GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 77


__ADS_3

Sesampainya di hotel, Aurora merebahkan tubuhnya di ranjang, dia merasa sangat jengkel bercampur dengan kecewa. Bagaimana tidak, suaminya sendiri berpelukan dengan perempuan lain di depan matanya langsung.


"Kalau bukan di depan umum udah gue jambak tu rambutnya si cewek!" kesal Aurora. Suara derap langkah kaki terdengar mendekati Aurora dan dia tau jika itu adalah suaminya. Aurora pun langsung pura-pura tidur.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Irsyan sambil duduk di pinggiran ranjang.


"Tauk! Pikir aja sendiri!" balas Aurora ketus. Irsyan yang peka pun mengerti jika istrinya itu sedang cemburu karena dia memeluk Vania yang notabene sepupunya sendiri, Vania adalah anak dari Hasbi, adik kandung Harun. Vania bersekolah di Aussie atau Australia sejak 5 tahun yang lalu, saat ini dia tengah mengejar pendidikan Magister atau S2 di bidang hukum. Sedangkan orang tuanya berada di Malaysia tengah mengelola perusahaan perkebunan kelapa sawit.


"Kamu cemburu liat aku pelukan sama Vania tadi?"


Aurora merubah posisinya menjadi duduk, lalu menatap tajam Irsyan.


"Mas masih tanya aku cemburu apa nggak?" tanya Aurora sewot.


"Udah nggak usah cemburu, Vania itu adik sepupu aku, sayang," jelas Irsyan yang tak ingin membuat istrinya salah paham lagi.


"Beneran? Kamu nggak bohong kan?" tanya Aurora memastikan.


"Iya sayang, apa perlu aku telpon Mama sama Papa biar kamu percaya? Vania itu anak dari Om Hasbi, adik dari Papa." Aurora pun kini bisa bernapas lega, dia telah salah sangka dengan suaminya.


"Maafin aku udah salah sangka dengan Mas," sesal Aurora. Irsyan tersenyum dan membawa tubuh Aurora ke dalam dekapannya.


"Gapapa sayang, kalau Mas jadi kamu juga pasti bakalan cemburu melihat orang yang kita cintai berpelukan dengan orang lain. Itu tandanya berarti kamu cinta dengan Mas," ucap Irsyan lembut.


"Mas juga cinta kan sama aku?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Mas cinta sama kamu," ucap Irsyan sambil menggigit gemas hidung Aurora.


"Auhh sakit Mas! Suka banget gigit hidung aku," ucap Aurora kesal seraya mengelus hidungnya. Irsyan langsung tertawa.


"Maaf sayang." Irsyan mengganti gigitannya tadi dengan mencium seluruh wajah Aurora.


"Tidur yuk? Biar nanti malam nggak ngantuk pas kita dinner nya dan nanti malam Mas mau kasi sesuatu ke kamu," ujar Irsyan sambil mengelus rambut Aurora yang sedang menyender di pundaknya.


"Apaan Mas?" tanya Aurora penasaran.


"Nggak surprise dong kalau Mas kasi tau kamu sekarang," jawab Irsyan.


"Ih dasar pelit!" sungut Aurora membuat Irsyan terkekeh geli.


"Lebih baik sekarang kita tidur aja," ajak Irsyan lagi. Aurora hanya mengangguk, lalu mereka berdua merebahkan tubuh mereka, mulai memejamkan mata dan berharap bertemu di dalam mimpi.


Malam pun telah tiba, Aurora dan Irsyan sudah siap untuk berangkat ke restoran Pierre Gagnaire a Seoul.


Sudah hampir satu jam lamanya, akhirnya Aurora selesai dengan riasannya. Aurora mengenakan gaun biru muda minimalis dengan lengan off-the-shoulder yang membuat tampilannya begitu elegan dan anggun lengkap dengan kalung emas putih pemberian Irsyan dulu.


"Sayang," panggil Irsyan saat masuk ke dalam kamar hotelnya setelah pergi memanggil kakak dan kakak iparnya.


