas Satria tersenyum. Melihat senyuman Satria membuat Mila terpesona untuk sesaat, fix yakin nanti malam ia bakal tidak bisa tidur.
"Misi mas Satria." dengan sopan Mila melangkahkan kakinya ingin mendahului Satria.
"Lo mau kemana?" tanya Satria. Mila menaikan satu alisnya, lalu berbalik ternyata Satria ikut berjalan di belakangnya.
"Gue mau pergi jalan-jalan," jawab Mila jujur.
"Sendirian?" tanya Satria lagi. Mila hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu gue ikut!"
"Hah? Mas Satria mau ikut?" ujar Mila kaget.
"Iya, kenapa muka lo kaget kayak gitu? Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa nantinya, apalagi ini di negara orang bukan di Indonesia," balas Satria. Mila membenarkan ucapan Satria, nanti kalau dia kenapa-napa di jalan atau di culik gimana? Kalau di culik sama Sultan Arab sih gapapa Mila sangat ikhlas lahir dan batin.
"Oke ayo Mas."
Mila sangat canggung berjalan beriringan seperti itu dengan Satria, jantungnya pun ikut berdegup dengan kencangnya. Setelah itu entah kemana dua orang berbeda kelamin itu akan pergi jalan-jalan mengelilingi kota Mekkah.
Keesokan harinya Mila akan pergi sarapan ke restoran yang berada di bawah hotel sendirian, karena orang tuanya memilih untuk sarapan di dalam kamar hotel saja. Saat ingin menutup pintu kamar hotelnya, ia melihat Satria juga keluar dari kamar hotelnya.
"Ya Allah, kenapa harus ketemu terus sih," gerutu Mila dengan suara pelan. Ia menundukkan kepalanya lalu berjalan melewati Satria yang sedang menatap dirinya.
"Dasar nggak sopan," ujar Satria membuat Mila menghentikan langkahnya, ia mencibir dan melanjutkan langkahnya.
"Nak Mila," panggil Lena yang baru saja keluar dari kamar hotelnya.
"Ya Allah apalagi ini? Gue udah laper banget hiks," gumam Mila dengan lirih dan mencoba untuk bersabar. Ia membalikan badannya dan tersenyum ramah menatap keluarga itu.
"Kenapa Bun?" tanya Mila dengan sopan.
"Kamu mau sarapan di lantai bawah?" tanya Lena balik.
"Iya Bun."
"Eh nak Mila, kamu disini juga toh?" sahut Wildan yang juga keluar dari kamar hotel.
"Hehe iya Om," jawab Mila cengengesan.
"Jangan panggil Om lagi, panggil Ayah saja, masa istri saya kamu panggil Bunda tapi kamu manggil saya Om, nanti dikira apa lagi," suruh Wildan pada Mila.
"Baik Om eh-- Ayah." Lena dan Wildan langsung tersenyum.
"Eh ada kakak cantik!" seru Rifqi melihat Mila.
__ADS_1
"Hai Rifqi," sapa Mila tersenyum lebar saat melihat bocah itu.
"Halo kakak cantik, kok kebetulan banget ketemu disini. Kak Mila liburan juga disini?" tanya Rifqi antusias.
"Iya dong, masa Rifqi aja yang liburan," jawab Mila dengan nada bercanda.
"Bunda Ayah, ayo kita sarapan," sahut Satria yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Iya nak, ayo nak Mila kita sarapan bareng di bawah," ajak Lena. Mila menimang-nimang ajakan Lena, tak lama ia pun mengangguk menyetujui ajakan tersebut.
"Iya ayo Bun."
Lena, Wildan dan Rifqi berjalan di depan sedangkan Mila berjalan di belakang dengan Satria. Mila selalu gugup dan canggung jika sudah berdekatan dengan pria itu.
Mila mengangkat telpon dari Damar, sang kakak saat ia sedang makan. "Assalamualaikum Abang."
"Waalaikumsalam dek, gimana kabarmu, Mama dan Papa disana?" tanya Damar.
"Alhamdulillah kami disini baik-baik aja. Abang sama kak Adel di rumah baik-baik aja kan?" tanya Mila balik.
"Alhamdulillah kami baik juga baik, rumah sepi banget nggak suara kalian, terutama adik Abang yang cerewet ini."
"Ish mana ada aku cerewet!" sungut Mila tak suka. Terdengar disana suara kekehan dari Damar.
Lena, Wildan, Satria dan tak lupa Rifqi hanya mendengarkan dan memaklumi Mila yang tengah teleponnya dengan kakaknya itu.
"Ya udah Bang, aku tutup dulu ya telponnya soalnya aku lagi sarapan nih."
