
Sudah hampir 1 jam Caca menunggu orang yang akan menjemputnya, membuat dirinya sangat kesal karena telah menunggu cukup lama. Caca terus menggerutu tidak jelas. Nanti pada saat orang yang akan menjemputnya itu datang, ia akan memarahinya habis-habisan.
Suara sepatu pantofel jalan ke arah Caca dan orang tersebut berhenti di depannya.
"Dengan nona Caira Masya Dilaver?" tanya seseorang.
"Kenapa kamu lama sekali menjemput say--" Belum sempat Caca melanjutkan ucapannya, saat mendongak ia langsung tertegun dan matanya membulat sempurna ketika melihat seseorang di depannya sekarang ini.
"Aril!" lirih Caca. Yah, dia Aril. Pria selama 8 tahun belakangan ini yang sangat ia rindukan. Caca seketika jatuh pada pesona Aril yang sekarang, menurutnya pria itu bertambah tampan dan dewasa. Apalagi kacamata baca yang bertengger di hidung pria itu menambah kharisma dan wibawa seorang Aril. Rasanya Caca ingin berlari memeluk Aril dengan sangat erat, tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
Begitupun dengan Aril, ia juga terpana melihat kecantikan Caca yang sekarang. Dari dulu gadis itu memang cantik di mata Aril, namun bedanya Caca kini terlihat dewasa dan anggun, mata hazel milik gadis itu masih terpancar begitu indah.
"Maaf saya lama menjemput anda, Nona. Itu dikarenakan jalanan kota sangat macet di jam kerja seperti sekarang ini," jelas Aril tetap dengan wajah datarnya.
"Jangan pake bahasa formal kayak gitu, Ril," suruh Caca.
"Saya tidak bisa, Nona. Tuan Ibrahim bisa marah dengan saya nantinya jika berbicara tidak sopan kepada anda," kukuh Aril.
Caca menghela napas panjang, kenapa pria itu menjadi lebih menyebalkan dari yang dulu, gerutu Caca dalam hati.
"Saya akan bekerja sebagai asisten anda, Nona pasti sudah diberitahukan sebelumnya oleh Tuan Wilson?"
Caca menggeleng, "Aku nggak tau kalau kamu yang menjadi asistenku," jelasnya. Aril cukup tersentak ketika Caca menggunakan kata Aku-Kamu. Sedetik kemudian, pria itu manggut-manggut. Jadi, Caca belum mengetahui jika dirinya yang menjadi asisten dari wanita tersebut, pikir Aril.
"Mari saya antarkan Nona ke rumah Tuan Ibrahim," ujar Aril. Dalam hati Aril, ia berjanji akan membantu Caca untuk mendapatkan YH GROUP dari tangan Arsal yang terkenal licik itu.
Caca hanya mengangguk. Aril mengambil koper milik Caca dan menariknya ke basemen parkiran.
Aril membukakan pintu mobil yang di belakang untuk Caca, tapi gadis itu lebih memilih membuka pintu mobil yang depan, otomatis Caca duduk di samping Aril.
"Kenapa Nona duduk di depan?" tanya Aril heran.
"Aku maunya duduk di depan!" jawab Caca.
Aril membuang napas kasar, membiarkan Caca duduk di depan. Ia membuka bagasi mobil dan menaruh koper Caca disana.
Di perjalanan hanya keheningan yang tercipta, Aril fokus menyetir dengan wajah dingin serta datarnya. Sedangkan Caca menatap ke arah jendela mobil sesekali mencuri pandang ke Aril.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone Aril, membuat Aril harus menghentikan laju kendaraannya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" tanya Caca.
Aril menghiraukan pertanyaan Caca, ia lebih memilih membuka pesan dari Naufal. Sahabatnya itu mengirimkannya sebuah video berisikan berita tentang siapa yang akan menggantikan tuan Ibrahim sebagai presiden di YH GROUP nanti. Aril mengingat bahwa hari ini ada rapat yang dihadiri dewan direksi dan para pemegang saham, tiba-tiba ia mengeluarkan senyum seringainya tanpa sepengetahuan Caca.
Aril menatap Caca, "Nona, lebih baik sekarang kita ke YH GROUP."
Caca mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Nanti akan saya jelaskan." Aril kembali melajukan mobil menuju ke perusahaan.
Di tempat lain, tepatnya di YH GROUP. Dewan direksi dan semua para pemegang saham tengah berkumpul di ruang rapat dan yang paling mencolok disana adalah Arsal, pria itu duduk di kursi yang biasanya ditempati oleh Tuan Ibrahim selaku presiden YH GROUP.
Dengan angkuhnya, Arsal duduk sambil menaruh kedua kakinya di atas meja, banyak dari pemegang saham yang geram terhadap tingkah laku pria itu.
Arsal mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja sambil memejamkan matanya, "Apa yang kalian tunggu? Kenapa kalian semua belum tanda tangan juga?" tanya Arsal membuka matanya dan menatap orang-orang ada di hadapannya.
"Apakah kalian keberatan dengan penunjukan saya sebagai presiden?" tanyanya lagi.