"Ya Mas?" tanya Aurora berbalik menghadap ke belakang. Irsyan begitu terpana saat melihat penampilan Aurora yang sangat memukau malam ini.


"Kenapa Mas liatnya begitu? Apa dandanan aku seperti Tante-tante ya?" tanya Aurora panik saat Irsyan memandanginya dari atas sampai bawah dengan berulang-ulang.


Irsyan masih terdiam mematung sambil terus menatap Aurora yang tengah panik itu. Dia seperti tersihir melihat penampilan istrinya malam ini.


"Kok malah diam sih Mas!" ucap Aurora jengkel karena tidak mendapat tanggapan dari suaminya.


"Ya udah aku ganti baju aja deh, kayaknya aku nggak cocok pakai gaun ini," gerutu Aurora sambil berjalan ke arah lemari.


"Nggak sayang, kamu terlihat sangat sempurna malam ini!" ucap Irsyan cepat sambil menarik tangan Aurora, karena tak seimbang apalagi Aurora menghilangkan heels alhasil membuat Aurora terjatuh ke atas ranjang dan langsung ditindih oleh Irsyan.


Belum hilang rasa kaget Aurora karena ditarik lalu dijatuhkan ke ranjang, Irsyan langsung mencium bibir Aurora yang basah merona karena lip gloss itu, dengan napas yang memburu Irsyan melu.mat bibir Aurora dan tangannya yang lain bergerilya meraba-raba tubuh Aurora yang lain. Aurora pun dengan sehat hari membalas ciuman suaminya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Irsyan sehingga membuat Irsyan semakin bernafsu karena diberikan lampu hijau oleh istrinya.


TOK! TOK! TOK!

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Irsyan menyudahi aktivitasnya bersama Aurora.


"Irsyan, Aurora, kalian sudah siap belum?" tanya Fani.


Irsyan berdecak, "Kakak mah ganggu aja!" kesalnya karena sekarang miliknya sudah ON. Napasnya masih naik turun dengan wajah memerah.


"Jangan gitu Mas, ayo nanti kita kemalaman sampai disana." Aurora mendorong tubuh Irsyan yang berada di atas tubuhnya itu agar menjauh.


Irsyan hanya melipat wajahnya saat mendengar ucapan Aurora tadi, dia memilih untuk tetap duduk di tepi ranjang sambil menatap Aurora yang sedang merapikan riasan di wajahnya akibat perbuatannya dengan Irsyan tadi. Setelah selesai merapikan riasan nya, Aurora menatap Irsyan yang tengah jengkel itu, ia pun segera duduk di samping suaminya yang sekarang tengah membuang muka.


"Ayo kita keluar Mas, kasian kak Fani, kak Adit sama Alvero nungguin kita," ucap Aurora dengan lembut sambil menyentuh tangan Irsyan yang dilipat di depan dada itu.


"Ayo Mas." Lagi-lagi Aurora mengajak Irsyan untuk keluar, karena suaminya itu masih tak bergeming dari ranjang.


"Gimana mau pergi sayang, sedangkan adik kecilku masih menegang kayak gini!" ucap Irsyan kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Aurora menatap ke arah bawah milik Irsyan dan benar saja milik suaminya itu lagi tegang-tegangnya. Aurora hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, karena gemas melihat Irsyan seperti itu.


"Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkan adikku ini, sayang," protes Irsyan tak terima.


"Iya nanti aku tanggu jawab deh Mas, setelah kita pulang dari sana, gimana?" tawa Aurora dan beranjak dari ranjang, kini ia berdiri di depan Irsyan. Irsyan mengangguk menyetujui ucapan Aurora, ia memeluk Aurora sehingga wajahnya berada di perut istrinya. Aurora langsung mengelus rambut hitam legam milik Irsyan dengan perlahan untuk menenangkannya.


Setelah hampir 5 menit Irsyan pun melepaskan pelukannya dan lalu berdiri di samping Aurora, lalu keluar dari kamar sebelum itu Irsyan mengecup kening Aurora terlebih dahulu. Irsyan berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa walaupun begitu Aurora tau sulit untuk suaminya itu menahan gairah yang sudah naik tadi.


