
Siang harinya Aurora dan Irsyan pulang dari villa. Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh Jihan, Fani dan Alvaro yang ternyata berada di rumah mereka. Setelah salaman dan saling berpelukan, mereka semua memutuskan duduk di sofa.
"Halo dedek bayi, kak Al rindu dengan dedek bayi," ucap Alvaro yang seolah-olah sedang berbicara dengan bayi yang ada di kandungan Aurora. Semuanya langsung terkekeh mendengar ucapan dari bocah tampan itu.
"Dedek bayi juga rindu dengan kakak Alvaro," balas Aurora menggunakan suara anak kecil.
"Dedek bayinya kapan keluarnya, Tante? Al sudah tidak sabar ingin bermain dengannya," tanya Alvaro.
"Tinggal sebentar, Alvaro sabar ya tungguin dedek bayinya lahir," timpal Irsyan. Alvaro hanya manggut-manggut lucu sambil mengelus perut buncit Aurora membuat semua yang melihatnya pasti merasa gemas.
"Kalian belum mengetahui jenis kelamin anak kalian?" tanya Jihan.
"Bukannya belum Ma, kami memang tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak kami. Biar jadi kejutan saja, mau laki-laki atau perempuan yang penting dia terlahir sehat," jelas Irsyan.
Jihan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Terserah kalian saja, tapi ingat jaga asupan gizi Aurora, sering-sering makan buah dan sayuran serta jangan lupa minum vitamin, agar anak di dalam kandungan Aurora sehat," perintah Jihan.
"Siap Ma," jawab Aurora dan Irsyan serempak.
Salah satu asisten rumah tangga yang bernama Bina, anak dari Bu Uyun mengatakan jika makanan untuk makan siang sudah siap dan mereka semua pun pergi ke ruang makan.
Setelah selesai makan mereka duduk bersantai di ruang keluarga.
"Tante tau tidak, Moymoy sedang hamil seperti Tante sekarang ini," ucap Alvaro. Moymoy merupakan nama kucing milik Alvaro.
Aurora menaikkan satu alisnya, "Oh ya?"
"Iya Tante, Al jadi tidak sabar menunggu anak-anaknya Moymoy," ujar Alvaro antusias.
"Kok Moymoy bisa hamil, kak? Kan di rumahnya kakak nggak ada kucing jantan," tanya Irsyan heran seraya menatap ke arah Fani.
"Biasalah Syan, kucing tetangga yang kawinin si Moymoy!" celetuk Fani.
"Padahal gerbang udah di kunci, tapi herannya masih aja tu kucing milik tetangga bisa masuk ke rumah dan bisa-bisanya si Moymoy santai aja pas dikawinin!" lanjutnya dengan nada gregetan dan ucapannya sukses membuat semuanya terkekeh.
Malamnya, Aurora dan Irsyan pergi ke salah satu restoran milik Jihan. Disana mereka akan bertemu dengan sahabat-sahabat dari Aurora. Sebenarnya yang mengajak mereka bertemu itu adalah Wawan, katanya ada sesuatu yang akan lelaki itu berikan kepada mereka.
"Lo mau kasi kita apa sih, Wan? Sampai suruh kita kumpul gini," tanya Andre penasaran.
"Tunggu Mila datang dulu, baru gue kasi," ujar Wawan membuat Andre langsung mendengus kesal.
Tak lama orang yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
__ADS_1
"Assalamualaikum guys," ucap Mila yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua. Mila lalu duduk di antara Aurora dan Kiran.
"Maaf gue lama, soalnya tadi gue anter kakak ipar gue ke klinik dulu bentar," ujar Mila.
"Iya gapapa, santai saja. Kami juga baru pada datang kok," timpal Aurora.
Wawan mulai mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dibawanya, ternyata sebuah undangan pernikahan.
"Kalian datang ya ke pernikahan gue sama Nina, seminggu lagi," ucapnya. Awalnya hubungan Wawan dan Nina ditentang habis-habisan oleh kedua orang tua Wawan, saat mereka mengetahui jika Nina seorang janda dan ayahnya seorang tawanan polisi.
Tapi Wawan terus memperjuangkan Nina, hingga pada akhirnya orang tuanya pasrah dan merestui hubungan mereka.
"Wah selamat Wawan, seneng deh sahabat gue yang satu ini mau nikah," seru Mila.
"Iya akhirnya ada yang bentar lagi melepaskan perjakanya nih," canda Kiran menimpali. Semuanya tertawa mendengar candaan Kiran.
"Kalau lo kapan, Mil?" tanya Wawan.
"Maunya sih sekarang, tapi kan belum ada jodoh, gimana dong?" ucap Mila.
"Lo mau gue kenalin sama salah satu temen gue?" tawar Andre.
