
Hari ini mata pelajaran siswa-siswi kelas XI IPS 2 adalah olahraga atau biasa disebut penjaskes. Mereka di gabung dengan kelas XI IPA 3 yang merupakan kelas dari Bianca dan gengnya. Pak Reyhan sebagai guru olahraga, menyuruh semua siswa-siswi untuk membagi kelompok, 1 kelompok terdiri atas 5 orang.
Siswa laki-laki akan bermain futsal sedangkan siswa perempuan akan bermain basket. Kelompok pertama yang akan bermain basket adalah kelompok dari tim Caca melawan kelompok dari tim Bianca. Suara peluit pun dibunyikan guru olahraga dan mereka mulai bermain.
Baru beberapa menit Caca sudah memasukkan bola ke dalam ring, membuatnya sangat senang. Ternyata ajaran dari Aril tak sia-sia. Aril yang sedang bermain futsal tak sengaja melihat saat Caca memasukkan bola basket ke dalam ring membuat Aril menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Bianca kesal melihatnya dan tentu tidak membiarkan tim Caca memang begitu saja. Ia berinisiatif untuk mencelakakan Caca. Ketika Bianca akan mencoba mengambil bola basket dari tangan Caca, dengan sengaja ia menjegal kaki Caca, membuat gadis itu tersungkur ke depan.
"Akkhh!" Caca meringis, sepertinya kaki gadis itu terkilir dan terlihat luka di lutut Caca.
"Caca!" teriak Lala lalu menghampiri Caca.
"Lo nggak kenapa-napa kan, Ca?" tanya Lala khawatir.
"Kaki gue sakit, La," jawab Caca jujur.
Lala mengalihkan pandangannya ke arah Bianca dan menatap tajam gadis itu. Lala yang tak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu langsung melabrak Bianca.
"Apa maksud lo ngelakuin itu ke temen gue hah!" sentak Lala.
"Ups, sorry gue nggak sengaja," ucap Bianca tersenyum menyeringai.
"Lo!" geram Lala hendak menjambak rambut Bianca namun di tahan dengan ucapan pak Reyhan.
"Sudah cukup! Lala kamu bawa Caca ke UKS!" perintah pak Reyhan.
"Biar saya saja yang bawa Caca ke UKS," ucap Aril tiba-tiba. Aril merasa khawatir saat melihat Caca terjatuh tadi, makanya Aril langsung berlari menghampiri Caca.
"Baiklah Aril, kamu saja yang bawa Caca ke UKS," imbuh pak Reyhan.
Aril mengangguk, tanpa berlama-lama lagi kedua tangannya membopong tubuh Caca membuat semua siswa yang melihat kaget dengan hal itu dan mereka mulai berbisik-bisik dengan kedekatan antara Aril dan Caca.
Bianca berdesis tak suka, ia iri dengan Caca yang selalu mendapatkan perhatian dari cowok-cowok populer di sekolah. Sementara itu Caca juga kaget bercampur malu dengan tindakan Aril yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya, padahal dirinya masih bisa berjalan.
"Ril, turunin gue. Gue masih bisa jalan kok," cicit Caca.
"Udah lo diem aja!" ucap Aril tanpa melihat Caca dan fokus ke depan.
Sesampainya di UKS, Aril menurunkan Caca di ranjang rawat.
__ADS_1
"Ini yang sakit?" tanya Aril sambil memegang kaki Caca.
"Awwww, iya Ril," jawab Caca meringis.
"Sepertinya kaki lo terkilir," ucap Aril. Tak lama petugas kesehatan yang berjaga di UKS datang menghampiri mereka.
"Ada yang saya bantu dek?" tanyanya.
"Ini Bu, kaki teman saya terkilir," jawab Aril.
"Coba saya periksa dulu," ucap petugas kesehatan itu. Aril mundur beberapa langkah, memberikan tempat untuk petugas kesehatan itu memeriksa Caca. Benar saja, kaki Caca memang terkilir.
"Terkilir nya tidak cukup parah, nanti akan saya perban ya kakinya? Agar mengurangi rasa sakit pada kaki nak Caca," ucap petugas kesehatan itu sambil melihat name tag di baju Caca.
Caca hanya mengangguk pasrah daripada kakinya nanti akan bertambah sakit.
Petugas kesehatan itu pun langsung membalut perban di kaki Caca menggunakan General Care Elastic Bandage atau perban elastis yang bisa dipakai untuk pemulihan keseleo dan terkilir. Tak lupa juga lutut Caca yang terluka di obati dengan antiseptik agar tidak terinfeksi nantinya.
