GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 99


__ADS_3

Pukul 5 sore Irsyan serta rekan kerja lainnya pulang menuju mess tentunya dengan membawa sang istri dan sepupunya untuk tinggal disana karena di desa U tidak ada hotel, villa atau semacamnya.


"Terus aku tidur dimana kak?" tanya Vania.


"Lo tidurnya di loteng!" celetuk Aji.


"Katak gurun!" geram Vania melotot kan matanya ke arah Aji.


"Eh enak aja aja panggil gue bilang gitu, dasar curut got!" balas Aji. Berbeda dengan hatinya, yang sangat merindukan panggilan itu keluar dari bibir ranum Vania.


"Lo ya!"


"Vania!" tegur Irsyan menatap tajam Vania membuat nyali Vania seketika menciut melihat tatapan dari kakak sepupunya.


"Iya maaf kak."


"Ada satu kamar kosong di samping kamar Aji, nanti kamu tidur disana, walaupun kecil tapi nyaman kok," jelas Irsyan yang melihat keresahan sang adik sepupu sebab setahunya Vania tidak pernah mau tidur di tempat yang kecil dan kotor.


"Tapi ada AC nya kan?" tanya Vania lagi.


"Nggak pakai AC, tapi kipas angin." Bahu Vania langsung merosot saat mendengar jika tidak ada AC di kamar yang akan ia tempati.


"Ya udah deh gapapa, daripada kepanasan nantinya."


Irsyan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamarnya, kamar tersebut lumayan luas tapi tak seluas kamar Irsyan yang ada di rumah, maklum saja namanya juga mess.


"Semoga kamu betah disini sayang," ucap Irsyan sambil memeluk tubuh Aurora dari belakang dan mendusel di leher istrinya, aroma bunga mawar menyeruak masuk ke hidung Irsyan.


"Iya pasti Mas." Aurora berbalik menghadap Irsyan, kemudian mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Mas ..."


"Kenapa sayang?" Irsyan sedikit menunduk menempelkan keningnya di kening Aurora, hidungnya pun sampai bersentuhan dengan hidung istrinya, jarak bibir mereka hanya 3 centi saja.


"Aku kangen," ucap Aurora malu-malu.


"Kangen ya?" Aurora mengangguk, pelan tapi pasti Irsyan menyesap bibir mungil Aurora. Tangan kekarnya memegang kedua pipi sang istri lalu memiringkan nya membuat tangan Aurora yang berada di leher Irsyan kini memegang kuat baju seragam sang suami.


Lama kelamaan keduanya lebih intens. Irsyan mengigit bibir mungil Aurora membuat sang empu sedikit kaget dan refleks membuka mulutnya, kesempatan bagi Irsyan untuk bermain lidah dan mengabsen seluruh rongga mulut Aurora.


Untuk lebih mempererat ciuman mereka, Irsyan menahan tengkuk Aurora dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mulai bergerak mengelus punggung istrinya.


"Ummm Mas." Aurora mencoba melepas paksa ciuman maut suaminya karena ia merasa pasokan oksigen dalam tubuhnya menipis.


"Kenapa di lepas sih sayang?" tanya Irsyan tak suka dengan pandangan mata sayu, padahal gairahnya mulai membumbung tinggi.


"Tadi aku hampir kehabisan nafas Mas karena Ciuman Mas terlalu ganas!" kesal Aurora.

__ADS_1


"Makanya kamu harus bisa menyeimbangi ciuman dari Mas."


"Nggak! Lebih baik sekarang Mas mandi dulu, udah mau magrib loh ini!" suruh Aurora.


"Aaaa mau lanjutin yang tadi," rengek Irsyan kembali memajukan bibirnya ke bibir Aurora. Namun Aurora mendorong tubuh suaminya.


"Iya nanti malam kita lanjutin, tapi sekarang Mas mandi dulu, oke?" bujuk Aurora, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Irsyan pun mengangguk menuruti perintah dari istrinya.


"Tapi mau yang lebih ya sayang?" pinta Irsyan menaikturunkan alisnya.


"Tapi nanti suara kita didengar sama teman-temannya Mas gimana? Kamar ini pasti nggak kedap suara," ucap Aurora.


"Tenang saja sayang, mereka pasti bakal mengerti kok," balas Irsyan menenangkan sang istri yang sepertinya gelisah jika mereka melakukan hubungan badan disini.


"Ya sudah terserah Mas aja. Sana mandi dulu," suruh Aurora lagi.


"Samaan ya sayang?" pinta Irsyan.


Aurora menatap curiga suaminya, "Tapi kita mandi aja kan, Mas?"