"Lah kenapa? Ganteng-ganteng loh temen gue," ucap Andre.
"Iya gue tau, tapi temen-temen lo nggak ada yang bener! Lo tau kan gue nggak suka sama anak motor!"
Andre berdecak sebal, "Serah lo deh!"
Disaat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba ponsel Irsyan berdering. Tapi ia izin kepada istrinya untuk mengangkat telpon diluar karena kondisi di dalam restoran tersebut cukup ramai dan ribut.
Cukup 7 menit Irsyan berbicara dengan orang yang menelponnya tadi, kemudian ia kembali.
"Siapa yang nelpon Mas?" tanya Aurora.
"Oh itu tadi Satria yang nelpon," jawab Irsyan. Jawaban Irsyan tadi membuat Mila langsung menatap ke arahnya.
"Ada apa ya bang Satria nelpon Mas?" tanya Aurora lagi sebab dirinya yakin Mila juga penasaran.
"Dia kasi tau Mas, katanya bulan depan atau setelah Aisha balik lagi ke Indonesia, dia mau ngelamar Aisha," jelas Irsyan.
__ADS_1
Bagai disambar petir, Mila benar-benar terkejut mendengar ucapan dari suami sahabatnya itu. Aurora dan Kiran pun tak kalah ikut terkejut.
"Beneran Mas?" Aurora bertanya pada Irsyan tapi matanya melihat ke arah Mila yang raut wajahnya terlihat syok itu.
"Iya sayang, kemarin waktu Satria dan keluarganya ke kota Y itu, sebenarnya mereka pergi untuk mengkhibah Aisha."
JEDERRR!
Hati Mila terasa sangat sesak mendengarnya, bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca, tapi ia berusaha mati-matian menahan agar air matanya tidak terjatuh, bahkan tangannya pun ikut merem*s rok yang dikenakannya.
'Ya Allah nyesek banget,' lirih Mila dalam hatinya. Aurora dan Kiran juga sedih, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Mila, yakni ketika laki-laki yang kita sukai harus bersanding dengan wanita lain.
Sudah tak tahan lagi, Mila memilih izin pamit pulang kepada sahabat-sahabatnya, ia tak ingin mereka melihat kesedihannya. Aurora dan Kiran menatap sendu punggung Mila yang sedang berjalan sambil menunduk itu.
Mila mengendarai sepeda motornya dan air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Mila melipir ke sebuah taman yang cukup sepi.
"Ya Allah, gini banget rasanya mau di tinggal nikah sama orang yang kita suka," lirih Mila seraya memegang dadanya yang terasa sakit.
Tangis Mila semakin pecah, apa mulai sekarang dirinya harus mengubur dalam-dalam perasaannya kepada Satria? Tapi itu sangat susah, karena Mila terlalu mencintai lelaki itu. Lelaki yang membuat Mila membuka hati kembali kepada laki-laki lain.
Apa doanya kurang khusyuk? Sehingga Tuhan tidak mengabulkan doanya. Mila langsung mengucapkan istighfar saat hatinya berkata seperti itu. Mungkin Satria memang bukan jodoh yang tepat untuknya dan Mila yakin, Tuhan telah menyiapkan lelaki pengganti yang jauh lebih baik dari Satria.
Tiba-tiba saja seseorang menyodorkan tisu kepadanya, lantas Mila mendongak menatap orang tersebut.
"Zain!" pekik Mila melihat Zain berada di depannya.
Zain tersenyum, "Ambil mbak, buat hapus air mata lo," suruhnya. Mila pun mengambil tisu tersebut dari tangan Zain, tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan segera menghapus air matanya.
Zain duduk di sebelah Mila, "Ngapain nangis disini malam-malam begini, mbak? Nggak takut apa nanti yang ada nanti mbak di kira Kunti lagi sama orang-orang," seloroh Zain.
Mila mendengus sebal, "Gue cuma pengen cari angin aja disini."
"Cari angin kok nangis gitu? Udah jangan nangisin cowok yang sudah menyakiti, Mbak. Air mata mbak Mila itu sangat berharga untuk menangisi cowok brengsek seperti dia," nasihat Zain.
Mila tersenyum kecut, bukan lelaki itu yang menyakitinya, tapi dirinya yang terlalu berharap kepada Satria.
Pukul setengah 3 pagi, Mila terbangun dari tidurnya, matanya menyipit gara-gara semalaman ia menangis. Ia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah selesai sholat tahajud, Mila berdoa dan kembali menangis sesenggukan. Ia berdoa supaya secepatnya bisa melupakan dan mengikhlaskan Satria dimiliki oleh wanita lain serta berharap segera mempertemukannya dengan jodohnya versi tebaik menurut Allah.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.