Setelah selesai, petugas kesehatan itu pun pamit undur diri, lalu pergi meninggalkan Aril dan Caca berdua.
"Hanya itu aja kan yang luka?" tanya Aril.
"Iya itu aja kok Ril," jawab Caca, ia bahagia jika Aril sudah perhatian dengannya.
"Iya Ril, nanti gue telpon pak Udin."
"Kalau gitu lo istirahat aja disini, nanti biar gue izinin lo ke guru pelajaran kita selanjutnya. Gue mau masuk ke kelas mau ganti baju, soalnya jam pelajaran penjaskes udah selesai," ujar Aril.
"Iya Ril, makasih ya tadi udah bawa gue UKS," ucap Caca.
Aril hanya berdehem kemudian pergi keluar dari UKS tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Caca merebahkan tubuhnya di ranjang rawat sambil menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Kapan ya gue bisa meluluhkan hati Aril?" gumam Caca.
Irsyan mengajak Aurora pergi ke Mall untuk membeli perlengkapan bayi seperti janjinya kemarin. Kemarin di rumah orang tua Irsyan membuat acara syukuran tujuh bulanan Aurora, didatangi banyak orang, dari sahabat, partner bisnis Irsyan serta Harun, rekan kerja Alfian dan banyak lagi. Tak terkecuali ibu Ega dan anak-anak panti yang memang sengaja di undang oleh Irsyan dan Aurora.
"Mau ke bagian mana dulu sayang?" tanya Irsyan setelah mereka di dalam salah satu baby shop.
__ADS_1
"Mau ke tempat baju dulu Mas," jawab Aurora yang sangat excited ketika Irsyan mengajaknya ke tempat baby shop ini.
Aurora dan Irsyan memilih beberapa baju bayi yang berwarna netral karena mereka tidak mengetahui jenis kelamin sang anak. Lalu pergi ke tempat box bayi berada.
"Aku mau yang warna putih ini ya Mas?" pinta Aurora.
"Iya sayang."
Irsyan pun memanggil pramuniaga untuk memberitahukan pesanan mereka. Setelah ke tempat box bayi, Aurora dan Irsyan menuju ke tempat stroller bayi.
Aurora sangat gemas melihat semua stroller bayi tersebut, apalagi melihat stroller untuk bayi kembar.
"Jadi pengen punya bayi kembar," ucap Aurora.
"Nanti kalau anak kita yang ini sudah berusia 2 tahunan, kita ikut program bayi kembar ya sayang, gimana?" usul Irsyan membalas ucapan Aurora tadi.
"Tapi kan kemarin kita sepakat untuk punya 2 anak Mas," imbuh Aurora.
"Gapapa sayang, banyak anak banyak rezeki," ucap Irsyan.
"Iya aku tau Mas, tapi sedikasihnya aja sama Allah. Aku juga sebenarnya ingin punya banyak anak, sekiranya 3 atau 5 anak. Agar rumah kita selalu ramai," ujar Aurora sambil membayangkan jika dirinya memiliki banyak anak nantinya.
Setelah puas berbelanja, Irsyan pun mengajak Aurora pergi restoran yang ada di dalam gedung Mall untuk makan siang.
"Ini Tuan, Nyonya pesanannya," ucap seorang waiters menaruh satu persatu pesanan Aurora dan Irsyan.
"Terima kasih," ucap Aurora.
"Sama-sama Nyonya." Waiters itu pun mengundurkan diri dari meja Aurora dan Irsyan. Mereka pun mulai menyantap makanan pesanan mereka, tapi hanya beberapa sendok yang masuk ke dalam mulut Aurora. Setelah itu bumil cantik itu tak lagi menyentuh makanannya dan lebih memilih memakan es krim.
"Kok berhenti makannya sayang?" tanya Irsyan heran.
"Aku sudah kenyang Mas," jawab Aurora.
"Tapi kan kamu makan hanya beberapa sendok, ayo dimana lagi," suruh Irsyan.
"Nggak Mas, biar Mas aja yang habiskan makanan aku."
"Tapi kan Mas punya makanan sendiri," ucap Irsyan.
__ADS_1
"Ih pokoknya Mas harus habiskan makanan aku atau nanti malam tidur di luar?" ancam Aurora. Kalau ibu negara sudah mengeluarkan ultimatum seperti itu, mau nggak mau Irsyan pun harus menurutinya.
...----------------...