GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 106


__ADS_3

Setelah seminggu kepulangan dari desa U, Aji langsung gerak cepat membawa orang tuanya untuk pergi ke rumah orang tua Vania untuk melamar anak gadisnya itu. Aji meralat keinginannya hanya bertunangan saja, ia ingin segera menikahi Vania setelah lamaran nanti.


Mungkin 3 minggu atau sebulan lagi Aji dan Vania akan melangsungkan pernikahan mereka, walaupun Vania harus melakukan hubungan jarak jauh dengan Aji nanti karena ia harus kembali ke Aussie untuk melanjutkan perkuliahannya disana dan Aji tidak mempermasalahkan hal itu yang terpenting Vania sudah menjadi miliknya.


Vania yang libur hanya 1 bulan, harus mengambil cuti lagi untuk 2 minggu.


Acara lamaran tersebut dilangsungkan pada malam hari, tepatnya sehabis magrib. Evi sang Mami dan Jihan sang Tante menyiapkan untuk menyambut kedatangan keluarga Aji.


Sedangkan Vania tidak diperbolehkan sang Mami untuk membantu mempersiapkan keperluan tersebut. Ia hanya disuruh bersantai sambil merawat diri di salon.


Malam harinya, Vania telah siap dengan kebaya modern lengan panjang warna mint dengan payet bunga kecil dan dipadukan dengan rok batik hingga mata kaki. Ditambah dengan perhiasan anting dan rambut yang sanggul sederhana, walaupun simple tapi penampilan Vania sangat anggun bak putri keraton.


"Cantik banget sih mbak," ucap MUA yang mendadani Vania.


"Hehe makasih mbak," balas Vania tersipu.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu dari luar kamar Vania.


"Buka aja!" teriak Vania dari dalam.


Pintu kamarnya terbuka ternyata Aurora dan Irsyan lah yang memasuki kamarnya itu.


"Masya Allah, adiknya kakak cantik banget malam ini," puji Irsyan pada penampilan adik sepupunya itu.


"Ya iyalah keturunan siapa dulu dong? Keluarga Candra!" balas Vania membanggakan keluarganya membuat Aurora dan Irsyan langsung tertawa.


"Ya udah sekarang kita ke bawah yuk, calon suami lo udah nungguin tuh," ajak Aurora.


"Oke." Mereka bertiga pun keluar dari kamar Vania. Lalu sampailah mereka di ruang tengah yang sudah di dekorasi yang umumnya digunakan untuk acara tunangan.

__ADS_1


Disana sudah banyak tamu yang datang, terutama Aji yang sangat gagah dengan penampilannya malam ini, ia menggunakan baju batik dipadukan dengan celana kain hitamnya. Aji tersenyum melihat kedatangan Vania, begitupun juga Vania langsung mengembangkan senyumannya saat saling tatap dengan Aji.


Di tengah-tengah sudah di sediakan kursi-kursi yang akan untuk di duduki oleh Aji, Vania dan kedua orang tua mereka. Kemudian Vania duduk berdampingan dengan kedua orang tuanya dan Aji pun seperti itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebentar lagi kita sama-sama akan menyaksikan prosesi acara khitbah atau lamaran dari ananda Vania Chandramaya binti bapak Hasbi Candra yang tentunya pada hari ini alhamdulilah sudah di dampingi oleh kedua orang tuanya, bapak Hasbi Candra dan ibu Evi Pratiwi," ucap seorang pembawa acara atau MC.


"Insya Allah pada malam ini akan di khitbah atau di lamar oleh ananda Aji Sanjaya merupakan putra dari pasangan bapak Ilham Sanjaya dan ibu Aulia Putri ..."


Setelah itu di awali dengan ceramah singkat yang diberikan oleh seorang ustadz lalu sambutan-sambutan yang sampaikan oleh Hasbi dan Ilham selaku orang tua. Setelah itu acara inti pun segera dimulai.


"Tepat 5 setengah tahun aku menunggumu dan perasaan cinta itu semakin hari semakin bertambah padamu. Momen bertatapan langsung sangatlah jarang, hubungan jarak jauh ini adalah tantangan terbesar kita ..." ucap Aji sambil menatap Vania dengan tatapan penuh cinta dan kasih.


Selama hampir 6 tahun ini Aji dan Vania menyembunyikan hubungan mereka tanpa ada yang tau, terutama keluarga dan sahabat mereka. Aji dan Vania menjalin hubungan saat Vania masih duduk di kelas 3 SMA sedangkan Aji saat itu sudah berkuliah.


