GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 189


__ADS_3

Sore harinya, Aurora, Kiran, Andre dan Mila berkumpul di cafe milik mereka bersama yang masih berdiri dan berkembang pesat hingga sekarang. Mereka berkumpul untuk menghibur Mila, sekaligus Aurora memberitahukan kabar kehamilannya kepada mereka. Mereka sangat bahagia dan bersuka cita mendengar kabar tersebut.


"Wah suami lo tokcer bener ya, Ra," ucap Andre terkekeh.


"Ya gitu deh. Padahal kan gue sering minum obat kontrasepsi tapi kok masih bisa jadi juga. Heran gue ..," ucap Aurora yang masih tidak percaya kenapa dirinya bisa hamil.


"Lo syukuri aja, Ra. Banyak orang yang ingin seperti lo sekarang ini," sahut Mila.


"Iya benar kata Mila. Gue aja pengen nambah anak, tapi belum dikasih sama yang di atas," timpal Kiran.


Aurora manggut-manggut, "Iya. Gue bersyukur banget Allah mempercayakan kepada gue dan mas Irsyan untuk memiliki keturunan lagi."


"Eh gimana kalau Alina dijodohkan sama anak gue aja?" usul Kiran.


"Yang! Jendra akan mencari jodohnya sendiri nanti!" ujar Andre tak terima dengan usulan istrinya.


"Ussttt! Udah kamu diem aja deh!"


"Eh enak aja! Alina bakal di jodohkan sama Vino, anak gue!" ucap Mila yang tak terima juga. Ia sudah lama menginginkan Vino bisa berjodoh dengan Alina, agar persahabatannya dengan Aurora tetap kukuh.


"Lebih baik Jendra, lo jodohkan sama anaknya Wawan aja, si Zhafira," lanjut Mila.


"Tapi gue maunya besanan sama Aurora! Vino aja sama si Zhafira," tandas Kiran tak mau kalah.


"Mana mungkin anak gue mau sama perempuan yang lebih tua darinya!"


Aurora hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala melihat kedua sahabatnya yang memperebutkan putrinya. Namun ia juga berharap suatu saat nanti Alina bisa berjodoh dengan anak dari salah satu sahabatnya.


"Ra, lo mau pilih anak gue atau anaknya Mila yang jadi menantu lo?" tanya Kiran.


"Siapa aja. Yang penting dia nanti bisa membahagiakan anak gue," ucap Aurora.


"Sama Jendra aja sih, gue yakin nanti anak gue bisa bahagiain anak lo," balas Kiran percaya diri.


"Liat aja pas mereka dewasa nanti. Gimana kalau anak lo nggak mau dijodohin sama anak gue dan lebih memilih cari perempuan lain?"

__ADS_1


"Ya dipaksain dong biar mau!"


Mila geleng-geleng kepala mendengarnya, "Dasar pemaksa banget jadi orang tua," gumamnya.


...***************...


Kalina baru saja pulang dari kegiatan sosialnya menjadi relawan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Itulah salah satu kegiatan yang Kalina lakukan semenjak sang suami meninggal dunia selain berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Tuan Ibrahim pun tidak mempersalahkannya asal tidak mempermalukan keluarga.


Kalina mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga saat melihat sang ayah tertidur di atas kursi rodanya sambil memangku sebuah album yang berisikan desain-desain perhiasan.


Kalina pun berjalan menghampiri tuan Ibrahim. "Ayah," panggilnya.


"Em ..." Tuan Ibrahim terusik setelah mendengar Kalina memanggilnya. Dengan pelan, kekek tua itu membuka mata dan menatap ke arah putrinya yang berada di hadapannya. "Oh... Kamu sudah pulang."


"Kenapa ayah tidur disini? Badan ayah nanti bisa sakit-sakit."


"Aku tidak apa-apa. Badanku terasa lebih baik semenjak kembali dari rumah sakit terakhir kali. Selain itu perusahaan berantakan karena penyakit ayah. Aku tidak bisa tidur nyenyak dengan anak-anak yang begadang dan bekerja lembur untuk membersihkan kekacauan yang terjadi di perusahaan," ujar tuan Ibrahim. Anak-anak yang di maksud disini adalah cucu-cucunya, Caca dan Arsal.


"Itu adalah kewajiban mereka untuk membantu perusahaan kakeknya. Biarkan mereka yang menanganinya. Ayah lebih baik jaga kesehatan," balas Kalina.


Tuan Ibrahim mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kamu benar."


Kalina kembali ke tempatnya semula. Ia membalikkan lembaran desain tersebut. Ia sempat tertegun melihatnya, desain bros yang bergambar bunga mawar. Desain bros tersebut dibuat oleh tangan tuan Ibrahim sendiri untuk kedua putrinya.


Setelah Bros bunga mawar tersebut sudah berbentuk perhiasan, tuan Ibrahim langsung memberikannya kepada Ranti dan Kalina sebagai hadiah.