"Kalian berdua ngapain sih di dalam, lama banget," sungut Fani yang lelah menunggu pasangan suami-istri itu.


"Maaf kak, tadi aku nyari keberadaan kalung aku makanya lama," elak Aurora. Tak mungkin ia berkata jujur, bisa-bisa dirinya dan Irsyan diejek oleh kakak iparnya itu.


"Ya ampun Alvero tampan banget sih malam ini," puji Aurora yang melihat penampilan Alvero yang menggunakan tuxedo warna abu-abu senada dengan milik Papinya. Sedangkan Irsyan menggunakan tuxedo berwana hitam.


"Makasih Tante. Tante juga sangat cantik malam ini," puji Alvero juga pada Aurora.


"Terima kasih kembali Alvero," balas Aurora sambil mencubit pelan pipi Alvero.


"Ayo kita berangkat sekarang," ucap Irsyan. Semuanya mengangguk dan mereka berlima pun berjalan keluar hotel.


Aurora terkagum melihat desain interior restoran tersebut yang sangat unik dan megah, sepertinya Irsyan sudah membooking restoran ini. Buktinya, tidak ada satu orangpun pengunjung, hanya mereka berlima saja disana.


"Mas," panggil Aurora menatap Irsyan.


"Kenapa sayang ku?" Tanya Irsyan dengan menggandeng tangan Aurora. Sedangkan keluarga kecil Fani dan Adit sudah berada di meja lain, sedikit jauh dari meja Irsyan dan Aurora.


"Kamu booking restoran ini ya?" tanya Aurora. Irsyan tersenyum dan mengangguk.


"Everything for you honey," ujar Irsyan tulus.


"Tapi kan mahal sekali Mas," ucap Aurora..


"Gapapa lah sesekali sayang, ini juga nggak seberapa kok. Aku membooking ini karena hanya ingin acara dinner kita ini penuh kedamaian dan ketenangan, tidak ada yang menganggu," balas Irsyan. Aurora sudah tidak bisa berkata-kata lagi, jika suaminya sudah mengatakan seperti itu.


"Mari silahkan duduk Tuan dan Nona," ujar seorang waiters pria mempersilahkan tempat duduk untuk Irsyan dan Aurora menggunakan bahasa Inggris.


"Thank you sir," balas Irsyan. Waiters itu tersenyum dan mengangguk, lalu ia mengundurkan diri dari hadapan pasangan suami-istri itu.


Aurora menatap sebuah meja dinner dengan banyak hidangan dan juga lilin yang stay ditengah-tengah meja, ditambah lagi banyak kelopak bunga mawar yang bertebaran di sekitaran meja tempat duduk mereka.


"Hey, kok malah bengong sayang? Ayo duduk." Aurora menatap Irsyan lalu mengangguk dan diikuti juga oleh Irsyan yang duduk berhadapan dengannya.


Lagi-lagi Aurora dikejutkan oleh pemandangan yang sangat indah, yaitu City Of Light. Yah, orang-orang menyebutnya seperti itu. Sebuah pemandangan kota di malam hari yang terlihat sangat indah dengan lampu-lampunya. Pemandangan kota Seoul pada malam hari dari atas restoran tersebut memang sungguh menakjubkan.


"Mas ini indah banget," decak kagum Aurora.


"Bagi Mas, kamu yang terindah sayang," ujar Irsyan menatap dalam mata Aurora dan itu berhasil membuat Aurora tersipu malu.


"Ih apaan sih Mas, bisa aja deh gombalnya," ujar Aurora tersipu malu. Irsyan sangat gemas melihat istrinya malu-malu seperti itu.

__ADS_1


"Ini untuk kamu." Tak lupa Irsyan memberikan sebuket bunga mawar merah yang lumayan besar kepada Aurora, karena dia tau jika istrinya itu sangat menyukai bunga mawar.


"Makasih Mas." Aurora mencium bunga mawar tersebut.


"Oh iya aku juga punya sesuatu yang lain buat kamu."


"Apa Mas?" Suaminya itu selalu memberikan banyak kejutan kepadanya.


