
Aril berdecak kesal, begitu melihat pesan dari Gino, sahabatnya. Dia menyuruh Aril untuk datang bersama pasangan ketika Gino melangsungkan resepsi pernikahan nanti malam.
"Kenapa, Ril?" tanya Caca tiba-tiba membuat Aril tersentak. Wanita itu masih berada di ruangan Aril.
"Oh ini si Gino, nyuruh saya bawa pasangan ke resepsi pernikahannya nanti malam," jawab Aril.
"Ya udah sih, tinggal bawa pasangan aja!" ucap Caca.
"Masa saya harus bawa Naufal kesana. Saya masih normal, Nona," balas Aril datar.
Caca terkekeh kecil, "Kamu kan bisa bawa teman wanita mu yang semalam di cafe itu." Caca mengucapkan itu dengan nada tidak suka.
"Tidak mungkin saya membawa istri orang kesana."
Yah, Sasha sudah menikah dan Caca telah salah paham. Tapi setelah mengetahui hal itu hati Caca begitu bahagia karena saingannya berkurang satu.
"Gimana kalau aku aja yang kamu bawa ke resepsi pernikahan Gino?" Caca menawarkan dirinya.
Aril menaikan satu alisnya, "Anda serius, Nona?"
Caca mengangguk, "Aku sangat serius. Siapa tau nanti disana bisa ketemu sama teman-teman SMA dulu, soalnya aku kangen pengen ketemu sama mereka."
"Ya sudah nanti malam saya akan menjemput, anda."
Caca mengangguk antusias. Sedikit demi sedikit, Caca yakin jika dirinya bisa dekat dengan Aril.
Malam hari telah tiba, Caca tengah menunggu Aril di ruang tamu untuk menjemputnya. Caca mengenakan Lace dress yang dibawahnya terdapat renda-renda berwarna salem sepanjang lutut. Dress yang dikenakan Caca terkesan mewah dan elegan.
Tak lama suara deru mesin mobil terdengar. Dengan cepat Caca keluar sambil membawa handbag di tangannya. Walaupun setiap harinya Caca terpesona dengan penampilan Aril, tapi malam ini pria itu benar-benar lebih tampan dari biasanya. Begitupun dengan Aril, ia juga terpesona dengan kecantikan dan penampilan Caca malam ini.
"Malam, Nona," sapa Aril.
"Malam, Ril. Kamu sangat tampan malam ini," puji Caca.
"Terima kasih atas pujiannya. Silahkan masuk." Aril mempersilahkan Caca masuk ke dalam mobil yang telah ia bukakan pintunya.
Caca mendengus sebal dan masuk ke dalam mobil. Padahal ia sangat berharap jika Aril juga mengomentari penampilannya malam ini.
Sesampainya di tempat acara, Aril dan Caca segera turun. Sudah banyak tamu undangan yang berdatangan silih berganti.
"Aril!" panggil seseorang.
__ADS_1
"Dennis!" ucap Aril dan Caca secara bersamaan.
Dennis menatap ke arah Caca, "Loh Caca? Lo udah pulang dari Turki? Apa kabar lo?"
"Aku baik," jawab Caca tersenyum. "Kalau kamu apa kabar, Den?" tanyanya balik.
"Gue baik," jawab Dennis kikuk dengan pengucapan Caca yang berbeda dari yang dulu. Dennis pun memperkenalkan istri serta anaknya kepada Caca.
"Masya Allah, cantiknya," puji Caca pada anak Dennis.
"Makanya ayo kalian cepetan nikahnya biar punya anak kek gue," goda Dennis. Istrinya Dennis hanya tersenyum, sedangkan Caca langsung salah tingkah.
"Lo kira gampang nikah!" ketus Aril.
"Ya gampang, kalian berdua tinggal ke KUA sekaligus nikahnya disana langsung sah deh kalian!" saran Dennis.
Aril mendengus dan tidak menanggapi ucapan sahabatnya tadi. Ia memilih mengajak Caca untuk bersalaman dengan pengantin. Setelah itu, mereka berdua berbaur dengan para tamu undangan. Bahkan mereka bertemu dengan beberapa teman-teman SMA mereka, jadi acara resepsi tersebut sekaligus acara reunian. Sayangnya tidak ada Lala disana.
Hari ini merupakan hari keberangkatan Irsyan, Aurora, beserta keluarga besarnya. Tak lupa Aril mengajak Caca dan akan menjemput Caca ke rumah tuan Ibrahim.
"Kamu mau menjemput, nak Caca?" tanya Nuri.
Aril mengangguk, "Iya, Bu. Aril pamit dulu."