"Iya kita cuma mandi aja sayang, Mas janji nggak bakal apa-apakan kamu di kama mandi," janji Irsyan. Aurora mengangguk menyetujui, untung saja kamar mandinya berada di dalam kamar, kalau tidak Aurora bakal menolak ajakan suaminya itu.


...****************...


Mila baru saja pulang bekerja, diperjalanan tak sengaja ia melihat seorang ibu-ibu sedang mencoba melihat mesin mobilnya yang sepertinya mogok. Mila pun berinisiatif untuk membantu ibu tersebut.


"Eh ini mobil saya mogok, nak. ibu mau coba-coba untuk memperbaikinya tapi nggak bisa, mana Ibu mau jemput anak Ibu yang lagi les, pasti dia lagi nunggu ibu sekarang," jelas Ibu-ibu tak kalah ramahnya.


"Gimana kalau Bu ..."


"Oh ya nama saya Lena, nak," ucap Lena memperkenalkan diri.


"Oke bu Lena, gimana kalau ibu saya bonceng terus saya antar ke tempat les anaknya?" usul Mila menawarkan tumpangan.


"Memangnya nggak ngerepotin kamu nak?" tanya kena sungkan.


"Tentu saja tidak Bu, saya ikhlas membantu Ibu," jawab Mila tersenyum.


"Terima kasih nak, tunggu sebentar ya? Saya kunci mobil dulu, mungkin nanti mobil ini biar orang suruhan saya yang ambil kesini dan membawanya ke bengkel," ujar Lena lalu mengambil barang-barangnya di dalam mobil, setelah itu ia mengunci mobilnya.


"Maaf ya Bu, kalau nggak ada helm lagi soalnya saya hanya membawa satu aja."


"Gapapa, makasih kamu sudah menolong Ibu, nama kamu siapa?" tanya Lena pada Mila.


"Nama saya Mila. Ayo naik Bu," suruh Mila. Mila pun kembali melajukan motornya sebelum itu ia menanyakan tempat les anak dari Bu Lena. Setelah sampai mereka pun turun lalu menemui anak dari Ibu Lena.


"Bunda!!!" panggil seorang anak laki-laki berlari menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Maaf ya Bunda telat jemput Rifqi, soalnya tadi mobil Bunda mogok ditengah jalan dan untungnya ada kakak cantik ini yang nolongin Bunda," ucap Lena menjelaskan pada putranya yang baru berusia 9 tahun itu.


Mila menundukkan sedikit badannya, "Halo," sapanya ramah.


"Hai kakak cantik, makasih ya udah nolongin Bunda aku," ucap anak laki-laki yang dipanggil Rifqi tadi.


"Iya sama-sama, nama kamu siapa ganteng?" tanya Mila.


"Nama aku Rifqi Adikarya, panggil aja aku Rifqi. Kalau nama kakak siapa?" tanya Rifqi balik.


"Nama kakak, Mila Agustina. Panggil aja kak Mila, oke?"


"Siap kak," ucap Rifqi dengan antusias.


"Ya sudah kita balik yuk, sekalian nak Mila kamu nanti mampir dulu ke rumah saya ya buat makan malam, mau kan?" Lena menawarkan Mila untuk makan malam di rumahnya. Mila diam sebentar, ia tak enak hati untuk menolak ajakan dari ibu Lena, lalu Mila pun mengangguk.


"Boleh Bu."


"Nah, ayo ke rumah Ibu."


Akhirnya mereka sampai di rumah Lena. Lena menyuruh anaknya masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Mila berinisiatif membantu Lena untuk memasak.


"Kamu kerja dimana nak?" tanya Lena.


"Saya kerja di kantor walikota, Bu," jawab Mila.


"Oh gitu. Eh iya, jangan panggil Ibu dong, panggil Bunda aja karena itu sepertinya lebih enak didengar," ucap Lena.


"Oke siap Bunda."


"Nanti Bunda kenalin kamu ya sama anak Bunda yang satunya lagi, dia sampai sekarang masih betah menjomblo padahal dia tampan dan udah mapan juga, entah kenapa dia sampai sekarang masih belum punya calon istri," ucap Lena menceritakan tentang anak sulungnya.


"Mungkin dia belum menemukan perempuan yang tepat menurutnya Bun," timpal Mila.


"Ya mungkin seperti itu nak."


Suara sepatu pantofel menggema di dalam rumah tersebut. Orang itu lalu menghampiri sang ibunda yang berada di dapur, tapi ia mengerutkan kening dan penasaran siapa perempuan yang bersama dengan bundanya itu.


"Bunda!"


Kedua perempuan berbeda generasi itu pun melihat ke arah sumber suara.


"Lo!"


"Lo!"


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2