
Aurora yang bosan sendirian di rumah, ia berencana pergi ke toko Kiran untuk membeli kue sekaligus bertemu dengan sahabatnya itu. Sebelum pergi, Aurora tak lupa meminta izin terlebih dahulu pada suaminya.
Sesampainya di toko kue milik Kiran, Aurora masuk dan langsung di sambut oleh seorang karyawan yang bernama Meta dengan begitu ramah, hampir semua dari karyawan toko milik Kiran sudah mengetahui Aurora yang merupakan pelanggan sekaligus sahabat dari atasannya.
"Saya pesan kue seperti biasa ya?" pinta Aurora.
"Baik Mbak Aurora," balas Meta. Ia telah mengetahui pesanan kue apa saja yang di beli oleh Aurora.
"Ngomong-ngomong, Kiran ada nggak di ruangannya?" tanya Aurora.
"Iya ada Mbak," jawab Meta.
Aurora mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju ke ruangan Kiran. Membuka pintu ruang kerja Kiran, ia melihat sahabatnya itu tengah tertidur dengan menaruh kepalanya di atas lipatan kedua tangannya. Aurora pun menghampiri Kiran.
"Ki... Kiran ..." panggil Aurora. Kiran pun mulai terusik, ia mengangkat kepalanya dan menatap Aurora.
"Aurora!" Kiran cukup kaget melihat keberadaan Aurora sampai ia seketika berdiri dari kursi kerjanya, ia takut jika nanti mata bengkaknya ketahuan oleh sahabatnya itu.
"Cih! Gaya amat lo pakai kaca mata hitam di dalam ruangan," cibir Aurora yang melihat Kiran menggunakan kaca mata. Kiran memegang kaca mata yang digunakannya, ia sedikit lega karena masih menggunakan kaca mata tersebut.
"Ah ini tadi mata gue sedikit merah kena debu," elak Kiran. Aurora tak percaya sebab terdengar suara Kiran yang sedikit aneh, seperti suara orang yang baru habis menangis.
Aurora menatap menyelidik Kiran, "Serius lo?"
"Iya lah masa gue bohong," ujar Kiran gugup. Aurora langsung membuka paksa kaca mata yang dikenakan oleh Kiran, betapa terkejutnya ia melihat mata Kiran yang membengkak.
"Lo habis nangis, Ki? Kenapa? Siapa yang membuat lo menangis, apa Andre atau siapa? Ayo cepat kasi tau gue, biar gue hajar dia sekarang!" Aurora memberondong Kiran dengan pertanyaan bertubi-tubi sambil mengguncangkan kedua bahu Kiran serta dengan perasaan emosi.
Mata Kiran berkaca-kaca, tak lama air matanya kembali luruh dengan derasnya. Aurora yang melihat Kiran menangis langsung membawa sahabatnya itu ke dalam dekapannya, tapi sebelum itu Aurora mengajak Kiran untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Lo kenapa, Ki? Cerita sama gue," ucap Aurora sambil mengelus punggung Kiran. Kiran menggeleng pelan, ia takut untuk menceritakan kejadian itu pada Aurora.
Aurora melepaskan pelukannya, tangannya memegang kedua bahu Kiran, "Apa gue udah nggak lo anggap sebagai sahabat lo lagi, Ki? Lo udah nggak percaya sama gue?" lirihnya.
Kiran terdiam sejenak, bukannya ia tak ingin bercerita tapi ia hanya takut jika dirinya memberitahukan kejadian itu pada Aurora akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan nantinya.
"Jawab Kiran! Lo bisa cerita ke gue, siapa tau gue bisa bantuin lo," desak Aurora.
Kiran pun memutuskan untuk bercerita sebelum itu ia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, kemudian Kiran bercerita dengan air mata yang semakin berderai.
__ADS_1
Aurora langsung emosi saat mendengar cerita Kiran, tangannya mengepal kuat. Ingin rasanya ia mengeluarkan sumpah serapah dan mengumpat Andre dengan kata-kata kasar serta menyebutkan nama-nama binatang, tapi mengingat dirinya tengah hamil, Aurora mengurungkannya.
Namun ada rasa bahagia di hati Aurora ketika mendengar jika sahabatnya itu tengah berbadan dua.
"Nanti bakal gue kasi pelajaran ke suami lo," geram Aurora sambil mengelus punggung Kiran yang tengah menangis tersedu-sedu.