"Kalau gitu kamu tutup mata dulu sayang," titah Irsyan. Aurora hanya menurut, ia langsung menutup kedua matanya. Irsyan mengeluarkan sebuah kotak merah beludru dari dalam sakunya. Ia membuka kotak tersebut lalu diletakkan di depan Aurora.


"Sekarang buka mata kamu," titah Irsyan kembali. Aurora pun membuka mata dan menatap Irsyan. Tak sengaja mata Aurora melirik ke meja dan mendapati cincin berlian yang sangat mewah dan cantik.


"Cincinnya cantik sekali, Mas. Ini untuk aku?" tanya Aurora dengan mata berbinar-binar.


"Tentu saja ini untuk kamu sayang," jawab Irsyan memberikan cincin tersebut kepada Aurora. Sedari tadi Aurora terus menyunggingkan senyuman manis dari bibirnya, membuat aura kecantikan Aurora semakin terpancar malam ini.


'Semoga Mas selalu bisa membuatmu tersenyum seperti itu, sayang,' batin Irsyan yang juga ikut tersenyum.


"Sejak kapan Mas beli cincin ini?" tanya Aurora bingung sekaligus penasaran.


"Cincin ini Mas pesan dari hari pertama kita disini," jawab Irsyan yang memesan cincin tersebut di salah satu toko perhiasan yang cukup terkenal di Korea Selatan.


"Sekarang Mas pasangkan ya cincinnya?"


"Iya Mas." Tangan Irsyan mengambil cincin tersebut dan memasangkannya ke jari manis Aurora yang sebelah kiri.


"Cantik. Apa kamu suka sayang?" tanya Irsyan lembut dan kembali memeluk tubuh istrinya.


"Aku suka. Suka banget, makasih ya Mas," ujar Aurora terharu sambil melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Aurora langsung memeluk Irsyan sebagai ucapan terima kasihnya, Irsyan pun membalas pelukan istrinya.


"Syukurlah kalau kamu suka sayang." Irsyan melepaskan pelukannya dan menatap Aurora, tangannya terulur ke belakang tengkuk Aurora lalu memajukannya dan langsung mencium bibir Aurora dengan lembut dengan penuh perasaan.


Tak jauh dari mereka berdua, Fani dan Adit tersenyum melihat keromantisan dari adik dan adik iparnya itu. Mereka berdua sedari tadi memang memandangi dari belakang dengan sesekali mengambil foto mereka berdua. Sedangkan Alvero tengah sibuk memakan es krimnya.


'Tuhan, jagalah keharmonisan rumah tangga adikku,' batin Fani yang kini sudah meneteskan air mata kebahagiaan dari kedua mata cantiknya itu.


"Kok nangis sayang?" tanya Adit sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.


"Aku hanya terharu saja melihat keromantisan mereka, Pi," jawab Fani.


"Aku juga terharu Mi, semoga mereka berdua selalu bahagia dan langgeng hingga maut yang memisahkan mereka."


"Aamiin."


"Mami kenapa nangis?" tanya Alvero polos.


"Mami nggak nangis kok sayang, mata Mami kelilipan sama debu tadi," elak Fani. Alvero hanya manggut-manggut mempercayai perkataan Maminya.


"Ayo di makan makanannya sayang, nggak enak kalau sudah dingin," ucap Irsyan setelah melepaskan tautan bibirnya. Aurora mengangguk dan langsung menyantap makanan yang tersedia di atas meja tersebut.


"Mas," panggil Aurora disela-sela makannya.


"Kenapa sayang?" tanya Irsyan menatap Aurora.


"Pas kita pulang dari sini, antar aku beli rujak bangkok ya? Soalnya kepengen makan rujak bangkok dari kemarin," ucap Aurora yang hampir meneteskan air liurnya saat membayangkan rujak bangkok.


"Oke besok kita beli sayang."


"Makasih Mas." Aurora sangat senang, apapun yang diinginkannya pasti akan diberikan oleh Irsyan, suaminya itu memang sangatlah loyal.


"Sama-sama sayang."


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2