
Irsyan dan keluarga kecilnya baru saja selesai menyelesaikan sarapan pagi bersama. "Sayang," panggil Irsyan.
Aurora yang sedang membersihkan sisa makanan di mulut Alina itu pun langsung menatap ke arah suaminya. "Ya Mas?"
"Seminggu lagi anniversary kita yang ke 9. Bagaimana kalau kita merayakannya di puncak dan mengajak keluarga kita kesana?" usul Irsyan. Aurora terdiam sejenak memikirkan usulan dari suaminya tadi.
Tak lama Aurora pun mengangguk, "Boleh deh Mas. Udah lama juga kita nggak pernah quality time bersama keluarga. Aku juga mau suruh Aril mengajak Caca, sekalian mereka pendekatan disana," ucapnya sambil terkekeh geli di akhir ucapannya. Aurora sangat tahu mengapa adiknya itu betah menjomblo sampai sekarang, karena pria itu tengah menunggu kedatangan wanitanya yang sudah lama mengisi relung hatinya yang paling terdalam.
Irsyan ikut terkekeh dan geleng-geleng kepala, "Terserah kamu aja sayang. Asalkan kamu bahagia."
Setelah itu, Irsyan mengantarkan Hansel pergi ke sekolah. Hari ini Irsyan menggunakan sopir. Semalam Irsyan mengeluh sakit kepala, tidak ingin terjadi sesuatu pada dua laki-laki tercintanya, karena itu Aurora menyuruh Irsyan pergi ke kantor menggunakan sopir. Dari pada harus melihat singa betina mengamuk, Irsyan pun menuruti permintaan istrinya.
"Ingat pesan, Papa. Abang nggak boleh nakal dan jadi anak yang penurut sama guru-guru, oke?" pesan Irsyan.
Hansel mengangguk, "Siap, Pa. Abang mau jadi anak yang bisa buat bangga Papa, Mama, Oma, Opa, Kakek, Nenek dan Om Aril."
Irsyan tersenyum sambil mengelus puncak kepala Hansel, "Pintar. Itu baru anak Papa."
Kepergian Irsyan dari depan sekolah, tiba-tiba seorang wanita turun dari mobilnya dan menghampiri Hansel.
"Hei kamu!" panggil wanita itu.
Hansel berbalik menghadap wanita itu. Ia mengerutkan keningnya, Hansel sama sekali tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya ini, "Saya Tante?" tanyanya sambil menunjuk dirinya.
Wanita itu mengangguk sambil menunduk, "Kamu Hansel kan?"
"Iya saya Hansel. Tante siapa?" tanya balik Hansel.
"Nama Tante Ghea. Tante yang nanti akan menjadi ibu sambung mu," ucap Ghea dengan percaya dirinya. Hansel langsung merubah ekspresinya menjadi dingin, berani-beraninya wanita itu ingin melengserkan mamanya. Itu tidak akan pernah terjadi.
"Tante jangan pernah mengaku-ngaku akan menjadi ibuku. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Ibuku hanya satu dan itu hanyalah mama Aurora!" ucap Hansel dengan tegas lalu pergi meninggalkan Ghea yang tengah kesal sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Tante itu siapa, Hans?" tanya Zhafira yang melihat kejadian tadi dari kejauhan.
"Bukan siapa-siapa, hanya wanita aneh," jawab Hansel acuh. Zhafira hanya manggut-manggut. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kelas.
Jendra melambaikan tangan kepada kedua temannya, di tangan bocah laki-laki itu terdapat setangkai bunga mawar merah. Entah darimana ia mendapatkan bunga tersebut.
"Hans, ini bunga untukmu," ucap Jendra sambil menyodorkan bunga mawar tersebut pada Hansel.
__ADS_1
"Bunga untukku?" tanya Hansel bingung.
Jendra mengangguk.
"Dari siapa?" tanya Hansel lagi.
"Biasa, dari penggemarmu," jawab Jendra. Hansel menghela napas kasar, mengambil bunga mawar tersebut dan langsung membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di depan kelasnya.
"Kenapa bunganya kamu buang? Kan sayang, Hans," tanya Zhafira yang menyayangkan bunga mawar dibuang Hans tadi.
"Kamu mau bunga mawar itu?" tanya Hansel pada Zhafira.
Zhafira mengangguk, "Iya. Aku sangat suka bunga mawar, apalagi yang bewarna putih."
"Nanti ikut aku ke rumah. Kamu boleh mengambil bunga mawar di taman rumahku sebanyak yang kamu inginkan," ujar Hansel.
Mata Zhafira berbinar, tapi tak lama kembali redup, "Tapi kalau nanti aku ambil banyak, mama Aurora bisa marah. Itu kan bunga mawar milik mama Aurora," ucapnya polos.
"Kamu tenang saja. Nanti aku akan menyuruh Papa untuk membelikan Mama bunga mawar lagi yang banyak."
"Benarkah? Oke, nanti aku akan ke rumahmu," ucap Zhafira antusias. Hansel tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"Aku nggak di ajak nih?" celetuk Jendra.
Jendra mendengus, "Tentu saja tidak. Bunga kan kesukaannya perempuan!"
"Terus kenapa kamu ingin ikut ke rumah ku?"
"Aku kangen masakan mama Aurora yang sangat enak-enak itu," jawab Jendra sambil mengelus perutnya.
"Dasar tukang makan!" cibir Zhafira.
...****************...