"Menunjuk presiden baru sangat penting pada perusahaan. Paling tidak izinkan saya bertemu dengan ketua," ucap salah satu peserta rapat, sebut saja namanya Ferry. Ketua yang dimaksud disini adalah Tuan Ibrahim Harsa.
Arsal geram, ia menurunkan kakinya lalu menatap ke arah orang yang berbicara tadi, "Kakek saya sedang sakit. Bukannya meringankan beban beliau, tapi anda bisa menyebabkan masalah lebih banyak lagi. Biarkan saya beritahu. Di keluarga Harsa, tidak ada orang lain selain saya yang bisa mengambil alih YH GROUP! Apa kalian masih meragukan saya?"
"Masih ada putri dari keluarga Nyonya Ranti Harsa yang berhak untuk menjadi presiden!" timpal Ferry. Dia memang kontra kepada Arsal, karena menurutnya pria itu tidak cocok menggantikan Tuan Ibrahim sebagai presiden.
Ferry langsung menunduk tak berani menatap Arsal.
"Dengarkan semua! Saat ini hanya saya dan ibu saya yang membawa nama keluarga Harsa. Putri sulung Tante Ranti? Dia tidak pantas menjadi presiden di YH GROUP!" ucap Arsal dengan tegas.
Arsal memegang sebuah amplop coklat, kemudian menunjukkannya ke semua peserta rapat, "Dan untuk surat penunjukan ini. Jika anda menandatangani itu, anda semua dapat tinggal di perusahaan ini. Namun jika tidak, anda semua harus meninggalkan YH GROUP!" ucapnya sambil menaruh amplop tersebut dengan kasar di atas meja dan kembali duduk.
Ucapan dari Arsal membuat semua saling menatap satu sama lain dan berbisik-bisik.
"Jangan ditandatangani!" ucap seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rapat. Semua orang melihat ke arah orang yang baru saja datang. Di belakang orang tersebut ada seorang wanita bersamanya.
"Itu kan sekretaris tuan Ibrahim?" ucap semua orang di dalam ruangan. Arsal langsung berdiri dengan wajah terkejutnya melihat siapa yang datang.
Untung saja Aril datang membawa Caca tepat pada waktunya. Caca meremas tali tas jinjing yang ia bawa saking gugupnya.
"Bukankah dia Nona--?"
__ADS_1
Aril menatap Caca dan menganggukkan kepalanya, Caca yang mengerti pun maju dan berdiri di samping Aril.
"Dia adalah putri tertua keluarga Harsa dan putri satu-satunya Nyonya Ranti Harsa, Caira Masya Dilaver!" ucap Aril dengan lantangnya.
Mulai terdengar lagi orang-orang berbicara tentang kedatangan Caca ini.
"Ya benar itu Nona Caira, anak dari nyonya Ranti!"
"Iya, dulu YH GROUP didirikan dan dioperasikan oleh nyonya Ranti."
"Karena Nona Caira sudah disini, berarti dialah orang yang paling berhak dan memenuhi syarat--"
BRAKKK!
Arsal menggebrak meja di depannya membuat semua orang disana terkejut karena perbuatannya.
"DIAM!" teriak Arsal. Pria itu berjalan mendekati Caca.
"Aku tidak percaya kamu kembali lagi kesini setelah 8 tahun lamanya, tapi kamu tidak berhak mendapatkan posisi sebagai presiden. Tidak akan pernah!" sentak Arsal. Caca mundur beberapa langkah karena Arsal yang terus mendekatinya, namun dengan sigap Aril menahan pinggang Caca agar tidak mundur lebih belakang lagi.
Aril menatap Arsal sambil tersenyum dan lebih memajukan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Arsal, "Bagaimana anda tahu jika Nona Caira tidak berhak menggantikan Ketua sebagai presiden disini? Dan bagaimana anda sangat yakin bahwa nona Caira tidak akan kembali lagi kesini?"
Arsal menatap sinis Aril, dan yang ditatap tetap memberikan senyumannya kepada pria itu.
"Selama Nona Caira berdiri disini, anda tidak berwewenang atau hak untuk mengambil alih YH GROUP!" sambung Aril. Lalu ia berbalik menatap Caca.
"Silahkan, Nona."
Caca mengangguk dan melangkah lebih maju agar lebih dekat lagi dengan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Saya Caira Masya Dilaver. Saya keberatan dengan surat penunjukan ini!" ucap Caca dengan tegas, walaupun sebenarnya ia sangat tegang saat ini.
Setelah rapat selesai, Aril mengajak Caca untuk pulang ke rumah tuan Ibrahim. Di depan kantor, tubuh Caca merasa lemas karena ia begitu tegang dan gugup di dalam sana, hampir saja ia terjatuh jika Aril tidak menahan tubuhnya.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Aril khawatir melihat wajah pucat Caca.
"Aku pengen istirahat, Ril," ucap Caca lemas.
Aril hanya mengangguk, ia membukakan pintu mobil untuk Caca. Lalu dengan segera Aril mengendarai mobil menuju ke rumah besar tuan Ibrahim.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.