GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 72


__ADS_3

Malam harinya, Mila keluar mencari makan ke kantin rumah sakit, karena cacing-cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta minta diisi. Mila memesan makanan favoritnya yakni nasi goreng seafood, saat ingin berbalik setelah selesai memesan makanan, dia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Astaga maaf-maaf mbak, saya nggak sengaja," ucap orang yang bertabrakan dengan Mila itu.


"Ya gapapa kok Mas," balas Mila mendongak menatap orang tersebut.


"Mas Satria!" ucap Mila yang terkejut melihat orang yang nabraknya adalah Satria, pria yang beberapa bulan ini mengisi pikirannya.


"Eh Mila! Lo beneran gapapa kan?" Satria juga cukup terkejut ternyata perempuan yang ditabraknya adalah Mila.


"Iya gue gapapa kok Mas," ucap Mila tersenyum tipis.


"Syukurlah, lo disini ngapain?" tanya Satria.


"Gue disini jaga nyokap yang lagi sakit," jawab Mila menatap Satria, mata hitam legam milik Satria membuat Mila terpana, apalagi saat melihat Satria menggunakan seragam polisinya seperti sekarang membuat tingkat ketampanannya semakin bertambah.


"Mama lo sakit apa?" tanya Satria lagi.


"Mama kena vertigo, Mas."


"Astaga, semoga nyokap lo cepat sembuh," ucap Satria.


"Aamiin, makasih Mas. Oh ya, Mas Satria ngapain disini?" tanya Mila balik.


"Oh gue kesini jenguk teman bentar, kalau gitu gue pergi dulu, soalnya gue piket jaga di markas," ujar Satria izin pergi kembali ke kantornya.


"Iya Mas silakan." Dalam hati Mila padahal ingin berlama-lama dengan Satria. Mila pun mencari tempat duduk sebelum pesanan makanannya datang.


Aurora merasa aneh dengan sikap suaminya, Irsyan seakan dingin terhadap dirinya sedari pagi, padahal Aurora merasa tidak ada melakukan kesalahan apapun pada Irsyan. Jikapun dia ada salah, pasti Irsyan akan memberitahukan nya.


"Jangan ngelamun, Neng. Nanti kesurupan setan duda loh!" ucap Sam memukul meja Aurora dan itu berhasil mengejutkan Aurora.


"Astaghfirullah Pak Sam, bikin kaget aja!" timpal Aurora sambil mengelus dadanya, untung jantungnya kuat kalau tidak mungkin saja jantung Aurora bisa berpindah ke ubun-ubun.


"Maaf nak, soalnya Bapak liat kamu sih melamun," ucap Sam cengengesan. Aurora langsung mendengus kesal.


"Udah isi belum perutnya nak?" tanya Sam sambil duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Aurora.


"Isi apa Pak? Kalau isi nasi sama lauk-pauknya baru ada," jawab Aurora polos.

__ADS_1


Sam berdecak, "Bukan itu neng Geulis, maksud Bapak itu kamu udah hamil belum?"


"Oh itu, belum lagi proses, Pak. Doakan saja semoga Allah segera mempercayakan saya dan mas Irsyan untuk segera memiliki keturunan," ucap Aurora tersenyum. Sudah puluhan kali Aurora mendengar ucapan itu, padahal pernikahan dia dan Irsyan baru saja berjalan 1 bulan lebih.


"Aamiin, Bapak doakan semoga kamu dan Irsyan cepat diberikan momongan," balas Sam.


Hari ini Irsyan pergi ke kantor sang Papa untuk meeting masalah pembuatan perumahan elit yang di khususkan bagi orang-orang kalangan atas, karena Harun sedang tidak enak badan, dia menyuruh Irsyan untuk menggantikannya.


"Berarti proyek ini akan dimulai bulan depan?" tanya Irsyan yang sedari tadi menyimak presentasi dari asisten direktur operasional.


"Benar pak Irsyan, proyek ini akan dilakukan bulan depan, seperti perintah dari pak Harun," kelas Rianto, direktur operasional di HC Properties.


"Baiklah, kalau gitu meeting hari ini selesai," ucap Irsyan dan mendapat anggukan dari semua orang yang mengikuti meeting. Irsyan pun ikut keluar dari ruang meeting dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Pak Aris," panggil Irsyan pada sekretaris sang Papa. Aris sudah bekerja sejak HC Properties berdiri, bisa dihitung 20 tahun lamanya. Pria paruh baya itu juga adalah salah satu orang kepercayaan dari Harun.


"Ya pak Irsyan?" tanya Aris.


"Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Irsyan.