"Siap, Bu."
Aril pergi ke rumah Caca menggunakan mobil. Mobil tersebut milik Aril, yang dibelinya 1 tahun lalu dengan uang tabungannya. Walaupun bukan mobil mewah, yang penting itu kegunaannya.
Sementara di rumah tuan Ibrahim, Caca mendorong kursi roda sang kakek sambil mengajak tuan Ibrahim menghirup udara segar di taman belakang yang sangat luas. Disana ada sebuah rumah kaca berisi berbagai jenis bunga dan dibangun Wilson khusus untuk sang istri, Ranti.
"Rumah kaca ini dibangun Wilson sebagai bentuk rasa cintanya Daddy kepada Mommy mu. Bunga-bunga di rumah kaca ini hampir semua layu karena sudah lama tidak terawat, karena dulu Mommy mu yang selalu merawat bunga-bunga ini. Ini juga tempat tersejuk dan tercantik di rumah keluarga Harsa," jelas tuan Ibrahim panjang. Lalu ia menyuruh Caca membantunya untuk berdiri. Tuan Ibrahim mengambil sehelai daun bunga mawar yang sudah mengering.
"Andai saja rumah kaca ini bisa seperti dulu," ujar tuan Ibrahim berharap. Mata kakek tua itu mulai berembun mengingat kembali masa-masa dimana ia, anak dan cucu-cucunya sering berkumpul.
"Rumah kaca ini bisa seperti dulu kok, kek. Serahkan ke Caca. Caca akan membuat rumah kaca ini kembali hidup," ucap Caca.
"Kamu serius, nak?" tanya tuan Ibrahim berbinar.
Caca mengangguk, "Iya kek. Caca sangat serius. Nanti Caca akan meminta bantuan juga ke Aril, Naufal dan Elang," jawabnya dengan menggebu-gebu.
Tuan Ibrahim tersenyum, "Kamu suka dengan Aril?" tanyanya. Sontak membuat Caca terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Hah? Nggak kok, kek!" elaknya.
"Kakek tidak bisa kamu bohongi, Caca. Dari tatapan mu ke Aril sangat berbeda ketika kamu menatap orang lain," kata tuan Ibrahim. Sudah lama kakek tua itu melihat gerak-gerik cucu perempuannya ketika berhadapan dengan Aril. Caca dibuat salah tingkah oleh perkataan kakeknya yang benar adanya.
"Caca memang suka dari dulu sama--"
"Selamat pagi, Ketua, Nona," potong Aril menghentikan obrolan antara kakek dan cucu itu.
"Eh Aril! Selamat pagi. Kau mau menjemput Caca?" tanya tuan Ibrahim.
"Ya Tuan. Saya ingin mengajak nona Caira untuk liburan ke puncak, jika Tuan mengizinkannya," ujar Aril dengan sopan.
Inilah yang membuat tuan Ibrahim begitu suka kepada Aril. Sopan, cerdas dan dapat dipercaya. Jika nanti Caca menikah dengan Aril, beliau adalah orang pertama yang akan merestui hubungan mereka. Tidak peduli dengan perbedaan kasta mereka.
Tuan Ibrahim tersenyum, "Silahkan, saya mengizinkannya. Asalkan kau bisa menjaga cucuku dengan baik."
"Saya akan menjaga nona Caira semampu saya, Tuan."
Caca tersenyum mendengarnya, "Ayo, Ril. Kita berangkat sekarang."
"Baik, Nona."
Setelah mengantar tuan Ibrahim masuk ke dalam rumah, mereka pun berpamitan. Aril membawa tas besar dan koper milik Caca.
"Biar aku aja yang bawa," ucap Caca. Ia begitu sungkan melihat Aril yang membawa koper dan tas miliknya.
"Biar aku aja."
Caca hanya mengangguk pasrah. Aril memasukkan barang-barang bawaan Caca ke dalam bagasi mobil. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Kita hanya berdua, Ril? Em... maksud aku apa kita akan berangkat samaan dengan keluargamu?" tanya Caca sedikit meralat ucapannya.
"Keluargaku sudah berangkat duluan tadi. Jadinya kita akan menyusul kesana," jelas Aril.
"Oh gitu."
Selama diperjalanan ada saja yang Caca bicarakan, sifat cerewet dan cerianya masih sama seperti dahulu.
"Apa kamu senang kembali ke--" Belum selesai Aril berbicara, saat ia menatap ke arah Caca, ternyata wanita itu sedang tertidur. Aril geleng-geleng kepala melihatnya dan membiarkan Caca tertidur tanpa mengganggunya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.