Di dalam ruang rapat, semua peserta rapat membicarakan tentang Caca yang akan menggantikan tuan Ibrahim sebagai presiden. Tentu saja ada yang pro dan kontra dengan hal itu.
"Wanita yang tidak mengerti tentang bisnis itu akan menjadi presiden YH GROUP? Hah... Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran ketua. Ini seperti mimpi disiang bolong," ucap Anton. Salah satu orang yang kontra dengan pemilihan Caca sebagai pemimpin YH Group dan pria itu malah lebih mendukung Arsal yang menggantikan tuan Ibrahim.
"Lihat betapa sombongnya mereka. Apa yang telah mereka lakukan pada perusahaan? Bahkan jika ada nyonya Ranti disini, saya khawatir beliau akan menjadi sasaran mereka," ucap Ferry.
__ADS_1
"Ya anda benar, tuan Ferry. Mereka sangatlah licik dan sombong," timpal Adi. Sementara itu, Lucas hanya diam menyimak obrolan mereka, sesekali menghela napas panjang dan kesal mendengar ucapan orang-orang yang kontra terhadap Caca. Bahkan mereka terang-terangan menjelekkan Caca.
Berbeda dengan Lucas, Arsal sangat senang mendengar ketika orang-orang menjelekkan sepupunya.
"Tuan Ibrahim terlalu ceroboh telah mempercayakan perusahaannya pada wanita yang tidak mengetahui tentang manajemen bisnis. Sama halnya tuan Ibrahim ingin cucu pertamanya itu mengubur perusahaannya sendiri," ujar Anton.
"Jangan katakan itu. Jika dia ada disini--"
"Kenapa jika dia ada disini? Saya tetap akan mengatakan hal yang sama!" Anton memotong ucapan Salim.
"Posisi presiden YH GROUP itu hanya boleh--" Ucapan Anton terputus saat pintu ruang meeting terbuka. Membuat semua orang melihat ke arah pintu.
Caca berjalan dengan anggun dan wajah seriusnya ke dalam ruang meeting, diikuti Aril yang berada di belakangnya. Caca melangkahkan kakinya menuju ke kursi khusus pimpinan. Namun sebelum itu, ucapan Anton membuat Caca mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Tunggu! Nona Caira, apakah anda akan duduk disana? Perlu anda ketahui bahwa tidak semua orang bisa duduk di posisi ini," ucap Anton.
Aril yang mendengar itu langsung tersenyum miring, lalu menatap ke arah Anton. "Jika nona Caira tidak bisa duduk disini. Bagaimana dengan anda?"
Mulut Anton langsung membungkam setelah mendengar ucapan Aril tadi, dia kalah telak. Arsal menatap sinis Aril.
"Tentu saja semua orang tidak bisa duduk disini. Namun penerus YH GROUP yang ditunjuk oleh tuan Ibrahim sendiri, itu sangat masuk akal bagi nona Caira untuk duduk disini," lanjut Aril dengan mata yang menatap lekat arah Caca.
"Kami tahu jika nona Caira ditunjuk oleh tuan Ibrahim. Tetapi YH GROUP saat ini terlibat dalam krisis hipotek luar negeri. Untuk seseorang yang tidak memiliki pengalaman manajemen bisnis, bisakah Nona memimpin perusahaan untuk mengatasi krisis ini?" Caca mencoba menahan diri untuk tidak emosi mendengar ucapan Anton.
"Jika dia bisa mengeluarkan perusahaan dari krisis, dia bisa duduk di posisi ini. Tetapi jika nona Caira hanya menginginkan jabatan, tanpa membantu setiap pemegang saham untuk melindungi bisnis ini. Saya khawatir semua orang tidak akan setuju dengan anda yang menjabat sebagai presiden YH GROUP," sambung Anton. Para pemegang saham langsung ribut setelah mendengar perkataan Anton tadi.
"Lihat? Pertemuan baru saja dimulai. Dan mereka mencoba untuk mengalahkannya," ucap Ferry.
Aril ingin membalas perkataan Anton tadi, tapi belum sampai ia membuka suara, Caca sudah memanggilnya.
"Aril!"
Aril menatap ke arah Caca dan wanita itu mengangguk yang berarti biarkan dia yang membalasnya. Aril tersenyum tipis lalu mengangguk. Aril mendekat ke Caca dan membantu membukakan blazer yang Caca lampirkan di bahunya. Kemudian Aril menarikan kursi untuk Caca duduki.
Caca menatap ke satu-persatu peserta rapat. "Sejak saya kembali ke keluarga Harsa, itu berarti saya memiliki keberanian untuk disini. Karena saya duduk disini hari ini, berarti saya percaya diri memimpin YH GROUP untuk mengatasi krisis," ucapnya dengan tegas.
"Untuk para pemegang saham YH GROUP, tidak perlu khawatir. Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan melindungi YH GROUP untuk semua orang. Anda semua pasti mengenal Aril bukan? Dia akan membantu saya membuat YH GROUP kembali ke puncak industri," sambung Caca dengan percaya diri. Suara tepuk tangan menggema terdengar jelas di telinga Caca dan Aril. Lucas begitu bangga dengan Caca dan dia pun juga ikut bertepuk tangan.
Para pemegang saham salut dengan kepercayaan diri seorang Caca. Sementara Arsal dan Anton, mereka sangat emosi dan geram karena Caca tidak selemah yang mereka pikirkan.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.