"Lumayan padat, Pak. Apalagi banyak berkas yang harus anda tanda tangani, mungkin hari ini anda akan lembur," jelas Aris. Irsyan menghela napas panjang, padahal hari ini dia berencana untuk membelikan sesuatu untuk istrinya yang akan berulang tahun esok hari. Yah, alasan Irsyan mendiamkan Aurora karena dia ingin mengerjai serta memberikan kejutan untuk istrinya.


"Kalau saya boleh tau minta tolong apa ya Pak?" tanya Aris sopan.


"Tolong pesankan saya tiket ke Korea Selatan untuk dua orang." Irsyan berencana memberikan hadiah sebuah liburan sekaligus bulan madu untuk Aurora ke negara yang memiliki julukan negeri ginseng itu, karena dia tau jika sang istri sangat menyukai hal-hal yang berbau dengan K-Pop.


"Baik Tuan, apa ada lagi yang harus saya lakukan?" tanya Aris.


"Hem, saya juga minta tolong belikan kue ulang tahun, soalnya besok ini istri saya berulang tahun, Pak," jelas Irsyan.


"Oalah, Nyonya Aurora ulang tahun toh," ucap Aris manggut-manggut.


"Iya Pak."


"Baik, kalau gitu saya permisi mau melaksanakan tugas dari pak Irsyan yang tadi," ujar Aris.


"Iya silakan Pak, terima kasih sebelumnya sudah merepotkan Bapak," ucap Irsyan tersenyum.


"Sama-sama Pak." Setelah itu Aris keluar dari ruang kerja Irsyan.

__ADS_1


Irsyan menyalakan handphone yang sedari tadi dia matikan. Baru saja menyala, handphonenya langsung diserbu oleh pesan yang dikirimkan oleh istrinya, jika dihitung mungkin saja pesan itu lebih dari 10. Salah satu yang menyentuh dan membuat Irsyan merasa bersalah yakni, Aurora meminta maaf dan memohon agar Irsyan tak mendiamkannya lagi ditambah lagi dengan emoticon sedih.


"Maafkan aku sayang, aku melakukan ini untuk memberikanmu kejutan," lirih Irsyan. Irsyan segera menelpon Aurora hanya untuk memberitahukan jika hari ini dia pulang telat.


"Assalamualaikum, Ra."


"Waalaikumsalam Mas, kok nggak aktif tadi handphonenya?" tanya Aurora.


"Iya tadi aku lagi rapat, makanya aku matikan handphone. Oh ya, hari ini aku lembur, mungkin pulangnya malam, jadi kamu nggak perlu tungguin aku," jelas Irsyan dengan nada dingin. Irsyan sengaja tidak memanggil Aurora dengan sebutan sayang bahkan dia menyebut dirinya dengan sebutan 'aku' yang biasanya 'Mas' agar prank ulang tahun Aurora nanti semakin greget.


"Terus Mas pulang jam berapa?"


"Aku nggak tau pastinya, soalnya pekerjaan di kantor lagi numpuk." Diujung sana terdengar suara helaan napas dari Aurora


"Ya sudah gapapa. Mas marah ya sama aku?" tanya Aurora tiba-tiba membuat Irsyan semakin bersalah.


"Nggak, siapa juga yang marah? Ya sudah aku mau lanjut kerja dulu," ucap Irsyan.


"Iya Mas, jangan lupa makan siang, assalamu'alaikum," ucap Aurora dengan suara lirih.


"Waalaikumsalam," balas Irsyan. Irsyan menghela napas sambil menaruh ponselnya di atas meja.


"Aku salah apa sih makanya mas Irsyan marah?" lirih Aurora sedih seraya melipat kedua tangan di atas meja dan menaruh kepalanya disana.


"Kamu kenapa nak, sakit?" tanya Dona yang melihat Aurora yang sepertinya tengah dilanda kegalauan itu.


"Saya gapapa kok Bu," ucap Aurora dengan mengembangkan senyum palsunya dan memperbaiki cara duduknya kembali. Aurora tak ingin orang lain tau masalah keluarga kecilnya bersama Irsyan.


"Beneran nak?"


"Iya Ibu." Dona pun kembali ke meja kerjanya.


Aurora menggulir akun media sosialnya untuk menghilangkan sedikit kegalauannya, dia melihat video seseorang yang tengah memakan rujak dalam jumlah banyak mungkin orang menyebutnya dengan sebutan mukbang. Menonton video itu membuat air liur Aurora hampir menetes.


"Jadi pengen makan rujak juga, tapi mau rujak buatan ibu," ucap Aurora sambil mengelus perutnya.


"Coba nanti ah ke rumah ayah, apalagi mangga arum manis di halaman rumah Ayah lagi berbuah banyak, pasti enak banget rujakan dengan buah yang langsung di petik dari pohonnya," lanjut Aurora dengan semangat. Dia tak sabar ingin cepat-cepat ke rumah sang Ayah.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2