"Insya Allah Bang, waalaikumsalam." Mila mematikan teleponnya lalu menatap ke arah empat orang di hadapannya itu dengan tersenyum malu.
"Maaf ya jadi keganggu sama Mila," ucap Mila tak enak hati.
"Gapapa nak, santai aja," balas Lena memaklumi.
"Yang nelpon itu kakak kamu?" tanya Wildan.
"Iya Yah, itu Abangku."
"Kamu berapa bersaudara nak?" timpal Lena.
"2 bersaudara Bun, aku anak kedua," jawab Mila. Lena dan Wildan hanya manggut-manggut lalu kembali menyantap makanan mereka.
...****************...
Semenjak hari dimana Aril membawa Caca ke UKS dan mengantar gadis itu pulang, Caca semakin gencar mendekati Aril, sekarang saja gadis itu sedang duduk di kursi sebelah Aril sambil menyodorkan sarapan untuknya. By the way, Aril dan Caca sama kelas, berada di kelas XI IPS 2.
"Ini sarapan untuk lo, gue yang buat dan spesial buat lo," ucap Caca.
Aril yang tengah membaca buku itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah Caca dengan pandangan tak suka karena gadis itu telah menganggu waktu belajarnya.
"Nggak usah, gue udah sarapan tadi," tolak Aril.
"Yah tapi gue capek loh masak pagi-pagi hanya demi buatkan sarapan untuk lo," ucap Caca lesu. Aril yang tidak tega itu pun langsung mengambil sarapan buatan Caca itu. Hal itu membuat Caca mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Nanti gue makan, thanks," ujar Aril.
"Oke di makan sampai habis ya, jangan sampai bersisa!"
"Hem."
Caca pun kembali ke kursinya dengan perasaan bahagia karena gebetan atau laki-laki yang ia suka mengambil kotak makanan yang berisi masakan buatannya.
"Kenapa lo Ca? Kayaknya lagi bahagia nih rupanya," tanya Lala penasaran. Gadi itu adalah sahabat dari Caca.
"Iya La, soalnya sarapan buatan gue di terima dong sama Aril!" girang Caca seperti orang berteriak membuat semua teman-temannya menatap ke arahnya, tak terkecuali Aril.
Caca yang dilihat itu langsung cengengesan malu sambil menggaruk tengkuknya dan meminta maaf pada teman-temannya. Aril yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala, sedetik kemudian ia melanjutkan kesibukan, yakni belajar.
Tiba-tiba dari arah pintu masuklah tiga gadis dengan mengenakan seragam ketat dan makeup yang cukup tebal layaknya bukan seperti seorang siswi.
Mereka bertiga itu merupakan most wanted di SMA 1 Harapan Bangsa, mereka terkenal karena kecantikan dan kekayaan orang tua mereka, tapi jika bicara kepintaran, mereka sangatlah minim dan tentunya juga minim attitude. Mereka bertiga bernama Bianca, Maria dan Sera. Mereka berada di kelas XI IPA 3.
"Hai guys ada pengumuman untuk kalian," teriak Bianca di depan kelas.
"Apaan tuh bebeb Bianca?" celetuk Gilang.
"Gue mau undang kalian semua ke acara ulang tahun gue yang ke 17 tahun." Suara sorak kegirangan dari semuanya, kecuali Aril Caca dan Lala. Kedua gadis itu memang tidak menyukai Bianca serta kedua temannya tersebut karena mereka juga terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya.
"Pokoknya kalian harus datang dengan dress code berwarna hitam, oke?"
"Siap!"
"Guys bagikan undangannya," suruh Bianca pada Maria dan Sera.
"Iya Bi." Kedua gadis itu membagikan undangan ke semua murid di kelas XI IPS 2. Setelah selesai membagikan undangan, Bianca dan kedua temannya keluar dari kelas tersebut.
"Lo mau pergi, Ca?" tanya Lala.
"Gue sebenernya males, tapi mungkin ayang Aril ikut, gue juga bakalan ikut," jawab Caca sambil menatap belakang ke arah Aril yang sedang sibuk membaca buku.
"Memangnya lo tau kalau dia mau ikutan kesana?"
"Aril!" teriak Caca memanggil Aril. Aril yang dipanggil itu langsung melihat ke sumber suara.
"Lo mau ikut ke acara ulang tahunnya Bianca?" tanya Caca dan hanya dapat anggukkan kepala dari lelaki itu.
"Tuh kan dia ikut, jadi gue ikut deh!" seru Caca saat mengetahui Aril akan datang ke acara ulang tahun Bianca itu.
"Ya udah gue juga ikut deh," ucap Lala.
"Oke, nanti kita ke Mall ya cari dress?" ajak Caca.
"Oke."
...----------------...
To be continued.
__ADS_1