"Waktu berkualitas bersama itulah yang selalu ku impi-impikan untuk bisa kujalani bersamamu. Setiap saat, setiap waktu dimanapun aku berada. Pujaan hatiku, jantungku selalu berdebar setiap kali ku ucapkan panggilan itu padamu ..." Pipi Vania langsung merah merona saat Aji mengatakan itu.


"Terlebih lagi sekarang saat kamu berada di depanku tampil cantik, mempesona dan tersenyum dengan manisnya. Insya Allah aku berjanji sesuai dengan ajaran islam untuk selalu berusaha dengan segala kemampuanku untuk menjaga anak bapak dan Ibu di dunia dan mempersiapkan diri untuk di akhirat ..." Mata Aji menatap orang tua Vania dan kembali menatap ke arah Vania.


"Bagaimana mba Vania? Apakah diterima lamaran dari mas Aji?" tanya pembawa acara itu pada Vania.


"Bismillahirrahmanirrahim, kalau Papi dan Mami meridhoi insya Allah saya juga menerimanya," balas Vania membuat semua mengembangkan senyum bahagia dan lega, terutama Aji.


"Saya berterima kasih kepada kak Aji karena telah mencintai dan menunggu saya selama 5 tahun ini secara tulus dan ikhlas. Selalu bisa membuat saya tersenyum ketika saya sedang bersedih, membantu saya ketika saya mengalami kesusahan dan kesulitan ..."


Vania mengingat bagaimana dulu Aji menghiburnya ketika ia sedih, membantunya ketika ia kesusahan dan mensupport dirinya yang tengah dalam keadaan terpuruk, bahkan pada saat itu mereka belum berstatus pacaran.


"Kak Aji, walaupun kita sering terpisah oleh jarak, tapi kamu selalu membuat saya merasa dekat dengan kamu. Kamu selalu ada untuk saya dan bersyukur atas apa yang telah saya miliki dan apa yang telah saya raih, tapi kamu juga bisa menjadi orang yang memotivasi saya, mendorong saya untuk menjadi orang yang lebih hebat lagi, lebih baik lagi," ucap Vania dengan nada yang mulai bergetar menahan tangis, bahkan semua orang yang mendengarnya jadi ikut terharu, bahkan menangis.


Aurora pun sampai nangis tersedu-sedu, ia terharu mendengar perjuangan cinta antara Aji dan Vania selama 5 tahun lebih itu, banyak rintangan, suka dan duka melewati itu semua.


Begitupun juga dengan Irsyan yang ikut terharu, ia tak menyangka ternyata adik sepupu dan sahabatnya itu sudah lama menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi, walaupun begitu ia berharap semoga mereka berdua selalu bahagia.

__ADS_1


"Saya berdoa kepada Allah SWT., semoga Allah selalu memberikan kamu kesehatan dicukupkan rezeki mu, menyempurnakan iman dan akhlak mu agar nanti kamu bisa menjadi imam ku dan bisa menjadi pendamping hidupku."


Aji pun tak bisa menahan air matanya, mendengar kata-kata dari gadis yang sebentar lagi menjadi calon istrinya itu.


Setelah itu Aji dan Vania naik ke atas panggung kecil yang sudah disediakan disana dan diikuti oleh Evi dan Aulia selaku ibu dari mereka. Di jari masing-masing dipasangkan cincin tanda jika mereka telah bertunangan. Aulia pun memasangkan kalung bermatakan berlian di leher jenjang Vania.


Setelah selesai dilanjutkan dengan acara berfoto dan ramah tamah dengan tamu undangan.


"Selamat bro, gue titip adik gue ke lo," ucap Irsyan pada Aji.


"Pasti, Syan."


"Selamat ya Vania, penantian panjang akhirnya terbayarkan juga, bentar lagi ada yang jadi Nyonya Sanjaya nih," goda Aurora pada Vania, membuat pipi Vania mengeluarkan semburat merah.


"Makasih kakak ipar."


Tak lama ketiga sahabatnya juga menghampiri Aji dan Vania, yang tak lain adalah Satria, Rilen dan Beni.


"Wah bentar lagi ada yang akan melepas status jomblo ngenes nih," celetuk Rilen.


"Sorry ya bro, sebenernya gue itu nggak jomblo, tapi ya gue sengaja menyembunyikan hubungan gue sama Vania," sungut Aji membalas ucapan Rilen, sahabat laknatnya.


"Keren ya lo, hampir 6 tahun hubungan lo sama Vania nggak di tau oleh siapapun," timpal Satria.


"Ya iyalah, Aji gitu loh!" jawab Aji dengan bangga membuat sahabat-sahabatnya memutar malas matanya dan mendengus.


"Ingat jangan sakiti Vania, dia itu sudah kita anggap seperti adik kami sendiri," pesan Beni.


"Siap pak manager!" balas Aji.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2