Kalina memberikan lembaran desain tersebut kepada tuan Ibrahim.


"Desain ini aku membuatnya untukmu dan kakakmu. Aku berharap kalian berdua bisa saling mendukung selama sisa hidup kalian. Tapi aku tidak pernah ..." Tuan menjeda ucapannya sambil menghela napas. Beliau memang mengetahui jika hubungan antara kedua putrinya itu tidak baik sejak dulu dan ia pun kembali berkata. "Melihat Bros mawar ini lagi semenjak Ranti pergi... Dimana punyamu? Apa kamu masih memiliknya?" tanya tuan Ibrahim.


"Oh itu... aku tidak mengingatnya dengan baik. Ayah kan tau kalau aku tidak menyukai hal-hal seperti itu. Tapi sepertinya Bros itu ada di dalam lemari perhiasan ku. Aku akan menemukannya dan memberikannya kepadamu," jawab Kalina.


Tuan Ibrahim mengangkat tangan kanannya sembari melambaikannya dengan pelan, "Tidak perlu, Kalina. Lain kali saja. Aku akan pergi tidur."


Kalina hanya mengangguk dan tersenyum. Tuan Ibrahim pun menekan tombol yang ada di kursi rodanya, membuat kursi rodanya bisa berjalan sendiri.

__ADS_1


Setelah kepergian tuan Ibrahim, Kalina langsung merubah ekspresinya. Ia menaruh tasnya di sofa dan berjalan ke arah cermin besar yang ada di ruang tengah. Kalina membuka blazer nya, ternyata di bajunya tertempel sebuah Bros mawar yang dikatakan oleh tuan Ibrahim tadi dan Kalina telah berbohong kepada ayahnya.


Di YH GROUP, hingga menjelang sore hari, Caca dan Lucas masih berdiskusi mengenai desain perhiasan yang akan mereka ganti ulang.


"Pak Lucas. Jika kita meminjam beberapa elemen dari pekan mode untuk mendesain ulang perhiasan ini, menurut anda bagaimana?" tanya Caca


"Sebenarnya saya tidak suka meminjam  elemen populer. Ada gaya dan warna populer setiap tahun di dunia mode. Namun desainnya seringkali bersifat sementara dan membosankan. Kita harus menciptakan gaya kita sendiri, jika ingin karya kita bertahan lama," jelas Lucas seraya mengusulkan pendapatnya.


Lucas menaruh laptop yang berada di pangkuannya tadi ke meja. Ia mengambil sebuah buku tebal di depannya, berisikan desain-desain milik YH GROUP dari awal berdirinya perusahaan hingga sekarang.


"Bertahun-tahun yang lalu, YH GROUP memiliki Bros yang sangat mewah dengan gaya mawar kembar yang sangat langka," ucap Lucas seraya menampilkan desain yang ia katakan tadi.


Caca mengambil buku desain tersebut dari tangan Lucas dan melihat gambar Bros mawar yang terinspirasi dari lukisan mawar kembar. Caca mengingat bahwa Mommy-nya memiliki Bros tersebut dan sering menggunakannya ketika pergi bekerja.


Sementara lukisan mawar kembar tersebut, Caca mengingat jika ia pernah melihatnya di kampusnya dulu. Bahkan seorang pria menyatakan perasaan kepadanya tepat di depan lukisan mawar kembar tersebut, hal itu yang membuat Caca tidak bisa melupakan lukisan bunga mawar kembar tersebut.


"Nona Caira, apa ada yang salah dengan desainnya?" tanya Lucas yang melihat Caca hanya diam saja.


"Ah, tidak ada apa-apa. Jadi... apakah anda akan meminjam ide dari mawar kembar ini? Benar?" tebak Caca.


Lucas menatap Caca bingung, "Apakah anda mengetahui tentang lukisan ini?" tanyanya.


"Saya mengetahui lukisan ini ketika saya masih kuliah dulu. Itu adalah karya profesor terkenal ketika dia masih muda. Lukisan ini sangat terkenal," jelas Caca.


"Iya anda benar. Lukisan ini memang sangat terkenal."


"Jadi... apakah anda ingin mengubah desain kita menjadi gaya mawar?" tebak Caca.


Lucas mengangguk, "Saya ingin menggunakan konsep mawar kembar untuk digunakan ke semua perhiasan yang akan di pamerkan. Dengan demikian, karya kita tidak hanya memiliki ciri khas dari YH GROUP, tetapi juga sangat berbeda dengan semua perhiasan yang di pamerkan oleh perusahaan lain pada pameran perhiasan internasional," jelasnya.


Caca manggut-manggut menyetujui konsep yang diusung oleh Lucas.


"Oke. Saya telah mengirim seseorang untuk mendapatkan printer laser 3D. Setelah anda menyelesaikan gambar desain anda, kita langsung pergi ke divisi produksi dan mencetaknya," ujar Caca.


"Baik, Nona."

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2