"Lo bisa anter gue nggak, Ra?" tanya Kiran sambil mencoba meredakan tangisannya, namun masih sesenggukan.
"Kemana, Ki?"
"Ke Dokter kandungan, gue mau periksa keadaan janin gue. Gue takut janin gue kenapa-napa setelah kejadian itu," lirih Kiran menjelaskan mengapa dirinya ingin memeriksakan kandungannya.
"Oke nanti gue anterin lo."
...****************...
Seperti janjinya kemarin, Aril akan pergi ke rumah Caca untuk membantu gadis itu belajar. Setelah pulang sekolah Aril pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengganti pakaian dan makan siang, baru pergi ke rumah Caca.
Di ruang tengah rumah Caca sudah menggelar karpet bulu di lantai dan menyiapkan berbagai macam cemilan, minuman serta bantal untuk Caca rebahan.
"Eh bukunya mana nih?" tanya Caca ke dirinya sendiri.
Setelah mengambil bukunya, Caca kembali ke ruang tengah. Daddy dan Mommy-nya tidak berada di rumah karena pergi ke rumah neneknya atau ibu dari Ranti.
"Non Caca, di depan ada laki-laki yang nyariin Non, katanya sih teman Non Caca," ucap Bi Jumi, asisten rumah tangga di rumah orang tua Caca.
"Oh suruh masuk aja Bi," suruh Caca. Ia yakin yang datang itu adalah Aril.
"Baik Non." Bi Jumi pun ke ruang tamu untuk membukakan pintu buat teman dari anak majikannya itu.
Benar saja yang datang itu adalah Aril, ia pun memasuki rumah mewah itu dan berjalan menuju ke ruang tengah, Aril melihat Caca sedang rebahan sambil memainkan handphone membuatnya langsung geleng-geleng kepala.
"Non, ini temannya," ucap Bi Jumi.
Caca menolehkan kepalanya lalu bangkit dari tiduran nya, "Makasih ya, Bi?"
"Sama-sama, Non." Bi Jumi pun kembali menuju ke dapur.
Aril pun duduk di lantai yang sudah di lapisi dengan karpet bulu mahal tersebut, lalu ia mengeluarkan soal-soal yang nanti akan di kerjakan Caca.
__ADS_1
"Sudah belajar?" tanya Aril.
"Belum hehe," jawab Caca cengengesan serta dengan wajah tak bersalahnya.
Aril berdecak, "Jangan main handphone terus, belajar yang rajin bentar lagi ulangan. Gue nggak mau di salahkan Bu Rika, nanti gue di kira nggak becus ngajarin lo," ucapnya panjang lebar.
"Ish iya-iya bawel banget sih lo! Oh iya, lo mau makan apa atau minum apa?" tawar Caca pada Aril.
"Belajar dulu!" ucap Aril memandang datar Caca.
"Iya," balas Caca dengan malas. Ia pun mulai membaca buku sambil tiarap dan Aril duduk bersila.
"Lo homo ya, Ril?" tanya Caca tiba-tiba. Aril yang dituduh seperti itu tidak terima.
"Maksud lo apa!?"
"Ya bener kan kalau sebenarnya lo itu homo."
"Lo jangan sembarangan nuduh, Caca. Gue masih normal!" geram Aril.
"Dih keras kepala banget, lo itu memang homo. Jangan membantah deh!" kukuh Caca.
"Gue masih suka melon dan kue apem, biarpun gue nggak deket sama cewek manapun!"
Caca menahan tawa mendengar ucapan Aril, "Astaga, pikiran lo jauh banget sih, Ril!"
"Hah apa?"
"Maksud gue itu homo di dunia IPS kan ada tuh manusia purba namanya homo, kayak homo wajakensis, homo sapiens dan lain sebagainya," ujar Caca sambil tertawa di akhir ucapannya serta menatap dengan tatapan meledek ke arah Aril.
Aril mendatarkan wajahnya kembali setelah mendengar ucapan Caca, "Sialan ni cewek!" gumamnya.
"Ciaah, lo nggak belajar atau lupa, Ril? Padahal selalu ranking satu, hahaha."
"Udah jangan bercanda, sana lo belajar lagi!" ucap Aril memandang tajam ke arah Caca.
"Iya-iya." Caca kembali membaca bukunya sesekali melihat wajah datar Aril membuatnya kembali tahan tawa jika mengingat ucapannya tadi.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.